🔥"Tanaya — Jiwa dari Zaman Purba”
Tanaya, gadis modern yang hidup biasa-biasa saja, tiba-tiba terbangun di tubuh asing—berkulit gelap, gemuk, dan berasal dari zaman purba yang tak pernah ia kenal.
Dunia ini bukan tempat yang ramah.
Di sini, roh leluhur disembah, hukum suku ditegakkan dengan darah, dan perempuan hanya dianggap pelengkap.
Namun anehnya, semua orang memanggilnya Naya, gadis manja dari keluarga pemburu terkuat di lembah itu.
>“Apa... ini bukan mimpi buruk, kan? Siapa gue sebenarnya?”
Tanaya tak tahu kenapa jiwanya dipindahkan.
Mampukah ia bertahan dalam tubuh yang bukan miliknya, di antara kepercayaan kuno dan hukum suku yang mengikat?
Di dalam tubuh baru dan dunia yang liar,
ia harus belajar bertahan hidup, mengenali siapa musuh dan siapa yang akan melindunginya.
Sebab, di balik setiap legenda purba...
selalu ada jiwa asing yang ditarik oleh waktu untuk menuntaskan kisah yang belum selesai.
📚 Happy reading 📚
⚠️ DILARANG JIPLAK!! KARYA ASLI AUTHOR!!⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Kehidupan kembali...
Angin laut yang tadi riuh kini seolah menjauh.
Di dalam rumah kecil berdinding tanah itu, udara terasa berat—dipenuhi bau darah dan napas yang nyaris putus.
Tubuh Tara semakin terkulai lemah di atas alas kulit. Darah masih merembes, mengalir hangat di bawah pinggulnya, terlalu banyak… terlalu cepat.
“Darahnya tidak berhenti…” bisik seseorang, suaranya nyaris patah.
Maina menggenggam kain kulit dengan tangan gemetar. Beberapa perempuan lain menunduk, sebagian memalingkan wajah. Ini pertanda yang mereka kenal—terlalu sering mereka lihat.
Kematian yang datang perlahan.
Diluar, Tanaya masih berdiri kaku di depan tirai kain kulit. Tangannya dingin. Dadanya berdenyut keras, seolah tubuhnya sendiri tahu sesuatu yang orang lain belum sadari.
“Tarik… dan dorong—!”
Suara Tetuah Luseng kembali terdengar terputus di telinga nya lalu setelah itu berhenti bahkan terlalu lama dan itu sangat fatal dalam proses melahirkan.
Tanpa menunggu izin lagi, Tanaya langsung melangkah maju dan menarik sisi kain kulit itu.
“Hey Naya—!” seseorang tersentak.
Beberapa wanita terperanjat. “Tidak! Kau tidak boleh masuk—ini adat!”
Tapi Tanaya sudah masuk. Ana yang melihat itu tersentak dan langsung berbalik hendak mencari bibi Sira untuk hal ini.
Bau darah dan keringat menghantam penciuman tanaya. Api kecil di sudut gua bergetar, memantulkan bayangan wajah pucat Tara yang terbaring dengan mata setengah terpejam. Kain di bawah tubuhnya telah basah oleh darah.
“Bayinya…” gumam Luseng, suaranya parau.“Jalannya sempit.”
Tanaya segera mendekat, ia berlutut di samping tetuah Luseng tanpa ragu.
“Tetuah Luseng bisa biarkan aku melihatnya."katanya cepat, bukan meminta tapi memastikan.
Tetuah Luseng dan lainnya langsung tersentak saat melihat Tanaya berada di sini. Wajah tuanya terkejut bukan main.
Neera langsung menatapinya tajam"Apa yang kau lakukan disini!! Ini bukan urusanmu!”bentaknya.
Suaranya naik satu oktaf. Tapi tanaya tak menghiraukan seruan nya.
Tangannya langsung bergerak menggeser posisi kain saat tetuah Luseng menjauh, ia mulai menilai sudut tubuh sang ibu. Napasnya menahan—ingatan lain menyelinap, potongan pelajaran lama, suara dosen, gambar-gambar yang tak seharusnya ada di dunia ini.
Ia kemudian berdiri di sisi Tara. Wajahnya pucat, namun matanya tetap fokus. Tangannya menekan perut wanita itu—rahimnya lembek, tidak berkontraksi. Itu sebabnya darah terus keluar. Ia tahu.
Tanpa sepatah kata, Tanaya berlutut.
Ia menyelipkan tangannya ke balik pakaiannya seolah hanya merapikan kain. Tak seorang pun yang bisa melihat ruang kecil terbuka sekejap—tempat yang tak berasal dari dunia ini.
Ketika tangannya kembali muncul, sebuah benda kecil telah berada di antara jemarinya.
Tanaya membuka bibir Tara dengan lembut namun tegas.
“Maaf…” bisiknya, entah pada siapa.
Ia langsung menyelipkan tablet itu ke bawah lidah Tara, lalu menahan rahangnya agar tidak memuntahkannya. Gerakannya cepat, terlatih—bukan gerak orang yang mencoba-coba.
“Apa yang kau lakukan—!” Maina langsung melangkah maju.
Namun sebelum suaranya meninggi, sebuah tangan tua menahannya.
Tetuah Luseng.
"Paman... Aku lihat dia memberikan bibi Tara sesuatu."tukas maina, suaranya sedikit tertahan oleh emosinya.
Sosok tua itu tidak berkata apa pun. Ia hanya berdiri diam cukup untuk menghentikan gadis itu tanpa mempermalukannya. Maina yang melihat itu menahan dirinya. Rahangnya mengeras, matanya tetap tajam, namun kini terpaksa menyaksikan.
Tatapan Tetuah Luseng tidak pernah lepas dari Tanaya. Ia memperhatikan setiap gerakan gadis itu—cara tangannya bekerja, ketenangannya di tengah darah dan napas yang terengah, keyakinan yang tak goyah meski seluruh ruangan menentangnya.
Ia seperti sudah berpengalaman soal ini.
Dan sejak Tanaya menciptakan masakan-masakan baru waktu itu… tetua Luseng semakin merasakan sesuatu yang berbeda pada diri gadis itu.
Bukan sekadar kepandaian. Melainkan cara berpikir yang belum pernah dimiliki suku ini.
Maka sejak saat itu, tanpa satu pun yang menyadari, ia mulai memperhatikan Tanaya—
dalam diam.
Beberapa saat kemudian...
Napas wanita itu perlahan tersengal, lalu tersendat. Tubuhnya bergetar kecil, keningnya berkerut seolah menahan rasa sakit baru. Tanpa disadari—aliran darah itu mulai berubah. Tidak lagi deras. Tidak lagi mengalir tanpa henti.
Hanya merembes.
Sunyi menegang seperti tali yang ditarik kuat. Beberapa orang langsung tercengang melihat nya. Tanaya kembali menekan perutnya.
“Bibi! Bibi... Dengarkan aku.” ia mencondongkan tubuhnya ke arah Tara yang sudah kembali mengerang.“Aku akan membantumu. Ikuti hitunganku yah.”
Neera di sampingnya menggenggam tangan ibunya erat sesekali menatap kearah tanaya—waspada.
"Jika sampai ibuku kenapa-kenapa karna mu... Lihat saja nanti!"bisiknya tajam.
Tanaya mendengarnya tapi tak menoleh, matanya fokus dengan apa yang di lakukan nya.
"Tenang saja... Aku usahakan ibumu aman."tutur nya lirih.
Tanaya mulai menahannya, memutarinya perlahan—bukan hanya menarik, tapi membimbing. Keringat menetes dari pelipisnya. Waktu seperti menegang, meregang tipis.
“Lagi bibi...”Tanaya berujar lagi.“Terus... tarik napas… tahan… dan dorong.”
Jeritan kembali pecah kali ini lebih keras. Tara mengepalkan tangannya wajahnya menegang hingga tak lama suara tangisan bayi terdengar lirih di sudut ruangan, tapi tak ada yang berani bersorak.
Mereka terpaku dengan apa yang di lakukan tanaya begitu juga tetuah Luseng yang hanya memerhatikan dalam diam.
Dada wanita itu langsung naik turun sangat pelan—terlalu pelan. Wanita itu menghela napasnya panjang, lalu terisak. Air mata mengalir di pipinya.
“Aku… masih hidup?” tanyanya lirih menatap beberapa wanita sekitarnya.
Neera menangis sambil memeluk ibunya. “Iya bu… kau masih di sini.”isaknya.
Tanaya langsung terduduk—lemas saat bayi itu diambil ahli oleh maina. Ia baru menyadari tangannya gemetar hebat oleh darah.
Tadi itu nyaris terlambat. Sedikit saja salah—wanita itu sudah mati di hadapan mereka.
“Paman Luseng—! Bayinya... bayinya tidak bergerak lagi—!”
Maina seketika menjerit kecil. Di gendongan nya kulit bayi itu perlahan berubah pucat… lalu kebiruan di sekitar bibirnya. Dadanya tak lagi naik.
Luseng tersentak. Ia meraih bayi itu, membalikkan sedikit, menepuk telapak kakinya—sekali, dua kali.
Tak ada reaksi.
“Dia tidak bernapas…” suara Luseng bergetar.“Rohnya—”
“Belum!”
Tanaya langsung berdiri, ia mendekat cepat. Semua orang kembali menoleh padanya.
“Berikan padaku.”
Tanaya mengambil ahli bayi itu—kecil, licin, dingin. Tanpa pikir panjang, ia membalikkan tubuh bayi itu telungkup, kepalanya sedikit lebih rendah dari dadanya.
“Pegang kakinya,” perintah Tanaya pada Maina. “Jangan goyang.”
Ia menopang kepala bayi dengan satu tangan, lalu menepuk punggungnya—tepat di antara tulang belikat—tidak keras, tapi tegas.
Tap! Tap!! Tap!!
Beberapa perempuan langsung menutup mulut mereka ngeri begitu juga dengan
Tara yang menjerit panik.
“Apa yang putri Tharen itu lakukan? Hentikan dia!”
Tubuhnya yang masih lemah berusaha bangkit, wajahnya pucat oleh keringat dan darah. Matanya membelalak saat melihat Tanaya menepuk tubuh bayinya—keras.
“Apa yang kau lakukan Naya! Jangan sentuh adikku!” suara Neera langsung pecah, nyaris histeris. “Kau menyakitinya! Kau mau membunuhnya, huh?!”
Beberapa perempuan di sekeliling ikut terkejut.
“Kenapa dipukul…?”
“Itu bayi baru lahir—”
“Ini bukan cara memanggil roh…”
Tetuah Luseng pun tersentak. Tangannya terangkat, ragu antara menghentikan atau membiarkan.
“Naya—cukup,” ucapnya berat. “Jika rohnya tidak masuk—”
“BELUM!” bentak Tanaya.
Suaranya keras. Terlalu keras untuk seorang gadis muda. Ia tak menoleh. Tak mendengarkan. Fokusnya hanya satu: tubuh kecil itu mulai dingin di tangannya.
Bayi itu masih diam. Bibirnya kebiruan.
“Lepaskan dia!” Neera menangis, air matanya jatuh bercampur ketakutan. “Kalau dia mati—aku akan—!”
Tanaya menggertakkan giginya.
“Kalau aku berhenti sekarang,” katanya cepat tanpa menatap siapa pun, “dia pasti mati.”
Itu bukan keyakinan.
Itu keputusan.
Ia melakukan seperti apa yang di pelajari nya dulu di sekolah. Tangannya kembali membalikkan tubuh bayi itu, menopang kepalanya dengan telapak tangan.
Tap!! Tapp!!!...
Tak ada reaksi.
Sorakan ketakutan terdengar. Beberapa warga di luar mulai mundur, seolah takut menyaksikan kematian.
“Cukup, Naya—” Luseng melangkah maju.
Tap.
Sedikit cairan keluar dari hidung bayi itu.
Tanaya menajamkan napasnya. Tangannya gemetar, tapi ia tidak berhenti.
“Ayo…” bisiknya. “Kau sudah sampai sejauh ini…”
Tap.
Lebih tegas.
Neera berteriak histeris. “HENTIKAN!!”
Dan saat itulah—Tubuh bayi itu tiba-tiba tersentak dan dada kecilnya mengembang, lalu—
“WAH—!”
Tangisan pecah.
Keras. Parau. Hidup.
Suara itu langsung menghantam ruangan seperti petir.
Neera membeku.
Para penduduk ikut terdiam.
Tetuah Luseng berdiri kaku, napasnya sampai tertahan dengan apa yang di lakukan tanaya.
Tanaya segera membalikkan bayi itu telentang, memeluknya dan mengusap dadanya perlahan, memastikan napasnya teratur.
Tangisan itu terus keluar. Tidak berhenti.
Itu bukan suara kesakitan.
Itu suara kembali ke dunia.
Neera menangis tersedu, kali ini berbeda. Tangannya meraih udara.“Adikku…?” suaranya bergetar.
Tanaya menyerahkan bayi itu dengan hati-hati.
“Pegang dia,” katanya pelan. “Biarkan dia menangis. Jangan dibungkus dulu.”
Neera memeluk bayi itu—gemetar, air matanya jatuh ke rambut halus adiknya itu lalu memberikan pada ibunya. Ia menatap Tanaya sejenak—marahnya runtuh, digantikan kebingungan dan syok tapi ia lebih memilih diam.
Di seberang ruangan, Tetuah Luseng menatapnya lama—Tidak dengan amarah. Melainkan dengan kebingungan yang sunyi, beberapa orang juga menatap Tanaya syok.
“Apa… apa yang kau lakukan tadi…?” bisiknya.
Tanaya yang masih mendengar nya tak menjawab. Ia perlahan berdiri, lututnya terasa lemas akibat panik tadi. Tapi tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya, Tanaya tahu—
ia tidak hanya menyelamatkan nyawa siang itu. Ia juga baru saja menjadi ancaman bagi keseimbangan dunia purba ini.
...>>>To Be Continued......