"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Setelah membuatkan sarapan dan beberes, aku mulai bingung ingin melakukan apa, mau ke toko juga tidak bisa. Ibu membawa kunci toko nya, kunci cadangan nya ada di Nana. Ku lihat mas Aga, sejak tadi bolak balik menerima telepon dari seseorang.
Dia sibuk sendiri dengan dunianya, dia bahkan belum menyentuh sarapan yang sudah aku siapkan. Lauk di meja sampai dingin tak tersentuh.
Aku duduk di ruang keluarga, mulai menonton Drama kesukaan ku. Tentu tidak di televisi, aku menonton dari ponsel ku. Ku pakai headset agar Aga tidak mendengar suaranya.
Aku selalu menonton film romantis, melihat hubungan suami istri yang begitu mesra, selalu berdua, dan lelaki yang amat posesif dengan istrinya. Aku selalu membayangkan adegan seperti ini dengan mas Aga. Akankah suatu saat nanti dia menjadi romantis seperti tokoh film yang aku lihat?
Di saat hanya berdua begini, sebagai pasangan pengantin yang baru menikah, kami seharusnya nonton film bersama, aku berada di pangkuannya, tidur di atas dada bidangnya dan bermanja sambil menyuapinya popcorn. Saling bercerita dan menceritakan hal-hal seru, hingga berakhir berciuman dan.....
Astaga! kenapa aku terlalu menghayal? Bahkan sampai sekarang Mas Aga enggan menyentuh ku, jangan kan menyentuh, aku ini bak kuman yang selalu dia hindari. Hati ini kembali nelangsa. Dia adalah seorang letnan, kalian pasti bisa membayangkan bagaimana kekarnya tubuhnya, badannya tegap, berotot dan juga mempesona. Aku sering di ledek Nana dan Sita, mereka memintaku menceritakan bagaimana keganasan mas Aga di atas ranjang. Aku tentu hanya senyum-senyum sendiri sambil membayangkan adegan tujuh belas tahun ke atas, agar mereka tidak curiga. Mereka tidak tahu kalau aku juga sama penasarannya. Tapi sekarang, Sita sudah tahu semuanya, semoga saja dia bisa merahasiakan semua ini dari Ibu.
Karena begitu nyaman dengan posisi ku, mataku mendadak mengantuk, aku tertidur. headset yang aku pakai terlepas dari ponsel karena gerakan ku. Aku bahkan tidak sadar jika film yang aku lihat masih berputar.
Entah berapa lama aku tertidur, aku bangun saat seseorang mengguncang tubuhku, aku membuka mata, hal yang pertama ku lihat adalah mas Aga.
Aku bangun sambil mengucek mata pelan, namun suara desahan seseorang sungguh membuat aku malu setengah mati. Kesadaran ku langsung kembali total, kala aku dan mas Aga mendengar adegan panas di ponsel ku, aku buru-buru mengambil ponsel dan segera mematikannya.
Duh gustiiii! Aku pasti di marahi mas Aga setelah ini. Namun dia hanya diam, wajahnya sedikit memerah, tentu saja karena dia juga melihat adegan tadi. Aduh aku jadi malu sendiri.
"Kamu ada minyak angin?" Tanya mas Aga padaku. Aku baru sadar kalau wajahnya merah bukan karena malu, tapi karena tubuhnya sangat panas. Mas Aga duduk di sampingku dengan kondisi lemah. Aku menyentuh sedikit tubuhnya. Aku sangat terkejut karena tubuhnya begitu panas.
"Mas demam? Sebentar aku ambilkan obat"
Aku ingin bangun, namun dia mencekal lenganku.
"Tolong buatkan aku bubur seperti yang kamu buat untuk Ibu"
Aku mengagguk, ini kali pertama kalinya mas Aga menyentuh tanganku. Rasanya ada yang menghangat di dalam sana. Ini juga pertama kalinya dia bicara duluan padaku dengan nada normal, tidak membentak, tidak dalam keadaan emosi ataupun marah.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan padanya.
"Tunggu sebentar ya mas?"
Aku segera ke dapur membuatkan dia bubur, sambil menunggu air mendidih, aku menyiapkan alat kompres agar tubuhnya tidak begitu panas.
Aku sedikit berlari ke ruang keluarga, dia nampak duduk sambil memegangi kepalanya.
"Di kompres dulu mas Aga"
Aku meremas handuk kecil dari baskom kecil berisi Air dingin, aku menyingkirkan tangan mas Aga dari kepalanya, ku taruh handuk kecil itu di sana. Tubuh kami sangat dekat saat ini, tapi aku sama sekali tidak berani menatap nya.
Jujur aku nervous sekali, ini juga kali pertama kali dia menatapku dengan tatapan teduh. Aku segera berdiri agar jantung ini baik-baik saja.
"Aku ke dapur dulu mas, buatin mas Aga bubur"
Aku bergegas pergi ke dapur lagi membuatkan mas Aga bubur.Tak lupa aku juga membuatkan dia susu yang di campur jahe asli kesukaannya.
Setelah semuanya jadi, aku segera ke depan. Mas Aga nampak sedang menerima telfon dari seseorang. Aku menaruh bubur itu di meja dan pergi mencari obat di kotak obat milik ibu.
Saat aku kembali mas Aga sudah tidak ada di sana, ku lihat buburnya sudah berkurang, susunya juga berkurang meski sedikit. Handuk yang aku pakai untuk mengompres kepalanya juga tergeletak begitu saja di sofa.
Aku segera mencarinya, memintanya meminum obat, ternyata mas Aga di kamarnya. Tapi bukan untuk istirahat, ku lihat dia justru berganti pakaian dengan rapi. Dia juga membawa tas ransel yang biasa dia pakai mendaki.
Letnan seperti dia memang punya hobi yang menantang, dia sangat suka mendaki. Tapi apa dia akan mendaki dalam keadaan seperti ini?
"Mas mau kemana? Minum obat dulu" Tanyaku hawatir.
Aga tidak menjawab, namun dia mengambil obat dari tangan ku dan meminumnya.
"Aku mau pergi ke Gunung kuta/Jonggol. Jangan bilang ke Ibu"
"Tapi mas...."
"Hanya semalam, awas ya kalau kamu sampai bilang ke Ibu"
Aku menunduk, bukannya aku sedih di tinggal sendiri, dia sudah sering meninggalkan aku sendirian, aku mungkin sudah mulai terbiasa, namun aku begitu hawatir dengan keadaannya. Dia sedang sakit demam, tidak bisakah dia istirahat di kamar saja? Meski dia seorang letnan, tapi keluar mendaki dalam keadaan seperti ini, tentu saja membuat ku sangat hawatir.
"Mas sedang sakit, tidak bisakah mas menundanya hingga sembuh?"
Bukannya terharu dengan perhatian ku, Mas Aga justru kembali berwajah marah seperti semula.
"Kamu sudah berani mengatur ku?"
Aku langsung menunduk, apapun yang aku ucapkan pasti salah di matanya. Dia langsung pergi begitu saja. Kenapa mendadak dia ingin mendaki? Hati ku tak tenang, tubuhnya masih panas, harusnya dia istirahat di rumah. Ini justru ke tempat dingin yang akan membuat dia makin demam. Kalau mas Aga kenapa-kenapa bagaimana?
Aku segera mengambil tas ranselku, aku tidak bisa membiarkan dia sendirian. Aku akan menyusulnya. Aku tahu dia tidak pernah mengizinkan aku bertemu teman-temannya. Tapi kali ini aku tidak akan bisa tenang, aku akan mengawasi nya dari jauh. Memastikan dia baik-baik saja.
Aku ingin nekat naik sepeda motor yang biasa aku pakai ke pasar untuk menyusul nya ke Bogor. Namun sampai di depan rumah, ku lihat kedua ban sepeda motor ku kempes. Aku langsung menjatuhkan tubuhku ke lantai.
"Ini pasti ulah mas Aga!"
Aku kesal bukan main, dia selalu begini sejak dulu, dia selalu bisa menebak apa yang akan aku lakukan untuk nya. Dia pasti tahu kalau aku hawatir dan hendak menyusul dia.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...