Maulana Nevan Ganendra, para sahabatnya sering menyebut lelaki itu dengan sebutan gangster penyayang Bunda. Nevan selalu berhasil membuat orang terkena mental hanya dengan kata-katanya, mulutnya sangat licin seperti lantai yang baru saja di pel.
Tidak ada hari tanpa julit, ibarat kata pepatah hidup Nevan itu seperti sayur tanpa garam jika tidak julit. Sudah galak, julit, tak punya hati pula, lengkap sudah hidup Nevan. Semua berawal saat Nevan mendapat sebuah tantangan konyol untuk menikahi gadis bercadar bernama Nazma.
Nevan memanggil gadis itu dengan sebutan Nanaz, seorang gadis yang hidupnya penuh dengan masalah dan jauh dari kata bahagia.
°°°
"Berhenti kayak gini Nevan, sikap kamu bikin aku kelihatan semakin rendah di mata orang-orang." Air mata Nazma lolos begitu saja. "Boleh aku minta sesuatu."
"Apa?" Nevan seakan terhipnotis dengan tatapan Nazma.
"Jangan bilang aku sok jual mahal lagi, sakit dengernya. Aku emang miskin, tapi orang miskin juga punya harga diri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyure Aamz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Kau dan dia
Nevan enggan menatap Nazma, tidak ada yang bisa ia harapkan. Selalu menurut, pasrah, tidak pernah protes, dan selalu minta maaf padahal dirinya tidak salah, itulah Nazma. Kali ini Nevan akan bertanya lagi untuk memastikan.
"Lo beneran setuju?" Entah kenapa Nevan sangat ingin Nazma melawan, tidak pasrah seperti ini.
"Iya." Nazma setuju karena dia tahu jika dirinya tidak penting, dan masa lalu Nevan mungkin jauh lebih penting.
"Lo bisa nolak, lo juga bisa protes." Nevan terlihat bersungguh-sungguh.
'Aku juga pengen kayak gitu.' Nazma terdiam sejenak. "Kalau aku nolak, berarti aku nggak tahu diri."
Kening Nevan sedikit berkerut, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Nazma.
"Ayah kamu udah beli aku, dan aku udah jadi milik kamu. Kalau misal organ aku di jual, mungkin itu nggak sampek dua miliar."
Nazma benci mengatakan hal itu, namun itulah kenyataannya. Bahkan jika bisa, lebih baik ia menjual organ tubuhnya daripada harus menjual harga diri. Dan percuma saja jika ia bisa menjual organ tubuhnya, karena hal itu dilarang oleh negara.
"Gue mau nyerahin lo ke musuh gue, ke cowok yang bahkan nggak lo kenal. Lo nggak mau mertahanin harga diri lo?" Niat hati ingin memancing Nazma, namun dirinya malah ikut terpancing.
"Wanita mana yang nggak pengen ngejaga harga dirinya? Sejak aku di jual sama ayah aku, aku udah nggak punya harga diri lagi."
Nevan tertawa tak percaya, ucapan Nazma membuat perempuan itu terlihat begitu menyedihkan. Jika Nevan menyerahkan Nazma kepada Aji, entah berapa lama lagi nasib malang yang akan menimpa Nazma.
"Jam delapan malem, persiapin diri lo." Merasa tidak ada jawaban, Nevan kini menghela nafas. "Gue pergi, terserah kalau lo masih mau di sini."
Melihat Nazma diam saja membuat Nevan berdecak pelan, hingga akhirnya lelaki itu memutuskan untuk pergi.
"Nevan ...." Nazma menatap punggung Nevan.
Nevan berhenti melangkah, namun lelaki itu tidak membalikkan badan.
"Apa musuh kamu sama kayak Kak Ando?"
Nevan hanya diam, mendengarkan pertanyaan Nazma dengan suara yang terdengar sedih.
"Apa mereka bakal nyiksa aku? Atau mungkin mereka bakal ngelakuin sama kayak yang dilakuin Kak Ando?"
Nevan masih diam, namun tangannya perlahan mengepal.
"Apa aku nggak bakal bisa sekolah lagi?"
"Lo yang mutusin buat setuju." Nevan lalu pergi begitu saja.
***
Saat Nevan kembali ke kelas, tidak ada yang mengajaknya bicara. Bahkan Calvin yang biasanya heboh, kini hanya diam menatap Nevan dengan raut wajah datar. Jeno membuka aplikasi youtube, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Iqbal sibuk memakan malkist nya, dan Sean lebih memilih untuk belajar. Sepertinya Nevan benar-benar telah membuat teman-temannya kesal hingga tidak ada lagi canda tawa seperti biasanya.
'Gimana bisa dia mau nyerahin Nanaz ke Aji?' Mendengar cerita dari Sean saja sudah membuatnya kesal setengah mati, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.
'Ck ck ck, mimpi apa Nanaz punya laki modelan kayak dia?'
'Tapi kenapa gue cuma ngebatin doang, harusnya gue teriak di depan mukanya Epan biar dia sadar.'
Calvin ingin berbicara, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Jangan natap gue kayak gitu!" Nevan merasa risih dengan tatapan Calvin.
"Jadi?" Raut wajah Calvin tampak tidak bersahabat.
"Jadi." Nevan bahkan langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Calvin.
Calvin tertawa mengejek. "Niat banget ya lo? Sejak satu tahun setengah yang lalu, Zee itu udah nggak penting. Lo nggak bisa nuker dia sama Nazma."
"Ini urusan gue sama Nanaz, jangan ada yang ikut campur." Ucapan Nevan tidak hanya berlaku untuk Calvin, namun juga berlaku untuk Jeno, Sean, dan Iqbal.
Jeno akhirnya menghadap ke belakang, setidaknya ia masih mempunyai hati nurani. Jeno menggeleng pelan, merasa prihatin dengan jalan pikiran Nevan saat ini. Mau bagaimana pun, Jeno juga tidak setuju jika Nazma jatuh ke tangan Aji.
"Gue nggak setuju." Jeno memukul pelan meja Sean.
Sean menatap datar Jeno membuat lelaki itu menyengir lebar, tapi setelah itu Sean kembali sibuk dengan bukunya.
"Gue nggak minta pendapat lo." Nevan menatap sekilas Jeno.
Tatapan Jeno menajam. "Gimana kalau gue viralin niatan lo itu di youtube."
"Anak konglomerat mencampakkan istrinya cuma gara-gara cewek gila, nggak tahu diri dan udah hampir bikin lo di vonis penjara selama empat tahun." Jeno tersenyum licik.
"Gue bakal bikin akun lo nggak bisa di buka lagi, dan gue bakal bikin lo trauma sama youtube." Tatapan Nevan tak kalah tajam.
Iqbal yang tadinya fokus memakan malkist kini menoleh ke arah Nevan. "Terus gimana sama Om Altair? Apa Om Altair bakal biarin rencana lo lancar gitu aja?"
Calvin menggerakkan jari telunjuknya ke arah Iqbal, ia bahkan tidak kepikiran sampai sejauh itu. Tidak di sangka-sangka, Calvin kira otak Iqbal isinya hanya malkist. Tapi lihat sekarang, Iqbal tampak begitu keren.
"Kenapa diem aja? Jangan-jangan Om Altair belom tahu ya?" Calvin menatap Nevan dengan tatapan mengejek.
"Gue telepon Om Altair sekarang juga." Jeno mengangkat ponselnya.
"Gue hancurin hp lo kalau lo ngelakuin itu!" Nevan menunjuk Jeno, kali ini terlihat tidak main-main.
Sean menggebrak pelan meja. "Biarin, kalian ngomong sampek berbusa bakal sia-sia. Dia nggak bakal ngerti."
Sean melirik Nevan sekilas, kemudian lanjut belajar. Meladeni Nevan hanya membuat energi Sean terbuang sia-sia.
***
Nazma hanya diam duduk di bangku miliknya, kata-kata tidak mengenakan yang keluar dari mulut teman-teman sekelasnya samasekali tidak membuat Nazma terusik. Nazma perlahan menidurkan kepalanya di meja, menatap bangku milik Alif yang kini kosong.
'Apa aku cuma pembawa masalah? Aku bahkan bikin Alif masuk rumah sakit.'
'Mungkin waktu itu, aku nggak seharusnya pergi dari Kak Ando. Lebih baik hidup aku susah, daripada harus nyusahin banyak orang.'
'Sekarang, aku cuma bisa bantuin Nevan dapetin orang yang dia anggap berharga.'
Nazma memilih untuk memejamkan matanya sejenak sebelum bel masuk berbunyi.
"Lihat tuh si Nazma, nggak tahu diri banget dia."
"Denger-denger Alif masuk rumah sakit gara-gara dia."
"Serius? Kasihan, harusnya Alif nggak deket sama cewek pembawa sial."
"Dia itu pembawa masalah, makannya nggak punya temen."
"Desi sama Loli aja di skors dua minggu gara-gara dia ... cih, sok tersakiti. Sok-sok an jadi korban biar orang-orang kasihan, nggak guna."
Nazma tidak mengambil hati semua ucapan buruk itu, hatinya sudah terbiasa terluka. Lagipula mereka tidak tahu, seberapa sulit keadaan yang harus dihadapi oleh Nazma.
***
Sebelum pulang Nevan mampir ke tempat fotokopi, lelaki itu menepati janjinya pada Arthan. Nevan mencetak foto yang ia ambil semalam, foto dirinya dengan Arthan. Setelah selesai, Nevan segera membayar foto tersebut.
'Tuyul pasti bakal seneng.' Nevan tersenyum tipis.
"Ngapain ikutan turun?" Nevan baru menyadari jika Nazma kini berada di dekatnya.
Nazma memperhatikan foto polaroid ukuran 2R yang ada di tangan Nevan. "Boleh aku aja yang ngasih foto itu ke Arthan?"
Nevan menatap foto di tangannya, kemudian menyerahkannya begitu saja. Nevan menatap Nazma cukup lama, karena tidak mau ambil pusing Nevan akhirnya lebih memilih masuk ke dalam mobil.
Nazma ikut masuk ke dalam mobil, lalu Nevan segera menjalankan mobilnya. Saat sampai di rumah, Arthan bermain di ruang tamu sendirian karena mungkin Ajwa saat ini sedang berada di dapur. Mungkin saja Arthan minta di buatkan jus atau sesuatu yang lain.
"Wah, fotonya udah jadi?" Mata Arthan berbinar saat melihat foto yang ada di tangannya.
Nazma mengangguk pelan dan tersenyum di balik cadarnya. "Iya."
"Yeay, besok Althan bakal tunjukin foto ini ke temen-temen. Pasti meleka bakal ili kalau tahu Althan punya abang ganteng."
"Arthan beruntung punya abang yang ganteng." Nazma mengelus rambut Arthan. "Baik-baik ya sama Abang, nggak boleh berantem."
Arthan mengangguk patuh, fokusnya masih berada pada foto itu.
"Arthan juga beruntung punya ayah sama bunda yang baik." Dada Nazma sesak saat mengatakan hal itu.
Arthan menatap Nazma, matanya mengerjap pelan. "Ayah sama bundanya Althan kan milik Kakak juga."
"Gitu ya?" Perasaan Nazma semakin sedih.
"Kakak nangis?" Arthan menyentuh ujung mata Nazma yang berair.
Nazma memalingkan wajahnya dan menghapus air matanya, melihat hal itu membuat Nevan berdecak pelan.
"Ikut gue." Nevan menarik tangan Nazma dan membawanya pergi.
***
Nevan menutup pintu setelah mereka sampai di kamar, ia masih tidak menyangka Nazma akan mengatakan hal itu pada Arthan yang samasekali tidak mengerti apa-apa. Entah Nazma ingin menarik simpati Arthan atau bagaimana, Nevan benar-benar tak habis pikir.
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?!" Nevan terlihat tidak terima.
"Dia masih kecil? Lo mau manfaatin dia? Ini urusan gue sama lo, jangan bawa-bawa dia."
"Aku nggak punya niat apapun."
"Jelas-jelas lo berusaha narik simpati dia!" sergah Nevan. "Biar apa? Biar dia nyariin lo kalau lo udah nggak ada lagi di sini?"
Nazma menaikkan cadarnya ke atas membuat wajahnya kini terlihat, pipinya basah seperti orang yang baru saja menangis.
"Aku cuma pengen baik ke Arthan, aku pengen ngerasain rasanya punya saudara." Nazma meneguk ludahnya. "Apa aku nggak boleh ngerasain itu?"
"Tapi lo nggak perlu ngomong kayak tadi, berhenti ngeluarin kata-kata yang bikin gue kasihan sama lo."
"Kalau dengan cara kasihan bisa bikin kamu nggak nyerahin aku ke musuh kamu, aku pengen kamu kasihan sama aku."
Nevan semakin tidak mengerti saja. "Maksud lo?"
"Kata kamu aku bisa nolak, aku nggak mau dituker sama dia. Jangan serahin aku ke musuh kamu," lirih Nazma.
Nazma terdiam sejenak, kemudian meraih tangan Nevan. "Kamu boleh marah-marah, tapi jangan serahin aku. Sejak kamu jadi suami aku, kamu satu-satunya harapan dalam hidup aku."
Bersambung....
AWAL' TUH YA SAYA UDA EMOSI BGT,EH,TBTB ADA HAL YG BIKIN HAPPY YG BUAT SAYA NGA JADI EMOSI🙄🤌🏻,DAN ITU KEREN BGT THOR😭😔💯
SAYA KASI BINTANG 5 KARNA BAGUS POLL💯
SEMANGATT THORR,DITUNGGU KARYA SELANJUTNYAA💕😚🫶🏻
ini kisah nikah muda ..
nikah muda tidak menghalangi kesuksesan kalian .. percaya deh
nikah muda tidak menghalangi kalian untuk sukses !!!
dan pekerjaan mereka mengharuskan bersentuhan dengan lawan jenis ..
Na'udzubillah
pacaran haram !!!
lanjutkan kak