NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Senyum di Balik Topeng

Keheningan memenuhi aula utama Kediaman Rothmere. Setelah Madam Eleanora mengucapkan kalimatnya, tak ada satu orang pun yang berani berbicara.

"Aku yang akan menentukan siapa yang layak berada di dekat pewaris Rothmere."

Kalimat itu menggantung di udara seperti vonis. Para sepupu yang tadi begitu berani kini hanya saling bertukar pandang. Raline menggigit bibirnya. Sedangkan Kemala justru merasa semakin tak nyaman.

Semua mata kini tertuju kepada Kemala. Wanita desa itu bukan bagian dari keluarga Rothmere. Namun seolah menjadi pusat pertikaian mereka. Nathan yang berada dalam gendongan Kemala mulai bergerak kecil. Kemala menepuk punggung bayi itu perlahan lalu menarik napas. Sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara.

"Maaf ..." suara wanita yang sedang menggendong Nathan itu pelan.

Namun cukup membuat seluruh ruangan kembali memperhatikan Kemala. Bahkan Madam Eleanora menoleh. Kemala menundukkan kepala hormat.

"Saya rasa terjadi kesalahpahaman."

Raline langsung mendengus. Namun tatapan Madam membuat wanita bergaun merah itu mengurungkan niat menyela. Kemala menggenggam selimut Nathan sedikit lebih erat.

"Saya hanya bekerja di sini." Tatapan Kemala tetap rendah. "Saya datang karena Nathan membutuhkan ASI.”

"Dan saya bersyukur karena Keluarga Rothmere telah membantu saya ketika saya tidak memiliki siapa-siapa di Jakarta," sambung Kemala melihat Bastian lalu melihat seluruh keluarga besar Rothmere tersebut.

Beberapa tamu mulai memperhatikan lebih serius. Tak ada nada menantang dan tak ada nada memelas dalam suara Kemala. Hanya terdengar ketulusan yang begitu asing bagi Keluarga Rothmere."Saya tidak memiliki hak apa pun di keluarga ini," jelas Kemala cukup lantang namun penuh kesantunan.

"Saya juga tidak menginginkan apa pun selain bisa menjalankan pekerjaan saya dengan baik," lanjut Kemala yang kini melihat Nathan dengan begitu teduh.

Keberadaan Madam Eleanora yang bahkan tak memotong satupun kalimat wanita desa itu membuat ruangan tetap hening. Kemala melanjutkan.

"Nathan anak yang sangat baik," jelas Kemala kepada seluruh Keluarga Rothmere.

"Saya hanya ingin dia sehat." Tanpa sadar senyum tipis muncul di wajah wanita desa itu ketika melihat bayi dalam pelukannya.

"Dan ..." Kemala sempat ragu lalu berkata jujur. "Dia sangat mirip dengan Pak Bastian."

Beberapa orang tampak terkejut. Bastian sendiri sedikit mengangkat alis. Kemala tersenyum malu.

"Kalau sedang serius, ekspresinya sama," kata Kemala yang tergambar senyum di wajahnya. "Kalau marah karena lapar juga sama-sama sulit ditenangkan.”

Suasana yang tadinya begitu terasa menyesakkan telah berubah. Terdengar beberapa tawa kecil. Ketegangan mulai mencair. Bahkan beberapa pelayan yang berdiri di pinggir ruangan tampak menahan senyum.

Madam Eleanora memperhatikan Kemala cukup lama. Sedangkan Bastian tak melepaskan pandangannya dari wanita desa itu. Kemala tak membela dirinya.Bukan juga membela Bastian.

Bahkan Kemala tak menyerang siapa pun. Wanita desa itu hanya berbicara tentang Nathan. Dan justru itulah yang membuat kata-kata Kemala sulit dibantah.

Di sudut ruangan. Seorang wanita memperhatikan Kemala dengan seksama. Namanya Clarissa Rothmere, sepupu Bastian. Usia wanita itu tak jauh berbeda dari Bastian. Penampilan Clarissa anggun, elegan, dan dengan senyum ramah yang hampir selalu menghiasi wajahnya.

Berbeda dengan sepupu lain yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan. Clarissa justru terlihat sangat tertarik. Mata wanita elegan itu berpindah dari Kemala ke Bastian lalu kembali lagi. Senyum kecil muncul di bibir Clarissa. Sekali lagi, itu semua merupakan pemandangan yang begitu menarik perhatian wanita anggun itu.

Ketika suasana mulai kembali tegang akibat beberapa tatapan sinis yang masih diarahkan kepada Kemala, Clarissa akhirnya melangkah maju.

"Kurasa kita semua terlalu berlebihan," suara wanita anggun itu lembut dan mudah didengar.

Namun tak terdengar memaksa. Beberapa anggota keluarga langsung menoleh. Clarissa tersenyum.

"Kita sedang merayakan ulang tahun Madam. Sayang sekali jika hari yang seharusnya membahagiakan justru diisi pertengkaran," ucap wanita anggun itu lalu meletakkan gelas winenya.

Clarissa berjalan mendekati Madam Eleanora. Kemudian sedikit menundukkan kepala.

"Madam adalah tetua yang paling kami hormati," ujar Clarissa sambil membuka tangannya. "Jangan sampai tamu-tamu pulang dengan kesan buruk tentang keluarga kita."

Madam tak menjawab tetapi tak pula menolak. Clarissa lalu berbalik menghadapi seluruh keluarga besar.

"Kita semua menginginkan yang terbaik untuk Rothmere. Jadi mari kita nikmati pesta ini," lanjut wanita elegan itu sambil menunjuk ke arah pianis di sisi ruangan.

Senyum wanita elegan itu tetap ramah. Kata-kata Clarissa berhasil meredakan suasana. Orang-orang mulai kembali berbincang dengan santai. Musik kembali terdengar. Pelayan kembali bergerak. Pesta perlahan berjalan normal.

Raline mengepalkan tangannya. Wanita dengan gaun merah itu tahu persis bahwa yang Raline harapkan berakhir dengan kegagalan.

Clarissa kemudian menghampiri Kemala.

"Dengan semua tekanan tadi ..." wanita itu tersenyum hangat. "Kamu luar biasa."

Kemala langsung menggeleng cepat. "Tidak, Bu. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya."

"Itu justru yang membuatnya sulit dilakukan." Clarissa tertawa kecil. "Kebanyakan orang lebih memilih berbohong."

Kemala hanya tersenyum kikuk. "Terima kasih."

Clarissa memperhatikan wanita desa itu semakin lama. Semakin yakin dengan dugaan Clarissa. Kemala sama sekali tak berbahaya. Justru karena itulah wanita desa ini berpotensi menjadi senjata yang sempurna.

Acara berlangsung hingga malam semakin larut. Kemudian tibalah sesi foto keluarga besar Rothmere. Semua anggota keluarga mulai berkumpul. Posisi sudah diatur. Para fotografer profesional bersiap. Nathan yang sedari tadi berada dalam gendongan Kemala akhirnya diminta Madam Eleanora.

"Berikan padaku."

Kemala mengangguk. Dengan hati-hati wanita dengan gaun sederhana itu menyerahkan Nathan. Namun beberapa detik kemudian.

"Wuaaaa!"

Nathan menangis. Madam mencoba menenangkan tetapi tak berhasil. Salah satu babysitter mencoba membantu. Nathan semakin keras menangis. Beberapa orang mulai saling berpandangan.

Raline tampak kesal. "Kembalikan saja pada pengasuhnya."

Begitu Nathan kembali ke pelukan Kemala, tangisan itu langsung mereda. Hanya dalam hitungan detik, semua orang melihatnya. Dan itu membuat suasana menjadi sangat aneh. Karena Nathan tampak lebih nyaman dengan Kemala dibanding siapa pun. Termasuk dengan keluarga Rothmere sendiri.

Clarissa melihat kesempatan.

"Nathan tenang bersamanya." Wanita anggun itu tersenyum. "Lalu kenapa tidak sekalian ikut berfoto?"

Suasana langsung menjadi hening beberapa detik. Lalu keributan langsung pecah.

"Apa?"

"Itu tidak masuk akal!"

"Dia bukan keluarga!"

"Mustahil!" Raline hampir melompat dari tempatnya. "Aku tidak setuju!"

Clarissa tetap tenang. "Tapi Nathan tidak mau lepas darinya."

"Itu foto keluarga Rothmere!" bentak salah satu sepupu.

Clarissa mengangkat bahu. "Dan Nathan adalah pewaris Rothmere."

"Kalau pewarisnya ada dalam pelukan Kemala, apa yang harus kita lakukan?" tanya Clarissa kepada seluruh sepupunya yang sudah pada posisi foto itu.

Beberapa orang tak mampu menjawab. Namun justru Raline semakin marah.

"Tidak mungkin!" hardik Raline yang mendekat ke arah Clarissa.

"Dia tidak pantas ada dalam foto itu!" bentak Raline sambil menunjuk ke arah Kemala.

Namun kali ini suara Madam Eleanora terdengar. "Biarkan."

Semua orang langsung diam. Raline membelalak.

"Madam ..."

"Biarkan," ucap Madam Eleanora.

Hanya satu kata yang keluar dari Madam Eleanora. Hanya dengan itu tak ada lagi yang berani membantah.

Kemala panik. "Saya tidak perlu ikut, Madam."

"Kamu ikut." Madam mengatakannya tanpa memberi ruang untuk menolak.

Kemala hanya bisa menunduk. "Baik, Madam."

Saat semua orang masih memproses keputusan itu. Clarissa tersenyum. Lalu menggandeng tangan Kemala.

"Ayo!"

Kemala mengikuti Clarissa. Awalnya wanita dengan gaun sederhana itu mengira akan ditempatkan di pinggir. Namun Clarissa justru menarik Kemala ke barisan depan. Tepat di sebelah Bastian. Kemala membeku.

"B-Bukankah saya sebaiknya di belakang saja?"

"Tidak." Clarissa tersenyum manis. "Nathan ada di pelukanmu."

Bastian memperhatikan gerakan Clarissa. Tatapan pria dengan setelan tuksedo itu sedikit menyipit. Bastian begitu mengenal sepupunya itu. Clarissa tak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Namun malam ini bukan waktu yang tepat untuk mempermasalahkannya.

"Semua siap!" seruan fotografer terdengar.

Lampu kilat mulai menyala. Satu demi satu foto diambil. Sesi itu menjadi moment Kemala berada di dalam foto keluarga Rothmere. Berdiri di sebelah Bastian sambil menggendong pewaris utama keluarga itu. Sementara puluhan pasang mata memandang momen itu dengan berbagai perasaan.

Larut malam. Pesta akhirnya berakhir. Satu per satu tamu meninggalkan kediaman utama. Clarissa masuk ke dalam mobilnya lalu pintu tertutup. Mobil mulai bergerak meninggalkan mansion Rothmere. Asisten pribadi Clarissa yang duduk di depan bertanya.

"Nona terlihat cukup senang malam ini."

Clarissa tersenyum tipis. Tatapan wanita elegan itu mengarah ke luar jendela. Ke arah mansion yang semakin menjauh.

"Ada untungnya juga aku datang ke pesta ulang tahun Madam hari ini."

Asisten itu menoleh. "Maksud Nona?"

Senyum Clarissa semakin dalam. Mata wanita anggun itu berkilat penuh perhitungan.

"Aku baru saja menemukan sesuatu yang menarik."

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!