NovelToon NovelToon
One Sweet Day With You

One Sweet Day With You

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:138.9k
Nilai: 5
Nama Author: NonAden119

Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.

Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.

Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.

Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Delay

Meski beberapa malam ini Ana kurang tidur, ia tetap bisa bangun pagi dengan tubuh bugar seperti biasa dan tidak tampak lesu sedikit pun. Tentu saja, hatinya sedang diliputi rasa bahagia karena sikap hangat penuh cinta yang ditunjukkan Hugo padanya.

Setiap detik begitu berharga. Hari-harinya dipenuhi dengan kemesraan yang nyata, bukan pura-pura. Ana semakin yakin kalau ia dan Hugo bisa menjalani pernikahan mereka dengan baik, meski tanpa campur tangan surat wasiat papa Fitra sekali pun karena cinta telah tumbuh dan bersemi di hati keduanya.

Semalam mereka ber cinta dan paginya Ana bangun seperti biasa. Seperti pagi ini, Ana tampil cantik dan terlihat jauh lebih fresh dengan pakaian yang dikenakannya. Ana mengenakan celana jeans warna putih sepanjang lutut dan kemeja biru polos lengan panjang yang dilipat hingga bagian sikunya.

Ana juga bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua dan sekarang tengah duduk di sofa, asyik memainkan ponselnya sambil menunggu sang suami selesai mandi dan berganti pakaian yang telah ia siapkan seperti biasanya.

“Sayang.”

Ana memutar tubuhnya, tak menyadari kalau Hugo sudah berdiri di belakangnya sampai ia mendengar suara renyah pria itu dan merasakan embusan hangat napasnya menyentuh bagian lehernya.

“Untung saja Aku gak kagetan orangnya,” kata Ana sambil memegang da danya. Ia pandangi wajah tampan di hadapannya itu yang tampak begitu segar dengan tampilan pakaian yang senada dengan yang dikenakannya dan rambut setengah basah yang dibiarkan kering alami. Sejenak mengerutkan kening, beralih menatap tepi ranjang dan menemukan pakaian yang ia siapkan tadi masih ada di sana. “Bisa samaan gini, padahal kita kan gak janjian? Lagi pula Aku tadi sudah siapkan bajunya."

Hugo terkekeh mendengarnya. Ia mengitari sofa lalu menjatuhkan bo kongnya di sana. Tangannya terulur begitu saja, naik merangkul bahu Ana dan mencium lembut keningnya. “Aku tadi ngintip Kamu lagi pakai baju apa,” jawab Hugo sambil mengedipkan sebelah matanya. "Ya udah, samain saja biar makin serasi."

“Dih! Hobi kok ngintip, untungnya istri sendiri.” Sahut Ana lalu kembali melihat ponselnya dan menaruhnya ke atas meja.

“Lihat apaan, sih. Asyik banget, sampai gak tahu kalau Aku ada di belakang Kamu?” tanya Hugo, menatap sekilas pada ponsel milik Ana.

Ana meringis, dengan gaya manja ia sandarkan pipinya di dada Hugo yang liat sambil memperlihatkan ponsel di tangannya. “Aku senang banget lihatnya. Bagus ya tempatnya, kelihatan nyaman, adem hati kalau bisa tinggal di tempat seperti ini.”

Hugo menatap gambar di layar ponsel Ana yang memperlihatkan suasana rumah yang berada di lereng bukit dan di sekitarnya terdapat hamparan kebun teh milik warga yang menghijau seperti sebuah permadani raksasa. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu lalu tersenyum rahasia pada Ana. “Kalau Kamu suka, nanti Aku ajak Kamu mengunjungi tempat itu. Aku juga sudah lama tidak ke sana.”

Ana mengernyit, tapi Hugo membalasnya dengan tersenyum. “Serius, babe?”

Hugo mengangguk, dan tanpa diduga Ana langsung mengecup bibirnya lalu tersipu malu sambil menutup mulut dengan jarinya. Hanya sekilas, namun cukup membuat Hugo terkejut setengah mati. Biasanya ia yang berinisiatif terlebih dulu mencium Ana, tapi sekarang wanita itu menciumnya tanpa diminta.

“Lagi dong,” ujar Hugo sambil memonyongkan bibirnya, dan Ana melakukannya. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Hugo menarik pinggang Ana agar merapat padanya dan menyambar cepat bibir Ana lalu mereka bercium an sampai kehabisan napas.

“Cukup!” suara Ana terdengar parau, napasnya pun tersengal. Ia dorong dada Hugo agar menjauh darinya, dan Hugo menurut tanpa melepaskan rengkuhan tangannya di pinggang Ana.

“Satu jam lagi,” sahut Hugo setelah bisa menguasai diri. Ana mengiyakan dengan menganggukkan kepala, lalu menatap jam di dinding ruangan. Hampir satu jam lamanya mereka berduaan di dalam kamar, secepatnya Ana bangkit dari sofa lalu berjalan menuju ranjang. Menyimpan kembali pakaian Hugo ke dalam rak lemari. Berlama-lama di tempat itu hanya akan membuat mereka berdua terlena dan melupakan tujuan mereka pagi itu.

“Lebih baik sekarang kita makan dulu. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita semua,” ajak Ana seraya mengulurkan tangannya pada Hugo yang berdiri menyambutnya dan langsung menggenggamnya erat. Berdua mereka melangkah menuju meja makan. Dan benar saja, di atas meja sudah tersaji nasi juga lauk serta roti seperti biasanya.

“Kamu yang masak semuanya, yank?” tanya Hugo sambil menatap sajian di atas meja, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Ana. Hugo pun memberikan acungan jempolnya.

“Ibu dan Kila di mana, kok gak kelihatan?” tanya Hugo, sambil melirik lagi arloji di tangannya lalu beralih menatap kamar tempat dua orang tamunya itu menginap.

“Ada, tadi pagi-pagi sekali keluar kamar taruh koper mereka di ruang tamu. Habis itu gak ada keluar kamar lagi sampai sekarang.” Sahut Ana sambil menuang air putih hangat ke dalam gelas milik Hugo.

“Makasih, sayang.” Hugo mengusap pinggang Ana dan mencium sisi pundak istrinya itu yang setengah menunduk di dekatnya.

Tak berapa lama Kila dan ibu Astrid keluar kamar, mereka pun sarapan bersama. Setengah jam kemudian mereka semua sudah dalam perjalanan menuju bandara diantar oleh pak Gani.

“Sepertinya akan turun hujan pagi ini,” ucap Kila saat mereka menjejakkan kaki di bandara. Langit pagi yang tadinya cerah tampak berubah menjadi mendung gelap. Ana yang berdiri di sampingnya mendongak, awan hitam tampak menggumpal di atas sana.

“Semoga saja tidak akan mengganggu jadwal penerbangan kita hari ini,” sahut Ana setengah bergumam, dan beberapa saat kemudian hujan turun deras disertai gemuruh keras dan angin yang bertiup kencang. Akibat cuaca buruk dan hujan deras yang tak kunjung reda hampir dua jam lamanya, membuat penerbangan mereka akhirnya tertunda.

“Bosan!” keluh Kila sambil menopang dagu, sedari tadi duduk menunggu sambil menatap hilir-mudik orang yang lewat di depannya. “3 jam, lama!”

Ana yang duduk di samping Hugo hanya mengedikkan bahu, ia pun sebenarnya bosan menunggu. Apalagi Hugo tampak sibuk dengan ponselnya dan beberapa kali terus menerima telepon dari kantor terkait masalah pekerjaan. Ya, sambil menunggu, Hugo menggunakan waktunya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Sementara ibu Astrid tampak duduk tenang sambil memejamkan matanya, beda lagi dengan Kila yang tidak betah hanya duduk diam saja. Ia mengedipkan mata dan menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Ana agar ikut dengannya.

“Babe, Aku temani Kila ke toilet dulu.” Pamit Ana pada Hugo yang diangguki pria itu sambil berpesan agar cepat kembali. Secepatnya Ana dan Kila pergi menuju toilet.

“Serius mau ke toilet?” tanya Ana ketika mereka sudah berjalan bersama, menatap Kila yang tampak santai berjalan di sebelahnya.

“Gak percaya?” Kila balik bertanya.

“Santai gitu, padahal tadi kelihatannya kebelet. Kenapa sekarang kelihatan segar?”

“Ya malulah kalau ketahuan orang banyak kalau lagi kebelet, makin jauh nanti jodohku.” Kila nyengir.

Mereka berjalan santai sambil bercanda hingga beberapa saat lamanya. Tapi menit berikutnya keduanya berlarian menuju toilet bandara, berusaha menghindar dan sembunyi sambil cekikikan setelah melihat Hugo berjalan menyusul di belakang mereka. Sementara di depan sana, sebuah troli barang sedang didorong seseorang dan dari arah lain ada seorang bocah perempuan berlari tanpa melihat jalan di depannya.

Ana menyadari bahaya dan bergerak cepat menuruti instingnya tanpa menghiraukan keselamatan dirinya. Ia berhasil mendorong bocah kecil itu, tapi Ana tak bisa menghindar lagi dan lengannya menghantam troli di depannya.

Bruagkh!

“Awas!”

“Alika!”

Terdengar jerit kesakitan seorang bocah perempuan, disusul tangisan kencang dan Ana yang terjatuh sambil memegangi lengannya yang sepertinya memar lebam karena menabrak troli yang membuat barang bagasi milik penumpang.

“Kamu gapapa, sayang?” suara cemas wanita dewasa pada bocah perempuan yang berada dalam pelukan seorang pria yang sangat dikenal Ana.

Ana mengerjap tak percaya, kata-kata itu bukan ditujukan padanya. Ia mendongak, tak ada orang lain di dekatnya yang melihat keadaannya. Ana mencoba berdiri, tapi lengannya terasa nyeri. Sambil meringis, pandangannya mengarah pada bocah yang baru saja ditolongnya itu. Dilihatnya Hugo berjongkok memeluk bocah perempuan yang menangis terisak, lalu ada wanita cantik di sebelahnya berusaha menenangkan sambil terus mengusap rambut kepala si bocah.

Kila datang dan langsung mengulurkan tangan berniat membantu Ana berdiri, tapi sepertinya tak diindahkan Ana. Pemandangan di depan matanya begitu menyita perhatiannya, Kila menatapnya heran. “An, Kamu gapapa. Lenganmu kelihatan memar biru begitu?" tanya Kila khawatir.

“Aku gapapa,” sahut Ana lalu bangkit berdiri dengan wajah meringis dan sebelah tangan memegangi lengannya yang nyeri. Ia berjalan cepat mendekati tempat Hugo, namun langkahnya terhenti mendadak begitu mendengar wanita itu bicara.

“Aku senang akhirnya Alika bertemu dengan papanya.”

▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎

1
Jetva
ini yg aq suka..ga perlu beranak pianak hingga ratusan episode..pe dek tp padat n sesuai tema..
Jetva
Ana kereeeen....biarkan dia tersiksa...udh dapat perawan tp marah krn merasa ditipu...ditipu juga tp balasanx lu dpt brg ori bukn bekasan...
Jetva
Hugo udh jatuh tp enggan mengakui klo dia terluk akibat jatuh☺☺☺..gengsi dipertahankan...entar ditinggal lagi bru kerasa...
Jetva
setelah tau cerita yg sebenarx..apakah Hugo masih membenci..??????
Bunga Cinta
Bagus bgt Karya mengandung kasih, sayang dan Cinta🌹❤️❤️❤️
Bunga Cinta
Terima kasih autor💕💕💕💕💕💕♥️
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹
Lenni Namora
Luar biasa
a57w
ceritanya bagus, tidak bertele-tele
Mba Wie
Luar biasa
Kadek Bella
smangat,, bagus ceritanya nggak bertele-tele,, trima kasih
Bunda
ikutan mampir Thor🙏🏻
Yulia
Luar biasa
reza indrayana
Mampir nich Thor ..., kisah yg menarik...👍🏻👍💙💙💛💙💙🫰🏻🫰🏻😘😘😘
Kinara (Hiatus)
saran Thor : menurut sy agak aneh dg kata "hampir lupa". Karena itu merupakan syarat utama & Ana adl org terdekat Ibu pemilik cafe tsb. Seharusnya justru itu menjadi pembahasan utama di awal. Kan sdh merasa aneh dl, knp syaratnya Ana harus jd ART di tmp pemberi dana. Jd seharusnya itu dibahas di awal saat membicarakan dg Ana. Maaf ya Thor 🙏
Kim Ye Jin
semangat say 😚
Seo Ye Ji
Top dah, good luck say 😙👍👍👍
@yo jung shi💖
menyalah akakku ❣❣❣❣
MrsJuna
❣❣❣❣❣
Juna murat
Terbaik untukmu say 🥰🤗💝😚💖
captain Ri 👨‍✈️
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!