NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 027

Hendra Tan Datang

"Suruh dia cepat."

Celine mendengar kalimat itu seperti mendengar pintu terakhir ditutup.

Rayhan tidak pergi. Ia juga tidak menunggu dengan gelisah. Ia berdiri di koridor hotel, jasnya sudah tidak ada di tubuhnya, kemeja putihnya sedikit kusut di bagian lengan, tetapi sikapnya tetap rapi seperti sedang menunggu rapat biasa.

Di lantai bawah, acara sudah berhenti sepenuhnya.

Para tamu tidak dipulangkan, tetapi juga tidak boleh bergerak bebas. Rizal menempatkan dua orang security di dekat lift utama. Ardi berbicara dengan manajer hotel, meminta semua rekaman disalin langsung ke penyimpanan terpisah. Daniel berdiri di sisi lain koridor, diam, wajahnya tidak menunjukkan kemenangan.

Celine mencoba menghubungi seseorang lagi, tetapi jarinya tidak stabil. Setiap kali layar ponselnya menyala, ia seperti berharap pesan dari Hendra bisa mengembalikan malam itu ke bentuk semula.

Tidak bisa.

Di mobil hitam yang menunggu di area parkir belakang, Yola duduk di kursi belakang dengan jas Rayhan masih menutupi bahunya.

Sari duduk di sampingnya. Rizal berdiri di luar mobil, menghadap pintu masuk staf.

"Nona mau minum?" tanya Sari.

Yola menggeleng.

Tenggorokannya kering, tetapi ia tidak yakin air bisa melewati dadanya yang masih sesak.

Di ponsel Sari, layar terus menyala. Pesan masuk bertubi-tubi dari staf acara, dari grup vendor, dari nomor tidak dikenal yang menanyakan apakah benar ada keributan di acara Celine.

Sari membalik ponselnya agar Yola tidak melihat.

Terlambat.

Yola sudah membaca satu kalimat di notifikasi.

`Rayhan Liem batal tunangan?`

Ia menutup mata.

Ia tahu malam ini tidak akan berhenti di koridor itu.

"Nona," bisik Sari, "jangan dibaca dulu."

"Aku tidak membaca," jawab Yola pelan.

Tetapi tubuhnya sudah membaca. Perutnya mengeras, jari-jarinya memegang tepi jas lebih erat.

Ponselnya sendiri bergetar.

Naomi.

Yola menatap nama itu lama sebelum menjawab.

"Yola, lo di mana?" suara Naomi langsung masuk, cepat dan panik. "Gue baru dapat kabar dari temen yang ada di acara Celine. Katanya ada Marco, Rayhan datang, terus pertunangan batal. Lo kenapa? Lo aman?"

Mendengar suara Naomi, pertahanan Yola hampir retak.

"Aku aman," katanya.

"Jangan cuma bilang aman kalau nggak aman. Lo sama siapa?"

"Sari. Rizal di luar. Aku di mobil."

Naomi menarik napas keras di seberang. "Oke. Jangan turun. Jangan ngomong sama siapa pun. Gue ke sana."

"Jangan," Yola langsung berkata. "Naomi, jangan datang. Tempat ini sudah terlalu ramai."

"Tapi lo sendirian."

Yola melihat Sari yang matanya merah, lalu pintu masuk staf yang dijaga Rizal.

"Aku tidak sendirian."

Ada jeda.

Naomi menurunkan suara. "Rayhan ada di sana?"

Yola menatap jas di bahunya.

"Ada."

Naomi tidak langsung menjawab. Lalu, lebih pelan, ia berkata, "Kalau dia berani bikin lo tambah takut, gue akan hadapi dia juga."

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Yola hampir bergerak. Tidak sampai menjadi senyum.

"Terima kasih."

Di atas, lift utama terbuka.

Hendra Tan keluar dengan dua orang staf pria di belakangnya. Usianya membuat langkahnya lebih lambat daripada Rayhan, tetapi bukan lebih lemah. Setelan gelapnya sempurna, rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya membawa kemarahan orang yang terbiasa membuat orang lain menunduk sebelum ia bicara.

Celine langsung bergerak. "Papa."

Hendra tidak memeluknya.

Ia melihat Marco yang sedang dibawa petugas medis, lalu menatap Rayhan.

"Kamu membuat anakku dipermalukan di depan tamu-tamunya," katanya.

Rayhan menjawab tanpa mengangkat suara. "Anak Anda membuat tamunya masuk jebakan."

"Jaga ucapanmu."

"Saya sedang menjaganya agar tetap layak didengar di hotel."

Wajah Hendra mengeras.

Para tamu di ujung koridor menahan napas. Bagi mereka, ini bukan lagi drama sosialita. Ini dua keluarga besar saling mencabut sarung tangan di depan publik.

"Kesepakatan Liem dan Tan tidak bisa kamu batalkan hanya karena emosi sesaat," kata Hendra.

"Sudah saya batalkan."

"Saya bicara tentang proyek, saham, kerja sama, bukan hanya cincin di jari anak saya."

"Kalau Tan Corporation ingin keluar dari proyek, kirim surat resmi ke kantor."

Celine tersentak. "Rayhan..."

Rayhan tidak melihatnya.

Hendra tertawa pendek. "Kamu pikir Liem Group tidak akan rugi?"

"Setiap kerugian lebih murah daripada membawa Celine masuk ke keluarga saya."

Kalimat itu membuat wajah Celine memucat lagi, kali ini lebih dalam. Bahkan Hendra terdiam setengah detik.

Lalu matanya berubah dingin.

"Kamu membela janda itu sampai sejauh ini?"

Nama Yola tidak disebut, tetapi semua orang tahu siapa yang ia maksud.

Rayhan melangkah satu langkah mendekat. Ardi ikut bergerak, cukup untuk membuat dua staf Hendra menahan posisi.

"Sekali lagi Anda menyebut Yola dengan nada seperti itu," kata Rayhan, "saya jadikan laporan polisi malam ini bukan hanya soal Marco."

"Kamu mengancam saya?"

"Saya memberi pilihan."

Hendra menatapnya lama. Dua pria itu berdiri di tengah koridor hotel, dikelilingi saksi yang pura-pura tidak merekam tetapi jari mereka terlalu dekat dengan layar ponsel masing-masing.

Daniel melihatnya dan berbisik kepada Budi, "Pastikan tidak ada video Yola tersebar. Kalau ada yang mengunggah, simpan linknya."

Budi mengangguk cepat.

Hendra akhirnya tersenyum. Senyum itu tidak hangat.

"Baik. Kalau kamu memilih perang, Rayhan, jangan salahkan saya saat keluarga Liem mulai kehilangan sesuatu satu per satu."

Rayhan membalas tatapannya tanpa berkedip.

"Coba saja."

Hendra melangkah mendekat, suaranya turun agar terdengar seperti negosiasi, tetapi setiap orang di koridor masih bisa menangkapnya.

"Tarik ucapanmu malam ini. Besok kita keluarkan pernyataan bahwa Celine sakit, acara dihentikan, dan pertunangan tetap berjalan. Marco akan saya urus. Kamu cukup meminta maaf pada anak saya karena mempermalukannya."

Celine langsung mengangkat wajah, seolah tawaran itu membuka jalan pulang.

Rayhan tidak bergerak.

"Tidak."

"Jangan keras kepala. Kamu CEO, bukan remaja yang sedang cemburu."

Kata cemburu membuat beberapa tamu saling pandang. Itu kata yang lebih berbahaya daripada kata marah. Marah bisa dijelaskan sebagai perlindungan keluarga. Cemburu tidak punya tempat yang bersih ketika perempuan yang dibela adalah kakak ipar.

Rayhan mendengar perubahan napas di sekelilingnya, tetapi wajahnya tetap datar.

"Besok pagi Liem Group mengeluarkan pernyataan bahwa pertunangan saya dengan Celine Tan batal karena pelanggaran keamanan dan manipulasi acara yang membahayakan anggota keluarga Liem."

Celine seperti tertusuk. "Anggota keluarga Liem? Kamu terus menyebut dia begitu supaya terdengar benar."

"Karena memang benar."

Hendra menunjuk Rayhan dengan jari gemetar karena marah, bukan usia. "Kamu akan membuat semua orang bertanya apa hubunganmu dengan janda itu."

"Biarkan mereka bertanya."

"Dan kalau jawabannya kotor?"

"Maka saya cari orang pertama yang mengotori jawabannya."

Kalimat itu membuat Celine menutup mulut. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar takut, bukan hanya malu.

Di mobil belakang, ponsel Sari kembali menyala.

Kali ini pesan yang muncul bukan dari staf.

Itu tangkapan layar dari grup sosialita Jakarta, dikirim seseorang tanpa nama.

`Katanya Rayhan batal tunangan karena janda keluarga Liem itu. Serius?`

Yola melihatnya sebelum Sari sempat menutup layar.

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!