Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan yang tiba-tiba berubah.
Zalina duduk tepat di hadapan Kaiden. Ia tampak tenang, walau kecanggungan terlihat jelas di wajahnya saat ini.
Bisa-bisanya ia menyebut kata "serangga mahal" itu dengan sangat jelas, hingga ia yakin pria di hadapannya itu bisa mendengarnya.
Kaiden yang sejak tadi hanya diam, malah menatapnya tajam dengan wajah yang jelas menunjukkan rasa ketidaksukaannya itu.
"Jadi," ia mulai membuka suara. "Aku terlihat seperti seekor serangga di matamu?"
Zalina terkekeh hambar melihatnya. "Haha... bukan begitu maksudku. Aku pikir tadi ada serangga yang masuk, ternyata kau yang... datang."
Ia malah menggaruk kepalanya yang bahkan tidak terasa gatal. "Aku bicara apa, sih?" gumamnya pelan, nyaris berbisik pada dirinya sendiri, menyadari alasannya yang terdengar konyol.
Tatapan pria itu semakin menajam, bahkan tidak ada sedikit pun ekspresi yang tergambar di wajahnya yang datar itu.
Suasana berjalan dengan penuh kecanggungan.
Tak lama, pelayan masuk untuk mengantarkan pesanan mereka. Lalu setelah menata semuanya di atas meja, pelayan itu segera keluar. Membuat suasana ruangan kembali sunyi yang terasa menyesakkan.
"Jadi, kau lah gadis kecil yang menyebalkan itu?" tanya Kaiden lagi, seketika menghentikan gerakan tangan Zalina yang sedang mengiris daging dipiringnya.
Zalina tampak mengernyit heran karena tidak mengerti dengan ucapannya yang terdengar sembarangan itu.
"Menyebalkan? Apa maksudmu bicara begitu?" sahut Zalina penuh tanya.
Alih-alih menjawab pertanyaannya, Kaiden malah tersenyum tipis ke arahnya, senyum dingin yang hambar.
"Ya, gadis kecil yang dulu selalu merengek dan menangis padaku, memohon agar aku menikahinya."
Wajah gadis itu seketika memerah. "J-jangan bicara sembarangan. Mana mungkin aku yang baru berusia lima tahun mengatakan hal seperti itu padamu. Kau pasti sedang berbohong, kan?" ucapnya tak percaya. "Aku bahkan sama sekali tidak ingat padamu."
Kaiden terlihat santai menyantap makanannya tanpa memperdulikan reaksi Zalina yang masih menatapnya dengan campuran kesal dan kebingungan.
"Kau pikir aku ini seorang pembohong besar?" lanjut Kaiden tenang, seolah tidak terganggu sedikit pun. Ia memotong daging dipiringnya dengan rapi, lalu menyuapnya perlahan.
Zalina menggertakkan gigi. "Aku tidak bilang kau pembohong... tapi ceritamu itu sama sekali tidak masuk akal."
Kaiden berhenti sejenak, garpunya menggantung di udara. Tatapannya beralih pada Zalina, dalam dan sulit ditebak. "Tidak masuk akal bagimu, bukan berarti itu tidak pernah terjadi."
Zalina terdiam. Untuk sesaat ia kehilangan kata-katanya. Pria di hadapannya ini ternyata sangat menyebalkan.
Zalina akhirnya menarik napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya yang kacau. Ia meraih gelas minumannya, meminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali di atas meja.
"Aku tidak ingin membahas hal tidak penting itu lagi." ucapnya tegas. "Lebih baik kita bicara masalah yang lebih penting. Perjodohan kita."
Kaiden tidak langsung menjawab. Ia malah tersenyum miring ke arahnya. Ia meletakkan pisau dan garpunya dengan rapi di atas piring. Wajahnya tampak tenang, seolah hal tersebut sama sekali tidak mengganggunya.
"Sejak awal," Kaiden menyandarkan punggungnya. "Aku tidak pernah berniat menikah hanya karena keputusan orang tua.
Nada bicaranya datar, tapi tegas. Tidak ada ruang untuk disalahartikan.
Zalina mengerjap pelan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ada sedikit rasa lega yang menyelinap di dadanya.
"Bagus kalau begitu." ucapnya cepat, seolah takut Kaiden akan berubah pikiran. "Berarti kita sepakat untuk membatalkannya."
Namun Kaiden tidak langsung menyetujui perkataannya. Ia menatap Zalina cukup lama, membuat gadis itu kembali merasa tidak nyaman.
"Masalahnya, tidak semudah itu." ucapnya pelan.
Zalina mengernyit. "Kenapa tidak? Bukankah kita berdua sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini?"
Kaiden menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya saling bertaut di atas meja. Tatapannya tetap tenang. Tapi ada sesuatu yang dingin dan sulit ditebak di sana.
"Setelah ku pikir-pikir, tidak ada salahnya menerima perjodohan ini."
Zalina terdiam sejenak, seolah kata-kata Kaiden barusan, belum sepenuhnya masuk ke dalam pikirannya.
"Ke... kenapa kau tiba-tiba menerimanya?" suara Zalina terdengar lebih pelan dari biasanya, bahkan nyaris seperti bisikan. "Bukannya sebelumnya kau juga menolak perjodohan ini?"
Kaiden tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap gelas di depannya, jemarinya tampak mengetuk-ketuk meja pelan, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan terlalu cepat.
Zalina merasakan sesuatu yang aneh memenuhi dadanya, campuran antara bingung, kesal dan merasa sedikit dikhianati.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran? Apa yang sedang kau rencanakan?" tanyanya penuh selidik, merasa keputusannya itu terlalu aneh.
"Entahlah..." pria itu akhirnya bicara. Ia lalu tersenyum miring ke arahnya, penuh arti. "Ku pikir, menikah juga tidak ada salahnya. Apalagi setelah aku bertemu denganmu."
Ia tersenyum tipis, jelas bukan senyum tulus yang menunjukkan bahwa ia sedang bahagia, melainkan senyum dingin yang menunjukkan ada sesuatu yang ia sedang ia rencanakan.
Zalina langsung merasakan ketidaknyamanan yang seketika menjalar di tengkuknya. Senyum itu bukan hanya tidak tulus, namun juga seperti menyimpan maksud tersembunyi.
"Jangan bercanda." ucap Zalina cepat, berusaha terdengar tenang meski hatinya mulai tidak karuan. "Itu sama sekali tidak lucu."
Kaiden tersenyum sinis, terlihat dingin. Tatapannya tertuju pada Zalina, seakan menikmati setiap perubahan ekspresi di wajah wanita itu.
"Sayangnya, aku tidak pernah bercanda."
Jawaban itu membuat dada Zalina terasa semakin sesak.
"Kamu bilang karena bertemu denganku?" ulangnya, nada suaranya kini penuh kecurigaan. "Apa maksudnya itu?"
Kaiden memiringkan kepalanya sedikit, seolah mempertimbangkan apakah ia harus menjawab atau tidak. Lalu ia bersandar santai, seperti seseorang yang tidak sedang membicarakan sesuatu yang penting.
"Bukankah menarik?" ucapnya pelan. "Dua orang yang sama-sama menolak, tiba-tiba dipaksa bersama."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku."
"Kadang," lanjut Kaiden, menolak protesnya. "Hal yang tidak kita inginkan, justru bisa jadi lebih menguntungkan."
Zalina menatapnya tajam. "Menguntungkan untuk siapa?"
Kali ini Kaiden tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Zalina dalam diam, cukup lama hingga membuat Zalina memalingkan wajahnya.
Namun, Zalina tidak mau merasa kalah. "Aku tidak suka cara bicaramu." ucapnya akhirnya, dengan suara yang lebih rendah. "Seolah-olah aku ini bagian dari rencanamu."
Senyum Kaiden sedikit melebar, tipis dan tajam.
"Mungkin memang begitu."
Jantung Zalina seakan berhenti sejenak.
"Apa?"
"Aku hanya bilang... mungkin." ulang Kaiden santai, seakan ucapannga tadi bukan sesuatu yang mengejutkan. "Kau gadis yang pintar, Zalina. Pasti kau bisa menebaknya sendiri."
Zalina mengepalkan tangannya. Kali ini ia benar-benar kesal. Ia lalu bangkit dari kursinya, karena merasa tidak ada gunanya lagi bicara pada pria di hadapannya itu. Pria aneh yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Aku tetap pada pendirianku sebelumnya." ucapnya dengan nada tegas dan jelas. "Aku menolak perjodohan ini."
"Aku tahu." Kaiden mengangguk pelan. "Justru itu yang membuatnya lebih... menarik."
Kata "menarik" itu terdengar aneh di telinganya. Bukan pujian, melainkan lebih seperti penilaian.
Zalina menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya.
"Kalau ini hanya permainanmu, aku tidak akan ikut." ucapnya tegas.
Kaiden mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Tatapannya kini lebih serius, lebih tajam dari sebelumnya.
"Ini bukan permainan."
"Lalu apa?"
Hening sesaat.
Kemudian, dengan suara rendah yang hampir terdengar seperti bisikan, Kaiden menjawab.
"Kesepakatan."
Zalina menatapnya tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya ia benar-benar tidak bisa membaca pria di hadapannya itu.
🥀🥀🥀
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...