Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.
Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.
Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Surprise
Langit berwarna biru pucat ketika Reza dan Tari memasuki gerbang tol. Matahari belum sepenuhnya tinggi, sinarnya lembut menyelinap di antara gedung-gedung dan pepohonan yang berjajar di sisi jalan. Mobil melaju stabil, meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota yang perlahan mulai padat.
Reza menyetir dengan tenang, satu tangannya memegang kemudi, satu lagi sesekali berpindah ke tuas transmisi. Tari duduk di kursi penumpang, mengenakan kacamata hitam besar yang membuat wajahnya terlihat lebih dingin dari biasanya. Aroma kopi yang tadi mereka minum saat sarapan masih samar terasa.
Begitu memasuki ruas tol arah Bandung, lalu lintas mulai ramai, tapi tetap lancar. Truk-truk besar berjalan di lajur kiri, bus antarkota sesekali menyalip dengan suara angin yang menderu. Di kejauhan, deretan perbukitan mulai terlihat samar, hijau dan menenangkan.
"Semoga kita gak kena macet.” Gumam Reza pelan.
Tari hanya mengangguk. Dia sedang menatap pemandangan luar jendela—hamparan sawah yang mulai menggantikan gedung-gedung tinggi. Udara terasa berbeda, lebih segar meski mereka masih di dalam mobil ber-AC.
Ketika memasuki kawasan Rest Area KM 88, Reza melirik sekilas. "Mau berhenti dulu? Ke toilet atau beli minum?”
"Enggak usah. Lanjut aja. Biar cepat sampai.” Jawab Tari singkat.
Mobil kembali melaju, memasuki ruas tol yang berkelok-kelok dengan kontur naik turun. Jalanan mulai menanjak, dan deretan tebing batu khas jalur menuju Bandung berdiri kokoh di sisi kanan kiri. Kabut tipis menggantung ringan di atas lembah, memberi kesan sejuk yang khas.
Reza menurunkan sedikit kaca jendela saat mereka hampir memasuki wilayah perbukitan. Udara pagi yang dingin langsung menyusup masuk. Tari tanpa sadar memeluk lengannya sendiri.
"Dingin ya.” Katanya pelan.
"Namanya juga mau ke Bandung.” Jawab Reza sambil tersenyum tipis.
Di radio mobil, lagu lama mengalun pelan, mengisi keheningan di antara mereka. Perjalanan itu terasa tenang di permukaan—seperti perjalanan pasangan biasa yang hendak pulang kampung atau menjenguk keluarga. Namun di balik ketenangan itu, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sekitar dua setengah jam kemudian, papan penunjuk arah menuju gerbang tol Pasteur terlihat di depan mata. Kota Bandung menyambut dengan udara yang lebih sejuk dan langit yang terasa lebih dekat.
Tepat ketika jarum jam menunjuk pukul dua belas siang, mereka tiba di rumah sakit. Suasana lobi cukup ramai oleh keluarga pasien yang menunggu waktu besuk dibuka. Bau khas antiseptik bercampur dengan pendingin ruangan menyambut langkah mereka.
Begitu jam besuk dimulai, Bu Lastri bergerak lebih dulu. Meski usianya tak lagi muda, langkahnya terlihat lincah—seolah ada dorongan kuat dari hati seorang anak yang ingin segera melihat ibunya. Reza dan Tari mengikuti dari belakang, menyusuri lorong panjang dengan dinding putih bersih dan suara langkah yang menggema pelan.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu ruang rawat inap.
Di dalam, nenek Reza terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya tampak jauh lebih kecil dari yang terakhir kali Reza lihat. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Beberapa selang terpasang di tangan dan hidungnya, monitor di samping tempat tidur berbunyi pelan, teratur—menandakan detak jantung yang masih setia bekerja.
Reza terdiam di ambang pintu.
Ada sesuatu yang mencengkeram dadanya. Sosok perempuan yang dulu begitu kuat, yang selalu menyambutnya dengan pelukan hangat dan cerita panjang tentang masa kecil ibunya, kini terbujur kaku tanpa daya.
Bu Lastri mendekat lebih dulu. Tangannya yang sedikit gemetar menggenggam tangan ibunya.
"Ibu… Reza sudah datang.” Bisiknya lirih, suaranya pecah.
Reza akhirnya melangkah mendekat. Dia berdiri di sisi tempat tidur, menatap wajah neneknya lekat-lekat. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Dia menggenggam tangan neneknya yang terasa dingin, berusaha menyalurkan kehangatan.
"Nek… ini Reza.” Ucapnya pelan, nyaris berbisik. “Reza pulang.”
Tari berdiri sedikit di belakang Reza. Wajahnya tampak sendu, tangannya terlipat di depan dada. Sesekali dia mengusap sudut matanya, seolah ikut larut dalam suasana pilu itu.
Ruangan terasa hening, hanya diisi bunyi mesin monitor dan napas pelan sang nenek.
Reza menunduk, menempelkan keningnya ke punggung tangan neneknya. Dalam diam, dia berdoa—memohon agar perempuan yang menjadi akar keluarganya itu diberi kekuatan.
Untuk pertama kalinya sejak perjalanan mereka pagi tadi, Reza tak lagi terlihat sebagai pria tegas dan penuh kendali. Di hadapan ranjang itu, dia hanya seorang cucu yang takut kehilangan.
***
Di dalam ruang kerjanya yang bernuansa hangat dengan sentuhan kayu dan cahaya matahari yang masuk dari jendela besar, Dhita duduk sendiri di depan layar monitor. Jemarinya lincah memainkan mouse, matanya fokus menelusuri berbagai laman usaha kuliner dan desain kemasan. Dia sedang mencari inspirasi—menu baru, konsep plating yang lebih modern, hingga ide promosi digital untuk mengembangkan bisnisnya.
Sesekali dia mencatat sesuatu di buku kecil di samping laptopnya. Wajahnya terlihat serius, tapi sorot matanya penuh semangat. Dunia maya seolah membawanya pada banyak kemungkinan baru.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu membuatnya sedikit menoleh tanpa benar-benar mengalihkan pandangan dari layar.
"Masuk aja, gak dikunci kok.” Ujarnya santai.
Pintu terbuka perlahan.
"Dhitaaa…”
Suara itu langsung membuatnya membeku.
Dhita menoleh cepat. Matanya membesar tak percaya.
Di ambang pintu berdiri Anggita, dengan senyum lebar yang tak berubah sejak dulu. Di sampingnya sang suami, dan di depan mereka seorang gadis kecil berambut dikuncir dua yang tampak malu-malu—Mikha, putri semata wayangnya.
"Ya ampun, kalian?” Dhita spontan berdiri hingga kursinya sedikit terdorong ke belakang. “Kok gak bilang-bilang mau ke sini?”
Wajahnya benar-benar terkejut, tapi lebih dari itu—bahagia.
Dia melangkah cepat menghampiri sahabatnya. Tanpa ragu mereka berpelukan erat, tawa kecil bercampur rasa haru mengisi ruangan yang tadi hening.
"Biar surprise.” Anggita terkekeh.
Dhita lalu berlutut sedikit untuk menyamai tinggi Mikha. “Perasaan sebulan lalu pas ke sini, belum segede ini, sekarang udah gede banget. Katanya gemas, mengusap lembut kepala anak itu.
Mikha bersembunyi setengah di balik kaki ayahnya, tapi matanya mengintip penasaran ke arah Dhita.
Ruangan yang tadinya dipenuhi suasana serius dan ambisi bisnis, kini berubah hangat oleh tawa dan kehadiran orang-orang tersayang. Monitor yang tadi penuh dengan gambar menu dan strategi pemasaran kini terlupakan sejenak.
Bagi Dhita, inspirasi terbaik kadang bukan datang dari layar di depannya—melainkan dari orang-orang yang tiba-tiba hadir membawa kebahagiaan.
Ruangan itu terasa lebih hidup dari biasanya. Dhita benar-benar menjamu sahabatnya dengan istimewa—aneka camilan tersaji rapi di atas meja, minuman segar dengan irisan lemon, hingga hidangan andalan yang masih mengepul hangat. Dia bahkan meminta asistennya menunda beberapa jadwal demi bisa menikmati waktu bersama mereka.
Anggita dan suaminya duduk santai, sementara Mikha asyik memainkan boneka kecilnya di kursi sebelah sang ibu. Tawa mereka mengalir ringan, membahas banyak hal—tentang bisnis Dhita, tentang perjalanan terakhir ke Bandung, dan tentang kehidupan yang terasa makin cepat berjalan.
Dhita menyandarkan punggungnya, lalu menatap Anggita dengan alis terangkat.
"By the way, ini sengaja ke Bandung? Perasaan bulan lalu baru dari Bandung, sekarang ke Bandung lagi?” Tanyanya heran.
Anggita belum sempat menjawab, ketika Rendy—yang sejak tadi duduk santai sambil tersenyum, lebih dulu membuka suara dengan nada kalem.
"Malah nanti setiap hari di Bandung lho, Dhit.”
Dhita mengerjap. “Maksudnya?”
"Aku ada promosi,” lanjut Rendy tenang, “tapi bukan di pusat. Penempatannya di sini.”
Dhita langsung duduk lebih tegak. “Jadi?”
Dia menatap bergantian ke Anggita dan suaminya, matanya mulai berbinar penuh dugaan.
"Kalian…?” suaranya menggantung, tak sabar.
“Iya,” jawab Anggita sambil tersenyum lebar, “kita pindah ke Bandung.”
“Serius, Nggi?”
"Malah dua rius.” Anggita tertawa lepas, bahunya sampai sedikit bergetar.
"Ya ampuuunn, senangnyaaa.¡” Dhita spontan bangkit dari kursinya dan langsung memeluk sahabatnya erat. Pelukan itu penuh kegembiraan, nyaris seperti anak kecil yang mendapat kabar paling membahagiakan.
"Akhirnya kita satu kota lagi, kayak kuliah dulu. Gak perlu nunggu momen random buat ketemu.” Ujar Dhita setengah melonjak girang.
Rendy hanya tersenyum melihat istrinya sebahagia itu. Mikha yang tak terlalu mengerti ikut tertawa kecil, tertular suasana hangat di sekelilingnya.
Di luar jendela, langit siang kota Bandung tampak cerah, seolah ikut merayakan kabar itu. Bagi Dhita, hari itu bukan sekadar kunjungan biasa—melainkan awal dari bab baru, di mana sahabatnya akan kembali menjadi bagian dari kesehariannya.
Dan rasanya, Bandung mendadak terasa jauh lebih indah.
semangat ok