"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampah 38 Juta
Satu minggu sudah berlalu, tapi tak ada kabar apapun dari Adrian. Sebenarnya Aurel ingin menghubungi, tapi ia takut akan mengganggu waktu pria itu. Dia tahu jika calon suaminya adalah pemimpin dua perusahaan besar sekaligus. Adrian punya tugas yang berat.
Setiap malam ia akan memandangi ponselnya, berharap satu pesan terkirim padanya....cukup satu pesan. Itu akan cukup untuk mengobati rasa rindunya.
Tapi tetap saja...kosong.
Setiap hari ia menguatkan dirinya sendiri, dia akan terus berkata dalam hatinya, "Bukankah mulai sekarang aku harus terbiasa? Urusan bisnis lebih penting dari urusan kangen. Jangan kekanakan Aurel."
---
"Rel, sumpah ini terakhir. Kalau nggak dapet baju hari ini, aku seret kamu pake daster ke acara Dirgantara," ancam Dita.
Sejak kemarin mereka mencari baju untuk acara besok, tapi tak satupun yang cocok. Terlalu mahal, terlalu terbuka, modelnya jadul dan segala macam alasan Aurel yang sebenarnya memang kurang mood karena tersiksa rindu.
Aurel tertawa kecil. "Iya iya. Ibu Ratna udah WA tiga kali nanyain udah dapet belom, kalau belom nanti mau diajak ke butik langganannya."
Mereka masuk ke butik paling ujung, butik branded yang terlihat mewah. Aurel melihat sepertinya baju baju di dalam toko itu sesuai seleranya.
Sampai di dalam toko mereka disambut oleh seorang SA ((Store Advisor). Wanita itu bertanya kepada mereka dengan sopan.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak? Jika boleh saya tahu mau baju yang model apa dan untuk acara apa?"
Dita dan Aurel membalas senyum ramah wanita di depannya. Mereka mengira akan dibiarkan di butik ini karena penampilan mereka tak seglamor pengunjung lain yang juga sedang sibuk memilih baju di toko itu.
"Teman saya akan hadir di acara formal keluarga calon suaminya. Mau dikenalkan sebagai anggota baru keluarga,' ujar Dita menjelaskan.
"Oh bisa ikut saya Mbak, untuk acara seperti itu baju baju disebelah sana lebih cocok."
Aurel dan Dita mengikuti sang SA.
Aurel berhenti. Matanya terpaku pada satu manekin.
Gaun warna champagne dengan potongan A line. Bahu terbuka sedikit dan punggung tertutup. Modelnya sederhana tapi terlihat sangat mewah. Aurel dan Dita reflek melihat label harga, sang SA tetap berdiri tak jauh dari mereka.
Harga di tag: Rp38.000.000
Dita bersiul. "Gila Rel! Itu seharga mobil second."
"Gaun ini cocok sekali dengan anda Mbak, tidak terlalu terbuka tapi sangat elegan. Semua detil di baju adalah jahitan tangan, itu yang menjadikan bajunya sedikit mahal," jelas SA panjang lebar.
Aurel menghela napas. Ia butuh ini. Bukan untuk sombong, tapi untuk menghargai keluarga Adrian. Untuk tidak mempermalukan nama Dirgantara.
Tangannya terulur, jari jarinya hampir menyentuh baju itu. Tapi terhenti ketika mendengar suara seorang wanita tepat disampingnya.
"Eh, Mbak aku ambil yang ini. Bungkus ya!"
Suara itu sangat lembut, tapi penuh bisa. Wanita itu bahkan seperti tak peduli jika dia sudah lebih dahulu memilihnya.
Kartika!
Aurel ingat benar dengan wajah wanita Jersey putih yang dulu pernah terkirim di ponselnya. Yang membuatnya marah dan Adrian harus menggendongnya untuk bicara.
Aurel menahan tangan Dita yang hampir melangkah maju mendekati Kartika. Wanita itu sedang memegang setiap detail di baju yang nyaris ia beli. SA seperti tidak bisa berbuat apa apa, sekilas melihatnya tapi kemudian tertunduk. Aurel mengerti situasinya.
Mungkin Kartika adalah langganan eksklusif di butik ini.
Aurel menarik napas. "Ini saya yang pegang duluan Mbak."
Kartika mengangkat dagu. "Terus? Kalian tahu nggak ini berapa? Tiga puluh delapan juta. Kalian sanggup bayar ini?"ujar Kartika memindai penampilan Aurel dari bawah ke atas dengan tatapan meremehkan.
Beberapa pengunjung menoleh, dan SA pura-pura sibuk.
"Kerja kantoran kan? UMR?" lanjut Kartika. Ia mendekat, berbisik tapi cukup keras. "Mending kalian ke Thamrin City. Di sini tempat orang punya duit. Bukan tempat ngangsur."
Dita maju selangkah. "Hehh elo mulutnya dijaga ya!"
"Mau ngapain elo? Dasar udik, nggak bisa bayar terus ngamuk ngamuk. Trik lama!"
"Cihh temen gue bahkan bisa beli tokonya!" sahut Dita sengit, dia tahu Aurel membawa black card pemberian Adrian. Dia yakin angka nol di kartu itu akan sepanjang kereta.
"Mimpi jangan ketinggian."
Darah Aurel naik ke kepala, tak ada orang yang rela dihina. Bisa saja dia berteriak untuk mempertahankan baju itu. Semua orang melihat jika dia duluan yang melihat baju itu. Tapi dia ingat Adrian....
Nama baik Dirgantara sekarang ada di kedua pundaknya, tak mungkin ia meladeni pertengkaran receh semacam ini.
Aurel menatap Kartika cukup lama, kemudian menghela nafas panjang.
"Silakan ambil kalau Mbak suka" kata Aurel dengan suara datar.
Kartika menyeringai menang. "Pinter...gitu dong. Tau diri."
Aurel memberi kode pada Dita untuk menjauh, memilih baju lain. Dita mengikutinya dengan masih menatap sebal pada Kartika yang sedang foto selfi dengan baju yang masih terpasang di manekin itu.
"Dia mantan Adrian kan? Gue inget banget fotonya. Kenapa elo ngalah sih? Tambah gede kepalanya kalau dibiarin," ujar Dita setengah berbisik.
Aurel menggeleng."Nggak mau Dit. Gue nggak mau jadi tontonan."
"Terus diem aja dihina gitu?!"
Aurel diam, langkahnya terhenti. Ia menatap pintu kaca ruang VIP di ujung butik, di dalamnya ada gaun-gaun yang bahkan tidak dipajang.
Aurel menarik napas panjang. Lalu ia berjalan.
"Mbak," panggilnya ke SA. "Boleh saya lihat koleksi VIP?"
SA menoleh. "Maaf Mbak, itu khusus member atau..."
Aurel membuka tas dan mengeluarkan dompetnya. Dia mengambil satu kartu, kartu warna hitam polos dengan logo Dirgantara berwarna emas ditengahnya. Black card pemberian Adrian.
"Ini Mbak."
Wajah SA langsung berubah, wanita itu tertunduk sopan. "Silakan ikut saya Mbak. Saya antar."
Dari jauh, Kartika yang sedang selfie dengan gaun 38 jutanya membeku. Matanya menyipit ketika melihat wanita yang tadi berebut dengannya menuju tuang VIP butik. Dia tahu benar di dalam sana adalah koleksi khusus dengan harga fantastis.
"Dasar udik, bisa bisanya nyasar ke VIP."
Sementara di dalam ruang VIP, Aurel tidak banyak bicara. Ia hanya menunjuk.
"Saya coba yang itu. Yang warna ivory tiga layer."
"Yang itu 140 juta, Mbak," kata SA hati-hati.
"Pakai ini," jawab Aurel. Ia menyodorkan Black Card.
_Tring._
Transaksi berhasil.
Dita di belakangnya melongo, lalu tepuk tangan pelan. "Keren banget elo Rel. Gue ikut berasa kaya."
Setelah sempat fitting untuk mencocokkan ukuran baju, lima belas menit kemudian mereka keluar. Aurel menenteng paper bag warna emas yang menarik perhatian customer lain.
Karena penasaran Kartika melangkah mendekati SA yang tadi melayani Aurel di ruang VIP.
"Memang mereka jadi beli baju Mba? Atau beli paper bag nya doang biar terlihat keren?" tanya Kartika masih sombong.
"Tadi Mbak Aurel pilih gaun seratus empat puluh juta, kalau Mbak juga minat saya bisa antar ke dalam," sahut SA tetap ramah, tapi dengan tatapan sebal. Dia berpikir jika Kartika adalah wanita sok kaya yang senang memandang rendah orang lain. Padahal orang itu jauh ada di atasnya. Black card adalah kartu yang tak sembarang orang memilikinya.
Wajah Kartika memucat, dengan seukir senyum yang dipaksakan.
"Oh iya," Dita ternyata tidak langsung keluar, sengaja dia kembali pada wanita yang menghina sahabatnya. "Tadi gue sempat lihat gaun yang elo pegang. Tiga puluh delapan juta ya?"
Kartika tidak menjawab.
"Buat kami," lanjut Dita, "harga segitu... cuma sampah."
JLEB.
Kartika pura pura tak mendengarnya, wanita itu melangkah ke kasir dengan langkah yang masih sombong. Tapi dengan kepala yang sedikit tertunduk. Sudut matanya bisa melihat jika SA yang tadi melayaninya sedang berbisik dengan pegawai butik lain, mata mereka tertuju padanya.