KAILA SAFIRA seorang gadis cerdas berusia 22 tahun, yang tewas usai tertabrak mobil saat akan membeli martabak selepas menghadiri rapat perusahaan milik mendiang orang tuanya.
Bukannya menuju alam barzah, Kaila justru masuk ke dalam tubuh KANAYA ADELINE. Seorang figuran yang hanya satu kali di sebutkan dalam novel yang berjudul 'MY DESTINY' tokoh dengan kehidupan yang tak diketahui bahkan oleh penulis itu sendiri.
Penasaran dengan kelanjutan kisahnya?
Mari kita ikuti ceritanya di bawah ini......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyalexy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Setelah cukup beristirahat, Kanaya dan teman-temannya kembali melanjutkan kegiatan camping mereka. Waktu masih menunjukkan pukul 10.00 pagi, sehingga para peserta diberikan waktu 2 jam untuk melakukan kegiatan bebas di sekitar tenda.
Kanaya, dan teman-teman satu tendanya memilih untuk berkumpul di tepi danau yang airnya begitu jernih.
Mereka membuat lingkaran dan mulai bercerita tentang pengalaman mereka selama camping. Dan melanjutkan obrolan mereka tentang hal-hal yang lebih ringan. Mereka tertawa dan bercanda bersama.
Ditengah-tengah obrolan, datanglah Verel yang membuat suasana menjadi hening. Ia mengajak Kanaya ke tempat yang sedikit jauh dari keberadaan teman-temannya.
Setelah berada sedikit jauh dari teman-temannya, Verel menanyakan mengenai perkembangan kasus Juwita, ia sudah sangat penasaran sekali semenjak Kanaya mengatakan dia tau siapa pelakunya.
"Nay, gimana perkembangan kasus Juwita?" tanya Verel
"Gue udah penasaran banget nih dari kemarin, siapa sih sebenarnya pelakunya?" Lanjutnya mendesak.
Mendengar pertanyaan Verel, Kanaya langsung menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, ia kemudian menghela nafas dalam-dalam.
"Lo gak akan percaya" ucap Kanaya akhirnya.
"Maksud lo gimana, Nay?" tanya Verel semakin penasaran.
"Gu-"
Belum sempat Kanaya menjawab, tiba-tiba Verel meminta Kanaya untuk diam. Lalu mengalihkan perhatiannya pada Sindy. Ia melihat Sindy bertingkah mencurigakan dan dengan cepat naluri detektifnya langsung keluar.
"Nay, lihat itu," bisik Verel sambil menunjuk ke arah Sindy.
Kanaya, yang juga penasaran, mengikuti arah pandang Verel. Ia melihat Sindy berjalan dengan tergesa-gesa sesekali menoleh ke belakang seperti sedang memastikan tidak ada yang mengikutinya.
"Gue liat," balas Kanaya.
"Dia kayaknya lagi nyembunyiin sesuatu deh." Curiga Verel dengan mata memicing.
"Gue teu, Kita ikutin dia," ajak Kanaya, diangguki Verel.
Akhirnya mereka berdua mengikuti Sindy dari kejauhan, berusaha untuk tidak ketahuan.
"Dia mau kemana sih?" bisik Verel seraya menghalau nyamuk-nyamuk yang akan menghinggap di tubuhnya.
"Mana gue tau" jawab Kanaya pelan tanpa menatap lawan bicaranya, ia masih saja fokus mengawasi langkah Sindy.
Setelah lama berjalan, akhirnya Sindy berhenti di sebuah pohon besar, yang dimana sudah ada seorang pria berdiri menunggu di bawah nya.
Verel yang tengah bersembunyi di balik semak-semak terkejut melihat sosok pria yang tidak asing didepan sana. Tapi tidak dengan Kanaya, karena ia sudah tau siapa yang akan ditemui Sindy, hanya saja ia ingin Verel melihatnya secara langsung.
Keduanya kemudian berjalan lebih dekat kearah Sindy, berusaha untuk mendengarkan percakapan mereka.
Tidak lupa Kanaya mengeluarkan Handphone-nya untuk langsung merekam percakapan keduanya sebagai barang bukti.
"Anjir, ada hubungan apa mereka coy?" Seru Verel penasaran.
"Sssst, coba Diem elah" tegur Kanaya jengah, Verel terlalu berisik untuk menjadi seorang Detektif.
Mereka berdua melihat Sindy tengah memarahi dan memaki pria tersebut tanpa ada perlawanan sedikitpun, kemudian dengan keras Sindy melayangkan tamparan nya.
Setelah menampar pria itu, Sindy berjalan pergi meninggalkan tempat itu, disusul si pria yang juga pergi mengejarnya dari belakang.
"Wah, gila. Gue gak nyangka sama sekali..Jadi mereka?" shock Verel, kemudian ia terdiam sejenak, merenungkan apa yang baru saja ia ketahui.
Ia tidak menyangka bahwa orang yang selama ini ia pikir baik, ternyata memiliki sisi gelap yang tersembunyi.
"Bener, kan?" tanyanya lagi, kini menoleh ke arah Kanaya yang sedang fokus pada Handphone-nya.
"Hm," dehem Kanaya membenarkan pertanyaan Verel.
"Kalo lo gak denger langsung, lo gak akan percaya kalo gue bilang, dia pelakunya" jawabnya kini membalas tatapan mata Verel.
"Semua orang pasti bakal mikir kaya gue Nay, citra dia terlalu rapih untuk seorang pembunuh" ujar Verel.
Kanaya mengangguk setuju. Ia juga tidak menyangka bahwa pria itu adalah pelakunya. Dia selalu terlihat baik dan polos di mata semua orang.
"Bener, awalnya gue juga nggak nyangka kalo dia bisa sekejam itu. Tapi, lo udah lihat sendiri kan apa yang terjadi." ujar Kanaya.
"Kita nggak bisa lagi percaya sama citra yang dia bangun selama ini, kita harus cepat bongkar semua kejahatan mereka" ucap Verel menggebu.
"tenang aja, gue punya bukti kekejaman dia. Apalagi tadi gue juga ngerekam omongan mereka" ujar Kanaya membuat Verel mengangguk puas.
Kemudian, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke perkemahan, namun tidak langsung memberitahukan apa yang mereka ketahui kepada teman-teman yang lain.
Keduanya sepakat untuk merahasiakan terlebih dahulu informasi yang mereka dapatkan.
Mereka tidak ingin acara camping yang sedang mereka nikmati bersama teman-teman menjadi kacau karena masalah pembunuhan Juwita.
Di tambah suasana sebelumnya sudah sangat tegang, jadi mereka tidak ingin membuat teman-teman mereka panik atau khawatir lagi.
"Kita simpan dulu informasi ini buat sementara waktu," ujar Kanaya kepada Verel.
"Kita gak bisa buat acara ini jadi berantakan." Lanjutnya.
"Iya, Nay," jawab Verel.
"Kita bisa bicarakan ini nanti setelah acara camping selesai."
Mereka berdua kemudian kembali ke perkemahan dengan tenang, berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
Meskipun demikian, pikiran Verel masih tidak bisa lepas dari apa yang baru saja ia saksikan. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya mengenai hubungan antara Sindy dan pria itu.
****
Setelah Kanaya dan Verel kembali ke tempat perkemahan, keduanya dibuat bingung melihat kerumunan siswa di sekitar tenda.
Merasa penasaran, Kanaya segera mendekat dan ia terlihat terkejut bukan main, setelah melihat kehadiran Kenan di tengah kerumunan.
Kenan, yang sedari tadi mencari Kanaya, akhirnya menemukannya di antara kerumunan siswa yang tengah ribut. Tanpa ragu, ia menghampirinya dan membawanya menjauh dari sana, mencari tempat yang lebih tenang.
Setelah sedikit menjauh dari kerumunan, Kenan dengan hati-hati mulai berbicara. Ia menanyakan tentang luka yang dilihatnya di tangan Kanaya. Ia juga menanyakan tentang kedekatan Kanaya dengan David.
"Bagaimana lukamu?" tanya Kenan dengan Khawatir.
"i'ts oke, udah di obatin" jawabnya tersenyum
"Lain kai hati-hati" terdengar nada cemas dalam kalimatnya.
"Lalu bagaimana dengan David? Bukankah kamu bilang ingin menjauhinya, tapi mengapa kamu malah melindunginya?" tanya Kenan dengan nada sedikit ketus, seraya menatap Kanaya intens.
"Ck, waktu itu aku cuman refleks bantu, bukan perhatian. Lagian aku masih mau ngejauhin David kok." jawab Kanaya santai seraya mengangkat banyak acuh.
Kenan yang mendengarnya hanya mengangguk singkat, tapi tidak dengan hatinya yang kini bisa bernafas lega.
"Oh iya, Om Kenan kok ada disini?" tanya Kanaya kini penasaran.
"Kenapa aku tidak bisa berada disini?" Bukannya menjawab, Kenan justru bertanya balik.
"Karena Om Kenan, bukan siswa" jawab Kanaya.
"Tapi, aku anak pemilik sekolah ini" ucap Kenan dengan nada bangganya, membuat Kanaya memutar bola matanya.
"Ck, sombong amat" cibir Kanaya.
"Aku tidak sombong, tapi itulah faktanya." ujar Kenan seraya mengelus lembut kepala Kanaya.
Dari kejauhan, Interaksi Kanaya dan Kenan, langsung membuat peserta perkemahan saling berbisik, mencoba menebak-nebak hubungan antara keduanya.
Meskipun waktu itu kenan pernah datang ke sekolah, namun tak ada yang tau apa hubungannya dengan Kanaya, karena mereka pikir Kenan datang hanya karena statusnya sebagai anak pemilik sekolah, bukan untuk hal lainnya.
Dan kini, kehadiran Kenan di perkemahan ini menimbulkan pertanyaan besar di benak para peserta.
****
nyesel bacanya