Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
"Kalau itu sedikit," katanya rendah, "aku ingin tahu seperti apa banyakmu."
Keira belum sempat menjawab ketika dari aula terdengar suara Wilson yang sengaja ditinggikan.
"Kalau malam ini semua orang boleh menunjukkan kemampuan, kenapa kita tidak lanjutkan sedikit hiburan keluarga?"
Kevin menatap Keira satu detik lebih lama, lalu menoleh ke arah aula.
Keira menghela napas pelan. "Sepertinya Om Hendry belum kenyang dipermalukan."
"Mereka jarang kenyang."
Keduanya kembali ke aula hampir bersamaan.
Suasana makan malam sudah berubah menjadi permainan wajah. Semua orang pura-pura menikmati pencuci mulut, padahal mata mereka masih bolak-balik antara Keira, Hendry, dan Professor Liu yang sudah tidak terlihat.
Hendry berdiri di dekat piano kecil dengan senyum yang terlalu lebar.
"Papa," katanya kepada Engkong Hartono, "karena malam keluarga tidak boleh terlalu tegang, bagaimana kalau kita membuat permainan ringan untuk anak-anak?"
Engkong menyipit. "Permainan ringan dari mulutmu biasanya berat di belakang."
Beberapa orang tertawa kecil.
Hendry ikut tertawa seolah tidak tersindir. "Hanya soal matematika. Aku dengar Darren belakangan banyak kemajuan. Kita semua tahu Kevin sangat sibuk. Aku penasaran, apakah putranya tetap mendapat pendidikan terbaik?"
Kevin langsung tahu arah pembicaraan itu.
Ia menatap "Darren" yang duduk tenang di kursi anak.
Ethan mengangkat mata. Ia sudah mendengar cukup untuk mengerti pria bernama Hendry itu sedang mencari sasaran baru setelah kalah dari Mommy.
Wilson berkata, "Kalau anak CEO Hartono Group tidak bisa menjawab soal dasar, publik mungkin harus tahu Kevin lebih baik mengurus anak dulu sebelum mengurus perusahaan."
Naomi hampir melempar sendok.
Keira memegang pergelangan tangannya di bawah meja. "Nao."
Naomi berbisik panas, "Ci, mereka menyasar anak kecil."
"Aku tahu."
Kevin berdiri. "Om Hendry, jangan bawa Darren ke permainan orang dewasa."
Hendry tersenyum. "Aku hanya menguji. Kalau dia tidak bisa, tidak apa-apa. Kau cukup mengakui bahwa pendidikan putramu kurang."
Sebelum Kevin menjawab, kursi kecil di sampingnya bergerak.
Ethan berdiri.
Tubuhnya kecil, wajahnya dingin seperti Darren, tetapi matanya menyala dengan cahaya yang sangat bukan Darren.
"Om Hendry."
Kevin menatapnya.
Hendry tampak puas. "Ya, Darren?"
"Taruhan Om terlalu kecil."
Aula langsung sunyi.
Tiffany menutup mulut dengan dua tangan, bukan karena takut, tetapi karena hampir tertawa.
Keira menurunkan mata ke gelasnya. Anak itu benar-benar putranya.
Hendry berkedip. "Apa?"
Ethan berjalan ke tengah aula dengan langkah pendek namun pasti. "Kalau aku tidak bisa menjawab, Daddy mengakui Om pintar memilih soal. Kalau aku bisa menjawab, Om hanya malu sebentar. Tidak adil."
Wilson tertawa. "Anak kecil bicara adil?"
Ethan menoleh padanya. "Ko Wilson, orang dewasa yang memilih anak kecil sebagai lawan juga lucu."
Suara tawa pecah dari beberapa sudut.
Wajah Wilson merah.
Hendry mengangkat tangan, masih berusaha terlihat santai. "Baik. Apa yang kau mau?"
"Dua puluh persen saham Hartono Group milik Om."
Gelombang napas tertahan terdengar serempak.
Naomi memandang Kevin dengan mata membesar. "Ko..."
Kevin tidak langsung bicara. Ia menatap anak di tengah aula itu dengan curiga yang makin tajam.
Darren tidak akan pernah bicara sepanjang itu di depan banyak orang.
Ethan melanjutkan, "Kalau aku kalah, Daddy memberi jumlah yang sama."
"Tidak," kata Kevin dingin.
Ethan menoleh padanya. Untuk sesaat, wajah kecil itu melembut. "Daddy takut aku kalah?"
Pertanyaan itu licik.
Kevin tahu ia sedang dijebak oleh seorang anak lima tahun.
Dan entah kenapa, ia ingin tertawa.
Engkong Hartono mengetuk tongkat. "Aku suka keberanian ini."
Hendry tertawa keras. "Papa, kau dengar? Anak Kevin sendiri yang bicara. Kalau Kevin tidak berani, ya sudah."
Kevin menatap Hendry. "Kalau aku setuju, perjanjian dibuat sah."
"Tentu."
"Bukan omong kosong di meja makan."
Engkong mengangkat tangan. Pak Budi, asisten lama keluarga, segera maju membawa tablet dokumen. Di keluarga Hartono, bahkan permainan bisa berubah menjadi akta keluarga dalam tiga menit.
"Dua puluh persen saham pribadi Hendry," kata Engkong, "masuk ke trust keluarga atas nama Darren jika dia menang. Kalau Darren kalah, hak suara dua puluh persen milik Kevin dialihkan sementara kepada Hendry sampai rapat pemegang saham berikutnya."
Hendry sedikit ragu.
Tetapi melihat anak lima tahun di depannya, keserakahan mengalahkan akal sehat.
"Setuju."
Kevin menandatangani setelah membaca cepat. Hendry juga menandatangani. Pak Budi merekam pernyataan mereka di depan seluruh keluarga.
Keira menatap Ethan.
Ethan tidak menoleh padanya, tetapi jari kecilnya mengetuk paha tiga kali.
Kode lama.
Mommy, tenang.
Pertanyaan pertama ditampilkan di layar. Persamaan kombinatorika tingkat olimpiade internasional. Wilson sengaja memilih soal yang bahkan orang dewasa di ruangan itu tidak ingin membaca sampai selesai.
"Waktu sepuluh menit," kata Wilson.
Ethan mengambil spidol.
"Terlalu lama."
Ia mulai menulis.
Satu baris.
Dua baris.
Lima baris.
Awalnya, beberapa orang tersenyum meremehkan. Lalu senyum itu hilang ketika anak kecil itu memotong jalan penyelesaian dengan metode simetri yang bahkan membuat seorang tamu profesor matematika berdiri dari kursinya.
"Itu... benar," gumam pria itu.
Ethan meletakkan spidol. "Soal pertama selesai."
Waktu berjalan dua menit.
Wajah Hendry mulai berubah.
Soal kedua tentang teori bilangan. Ethan membaca sebentar, lalu menggambar tabel kecil.
"Kalau pakai cara panjang, jawabannya tetap sama. Tapi ini lebih cepat."
Spidol bergerak lagi. Angka-angka muncul rapi, tidak seperti coretan anak kecil, melainkan catatan seseorang yang terbiasa berpikir dalam pola.
Tiffany bertepuk tangan pelan.
Naomi berbisik, "Ci Keira, Darren selalu sepintar ini?"
Keira menjawab dengan sangat hati-hati, "Anak-anak kadang mengejutkan."
Kevin mendengar jawaban itu dan menatap Keira.
Keira tidak menatap balik.
Soal kedua selesai dalam empat menit.
Hendry tidak lagi tersenyum.
"Masih ada satu," kata Wilson cepat.
Soal ketiga ditampilkan. Kali ini bentuk geometri kompleks dengan pembuktian pendek yang dikenal sebagai pembunuh waktu. Banyak peserta lomba dewasa pun bisa tersesat di dalamnya.
Ethan menatap layar lebih lama.
Keira melihat bahunya sedikit naik.
Kevin juga melihat.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia berkata pelan, "Tidak perlu dipaksakan."
Ethan menoleh.
Kalimat itu bukan tekanan. Bukan perintah. Itu perlindungan.
Dadanya hangat sebentar.
Lalu ia tersenyum tipis dengan gaya Darren yang hampir berhasil ia tiru.
"Aku bisa, Daddy."
Ia menulis satu garis bantu pada gambar.
Seluruh pembuktian terbuka.
Tamu profesor matematika itu spontan bertepuk tangan sebelum Ethan selesai menulis kesimpulan. Tepuk tangan itu menular. Dalam beberapa detik, aula Hartono Estate bergemuruh oleh suara yang tidak bisa dibeli Hendry dengan saham mana pun.
Ethan meletakkan spidol.
"Selesai."
Pak Budi memeriksa jawaban dengan tamu profesor. Keduanya mengangguk.
"Jawaban benar semua."
Wajah Hendry berubah dari pucat menjadi abu-abu.
Wilson berdiri. "Tidak mungkin. Dia pasti sudah melihat soal."
Ethan menatapnya polos. "Ko Wilson yang memilih soal."
Naomi tertawa keras. Kali ini Kevin tidak melarang.
Engkong Hartono tampak hampir lupa bahwa jantungnya baru kambuh beberapa hari lalu. "Bagus! Bagus sekali! Dua puluh persen itu akan lebih berguna untuk cucuku daripada untuk orang dewasa yang suka meremehkan anak kecil."
Hendry mencengkeram sandaran kursi.
Pak Budi menunduk. "Sesuai pernyataan, proses pengalihan ke trust keluarga akan disiapkan untuk rapat pemegang saham."
Hendry tidak bisa membantah. Terlalu banyak saksi. Terlalu banyak kamera keluarga. Terlalu banyak harga diri yang baru saja ia bakar sendiri.
Ethan kembali ke sisi Kevin.
Kevin membungkuk, lalu mengangkatnya.
Tubuh Ethan menegang sebentar. Ia jarang digendong pria dewasa selain Rio. Tetapi pelukan Kevin kuat dan hangat, tidak seperti orang yang ingin merebutnya. Lebih seperti seseorang yang takut anak itu jatuh.
Kevin menatap wajah kecil di depannya.
"Darren."
Ethan menahan napas.
"Kamu hari ini banyak bicara."
Keira ikut menegang.
Kevin menyipitkan mata. "Dan kamu tidak pernah memanggil siapa pun Om."
Jantung Ethan berdetak sangat cepat, tetapi wajahnya tetap tenang.
"Daddy," katanya pelan, "aku cuma senang hari ini."
Kevin menatapnya lama.
Di belakang mereka, Keira sudah tahu malam ini belum selesai.