NovelToon NovelToon
Miss Truth

Miss Truth

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Perjodohan / Tamat
Popularitas:42.8k
Nilai: 5
Nama Author: HANA NH. asuna

UPDATE SESUAI WAKTU SENGGANG HANA
Ziva adalah gadis berusia 16 tahun yang memiliki trauma pada laki-laki. Karena suatu alasan, membuatnya rela untuk bersekolah di Sekolah biasa yang penuh dengan laki-laki.

Namun, ibunya melakukan perjanjian menikah untuknya dan sayangnya, ia menerimanya karena salah paham.

Pernikahannya pun terjadi, dan penculikan langsung dialaminya, ibunya dibunuh. Suatu keanehan ditemukannya setelah pernikahan, yang belum pernah diketahuinya sejak dahulu.

Apakah Ziva akan mencaritahu semua keanehan ini? Apakah ia akan sembuh dari traumanya? Dan, apakah ia bisa mencintai suami yang dinikahinya karena salah paham?
Atau ia malah membencinya?

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Ikuti terus cerita Halo Tunder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA NH. asuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. TOPENG ( PART2 )

“Tunggu di sini. Biar aku ambil dulu topeng yang aku pesen.”

“Topeng?”

“Iyalah! Aku gak mau ketahuan momy dan ayah. Kalau Ziva mau ketahuan, ya silahkan pakai wajah asli.” Najwa berjalan masuk ke dalam rumah yang di depannya ada bacaan ‘rumah sintetis’.

Sepertinya Najwa akan lama. Dari pada menunggu di luar di temani oleh matahari yang menyengat. Lebih baik ia ikut masuk dan melihat-lihat apa isi rumah sintetis itu.

Ziva membuka gagang pintu besi dari pintu kaca transparan itu, dan mendorongnya ke dalam. Wah! Cantik sekali ruangan itu. Serba biru dan aromanya wangi bunga Lavender. Kerincingan di atas itu berbunyi menandakan ada yang datang.

Di dalam ruangan itu penuh dengan pernak-pernik aneh seperti tengkorak, patung lilin, gantungan kunci berbentuk telinga, dan banyak hal lagi yang terpajang di setiap dinding dan rak-rak berwarna biru muda itu.

“Selamat sore. Ada yang bisa di bantu?” tanya seorang wanita dari balik meja kasir. Bajunya seksi sekali. Wanita itu jadi seperti hanya mengenakan handuk.

Ziva menyapanya dengan anggukan, “Saya mencari laki-laki yang baru saja masuk tadi. Apakah, Anda melihatnya?”

Ziva memandang perempuan itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Wanita itu aneh sekali tubuhnya. Dadanya terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang setipis kertas. Rambutnya yang seperti dora itu juga sepertinya tidak asli.

Wanita itu menggeleng, “Tidak, saya tidak melihatnya.”

Benarkan? Perasaan, Najwa baru saja masuk beberapa detik yang lalu. Apakah jalannya secepat setan yang bisa tembus pandang?

“Emm, Anda yakin?” Ziva semakin mendekat ke meja kasir itu.

Ia melihat wanita itu semakin menyengir, hingga gigi kuning kudanya terlihat jelas.

Tiba-tiba, ada seseorang yang menarik lengannya. Membuatnya berbalik arah dan terlihat seperti orang yang baru diguncang gempa.

Itu Wajan! Akh, bukan. Itu Najwa berwajah Wajan. Sudah berapa kali dikatakannya pada Najwa agar tidak memakai topeng menjijikkan itu.

Najwa mendekatkan bibirnya ke jilbab di bagian telinga Ziva.

Najwa membisikkan sesuatu, “Jangan berbicara pada orang itu!”

Ziva menengok ke wajah Najwa yang terlihat masam dan bergeleng satu kali. Ziva mengendikkan alisnya satu kali yang berarti ‘kenapa?’.

Najwa memejam matanya kesal dan mendengus, “Orang itu banci!!!” bisiknya lagi dan ingin sesegera mungkin pergi dari depan meja kasir itu.

Ziva berbalik dan menatap perempuan yang ternyata banci itu dengan wajah kaget. Ia tersenyum pada Ziva, dan senyumnya mengerikan.

“Ayo ikut!” Najwa menarik tangan Ziva dan membawanya menaiki tangga dari ruangan serba biru itu.

“Wah!” Ziva terpesona dengan ruangan di lantai dua itu.

Tidak disangka, ternyata lantai dua ruangan itu adalah ruangan lab dengan berbagai alat lab yang lengkap di tepian dinding ruangan. Di tengah meja juga ada berbagai tabung reaksi untuk percobaan.

Najwa terus berjalan hingga ke ujung ruangan. Di sana ada pintu berwarna jingga, dan mereka masuk ke dalamnya.

Ada seseorang yang membelakangi mereka dengan jas dokter putih yang di kenakannya. Dari belakang, lelaki berjas dokter itu terlihat sedang mencampukan sesuatu di dalam tabung reaksinya.

“Ehem…” Najwa sedang menandakan kehadirannya dengan berdehem.

“Tunggu sebentar! Duduk dulu dan lihat-lihat barang lain yang diperlukan.” Suruh lelaki itu sementara ia masih sibuk.

“Ziva, cari barang yang kamu mau. Kalau mau ke bawah juga boleh.” Najwa mendekati lelaki itu.

Sebenarnya, Ziva ingin melihat-lihat barang, tetapi, ia tidak ada uang. Ia baru merogoh kantungnya, dan ada sesuatu di dalamnya. Wajahnya berubah sumringah dan segera mengeluarkan sasuatu yang ada di kantungnya.

Daun! Menyebakan! Itu bukan uang, itu daun. Haaa… dimana ia harus mencari uang? Ziva meringis sendiri dengan wajah yang di kerucutkannya tanpa memperdulikan dua orang di depannya.

Saat ia kembali menatap arah depan, kedua orang yang tak lain Najwa dan lelaki berjas itu sedang menatapkan dengan heran. Lelaki berjas itu memiringkan kepalanya dan bertanya.

“Siapa?”

Ziva tersadar dan melotot. Ia sangat konyol, kenapa ia ingin membeli sesuatu disaat tidak ada uang?

“Saya…”

“Itu adik saya.” Potong Najwa dan menganggukan kepalanya pada Ziva. Dengan suara ala-alanya yang dibuatnya seperti laki-laki.

“Ah, ia saya adiknya. Cuma beda 1 tahun.” Tambah Ziva. Ia tidak terima dengan kata adik.

Karena beda umurnya dengan Najwa hanya 11 bulan. Ia tidak sudi untuk memanggilnya kakak.

“Oh.” Cuek sekali laki-laki berjas putih itu.

Wajahnya culas sekali, tatapannya juga tidak hangat. Sepertinya laki-laki itu masih muda, hanya tua setahun dua tahun dari Sulthan mungkin. Tapi kenapa ia terlihat dingin?

Lelaki itu terlihat mulai merapikan tabung reaksinya ke dalam sebuah kotak yang ada tempat untuk meletak tabung reaksi. Agar cairan berwarna pink di dalamnya tidak tumpah.

Lelaki itu kembali berjalan ke tepi ruangan. Ia membuka lemari berwarna kelabu berbahan besi dan mengangkat keranjang berwarna hijau dengan besar sebola voli.

Tak…

Lelaki itu meletak keranjang itu di atas meja—tempatnya tadi melakukan eksperimen—dan menjejerkan topeng-topeng seperti yang Wajan pakai sekarang.

“Periksalah!” ujar lelaki itu.

Nadanya sarkas sekali. Buat mood jadi hilang saja cara bicara lelaki itu. Lelaki itu terlihat mulai melanjutkan kegiatannya tadi, bereksperimen.

Bola matanya memutar, ia menatap Ziva dengan tajam.

“Kenapa kamu menatap saya? Apa saya terlalu tampan?”

Apa! Lelaki ini terlalu percaya diri. Memang benar, Ziva terus menatapnya sejak tadi. Tapi apa salahnya? Hanya menatap saja bukan berarti lain, kan? Itu hanya karena Ziva punya mata.

Ziva menutup matanya dan berusaha bernafas dengan teratur. Bisa-bisa ia sakit jantung menghadapi laki-laki itu.

“Maaf, Pak. Saya menatap bapak itu hanya karena bapak pemarah sekali. Saya hanya heran, kenapa bapak sangat pemarah.” Ujar Ziva.

Ziva segera berpindah dari depan pintu dan duduk di samping Najwa yang duduk di kursi pastik. Tidak jauh dari lelaki pemarah tadi duduk.

Lelaki itu masih terus menatap Ziva. Sebelah alisnya naik dan matanya masih melotot seakan ingin mengusir Ziva dari tempat itu secepatnya.

Ziva hanya tersenyum setelah mendapat tatapan seperti itu. Karena ia tidak salah apa-apa, jadi kenapa ia harus takut?

Sementara itu, Najwa masih terus memeriksa tekstur dan bentuk dari kesepuluh topeng yang sudah di letakkan laki-laki itu dengan berjejer.

Baiklah. Mereka sudah dapat apa yang mereka ingin. Kini waktunya bagi mereka untuk pulang dan menyusun rencana kegiatan.

“Berapa?” Najwa berdiri dan memasukkan kembali topeng itu ke dalam keranjang mini berbentuk balok itu.

Lelaki berjas yang pemarah tadi melirik Najwa, kemudian berganti melirik Ziva.

“Gratis.” Begitu katanya.

Apa maksudnya? Apa ia serius?

“Serius?” tanya Najwa.

Lelaki itu melirik Ziva lagi, “Kalau adik kamu tidak panggil saya bapak.”

Ooow, ternyata ia tersinggung dengan panggilan ‘bapak’ dari Ziva. Tapi seriuskah lelaki itu? Hanya demi Ziva tidak memanggilnya bapak, ia rela agar itu gratis.

“Hah?” Najwa tercengang.

Lelaki itu berdehem, ia berpura-pura membersihkan bahu jasnya.

“Anggap saja saya tidak pernah mengucapkan itu. Mungkin itu penyebab serum yang baru saya ciptakan.” Ia berusaha berdalih.

“Ah, baiklah.” Ujar Najwa.

Lelaki itu mengambil kertas dan menuliskan harganya disana. Ziva tidak bisa melihat harga yang ditulisnya, dan ia langsung memberikannya ke Najwa.

Najwa sedikit terkejut. Terlihat dari alisnya yang terangkat.

“Kenapa jadi lebih murah? Apakah ada diskon?”

Ah, ternyata karena lebih murah. Ziva pikir sikap Najwa begitu karena harganya yang mahal.

Lelaki berjas itu melirk Ziva sejenak, membuat Ziva canggung dengan tatapannya yang aneh.

“Tidak ada alasan.” Kata lelaki itu.

Najwa seolah tidak peduli dengan alasan lelaki itu tidak beralasan. Ia hanya meraih sakunya dan mengeluarkan dompet kulitnya yang berwarna coklat.

Najwa mengeluarkan uang seratus ribu 5 lembar. Hah! Itu yang Najwa katakan murah? Ziva pikir harganya hanya sekitar sepuluh ribu. Ternyata lima ratus ribu.

Aduh, kepalanya sakit memikirkan uang lima ratus ribu habis hanya untuk topeng elastis menjijikkan.

Lelaki itu mengambil uangnya dan Najwa mulai berjalan ke arah pintu sambil menggeret tangan Ziva yang masih menggenggam bambu kuning pemberian kakek tua berjenggot putih.

“Al!” teriak lelaki itu ketika Najwa dan Ziva berada di luar pintu dan hendak menutupnya.

“Apa?” tanya Najwa menatap lelaki itu.

“Nama saya Al. Bilangin sama adik kamu, jangan panggil saya bapak. Panggil kakak.” Ujar laki-laki itu.

Ziva muai tertawa, dan laki-laki itu terlihat kikuk. Ia masuk ke pintu di sisinya.

Najwa menutup pintu itu dengan wajahnya yang agak aneh. Seterusnya Najwa pun lebih aneh lagi. Ia tidak mengatakan sepatah katapun sampai mereka di bawah dan disapa oleh banci seksi tadi.

Najwa menstarter motornya. Dan setelah Ziva naik, Najwa langsung menggas motornya dengan kecepatan maksimal. Jilbab Ziva terus berterbangan dan memperihatkan rambut panjangnya dari belakang jilbab.

Dan kini, mereka sampai di depan gerbang rumah mama lagi. Najwa melepas helmnya dan meletakkan di kaca spion dengan kasar.

“Apa Najwa suka sama bapak itu, ya? Tapi bapak itu anggap dia sebagai laki-laki. Ah udah deh, gak usah mikir yang enggak-enggak Ziva.” Gumam Ziva.

Ketika di atas kasurnya, Najwa langsung mencampakkan tubuhnya. Dan Ziva duduk di tepiannya.

“Najwa. Kamu kenapa?” tanya Ziva.

Tapi pertanyaan Ziva tak dihiraukannya. Ia masih menenggelamkan kepalanya ke dalam bantalnya yang empuk dan selimutnya yang hangat.

“Najwa!” rengek Ziva dengan manja.

Najwa bangkit dan menunjukkan wajah murungnya. Tiba-tiba, ia tersenyum.

“Ziva. Akhirnya aku tahu nama kak Al.” begitu ujarnya tiba-tiba.

“Ya, terus?”

“Itu artinya, dia suka Ziva. Yakan?”

Hah?

“Maksudnya?”

“Iya. Masa Ziva gak tau sih?”

“Lah, hubungannya apa?” kening Ziva mengkerut.

“Iya, dengan dia suka sama Ziva, kita bisa terus dapat potongan harga. Kan bagus.”

“Iya, bagus. Tapi, kenapa tadi Najwa marah?” Ziva mengambil guling untuk alas sikunya.

“Kamu gak akan selingkuh dari bang Sulthan, kan?” mata Najwa menyorot Ziva dengan tajam.

Serentak, Ziva tertawa. “Ya enggaklah.”

Ziva pergi ke kamar mandi untuk mandi sore. Namun, mata Najwa kembali menyendu di atas kasurnya. Apakah semua baik-baik saja?

...***...

1
HANA.NH
up lagi setelah sekian lamanya
Yoanita_Situmorang
ditunggu kelanjutannya thor🔥
HANA.NH: iya, kak. makasih, sudah terus menunggu.
total 1 replies
Bang Regar
👍
R.F
2 like hadir. cemungut. like balik yw
MayaTika Channel
Terima Kasih Thor sudah menghibur . Adem bacanya kalo suami istri sama" saling ngerti gtu 🥺
HANA.NH: Ulu-ulu, maacih banyak komennya, kak. Seger bener kek abis minum extra jos👍👍
total 1 replies
Komah Xyamat
semoga ziva sama sultan bisa dipersatukan kembali dan bahagia. 😁😀 lanjut kaka aku tungguin nih jangan lama2 kaka semangaka (semangat kaka)
HANA.NH: aamin kk
total 1 replies
Ipah Cakep
penyelidikan di mulai
HANA.NH: eheee....😁
total 1 replies
Ipah Cakep
wajan siapa sih Thor? pa pernah suka ama ziva?
Ipah Cakep: kok bisa baek bgt?
total 3 replies
R.F
semangat kaka.like. like balik ya
HANA.NH: makasih kkk, Hana comeback ya
total 1 replies
Heni Lestari
hai salam kenal aku Heni lestari mapir juga ya kak ke novel ku kisah cintaku dengan adik kelas ku aku juga dah like kak sampai 6 back y author 😂
Ipah Cakep
auto mewek 🤧😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Ipah Cakep
wajan?
Ipah Cakep
astaghfirulloh.. kaget
Ipah Cakep
Kaya itu hati yg tulus
Navizaa
lanjutt kak
HANA.NH: iya kk, makasih❤❤❤
total 1 replies
Susi Ana
like, mampir ya
HANA.NH: iya kk, Hana mampir ya
total 1 replies
R.F
semangat up.like like balik ya
HANA.NH: iya kkk, Hana mampir Ya... makasih karena udah mampir
total 1 replies
Ipah Cakep
Alhamdulillah
Ipah Cakep
Sahabat selamanya 🥰🥰🥰
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim 🥵🥶🤧🤒🤕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!