Dista Keinadira, harus menelan rasa pahit kala Pamannya menjadikan sebagai alat penebus hutang. Kepada sosok pria lajang tua kaya raya yang memiliki sifat dingin dan sulit ditebak yaitu, Lingga Maheswara.
Pernikahan yang hanya dianggap nyata oleh Dista itu selalu menjadi bumerang dalam rumah tangga mereka. Lingga selalu berbuat kasar kepada Dista yang selalu saja mengharapkan cinta darinya.
•••••
"Satu ucapan cintaku akan setara dengan derasnya air mata yang akan kau keluarkan, Istriku.." Kata Lingga disela isak tangis menyakitkan Dista.
∆∆∆
Halo, jangan lupa follow dan dukung selalu🙃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMP~BAB 35
Suami mana, suami mana yang suka melihat istrinya menangis dan meraung dengan segala penderitaan yang ada. Lingga mungkin adalah satu-satunya pria seperti itu dikehidupan yang satu kali ini.
“Kau tidak berhak protes apapun, Dista. Kau hanya bisa diam dan terima dengan segala hal yang aku lakukan!” Pertegas Lingga yang mana jari telunjuk sambil menekan dahi Dista.
Tidak ada yang Dista respon, wanita itu hanya diam dengan menatap sendu Lingga yang melangkah maju menuju kamar. Menarik napas dalam-dalam, Dista mengikuti langkah Lingga sebelum pria itu berteriak tidak jelas.
Didalam kamar…
Dista duduk berlutut di kamar, ia melihat Lingga yang sedang sibuk berganti pakaian. Sebenarnya tidak tahu hal apa yang membuat Lingga susah payah mencarinya lalu mengabaikan seperti ini, sungguh Dista seakan mau gila jika memikirkan semua sikap Lingga.
Kala Lingga selesai berganti pakaian, tatapan matanya tertuju pada benda-benda milik Vania. Seperti makeup dan lain-lain, ia menjadi teringat dengan permintaan Vania.
“Disaat Dista sudah pulang nanti, aku mau kita menikah siri.”
Lingga langsung menoleh kearah Dista yang sedang duduk berlutut menunduk, sepertinya wanita itu sudah lelah untuk protes apapun lagi.
“Aku ingin memberitahu, jika aku akan menikahi Vania,” ucapan Lingga membuat Dista langsung mendongak.
“Menikahi Vania?” tanya Dista yang mana pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
“Benar, aku akan menikahi wanita itu secara siri,” Jelas Lingga yang mana hal itu membuat Dista sakit sekali. Perlahan dengan bertumpu pada sofa, Dista berusaha bangkit.
“Kau boleh menikahi Vania, tapi ceraikan aku, Mas. Aku bersumpah, telah bersumpah.. Bahwa aku tidak akan pernah mau dimadu!” Pertegas Dista yang mana langsung membuat Lingga kesal.
“Aku tidak ada mengatakan ingin mendapatkan persetujuan mu bukan? Aku hanya memberitahu padamu!” bentak Lingga yang mana suara itu menggema di seluruh kamar.
Dista tidak tahu seperti apa sakit dan terluka hatinya saat ini, Lingga sudah berhasil memberikan luka yang teramat dalam untuknya. Hingga Dista tidak tahu cara mengobati luka ini lagi, bahkan air matanya seakan berat untuk jatuh.
“Kalau begitu, ceraikan aku. Inilah keinginan ku, Mas… Aku tidak akan rela untuk kau madu, lebih baik aku menjadi janda saja.” Dista tetap bersikukuh dengan pilihannya.
Tangan Lingga mengepal erat, ia melangkah maju mendekati Dista yang tetap yakin dengan keputusannya. Dista tidak takut, lebih baik berpisah melakukan dosa yang sangat dibenci Tuhan dari pada hidup dimadu meskipun jaminannya surga.
“Kau sudah berani menentangku?” Tanya Lingga dengan suara beratnya, ia ingin menampar Dista tapi niat itu ia urungkan. Bahkan tangannya sudah melayang dan Dista juga sudah memejamkan mata, siap menerima tamparan menyakitkan itu.
Lingga mengurungkan niatnya, ia menatap tajam Dista yang kini sudah menatap bingung kearahnya.
“Malam ini aku akan menikahi, Vania. Kalau tidak, aku akan terus menyentuh Vania. Apa kau mau suamimu ini terus berzinah?”
Belum Dista menjawab, Lingga melangkah pergi begitu saja. Dista pun terduduk di lantai, ia tidak tahu seperti apa cara bicara dengan Lingga lagi. Meminta pisah pria itu tidak mau, tapi malah mempertahankan Dista dengan segala sakit ini.
Dista terus membenturkan kepalanya pelan didinding, air matanya jatuh begitu saja. Menangis tanpa suara, hanya diam dengan tatapan kosong kearah langit-langit kamar. Ketidakberdayaan selalu Dista dapatkan dalam hidup ini, sungguh Dista tidak tahan lagi untuk menjalani hidup ini.
•
Vania memasuki Mansion dengan senyuman manisnya kala melihat Lingga yang duduk manis di sofa. Pria itu terlihat terus memijat pelipisnya, terlihat banyak sekali masalah yang dirasakan.
“Lingga, apa kau belum menemukan Dista juga?” tanya Vania yang langsung saja bergelayut manja di lengan Lingga.
“Sudah, dia ada dikamar,” Jawaban dari Lingga membuat senyuman dari Vania sedikit memudar. Ntah kenapa hatinya sungguh tidak suka mendengar kabar kembalinya Dista ke Mansion ini. Terbesit sedikit dihati Vania agar Dista tertabrak mobil atau mati di manapun itu, jadi tidak mengangguk kebahagiaan Vania dengan Lingga.
“Malam ini kau benar-benar ingin menikah denganku?” tanya Lingga sembari mengecup mesra tangan Vania, tapi yang ada Vania malah menjauhkan tangannya dari Lingga.
“Sepertinya tidak usah lakukan itu, kalau kau masih menjadikan Dista istri pertama.” Alasan yang tidak masuk akal bagi Lingga.
“Tapi, kau sendiri yang mengatakan.. Rela menjadi kedua bukan?” tanya Lingga memastikan, tapi Vania hanya menghela napas panjang saja.
“Maksudmu aku harus menerima Dista berada di atasku begitu?”
“Aku tidak bisa menceraikan Dista, dia aku butuhkan untuk martabat Perusahaan ku. Harga sahamku naik karna kedatangannya, aku tidak bisa melepasnya begitu saja, sayang..” Lingga merayu Vania yang sepertinya marah malam ini.
Vania hanya diam dengan tarikan napas yang terdengar berat sekali, itu sama saja berarti jika Lingga akan berat hati memutuskan pernikahannya dengan Dista. Bagaimana lagi? Semua ini juga kesalahan Vania yang sempat menolak Lingga hingga terpaksa pria itu menikahi Dista.
Lingga menghela napas panjang, ia menarik tangan Vania agar duduk di pangkuannya. Mengelus punggung belakang Vania dengan sangat lembut, ia yakin jika Vania akan mengerti dengan semua keadaannya saat ini.
“Setelah kau merasa ada kesempatan untuk menceraikan Dista, maka segera lakukan itu untukku,” Pinta Vania dengan sangat manja.
Tanpa ragu Lingga mengangguk, ia memeluk Vania sangat erat. Bahkan disaat seperti itu Vania bergerak kesana-kemari diatas pangkuan Lingga, hingga junior Lingga menegang. Langsung saja Vania turun membuka resleting celana Lingga, memasukkan senjata itu kedalam liangnya tanpa pemanasan sama sekali.
“Ahhhhh..” Suara rintihan Vania terdengar, ia merasa puas jika senjata Lingga sudah memasukinya. Apa lagi posisi saat ini membuat milik Lingga seakan masuk sepenuhnya, langsung saja Vania bergerak keatas dan ke bawah.
“Kau mengajakku berhubungan disaat setengah jam lagi aku menikahimu, Honey?” Tanya Lingga sembari menikmati setiap pergerakan yang Vania lakukan.
“Hadiah untukmu karna sudah mau menikahiku, aku akan membuatmu mendesah kenikmatan, Lingga!” Bahkan Vania menambah kecepatannya. Ia bergerak naik turun mengejar kenikmatan yang hampir saja dapat, terus bergerak cepat hingga pelepasan keduanya datang.
“Mas..” Suara itu membuat Lingga langsung menjauhkan tangannya dari melingkar mesra dipinggang Vania.
Dengan posisi yang masih menyatu, Dista melihat sendiri bagaimana Vania bergerak kembali mencari kenikmatan diatas pangkuan Lingga. Bahkan mata indah Dista melihat sendiri bagaimana senjata Lingga yang sudah lemas tapi Vania tetap bergerak dengan tatapan yang penuh nafsu.
••••••
BERSAMBUNG
suami mana? suami mana yang kewong didepan istrinya?
Pamannya wkwkkwkw luar binasa bukan luar biasa lagi di luar akal udh sifatnya apa orang begini calon penghuninsurga wkwkkwkw gk jamin juga jmaaf ya agak gk bisa nerima
Wkwkwkkwkw wanita goblok gk tau apa yg pantas di sebut gk bisa menghargai diri sendiri
Penderitaannya dgn dalih mencari pahala , wkwkkwkw pahala itu bukan hanya dgn melayani suami yg biadab yg ada mati, sholeha yg keliru 🥶