Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Setelah kembali ke villa, Mei Li tidak langsung menyelidiki Arka.
Itu membuat Amy sedikit terkejut.
"Nona," katanya hati-hati, "apakah Anda ingin saya menyiapkan latar belakang medis atau..."
"Tidak."
Amy berhenti.
Bella yang sedang memeriksa laporan keamanan juga menoleh.
Mei Li meletakkan ponsel di meja. "Apa pun yang dia ceritakan tadi, itu bukan data operasi."
Amy menunduk. "Dipahami."
Keputusan itu terdengar sederhana. Padahal bagi Mei Li, menahan diri untuk tidak mencari tahu adalah bentuk disiplin yang lebih sulit daripada membuka database terenkripsi. Ia terbiasa bertahan dengan mengetahui lebih banyak daripada orang lain. Nama, alamat, rekening, kelemahan, kebiasaan tidur. Pengetahuan adalah pagar.
Namun Arka tidak memberinya kelemahan untuk dipakai.
Ia memberinya kepercayaan.
Dan kepercayaan tidak boleh diperlakukan seperti file.
Mei Li bahkan meminta Amy menandai topik itu sebagai area pribadi, bukan risiko keamanan, kecuali Arka sendiri memintanya berubah. Amy tidak bertanya. Bella hanya mengangguk, tetapi matanya menunjukkan rasa hormat yang jarang ia tunjukkan terang-terangan.
Mei Li naik ke kamar, membuka kotak kebaya putih, lalu duduk di sampingnya. Di dalam pikirannya, potongan-potongan kecil Arka mulai tersusun ulang.
Keranjang mangga yang diserahkan tanpa menyentuh jari.
Payung di Solo yang dibuat cukup lebar untuknya, cukup jauh untuk Arka.
Kursi di Le Jardin yang ditarik tidak terlalu dekat.
Malam di teras ketika ia berhenti sebelum ciuman menjadi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Selama ini Mei Li mengira semua itu hanya pendidikan keluarga besar. Tata krama Javanese. Pria baik yang tahu batas.
Ternyata ada tubuh yang harus ia yakinkan setiap kali memilih tetap di tempat.
Dan tubuh itu tidak lari darinya.
Pikirannya kembali pada kalimat Arka.
Kamu orang pertama yang tidak membuat tubuh saya ingin lari.
Mei Li menutup mata.
Di dunia orang biasa, kalimat itu mungkin terdengar romantis dengan cara yang aneh. Di dunianya, kalimat itu lebih berat daripada janji cinta. Karena tubuh jarang berbohong. Tubuh menyimpan apa yang mulut bisa latih untuk dilupakan.
Tubuh Arka memilih diam di dekatnya.
Tubuhnya sendiri, yang seharusnya mundur dari kelembutan, justru ingin mendekat.
Itu yang membuatnya takut.
***
Di ruang keamanan bawah, Bella menerima laporan baru tentang Vulture. Tim Max belum bergerak dari hotel, tetapi satu kendaraan mereka sempat memutari area Menteng dua kali sebelum hilang di Sudirman.
"Mereka menguji rute," kata Bella.
Amy menatap peta. "Atau mencari pola."
"Pola Nona?"
"Atau pola orang yang sering muncul di dekat Nona."
Keduanya diam.
Nama Arka tidak disebut, tetapi ada di ruangan itu seperti lampu yang menyala terlalu terang.
Amy akhirnya berkata, "Kita lapor."
Bella mengangguk.
Saat mereka naik ke ruang kerja, Mei Li sudah berdiri di depan jendela, seolah menunggu.
"Vulture?" tanyanya.
Amy tidak bertanya bagaimana ia tahu. "Mereka memutari Menteng. Belum masuk cluster."
"Foto Arka?"
Bella terdiam sepersekian detik.
Mei Li menoleh. "Mereka punya?"
"Kemungkinan besar."
Tidak ada ledakan kemarahan. Justru itu membuat Amy lebih khawatir.
Mei Li menatap rumah sebelah. Pagi tadi, di taman, Arka membuka satu bagian paling lemah dari hidupnya. Malam ini, orang-orang Max mungkin sudah menaruh fotonya di layar.
Duniaku terlalu berbahaya.
Kalimat itu kembali, lebih keras.
Namun kali ini ada kalimat lain yang berdiri di sampingnya.
Jangan menjauh karena mengira kamu membuat saya sakit.
Mei Li mengambil ponsel.
"Nona?" Amy bertanya.
"Aku perlu bicara dengannya."
"Sekarang?"
"Sekarang."
Bella langsung bergerak. "Saya siapkan rute aman."
"Tidak perlu." Mei Li membuka kontak Arka. "Aku tidak akan ke rumahnya."
Ia menekan panggilan.
Arka mengangkat pada dering pertama, seolah ponsel itu memang berada di tangannya.
"Mei Li?"
Nama itu terdengar berbeda setelah pagi tadi. Tidak lebih dekat secara paksa, tetapi lebih benar.
Mei Li menatap jendela.
"Vulture mungkin sudah punya fotomu."
Di seberang, Arka diam sesaat. "Baik."
"Itu saja jawabanmu?"
"Saya mendengarkan."
"Ini bukan permainan media Tan. Mereka profesional. Kalau mereka menganggapmu berguna untuk menekan aku, mereka akan mencoba."
"Saya mengerti."
"Arka."
Suaranya lebih keras daripada yang ia rencanakan.
Amy dan Bella saling melihat, lalu diam-diam mundur beberapa langkah.
Mei Li menutup mata. "Aku tidak ingin kamu terluka karena aku."
Arka tidak menjawab cepat.
Ketika ia bicara, suaranya tetap lembut. "Saya tahu."
"Jangan hanya bilang tahu."
"Baik. Saya akan menambah keamanan tanpa membuat keluarga saya panik. Saya tidak akan bergerak sendirian tanpa memberi tahu. Saya juga tidak akan berpura-pura ini bukan risiko."
Jawaban itu membuat amarah Mei Li kehilangan arah.
"Tapi," lanjut Arka, "saya juga tidak akan menghilang hanya karena seseorang ingin membuat Anda takut."
Mei Li menggenggam ponsel lebih erat.
"Pagi tadi kamu bilang jangan menjauh karena alasan yang salah," katanya.
"Ya."
"Aku masih takut."
"Saya juga."
Kejujuran itu menghantamnya lebih dalam daripada keberanian palsu.
Mei Li membuka mata.
"Kalau begitu, kita takut dengan benar."
Di seberang, Arka menarik napas pelan. "Bersama?"
Mei Li menatap lampu rumahnya yang menyala di seberang gelap.
"Dengan jarak aman," katanya.
Arka tertawa pelan, sangat pelan.
"Baik. Untuk sekarang, dengan jarak aman."
Setelah panggilan berakhir, Mei Li tidak merasa lebih tenang.
Namun untuk pertama kalinya sejak Vulture muncul, ia tidak merasa sendirian dalam bahaya itu.