NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Makan malam keluarga Santoso diadakan di rumah Wiratama, tetapi rasanya seperti sidang.

Meja panjang disiapkan di ruang makan utama. Bunga segar, piring kristal, lilin aromaterapi, dan menu yang dibuat terlalu banyak. Maya memeriksa semuanya tiga kali. Dinda mengenakan gaun merah muda yang membuatnya tampak lembut dan tidak berbahaya. Baskara memakai jas gelap, wajahnya serius sejak sore.

Alya turun tepat pukul tujuh.

Gaun biru gelap yang ia beli kemarin melekat rapi di tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai setengah, hanya dijepit sederhana. Tidak ada kalung berlian, tidak ada riasan berlebihan. Namun justru karena itu, ia terlihat berbeda dari semua perempuan yang berusaha tampak mahal.

Raka yang menunggu di bawah sempat terdiam.

"Kenapa?" tanya Alya.

"Tidak apa-apa." Raka berdeham. "Kamu terlihat... siap perang."

"Memang."

Raka hampir tertawa, tetapi Baskara sudah melihat mereka dari ruang tamu.

"Ingat," kata Baskara ketika Alya mendekat. "Malam ini tidak ada tindakan memalukan."

"Tergantung siapa yang memulai."

Baskara menahan marah. "Alya."

Dinda datang membawa senyum. "Kak, jangan membuat Papa tegang. Kita semua ingin malam ini berjalan baik."

"Kita?"

Dinda menunduk. "Aku tahu Kakak tidak suka padaku, tapi aku sungguh ingin keluarga ini damai."

Alya menatapnya. "Kalau begitu jangan berdiri di sisi orang yang membuatnya tidak damai."

Dinda tampak seperti akan menangis.

Kevin datang bersama orang tuanya lima menit kemudian. Kali ini ia membawa bunga. Mawar putih, banyak sekali, dibungkus pita perak.

Ia menyerahkannya pada Alya. "Untukmu."

Alya melihat bunga itu. "Terima kasih."

Kevin tersenyum menang, mungkin mengira Alya melunak.

Alya menyerahkan bunga itu pada Mbak Sari. "Tolong taruh di ruang tamu. Jangan di kamar saya. Saya alergi."

Kevin menahan wajahnya agar tidak berubah.

Pak Hendra tertawa. "Calon menantu kami punya selera kuat."

"Saya belum calon menantu siapa pun," kata Alya.

Maya cepat menyela, "Alya bercanda."

"Tidak."

Raka menutup batuk palsu.

Makan malam dimulai dengan doa singkat. Setelah itu, percakapan berputar pada bisnis, kerja sama distribusi, rencana ekspansi, dan reputasi keluarga. Tidak ada yang menyebut Livia. Tidak ada yang menyebut klub. Semua orang berbicara seolah dunia hanya terdiri dari angka dan nama baik.

Sampai Kevin mengangkat gelas.

"Aku ingin mengatakan sesuatu."

Baskara terlihat lega. Mungkin ini bagian yang sudah mereka atur.

Kevin berdiri, menatap Alya. "Aku tahu awal kita tidak mulus. Tapi aku percaya, dua keluarga besar bisa saling melengkapi. Aku siap mengenal Alya lebih jauh dan membawa hubungan ini ke arah serius."

Dinda menunduk, wajahnya pucat.

Alya memperhatikan itu.

Kevin menoleh ke Baskara. "Om Baskara, Tante Maya, aku mohon restu untuk memulai hubungan resmi dengan Alya."

Bu Santoso tersenyum bangga.

Maya tampak hampir menangis bahagia.

Baskara mengangguk. "Kami tentu senang."

Raka meletakkan sendok dengan suara cukup keras.

Alya belum bicara.

Kevin berjalan ke samping kursinya, lalu mengeluarkan kotak kecil. Bukan cincin pertunangan resmi, hanya gelang berlian. Simbol permulaan, kata orang kaya.

"Alya, boleh aku pasangkan?"

Semua mata menatapnya.

Dinda menahan napas.

Alya mengangkat tangan kirinya. Di sana ada gelang perak Eyang Laras.

"Tidak."

Satu kata itu membuat seluruh meja beku.

Kevin menatapnya. "Apa?"

"Aku tidak mau memakai itu."

Pak Hendra menurunkan gelas. "Baskara."

Baskara hampir berdiri. "Alya, jangan mempermalukan keluarga."

Alya menatap Kevin. "Aku punya beberapa pertanyaan dulu."

Kevin tersenyum kaku. "Tanya saja."

"Kamu kenal Livia Ananta?"

Gelang berlian di tangan Kevin hampir jatuh.

Dinda memejamkan mata sebentar.

Bu Santoso langsung berkata, "Nama siapa itu?"

Alya mengeluarkan ponsel. "Perempuan yang masuk rumah sakit setelah kejadian di klub Senopati."

Kevin tertawa, terlalu keras. "Aku tidak tahu kamu bicara apa."

"Benarkah?"

Alya memutar video CCTV minimarket.

Tidak ada suara. Namun semua orang bisa melihat Kevin menarik lengan Livia, Livia jatuh, dua teman Kevin tertawa.

Maya menutup mulut.

Pak Hendra berdiri. "Video itu bisa dimanipulasi."

"Bisa," kata Alya. "Karena itu saya membawa orang yang lebih paham."

Pintu ruang makan terbuka. Rafi masuk membawa laptop, diikuti Raka yang memegang map. Raka sudah tahu, tetapi ia tetap tampak tegang.

Baskara menatap Raka. "Kamu ikut dalam ini?"

Raka menjawab, "Aku ikut memastikan adikku tidak dijual pada orang yang salah."

Dinda berbisik, "Mas..."

Raka tidak menoleh.

Rafi menyambungkan laptop ke layar kecil di ruang makan. Ia memutar file kedua: rekaman suara dari ponsel Livia yang berhasil ia ambil kembali sore tadi.

Suara Kevin terdengar jelas.

"Kalau kamu buka mulut, ayahmu tidak akan pernah dapat kerja lagi. Kamu tahu keluargaku bisa melakukan apa."

Bu Santoso menutup wajahnya.

Kevin membentak, "Itu bukan aku!"

Alya menatapnya. "Masih mau aku putar bagian berikutnya?"

Kevin maju, hendak merebut laptop. Rafi menahan pergelangan tangannya dengan satu tangan.

"Lepas!" Kevin berteriak.

Rafi tidak bergerak. "Duduk."

Pak Hendra menunjuk Baskara. "Ini penghinaan!"

Baskara tampak kehilangan kendali. "Alya, kamu membawa masalah orang luar ke meja keluarga."

"Perempuan itu menjadi masalahku ketika kalian mau memakaiku untuk membersihkan nama pelakunya."

"Kamu tidak mengerti dunia bisnis!"

"Aku mengerti cukup banyak untuk tahu bahwa ratusan miliar tidak seharusnya dibayar dengan hidup seseorang."

Dinda tiba-tiba menangis. "Kak Alya, cukup. Kalau ini tersebar, semua orang akan hancur."

Alya menatapnya lama. "Kamu sudah tahu sejak awal."

Dinda membeku.

Semua orang menoleh padanya.

"Kamu tahu soal Livia," kata Alya. "Tapi kamu tetap ingin aku duduk di sini malam ini."

Dinda menggeleng cepat. "Aku... aku hanya dengar sedikit. Aku tidak tahu separah itu."

"Tapi kamu tahu cukup banyak untuk tidak memperingatkanku."

Dinda menangis lebih keras. "Aku takut. Aku tidak punya pilihan."

Alya menunduk sedikit. "Livia juga tidak punya pilihan. Bedanya, kamu masih memilih diam karena itu menguntungkanmu."

Kevin berhasil menarik tangannya dari Rafi. Wajahnya merah padam.

"Kamu pikir kamu menang? Kalau berita ini keluar, keluargamu juga kena. Nama Wiratama ikut busuk."

Alya menyimpan ponselnya. "Kalau begitu kita lihat siapa yang lebih takut pada bau busuk."

Pak Hendra mendekati Baskara. "Kalau ini keluar, kerja sama selesai."

Baskara diam.

Itu momen paling jujur malam itu. Antara anak dan kerja sama, ia masih menghitung.

Raka akhirnya berkata, "Kalau kerja sama harus dibayar dengan menutup kekerasan Kevin, lebih baik selesai."

Baskara menatap putra sulungnya, kecewa dan marah.

Alya berdiri. "Pembicaraan pertunangan selesai. Kalau keluarga Santoso masih menghubungi keluarga Livia, rekaman ini keluar. Kalau kalian menyentuh keluargaku untuk membalas, rekaman ini juga keluar."

Kevin tertawa dingin. "Kamu pikir aku akan diam?"

"Tidak." Alya menatapnya. "Aku berharap kamu bergerak. Lebih mudah menghancurkan orang yang panik."

Untuk pertama kali, Kevin terlihat takut.

Keluarga Santoso pergi kurang dari sepuluh menit kemudian.

Begitu pintu utama tertutup, Baskara menampar meja.

"Kamu puas?"

Alya menatapnya.

"Belum," katanya.

Karena ini baru Kevin.

Masih ada terlalu banyak nama di daftar.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!