"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Keesokan Hari...
Setelah kedatangan Pak Eza kemarin. Gavin dan Aruna tak saling bertegur sapa. Gavin memilih mengurung diri di lantai atas dimana ruang kerjanya berada. Sedangkan Aruna memilih fokus mengurus si kecil, Kenzie.
Setelah kepergian Pak Eza kemarin Gavin terus terbayang - bayang dengan perkataan Pak Eza. Apa benar kecelakaan Bang Rendy dan Kak Adisti ulah seseorang yang merka kenali ?
Sejujurnya Gavin sudah mengantongi beberapa nama yang kemungkinan dalang di balik kecelakaan kedua kakaknya. Ditambah orang - orang yang telah berani mengkhianati bang Rendy.
Gavin juga sudah meminta Tian untuk menyelidiki nama - nama yang ia curigai. Ia harus menjaga perusahaan peninggalan keluarganya itu, untuk masa depan Kenzie kelak. Gavin tak mau perusahaan yang di kembangkan oleh mendiang sang ayah dan kakaknya jatuh ke tangan orang lain.
^~^ ^~^
Pukul 06.30 WIB
Gavin keluar dari dalam kamarnya, lalu menuju ruang makan untuk menunggu Aruna disana.
Ia harus membicarakan masalah ini semua dengan Aruna. Serta ia juga ingin meminta maaf dengan tulus dari dalam hatinya atas kesalahan yang ia buat kemarin.
Melihat Aruna keluar dari dalam kamarnya sambil menggendong Kenzie di dalam gendongannya. Membuat Gavin langsung berdiri dari duduknya dan menyambung kedatangan sang istri.
Wajah Aruna langsung merengut kesal melihat wajah Gavin disana."Merusak mood pagi ku saja, ck ck"
Gavin menelan ludah, mengabaikan sindiran tajam yang baru saja dilontarkan Aruna. Ia tahu diri. Kesalahannya kemarin memang fatal, dan ia tidak punya hak untuk membela diri atau merasa tersinggung pagi ini.
"Aruna... bisa kita bicara sebentar? Tolong duduk dulu," ucap Gavin dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, jauh dari kesan santai atau menyebalkan seperti biasanya.
Aruna sempat bergeming di dekat meja makan, menatap Gavin dengan pandangan penuh selidik dan permusuhan. Namun, melihat lingkaran hitam di bawah mata Gavin dan gurat kelelahan yang nyata di wajah suaminya, Aruna akhirnya menghela napas panjang. Ia mendudukkan Kenzie di baby chair, lalu ikut duduk di hadapan Gavin tanpa melepaskan pandangan dinginnya.
"Mau bicara apa lagi? Kalau mau minta maaf soal kemarin, mending gak usah. Tindakan kamu kemarin gak bisa dihapus cuma pakai kata maaf," ketus Aruna sambil mengoleskan selai ke selembar roti untuk Kenzie.
" Aku tahu. Aku salah banget kemarin, Ru," Gavin menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan. "Aku minta maaf dari lubuk hati aku yang paling dalam. Aku bener-bener bodoh karena udah ninggalin Kenzie sendirian demi kesenangan aku pribadi. Aku janji... demi Tuhan, aku gak akan pernah mengulangi kecerobohan itu lagi."
Aruna diam. Ia memilih memberikan potongan kecil roti yang sudah ia berikan sedikit selai coklat di atasnya kepada Kenzie yang mulai sibuk mengunyah, enggan merespons permintaan maaf Gavin terlalu cepat. Ia ingin melihat sejauh mana pria di depannya ini benar-benar menyesal.
Gavin menegakkan tubuhnya, tatapannya berubah serius saat menatap langsung ke dalam manik mata Aruna. "Tapi selain minta maaf, ada hal jauh lebih penting yang harus kita bahas. Ini soal peringatan Pak Eza kemarin."
Mendengar hal itu, gerakan tangan Aruna langsung terhenti. Atmosfer di meja makan mendadak berubah serius.
"Kamu... memikirkan perkataan Pak Eza juga?" tanya Aruna, suaranya kini melunak, digantikan oleh rasa penasaran dan was-was.
Gavin mengangguk mantap. "Semalaman aku gak bisa tidur, Ru. Sebenarnya... sebelum Pak Eza ngomong kayak gitu kemarin, aku udah mengantongi beberapa nama yang aku curigai di perusahaan. Ada orang-orang yang selama ini diam-diam berusaha menusuk Bang Rendy dari belakang."
Aruna membelalakkan matanya terkejut. "Maksud kamu... kecelakaan Bang Rendy dan Kak Adisti itu sengaja direncanakan?"
"Aku belum berani menyimpulkan sampai ke sana, tapi kemungkinannya ada," bisik Gavin, sengaja merendahkan suaranya agar tidak mengejutkan Kenzie. "Mereka mengincar aset perusahaan yang sekarang secara hukum adalah milik Kenzie. Aku udah minta Tian—sekretaris ku—untuk menyelidiki pergerakan nama-nama itu secara rahasia. Aku gak akan biarkan perusahaan yang dibangun setengah mati oleh Papi dan bang Rendy jatuh ke tangan orang lain. Ini semua demi masa depan Kenzie."
Aruna tertegun. Untuk pertama kalinya selama seminggu mereka tinggal bersama, ia melihat sisi lain dari Gavin. Pria yang biasanya ia cap sebagai playboy cap Bunglon dan egois, kini tampak seperti seorang paman—bahkan seorang kepala keluarga—yang siap pasang badan untuk melindungi keponakannya.
"Tapi masalahnya," Gavin menghela napas, menyugar rambutnya dengan frustrasi. "Aku gak bisa terus-terusan diam di apartemen sesuai jadwal jaga kita kemarin, Ru. Aku harus turun langsung ke lapangan, memantau perusahaan, dan menyelidiki masalah ini lebih dalam. Di sisi lain, aku juga memiliki perusahaan sendiri yang harus ku jalani. Ngga mungkin aku bisa meninggalkan kewajiban ku di dua perusahaan itu, kan."
Aruna terdiam, mencerna setiap perkataan Gavin. Apa yang dikatakan suaminya itu masuk akal. Situasi mereka sekarang sudah berubah. Mereka tidak hanya sedang membesarkan seorang anak, tapi juga sedang melindungi nyawa dan hak anak itu dari ancaman yang tidak terlihat.
"Aku juga gak mungkin * resign atau izin terus-terusan dari sekolah, Vin," sahut Aruna, mengutarakan kebingungannya sendiri. "Tugas mengajar aku padat, dan gak mungkin aku bawa Kenzie bolak-balik ke ruang guru setiap hari. Itu pasti bakal mengganggu kenyamanan dia dan staf yang lain."
Keheningan sempat merayap di antara mereka selama beberapa saat. Keduanya sama-sama memutar otak, mencari jalan keluar terbaik agar pekerjaan mereka tetap jalan, penyelidikan Gavin tidak terhambat, dan yang paling penting: keselamatan Kenzie tetap nomor satu.
Tiba-tiba, mata Aruna berbinar saat sebuah ide melintas di kepalanya.
"Vin, kenapa kita gak masukin Kenzie ke sekolah aja?" usul Aruna tiba-tiba.
Gavin mengernyitkan dahi, tampak tidak setuju. "Sekolah? Ru, Kenzie itu baru umur satu setengah tahun. Masa iya batita seumurnan dia udah harus sekolah?"
"Bukan sekolah formal kayak anak yang lainnya, Gavin," potong Aruna cepat. "Di TK tempat aku mengajar, ada kelas khusus daycare dan bermain untuk anak batita usia satu sampai tiga tahun. Kegiatannya cuma melatih motorik, bermain, dan bersosialisasi sama anak - anak seusianya."
Gavin tampak menimbang-nimbang, namun gurat keraguan masih tercetak jelas di wajahnya.
"Keuntungannya apa? Apa aman?" tanya Gavin protektif.
"Sangat aman. Karena sekolahnya sama dengan tempat aku mengajar, aku bisa mengawasi Kenzie secara langsung setiap jam istirahat. Jaraknya dekat banget dari jangkauan aku. Jadi, kalau kamu harus ke kantor atau menyelidiki masalah internal perusahaan, kamu gak perlu cemas. Kenzie bakal ada di bawah pengawasan aku seharian di sekolah," jelas Aruna panjang lebar.
Gavin terdiam, mencerna opsi yang ditawarkan Aruna. Perlahan, senyuman tipis terukir di wajahnya. Harus ia akui, ide Aruna kali ini benar-benar brilian dan memecahkan semua jalan buntu yang mereka hadapi sejak semalam.
"Oke," Gavin mengangguk setuju, ada binar lega di matanya. "Aku setuju dengan ide kamu. Itu jalan satu-satunya yang paling aman buat Kenzie sekarang."
Gavin menatap Kenzie yang sedang asyik memainkan sendok plastiknya, lalu beralih menatap Aruna. "Makasih ya, Ru. Dan... Aku minta maaf sekali lagi untuk yang kemarin."
Aruna hanya mendeham pelan, ketegangan di wajahnya kini sudah jauh berkurang. "Ya. Yang penting sekarang kita fokus sama Kenzie dan cari tahu siapa dalang di balik semua misteri ini."
Tanpa mereka sadari, konfrontasi dan bahaya yang mengintai justru perlahan-lahan mulai mengikis sekat ego di antara keduanya, menyatukan mereka dalam satu tujuan yang sama.
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor