NovelToon NovelToon
Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Setelah Diceraikan Aku Menemukan Rumahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pengkhianatan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhatu Lukita

Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menumpang di Rumah Mertua

Ada kalanya seseorang terpaksa memilih jalan yang tidak disukainya.

Bukan karena itu jalan terbaik.

Melainkan karena tidak ada pilihan lain.

Dan saat Nandin mengemasi pakaian Shella dan Sherly ke dalam dua tas besar, ia tahu dirinya sedang melakukan hal yang sama.

Ia tidak ingin pindah ke rumah Ibu Sri.

Tidak sedikit pun.

Namun setelah berminggu-minggu berdebat dengan Wisnu, lelaki itu tetap bersikeras.

"Kalau nggak mau ke Jawa Barat, ya tinggal di rumah Ibu."

"Aku lebih nyaman di kontrakan."

"Ngapain buang-buang uang kontrakan?"

"Tapi aku sudah terbiasa di sana."

"Pokoknya pindah."

Setiap pembicaraan selalu berakhir seperti itu.

Tidak pernah ada diskusi.

Tidak pernah ada kompromi.

Yang ada hanya keputusan Wisnu.

Dan Nandin harus menerima.

Seperti biasa.

Pagi itu rumah kontrakan yang selama ini menjadi saksi perjuangannya terasa berbeda.

Lebih sepi.

Lebih kosong.

Shella tertidur di ayunan bayi.

Sedangkan Sherly sedang menyusu.

Nandin duduk di lantai sambil melipat pakaian bayi satu per satu.

Matanya berkaca-kaca.

Bukan karena rumah itu mewah.

Justru sebaliknya.

Rumah itu kecil.

Atapnya kadang bocor.

Dindingnya mulai kusam.

Namun di tempat itulah ia berjuang saat hamil.

Di tempat itulah ia membangun usaha katering.

Di tempat itulah ia melahirkan impian untuk membesarkan kedua putrinya.

Dan sekarang ia harus meninggalkannya.

Bu Rini datang ketika mobil pikap pengangkut barang sudah menunggu di depan rumah.

"Jadi beneran pindah?"

Nandin mengangguk.

"Iya."

Bu Rini menghela napas panjang.

"Nggak enak hati saya."

"Kenapa?"

"Saya nggak percaya sama ibu mertuamu."

Nandin tertawa kecil.

Andai Bu Rini tahu.

Ia juga tidak percaya.

Menjelang siang, mereka tiba di rumah Ibu Sri.

Rumah itu terlihat jauh berbeda dibanding beberapa bulan lalu.

Cat baru.

Pagar baru.

Keramik baru.

Dapur baru.

Semuanya hasil uang kiriman Wisnu.

Bahkan di bagian depan rumah kini berdiri bangunan baru berukuran sekitar empat kali enam meter.

Bangunan itu masih kosong.

Catnya masih terlihat mengilap.

Nandin langsung menebak.

Ini pasti toko yang pernah diceritakan Wisnu.

Dan benar saja.

Begitu turun dari mobil, Ibu Sri langsung menunjuk bangunan itu dengan bangga.

"Gimana?"

Nandin memaksakan senyum.

"Bagus."

"Ini toko baru."

"Iya Bu."

"Nanti kalau Wisnu pulang dari Korea, Ibu mau jualan sembako."

Nada suaranya penuh kebanggaan.

Seolah semua itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

Padahal Nandin tahu siapa yang mengirim uang untuk membangunnya.

Untuk sementara, toko itu belum dipakai.

Karena stok sembako belum ada.

Maka Ibu Sri punya ide lain.

"Kamu jualan katering saja di situ."

Nandin sedikit terkejut.

"Hah?"

"Biar nggak sempit."

Jujur saja, itu pertama kalinya Ibu Sri memberi sesuatu yang terdengar membantu.

Dan Nandin hampir merasa bersyukur.

Hampir.

Karena ia belum tahu bahwa bantuan itu memiliki harga yang mahal.

Sangat mahal.

Hari-hari pertama tinggal di rumah Ibu Sri terasa aneh.

Nandin dan kedua bayinya menempati kamar kecil di bagian belakang rumah.

Kamarnya tidak besar.

Hanya cukup untuk satu ranjang.

Satu lemari.

Dan beberapa perlengkapan bayi.

Namun Nandin mencoba bersyukur.

Setidaknya Shella dan Sherly punya tempat tidur yang layak.

Awalnya semua tampak baik-baik saja.

Ibu Sri sesekali menggendong cucunya.

Tetangga yang datang sering memuji.

Dan usaha katering Nandin perlahan mulai berjalan lagi.

Bahkan lebih ramai dari sebelumnya.

Karena lokasi toko berada di pinggir jalan.

Lebih strategis.

Lebih mudah terlihat.

Pesanan mulai berdatangan.

Pengajian.

Acara RT.

Ulang tahun.

Syukuran.

Satu demi satu.

Dan untuk pertama kalinya setelah melahirkan, Nandin kembali memiliki penghasilan sendiri.

Meski tidak banyak.

Namun cukup untuk membeli kebutuhan bayi.

Suatu sore, setelah menyelesaikan pesanan tiga puluh nasi kotak, Nandin menghitung keuntungan hari itu.

Tiga ratus lima puluh ribu rupiah.

Tidak besar.

Tapi cukup membuatnya lega.

Baru saja ia hendak menyimpan uang itu ke dompet, Ibu Sri muncul di pintu toko.

"Pesanannya sudah selesai?"

"Sudah Bu."

"Dapat untung berapa?"

Pertanyaan itu membuat Nandin sedikit tidak nyaman.

Namun ia tetap menjawab.

"Sedikit."

"Berapa?"

"Tiga ratus lima puluh."

Ibu Sri mengangguk pelan.

Lalu mengulurkan tangan.

"Nah."

Nandin mengernyit.

"Nah apa, Bu?"

"Ibu pinjam dulu dua ratus."

Deg.

Jantung Nandin langsung berdebar.

"Untuk apa?"

"Beli kebutuhan rumah."

Nandin terdiam.

Sebenarnya ia ingin menolak.

Tapi bagaimana caranya?

Ia tinggal di rumah wanita itu.

Akhirnya ia menyerahkan uang tersebut.

Dan sejak hari itu...

Kebiasaan itu dimulai.

Awalnya dua ratus ribu.

Kemudian seratus ribu.

Lalu lima puluh ribu.

Lalu tiga ratus ribu.

Hampir setiap kali Nandin menerima pembayaran, Ibu Sri selalu datang.

"Nanti Ibu ganti."

Kalimat itu selalu sama.

Namun penggantinya tidak pernah ada.

Tidak sekali pun.

Bulan pertama, Nandin masih mencoba berpikir positif.

Mungkin benar untuk kebutuhan rumah.

Mungkin nanti diganti.

Mungkin memang sedang butuh.

Namun bulan kedua semuanya mulai terasa aneh.

Karena jumlah uang yang diambil semakin banyak.

Sementara penghasilan Nandin justru semakin kecil.

---

Suatu malam saat menghitung pemasukan, Nandin terkejut.

Dari keuntungan hampir dua juta rupiah bulan itu, yang tersisa di tangannya bahkan tidak sampai lima ratus ribu.

Sisanya?

Entah mengalir ke mana.

Dan ia tahu jawabannya.

Ibu Sri.

---

"Aku capek."

bisiknya suatu malam.

Shella dan Sherly sudah tertidur.

Sementara dirinya masih duduk di depan buku catatan keuangan.

Semakin dihitung, semakin pusing.

Karena semua usahanya seolah tidak menghasilkan apa-apa.

Ia bekerja.

Ia memasak.

Ia belanja.

Ia mengantar pesanan.

Tapi uangnya selalu habis sebelum sempat dinikmati.

Tekanan itu semakin besar ketika Ibu Sri mulai memperlakukannya seperti pembantu.

Awalnya hal-hal kecil.

"Nandin, sapu ruang tamu."

"Nandin, cuci baju Ibu sekalian."

"Nandin, masak untuk tamu Ibu."

Lama-lama semakin banyak.

"Nandin, bersihkan dapur."

"Nandin, cuci kamar mandi."

"Nandin, bikin teh buat arisan."

Semua dilakukan seolah itu kewajibannya.

Padahal Nandin juga harus mengurus dua bayi.

Dan menjalankan usaha.

Sendirian.

Suatu pagi, Shella sedang demam.

Tubuh bayi kecil itu terasa hangat.

Nandin panik.

Ia langsung mengompres dan menggendong putrinya sejak subuh.

Namun di saat bersamaan, Ibu Sri justru mengetuk pintu kamar.

"Nandin."

"Iya Bu?"

"Tolong gorengkan pisang."

Nandin menatap Shella yang sedang rewel.

"Bu, Shella lagi demam."

"Ya terus?"

"Aku mau fokus dulu."

Wajah Ibu Sri langsung berubah.

"Kamu sekarang berani membantah?"

Nandin terdiam.

Lagi-lagi.

Selalu seperti itu.

Kalau menolak sedikit saja, ia dianggap durhaka.

Malam harinya Wisnu menelepon.

Dan seperti yang sudah diduga Nandin, Ibu Sri langsung mengadu.

"Katanya kamu nggak mau bantu Ibu."

Nandin memejamkan mata.

"Aku lagi ngurus Shella yang demam."

"Itu kan cuma sebentar."

"Mas..."

"Jangan bikin Ibu sedih."

Kalimat itu lagi.

Selalu itu.

Seolah perasaan Ibu Sri adalah hal terpenting di dunia.

Hari demi hari berlalu.

Dan perlahan Nandin mulai merasa terjebak.

Ia tidak bisa kembali ke kontrakan.

Tidak diizinkan pulang ke Jawa Barat.

Tidak punya cukup uang untuk hidup mandiri.

Sementara setiap hari tekanan terus datang dari segala arah.

Satu-satunya hiburan hanyalah Shella dan Sherly.

Dua bayi kecil yang tumbuh semakin lucu.

Semakin aktif.

Semakin pintar.

Mereka mulai bisa tertawa.

Mulai mengenali wajah ibunya.

Mulai meraih jari Nandin saat diajak bermain.

Dan setiap kali itu terjadi...

Semua lelah Nandin terasa sedikit berkurang.

Sedikit.

Meski tidak pernah benar-benar hilang.

Suatu malam saat memandangi kedua putrinya tidur, Nandin tiba-tiba teringat satu hal.

Sudah berbulan-bulan.

Dan Wisnu belum pernah sekalipun meminta video call dengan anak-anaknya.

Belum pernah.

Bahkan satu kali pun.

Kesadaran itu membuat dadanya sesak.

Karena semakin lama, semakin jelas.

Bahwa yang sedang ia jalani bukan sekadar pernikahan jarak jauh.

Melainkan kehidupan sebagai seorang ibu yang nyaris sendirian.

Meski statusnya masih seorang istri.

Di luar kamar, suara televisi terdengar dari ruang tamu.

Ibu Sri sedang menonton sinetron kesukaannya.

Sementara di dalam kamar kecil itu, Nandin memeluk Shella dan Sherly lebih erat.

Mungkin hidupnya sedang sulit.

Mungkin ia sedang terjebak.

Mungkin ia tidak tahu bagaimana masa depannya nanti.

Namun satu hal yang pasti.

Ia tidak akan menyerah.

Karena sekarang hidupnya bukan lagi tentang dirinya sendiri.

Melainkan tentang dua gadis kecil yang bergantung sepenuhnya padanya.

Dan demi mereka...

Nandin akan bertahan.

Meski harus menghadapi rumah yang perlahan berubah menjadi penjara.

Meski harus menghadapi mertua yang tidak pernah benar-benar menerimanya.

Dan meski harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya sendiri tidak pernah berada di pihaknya.

Karena terkadang...

Orang yang paling kuat bukanlah mereka yang tidak pernah menangis.

Melainkan mereka yang tetap bangun setiap pagi, meski semalam hatinya hancur berkeping-keping.

1
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Aku mampir utk baca kak 😊 sekarang sdh baca episode pertama. Semangat kak♡
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani
Wah nyebelin banget ya ibu mertuanya
Dhatu Lukita
semangat buat akuu😂
Penulis🇰🇷🇲🇨Chani: Semangat, fighting💪
total 1 replies
falea sezi
males MC di buat oon gini thor🤣 buat dia kuat gk menye bales dendam bego😒
Dhatu Lukita: hehehhe ya maap🙏
total 1 replies
falea sezi
😒 jalang.. emank pelakor nih buat nadin waras dan minta cerai dr laki kardus lah
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa
bagus kak, mampir dikarya ku juga😍
tazayaa
halo kak, mampir di cerita ku yuu😍
Dhatu Lukita: haloo,,
oke baik. mari kita berkawan💗
total 1 replies
falea sezi
laki kardus g tau diri
Dhatu Lukita
pantengin terus ya kak 🤭💗
anakmafia
up tiap hari 10 episod bisa gasih thor hehehe
waya520
halooo aku mampir nih 🤭
Dhatu Lukita: haloo kaka🤭😍
total 1 replies
Arwondo Arni
cerai aja lebih bahagia semoga ketemu pria yg lbh segalanya dari bpknya si kembar yg berengsek.
Dhatu Lukita: heheheh pantengin terus ya kak🤭😍
total 1 replies
Wawan
Mawar dan iklan buat si kembar... ✍️💪
Dhatu Lukita: ahhh terimakasih banyak 🤭😍
total 1 replies
Lintang_Tara✨
saling dukung ygy❤️
Musea
udah mampir nih, semangat terus ya dari sesama authorr
Dhatu Lukita: siaaapppp💪💪💪
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
Dhatu Lukita: ho.ohh tengkyu kak😍🥰🥰
total 1 replies
anakmafia
nih ku kasih dukungan biar semangat wkwkwk.
D. Nightshade
semangat terus thor,💗
Wawan
Salam kenal buat Nandin ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!