Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
yang sebenarnya terjadi
Bu Sinta bersedia bertemu jam empat sore itu juga, di kantor Ruang Gaya yang sama tempat presentasi mempertahankan kontrak beberapa hari lalu kali ini suasananya berbeda bukan lagi alya dan dimas yang datang untuk meyakinkan, tapi Alya sendirian yang datang untuk jujur.
Dimas menawarkan diri untuk ikut, tapi Alya menggeleng pelan di lobi kantor.
"Ini harus dari aku," katanya. "Kalau ada Dimas di sana, rasanya kayak aku butuh dukungan buat meyakinkan mereka aku jujur. Aku mau mereka liat aku ngomong ini sendiri, tanpa perlu backup siapa pun."
Dimas mengangguk, meski matanya menunjukkan ia tak sepenuhnya tenang membiarkan Alya masuk sendirian. "Aku tunggu di sini."
Ruang rapat itu lebih sepi dari yang Alya ingat—hanya Bu Sinta, tanpa tim marketingnya yang biasa mendampingi.
"Saya minta cuma kita berdua dulu," kata Bu Sinta, seolah membaca kegugupan Alya sebelum ditanya. "Kalau nanti perlu penjelasan formal ke tim saya, itu bisa nyusul. Tapi saya rasa Anda butuh ngomong ini tanpa didengar banyak orang dulu."
Alya duduk, tangannya terlipat di pangkuan, mengumpulkan kalimat yang sudah ia susun sepanjang perjalanan tapi tetap terasa sulit diucapkan begitu waktunya tiba.
"Delapan tahun lalu," mulainya, "saya kerja di agensi kreatif namanya Werkstatt. Didanai grup investasi yang sekarang, dengan nama berbeda, jadi Vertex Capital yang sama yang mendekati Ibu minggu lalu."
Bu Sinta tidak menunjukkan kejutan berlebihan, hanya mengangguk pelan, menunggu Alya lanjut.
"Saya keluar dari sana dengan cara yang berantakan," lanjut alya. "Saya bawa tiga desain yang saya buat sendiri, murni ide dan tangan saya, tapi karena kontrak kerja saya, secara hukum itu dianggap aset perusahaan. Mereka ancam tuntut saya. Saya settlement diam-diam, keluar tanpa pesangon, tanpa referensi, dan tanda tangan NDA yang sampai sekarang masih bisa dipakai lawan saya kalau mereka mau."
"Direktur yang sekarang pegang penawaran ke Studio ruma," lanjutnya, suaranya mulai sedikit bergetar tapi ia memaksa tetap lanjut, "itu orang yang sama yang jadi atasan saya waktu itu. Reza adiwangsa artikel yang beredar hari ini soal dugaan klaim desain itu bukan gugatan resmi. Itu cara dia bikin orang ragu sama saya, tanpa perlu benar-benar bawa saya ke pengadilan, karena dia tau kalaupun dibawa ke sana, dia kemungkinan besar kalah."
Bu Sinta diam cukup lama, menatap alya dengan ekspresi yang sulit dibaca bukan menghakimi, tapi juga bukan langsung percaya begitu saja.
"Kenapa Anda nggak cerita ini dari awal," tanyanya akhirnya, "waktu pertama kali kita kerja sama setahun lalu?"
Pertanyaan itu, meski wajar, tetap terasa seperti pukulan telak bagi alya.
"Karena saya malu," jawab alya jujur, tak ada lagi alasan untuk menyembunyikan itu. "Saya pikir kalau orang tau saya pernah hampir dituntut, mereka bakal ragu percaya sama saya, meski saya nggak pernah salah dalam arti yang sebenarnya saya cuma korban sistem kerja yang nggak adil, yang bikin ide saya sendiri jadi bukan milik saya. Saya pikir lebih aman nyembunyiin itu, mulai lagi dari nol, dan biarin hasil kerja saya yang ngomong, bukan cerita masa lalu saya."
"Dan sekarang," lanjut alya, "cara itu justru jadi celah yang reza pakai lawan saya. Karena saya sembunyiin, begitu ada yang nemuin, kesannya kayak saya emang punya sesuatu yang harus disembunyiin."
Bu sinta bersandar ke kursinya, memikirkan sesuatu dalam diam yang terasa panjang bagi alya.
"Saya jalanin bisnis fashion sepuluh tahun," katanya akhirnya. "Saya tau rasanya diremehin karena dianggap 'cuma brand lokal kecil' waktu brand asing masuk dengan modal besar saya juga tau rasanya harus mulai dari nol dua kali karena partner bisnis pertama saya ambil semua aset waktu kita pisah." Ia menghela napas. "Yang bikin saya percaya sama Anda dan Dimas setahun ini bukan karena Anda berdua kelihatan sempurna tanpa masa lalu itu karena kerja anda konsisten, komunikasi anda jujur soal apa yang bisa dan nggak bisa dicapai, dan Anda nggak pernah janji lebih dari yang bisa dipenuhi."
Ia menatap alya lurus. "Cerita hari ini nggak mengubah itu semua. Kalau ada, itu malah bikin saya lebih ngerti kenapa Anda begitu keras kerja buat bikin alinea berhasil—Anda bukan cuma bangun bisnis, Anda buktiin ke diri sendiri bahwa apa yang direbut Werkstatt dulu nggak nentuin siapa Anda sekarang."
Mata Alya mulai berkaca, tapi kali ini bukan karena takut. "Jadi Ibu masih percaya sama kami?"
"Saya percaya," kata bu sinta, "dengan satu syarat. Kalau ada masalah lagi ke depan apa pun itu, sekecil apa pun saya mau denger langsung dari Anda, bukan dari artikel atau bisikan orang lain. Itu yang bikin kepercayaan bertahan, alya bukan karena nggak pernah ada masalah, tapi karena Anda cukup berani cerita duluan sebelum masalah itu jadi lebih besar."
Di lobi, Dimas berdiri begitu melihat alya keluar dari ruang rapat, wajahnya penuh tanda tanya yang tak sabar ia tanyakan.
"Gimana?" tanyanya begitu Alya cukup dekat.
Alya tersenyum kecil, senyum yang lelah tapi juga lega, campuran yang jarang muncul bersamaan.
"Bu sinta masih percaya sama kita," katanya. "Tapi Dimas" Ia berhenti sebentar, menatap ponselnya yang baru saja bergetar dengan pesan baru dari baswara living, belum sempat ia baca. "Ruang Gaya cuma satu dari tiga klien yang lagi ragu sekarang. Aku masih harus lakuin ini dua kali lagi hari ini, dan aku nggak tau apa semua orang bakal seterbuka Bu Sinta."
Dimas meraih tangannya pelan, genggaman yang tidak buru-buru dilepas. "Kalau begitu, kita jalanin satu-satu. Aku tau kamu bilang mau ngomong ini sendirian pertama tadi, dan itu bagus, kamu buktiin kamu bisa tapi buat dua yang berikutnya biar aku ikut kali ini, bukan buat bicara gantiin kamu, cuma biar kamu tau kamu nggak perlu ngelakuin semuanya sendirian lagi."
Alya menatapnya lama, lalu untuk pertama kalinya sejak artikel itu muncul siang tadi, ia membiarkan dirinya tersenyum penuh, bukan sekadar senyum lelah yang dipaksakan.
"Oke," katanya. "Baswara dulu."