Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Nugie
"Gimana kaki lu... nggak perlu gue gendong kan buat masuk rumah?"
Adira tertawa," Berlebihan deh."
"Orang nanya bener-bener juga."
"I'm fine kakakku sayang."
"Good kalau begitu."
Masuk kepekarangan rumah, Adila memarkirkan mobilnya disamping sebuah mobil mewah yang sudah terparkir cantik disana.
"Itu mobil siapa yah?" Tanya Adila sambil mematikan mesin mobilnya.
"Mungkin tamunya Papah."
"Bukannya Papah ke Jakarta?"
"Iya juga yah... tapi siapa yang bertamu malam-malam gini?"
"Tar juga kita tahu."
Melewati ruang tamu, Adila dan Adira mendengar percakapan dari ruang tamu yang sepertinya sengaja dikeraskan agar mereka bisa mendengar.
"Makasih loh Nak Adit, mau anterin Moza pulang, maaf sudah merepotkan."
Adila dan Adira saling bertatapan, pertanyaan yang sama, Pak Aditya?"
"Tidak apa-apa Tante, lagian saya khawatir kalau Moza bawa kendaraan sendiri dalam keadaan sakit seperti ini."
"Aduh Nak Adit ini perhatian sekali."
"Sekali lagi makasih ya Dit." Ucap Moza dengan nada suara yang sangat lemah.
"Iya sama-sama... kalau gitu aku pulang dulu ya Za, Tante..."
"Loh kenapa pulang, makan malam dulu disini ya, Simbok lagi siapin semuanya."
"Tidak usah Tante kebetulan saya sudah menghubungi David, mungkin sekarang sedang dijalan menuju kemari."
"Ya bagus kalau begitu, kita ajak sekalian Nak David buat makan malam."
Belum Aditya menjawab, Dona berseru kepada Adila dan Adira yang berdiri termanggu, hingga mereka berdua terlonjak kaget.
"Kalian baru pulang rupanya, kok malah diem disana, nggak nyapa Pak Aditya?"
Adira menarik baju Adila untuk mendekat.
"Selamat malam Pak Aditya."
"Selamat malam."
"Bapak sudah lama?" Tanya Adira berbasa-basi, sedangkan Adila hanya diam saja.
Dona langsung menyela," Pak Aditya sengaja nganterin Moza."
Adira tersenyum," Oh..."
"Nak Adit bisa tolongin Tante buat anterin Moza ke kamarnya, Tante takut Moza jatuh."
"Memang Mbak Moza kenapa?"
"Tadi sempet mau pingsan Dir..." Jawab Adila tiba-tiba.
"Mbak Moza sakit?" Tanya Adira dengan melihat Moza yang sepertinya dia kelihatan baik-baik saja, tidak memperlihatkan wajah pucat atau semacamnya.
"Kayaknya sakitnya parah deh Mbak, mendingan ke rumah Sakit aja biar dapat perawatan langsung di IGD... apalgi ampe mau pingsan kayak tadi, itu tanda-tanda penyakit Mbak itu parah, Mbak Moza harus cepet cek ke Dokter mumpung stadium awal." Tutur Adila panjang lebar.
"Dil ih..." Adira sedikit mencubit lengan Adila agar tidak bicara ngelantur.
"Moza cuma kecapean kok Dila." Sanggah Dona sambil menahan amarah dengan kata-kata yang dilontarkan Adila.
"Oh cuma kecapean doang toh... itu mah ditidurin juga langsung sembuh."
Adira kembali mencubit lengan Adila.
"Mudah-mudahan Mbak Moza cepet sembuh ya."
"Makasih Adira." Jawab Moza.
"Yuk Nak Adit bantu Moza ke kamarnya, maaf loh Tante jadi ngerepotin lagi."
"Tidak apa-apa Tante."
Moza berdiri dengan mengalungkan tangannya dipundak Aditya. Berjalan tertatih seperti orang yang tidak berdaya.
Ngesot aja sekalian...
"Dir gue duluan ke kamar, gerah pengen mandi."
Setengah berlari Adila menaiki tangga, melewati Aditya yang masih memapah Moza yang baru menapaki tangga pertama.
Dengan keras Adila menutup pintu kamar, panas hati yang melanda karena untuk kesekian kalinya melihat Aditya dan Moza bersama.
Melempar tasnya ke atas kasur, Adila berderap menuju kamar mandi. Berniat mendinginkan kepala yang terasa panas dengan menenggelamkannya didalam bathtube.
Bermanjakan foam yang berlimpah ruah, Adila mengusir segala kepenatan dalam hatinya. Menghilangkan segala ingatannya tentang Aditya yang sekarang ada dikamarnya Moza, Aaaarrggghhh...
Satu jam sudah berlalu, Adila keluar dari dalam kamar mandi dengan berbalutkan handuk sebatas dada. Namun tiba-tiba seseorang melingkarkan tangannya dipinggang Adila.
"Halo sexy..."
Suara Nugie....
Adila terkejut luar biasa, baru saja Adila hendak berteriak, tangan kekar Nugie langsung membekap mulutnya.
"Emmmh...emmmh..."
Adila berusaha melepaskan tangan kekar itu dari mulutnya.
"Aku akan lepaskan, asal kamu janji tidak akan teriak."
"Emmmh....emmmhh..."
Adila semakin memberontak ketakutan, apalagi dengan keadaan dia yang hanya berbalutkan handuk saja.
"Tenang sayang... kalau tidak aku akan panggil semua orang rumah,...apalagi sekarang ini sedang ada tamu kehormatan, kamu nggak mau kan dia menyangka kamu memasukan laki-laki kekamar mu ini."
Benar juga kata dia... apalagi diluar sedang ada Aditya
Adila berusaha tenang, dan menganggukan kepala menyetujuinya.
Perlahan Nugie melepaskan tangannya, dan saat itu juga Adila berlari, menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
"Gimana caranya lo bisa masuk kesini?"
"Itu nggak penting sayang." Jawabnya sambil melangkah maju.
"Jangan mendekat.... atau...."
"Atau apa?
"Atau gue timpuk lu pake ini..." Adila mengangkat tas yang ada diatas kasurnya.
Nugie terkekeh, melipat tangan didada dengan mata yang berjelajah memperhatikan setiap sudut kamar Adila
"Ternyata nyaman banget kamar kamu, boleh aku tiduran sebentar disini?"
Nugie berjalan menuju tempat tidur dan Adila buru-buru menjauh dari sana.
"Pergi dari kamar gue."
"Sssstt... jangan teriak-teriak sayang, nanti semua orang kemari loh."
Adila berdecak kesal, ia tidak berbuat apa-apa dengan keadaan seperti ini, semuanya menjadi serba salah.
"Kamu nggak kangen sama aku, aku kangen sama tubuhmu yang mulus sayang."
"Diam... aku jijik mendengarnya. Sebenarnya tujuan lo datang kemari mau apa hah?"
Nugie menyandarkan punggungnya dikepala ranjang.
"Aku datang bawa oleh-oleh buat kamu...tuh."
Nugie menunjuk sebuah paperbag besar yang ia simpan diatas meja.
"Aku baru datang dari london, dan aku ingin di acara ulang tahun Wirrbel besok kamu memakainya untukku."
Nugie tertawa melihat wajah Adila yang kebingungan.
"Kamu pasti terkejut kan, santai saja sayang.Selama ini aku tahu semua kegiatan kamu. Dan asal kamu tahu, aku pun akan datang ke acara wirrbel besok karena Tante ku merupakan kolega terbaiknya Bapak aditya yang mengaku-ngaku sebagai kekasih kamu, bukan begitu?"
Adila semakin tertohok dengan semua ucapan Nugie, ia pun hanya bisa membungkam karena bahwasanya semua perkataan Nugie memang benar adanya.
"Aku tidak sudi memakai barang pemberian dari lo... sekarang lo keluar dari kamar gue, keluaaarrr..."
Nugie berdiri dengan santai, tak ada amarah ataupun kesal yang terlihat dari wajahnya.
"Oke aku akan pergi, karena aku kesini hanya sekedar ingin memberikan itu untukmu."
Nugie kembali tersenyum," Dan satu lagi... kamu harus mengikuti semua perkataanku, kalau tidak... adik tercinta kamu yang akan jadi taruhannya."
"Apa maksud lo... jangan bawa-bawa Adira dalam urusan kita, dia tidak tahu apa-apa."
"Semuanya ada pada mu sayang... aku pergi."
Nugie berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu.... ngapain lo jalan sana."
Nugie kembali berbalik," Kenapa...bukannya pintunya ada disini?"
"Lu gila... lu harus keluar lewat jendela."
Nugie tersenyum sarkas," aku datang lewat pintu ini dan keluar pun pastinya harus lewat pintu ini juga kan... dah sayang." Nugie menempelkan jarinya dibibir dan meniupkannya kearah Adila.
Adila terpaku, mana mungkin Nugie bisa masuk melalui pintu itu, sungguh diluar perkiraan. Adila mengecek jendela, memang semuanya terkunci. Tapi.... adila memijit kepalanya yang terasa berputar-putar, tidak mengerti.