Aku adalah seorang gadis yang dulunya kesepian saat masa SMA, aku bukan gadis biasa bahkan gadis yang luar biasa dimata banyak orang.
Awal karierku, aku bertemu dengan seorang lelaki yang penuh dengan misteri, lelaki itu datang di dalam kehidupanku. Tetapi disisi lain tidak ada kepastian dari lelaki itu. Aku juga bertemu dengan seorang lelaki di negara Singapore, dia baik dan sopan.
Apakah kisah itu dapat dikatakan indah? Atau tidak bermakna sama sekali?
Happy reading🌹
Salam kenal Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 AC - Momen manis
Aku melihat dari pintu kaca ruangan Izura dirawat, saat ini keadaannya masih belum pulih ia masih tidak sadarkan diri. Revin memegang bahuku mencoba untuk menenangkanku. Aku tak kuasa menahan air mata ini, walaupun pertemuanku dan Izura begitu singkat namun telah banyak cerita dan kenangan yang telah terjadi di negara Singapore ini.
Tampak beberapa tim medis sedang memeriksa keadaan Izura, aku melihat ke arah Daniel. Matanya masih melihat ke kaca pintu rawat inap itu, aku tau mungkin saat ini ia ingin menangis namun tidak ada sandaran. Aku tau Daniel adalah lelaki hebat dan kuat, ia tidak ingin menangis di depanku.
"Kau harus kuat ya Daniel, kita sama sama berdoa atas kesehatan Izura," ucapku menatap Daniel.
Revin menepuk pelan bahu Daniel, "Sudah kau jangan bersedih jika Izura tau kita seperti ini ia akan merasa jauh lebih sedih, melihat orang orang yang ia sayangi bersedih karena dia. Mungkin saja ini adalah sebuah perjuangan untuk cinta kalian. Kau harus kuat karena calon kepala rumah tangga harus bisa menjadi penompang sebuah keluarga," ucap Revin menatap Daniel.
"Calon kepala rumah tangga?" tanya Daniel menunduk, hening sejenak. Revin hanya diam, ia berfikir apakah ada perkataan yang salah darinya.
"Mendengar perkataanmu calon kepala rumah tangga, membuat aku mengingat pertunanganku dengan Izura, hari itu sangat menyenangkan, aku harap kisah cinta ini tidak berakhir begitu saja. Terima kasih kalian sudah mau datang kemari, aku sangat senang bisa merasakan sedikit kebahagiaan orang orang terdekatku ada di sampingku saat keadaan seperti ini." jelas Daniel tersenyum tipis.
Aku dan Revin saling memandang, kami hanya diam. Kami mengerti saat ini suasana hati dari Daniel sedang tidak baik. Setelah itu kami duduk di kursi rumah sakit.
Lebih kurang dua jam kami di rumah sakit itu, namun Izura belum juga sadar, Daniel mengerti dengan situasi saat ini, ia menyuruh aku dan Revin untuk pulang saja. Dan ia juga mengatakan akan memberitahu jika Izura telah sadarkan diri.
Sebelum pergi aku meminta Daniel untuk makan siang bersama kami. Tetapi Daniel menolaknya, ia memilih menunggu di rumah sakit dengan beralasan akan makan siang di kantin rumah sakit saja.
Kami melihat ke arah Daniel, ia mengangguk dan kami beranjak pergi meninggalkan rumah sakit. Revin memegang pundakku mencoba untuk memenangkanku ia tau sedari tadi suasana hatiku sedang tidak baik.
-OoO-
Aku dan Daniel mampir ke sebuah toko makanan pinggir jalan, karena saat ini sudah jam makan siang. Kami memilih makanan pinggir jalan saja dibandingkan dengan restoran. Aku tak berselera makan hari ini karena melihat kondisi Izura di rumah sakit, kami tidak di izinkan oleh Dokter untuk masuk ke ruang inap Izura, karena melihat kondisi Izura saat ini.
Setalah makan siang, Revin tidak membawaku pulang melainkan mengajakku ke sebuah tempat.
"Hany, kamu jangan banyak komentar aku akan membawamu ke sebuah tempat yang istimewa," ucap Revin tanpa menoleh ke arahku, ia masih memperhatikan jalanan yang tampak lumayan ramai.
"Iya baiklah," balasku singkat. Wajahku tampak murung namun saat ini aku tidak ingin larut dalam kesedihan aku tidak ingin membuat orang di sekitarku khawatir, apalagi Daniel mungkin saja ia juga akan sedih.
30 Menit berlalu, dari dalam mobil aku melihat banyak gedung-gedung pencakar langit. Suasana kota ini lumayan ramai wajar saja karena ini sudah masuk jam makan siang, mungkin banyak anak sekolahan yang sudah pulang atau para pekerja kantoran yang keluar kantor untuk pergi makan siang di restoran.
Mobil Revin berhenti, aku menoleh ke arahnya. Revin tersenyum ke arahku mengajakku untuk turun dari dalam mobil. Aku memandangi sekitar. Tempat ini tidak asing bagiku.
Tempat yang penuh momen bagiku dan Revin, tempat dimana penantianku selama di Singapore untuk menunggu penjelasan dari cinta Revin. Ini tempat dimana Revin melamarku, mengatakan ia mencintaiku, saat itu hatiku begitu bahagia, telah banyak kisah yang telah kami lalui.
Kami sedang berada di Taman Merlion, suasananya masih sama, disana tampak ramai pengunjung dalam negri maupun luar negri.
Revin memandangku dan aku juga memandangnya. Ia bersimpuh sontak aku terkejut, aku teringat akan momen saat Revin melamarku. Aku tidak mengerti apa yang akan Revin lakukan.
Ia memegang tanganku, "Hany, di tempat ini dulu aku mengungkapkan cintaku padamu, dan sekarang masih seperti itu aku Cinta padamu bahkan sangat menyayangimu. Aku tau saat ini aku belum bisa jadi suami terbaik untukmu. Tetapi aku akan berusaha menjadi seseorang yang selalu melindungi dan menyayangimu. Aku tidak ingin kamu bersedih memang benar akhir akhir ini aku sibuk bekerja, aku minta maaf Hany. Apa kamu ingat Hany? besok adalah anniversary satu bulan pernikahan kita aku ingin kamu selalu bahagia Hany," ucap Revin. Senyuman mengembang di pipinya. Wajah putihnya tampak tampan jika tersenyum.
Aku terharu, seketika sebutir air mata lolos di pelupuk mataku. Aku meminta Revin untuk berdiri. Ia menghapus air mataku dengan tangan kanannya, aku tersenyum. Aku memeluk Revin. Entahlah Revin memang pintar membuatku terkejud ia mengelus pucuk rambutku, aku teringat akan masa masa bersekolah dulu, saat itu Revin mengantarkanku pulang, kami belum menjadi siapa siapa, belum ada kata aku mencintaimu, belum ada kata kita, hanya ada kata aku dan kamu dalam hubungan kami. Saat hendak pulang Revin mengelus pucuk rambutku, aku belum mengerti kenapa dia selalu mengelus pucuk rambutku tetapi saat ini aku sudah mengerti dia memang suka mengelus pucuk rambut seseorang katanya itu sebuah kasih sayang.
Aku masih memeluknya, "aku juga mencintaimu," ucapku pelan namun masih di dengar oleh Revin. Kami melepaskan pelukan suara tepukan terdengar.
Aku dan Revin melihat sekitar ternyata banyak orang yang melihat kami. Mungkin dari mereka tidak mengerti dengan bahasa Indonesia tetapi saat di tengah taman seperti ini jika seorang lelaki bersimpuh di hadapan seorang wanita, mungkin saja ia mengungkapkan sebuah perasaannya. Wajah mereka semua tampak senang, wajahku merah padam, aku malu sekali dilihat beberapa pasang mata ini. Revin tersenyum dan menggenggam tanganku untuk segera pergi dari kerumuman itu.
Setelah kami lari dari kerumunan, kami duduk di kursi taman, Revin membelikanku es krim.
"Kenapa kamu membuatku terkejut dengan sikapmu seperti itu sayang?" tanyaku sambil memakan es krim.
"Apa salahnya jika aku membuatmu bahagia, aku senang kamu bisa kembali tersenyum. Aku mengerti suasana hatimu sedang tidak bagus, makanya aku membawamu kesini. Kita jarang sekali pergi menghabiskan waktu seperti ini, apa kamu senang istriku?" tanya Revin balik sambil menyelipkan poni rambutku ke telinga.
"Iya aku senang sekali, terima kasih suamiku," ucapku tersenyum.
Kami cukup lama di taman itu dan hari sudah mulai senja kami kembali menaiki mobil untuk pulang.
kakakmu mampir iniiiii😂😝😝
Selebihnya ok Thor 👍
Semangat, Ane-Chan~
semangat terus kk ku 😚