Cerita sedang Hiatus, tidak diperkenankan untuk dibaca.
Bagaimana jadinya ketika Anak baik-baik yang begitu tahu akan adab tiba-tiba berpindah ke tubuh gadis Antagonis?
Yup! Alvina memasuki tubuh seorang gadis yang terkenal dengan nama Bad Gueen, pembully yang sangat jahat di sekolah Antareksa. Begitu memasuki tubuh sang gadis antagonis, hidup Alvina berubah 100 derajat dari kehidupannya sebagai Alvina, gadis sopan dan tahu adab.
Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Alvina? Yuk saksikan kelanjutannya!
SELAGI LAGI CERITA INI HANYA UNTUK BERSENANG-SENANG UNTUK MELEPAS BOSAN AUTHOR, SEKIAN DARI ZEN. TERIMA KASIH 🥂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosalyn., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA PROTEKTIF
Perlu memakan waktu selama 2 setengah jam penangan kondisi Shopia sehingga dia bisa keluar dari masa kritisnya setelah diberikan Vaksin. Namun bukan berarti Shopia bisa sembuh dalam sekejab. Dia perlu diberikan perawatan berkala agar bisa benar-benar sembuh.
Rasa lega dirasakan oleh anggota keluarga Shopia yang selalu menunggu kabar baik tersebut. Dikarenakan rumah sakit memiliki peraturan tersendiri, orang yang masuk ke dalam ruangan inap Shopia, dibatasi.
Hanya 2 orang yang boleh masuk tiap mengunjungi Shopia. Maka dari itu, anggota keluarga Shopia memutuskan untuk saling bergantian mengurus Shopia agar mereka menjadi semakin lega saat memastikan kondisi Shopia dengan mata kepala mereka sendiri.
Namun, ada sesuatu kejadian yang tidak terduga. Ini adalah hari kedua, jadwal Austin dan Mega untuk menjenguk Shopia dan mengurus Shopia. Akan tetapi terjadi sebuah drama dihari tersebut.
"Aku gak mau ketemu Papa, keluar dari sini!" pekik Shopia histeris sehingga suaranya terdengar hampir kesekitar.
*BRAK!!!........Pintu tertutup dengan kasar dan memperlihatkan Austin yang sedang termenung di depan pintu ruangan.
"A-aku diusir?" gumam Austin mematung.
Erlan dan Kelvin yang sedang memperhatikan dari kejauhan hanya bisa menghela nafas dan memalingkan wajah mereka. Mereka memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan mengabaikan Austin yang sedang terguncang.
"Salah sendiri" ucap Kelvin ketus dan kemudian pergi dari sana, meninggalkan Erlan yang masih tetap tinggal.
Namun baru beberapa tapak kakinya melangkah, tiba-tiba Kelvin dikejutkan oleh kedatangan orang yang lumayan familiar baginya. Orang tersebut adalah Dokter Rafael, Dokter yang pernah merawatnya dulu.
"Dokter Rafael, Dokter ada di sini juga?" ucap Kelvin berbasa basi.
Seperti biasa, Rafael dengan wajah tampan yang kakunya itu mulai menjawab "Saya datang kemari untuk melihat keadaan Shopia," jawab Rafael.
Mata Kelvin langsung memicing. Dia menatap Rafael dari atas sampai bawah seolah sedang mengamati pria itu.
"Ngapain ni orang mau liat Adek gue? Hmmm mencurigakan" benak Kelvin penuh curiga pada Rafael.
!!!
"Apa jangan-jangan ni orang naksir sama Adek gue?! Shitt gak bisa dibiarkan, gue harus siaga satu" lanjutnya uring-uringan.
"Gak bisa, Shopia lagi istirahat. Lagian Mama saya lagi ada di dalam, mereka gak bisa diganggu" kata Kelvin bersikap waspada pada Rafael.
Rafael hanya diam, tetap bersikap tenang sembari melirik kearah ruangan Shopia. Namun sialnya sikap tenang dan wajah tampan milik bajingan itu telah membuat Kelvin kesal.
"Bukannya langsung pergi ni orang malah ngeliatin ruangan Shopia. Apa sih mau ni orang" benak Kelvin semakin kesal.
"Dok, mending pulang aja deh. Percuma Dokter ada di sini, gak bakal bisa masuk" ucap Kelvin tersenyum simpul pada Rafael.
Lagi-lagi Rafael hanya menatap lurus kedepan dan kemudian melangkah tanpa beban "Saya sudah dapat izin dari pihak rumah sakit" ucapnya.
!!
Kelvin berbalik arah, dengan cepat mengikuti langkah Rafael, penuh curiga.
"T-tapi Shopia gak mau di ganggu sama orang yang gak dia kenal," kata Kelvin, mencekal tangan Rafael sehingga langkah Rafael terhenti dengan paksa.
Rafael menoleh "Kami sudah saling mengenal, bukannya Anda yang mengenalkan kami kemarin?" kata Rafael sambil menatap Kelvin dengan santai.
Kelvin terhentak. Baru dia ingat jika dia lah yang sudah membawa Shopia untuk berobat ke Dokter Rafael. Dia tidak bisa berkutik lagi sekarang ini. Sudah tidak ada alasan dirinya untuk menahan Rafael agar tidak menemui Shopia.
"K-kalau itu sih..." ucapnya gagu "Yaudah deh, silahkan masuk. Tapi jangan lama-lama!" lanjutnya.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Rafael segera melangkah pergi dari sana untuk segera masuk ke dalam ruangan. Namun sebelum itu, dia harus melewati satu masalah lagi agar bisa masuk.
Rafael sedang bertemu pandang dengan Austin yang sedang berdiri tepat di depan pintu. Dia berdiri dengan tegap seolah-olah tidak mengijinkan Rafael untuk masuk.
"Ada keperluan apa?" ucapnya tegas menanyai maksud kedatangan Rafael.
"Saya ingin menjenguk Shopia" jawab Rafael masih dengan ekspresi kakunya yang seperti kanebo kering itu.
"Memangnya kamu ini siapa?" tanya Austin lebih tegas dan merasakan perasaan-perasaan tidak suka saat melihat kehadiran Rafael.
Aku saja tidak bisa menemui putriku, tapi kau yang orang luar ini mau menemuinya. Pikir Austin Jengkel.
"Saya seorang Dokter" jawab Rafael tanpa ragu, karena pada nyatanya dia memang seorang Dokter.
!!
Seketika ekspresi garang Austin menjadi lebih melembut saat mengetahui jika Rafael adalah seorang Dokter. Karena merasa tidak enak pada Rafael, Austin memberikan senyumannya.
"Oh saya pikir siapa, silahkan masuk. Mungkin putri saya sudah menunggu untuk diperiksa" kata Austin menepi dan membiarkan Rafael masuk ke dalam.
Mungkin terjadi sebuah salah paham, namun Rafael memilih untuk memanfaatkan kesalah pahaman itu dan masuk begitu saja.
"Fyuhh...hampir saja berdebat dengan Dokter. Jika aja aku buat keributan mungkin Shopia bakal lebih kesal sama aku" gumamnya merasa lega dan bangga pada diri sendiri karena telah berhasil menahan amarah.
"Sudah siang, lebih baik aku pulang dulu dan kemudian kemari lagi saar malam hari" ucapnya lalu pergi untuk bergegas pulang.
Beralih di ruangan tempat Shopia dirawat....
Saat ini, Mega dan Rafael saling berhadap-hadapan, sementara itu Shopia sedang terbaring lesu di tengah-tengah keduanya.
"Saya tahu kamu bukan Dokter yang merawat Anak saya, kan?" ucap Mega memicing pada Dokter tampan nan rupawan itu.
"Saya memang bukan Dokter yang merawat kondisi Shopia saat ini, namun kenyataan bahwa saya adalah seorang Dokter bukan sebuah kebohongan" jawab Rafael.
Shopia sedikit terkejut mendengar jawaban Rafael. Dia melirik Rafael dengan tatapan tidak percayanya.
"Tumben ni orang ngomongnya panjang. Biasanya singkat dan padat" benak Shopia keheranan.
Atmosfer sekitar terasa tidak mengenakan. Mega memicing pada Rafael seolah sedang mengamati pria didepannya itu.
"Dia tampan, keren juga iya. Aku akui dia memang top, tapi apa benar dia orang baik? Apa jangan-jangan dia naksir sama Shopia?" benak Mega melanglang buana memikirkan perasaan Rafael untuk sang putri tercinta.
".....Jadi, ngapain kamu kesini? Saya belum pernah lihat kamu sebelumnya, apa kamu benar-benar mengenal Anak saya?" ucap Mega memberikan sederet pertanyaan.
Rafael hanya diam, dia terlihat tidak tertarik pada pertanyaan tersebut. Alih-alih menjawab dia malah menatap Shopia seperti akan mengatakan sesuatu.
Karena itu juga, Mega merasa teracuhkan lalu jengkel pada sikap Rafael yang dinilai tidak sopan pada orang tua yang sedang berbicara.
"Kamu..." namun belum sempat Mega menyelesaikan ucapannya, Shopia menghentikan Mega dengan memegang pergelangan tangan Mega.
"Mah, Shopia kenal kok sama Dokter Rafael" kata Shopia mencoba untuk menenangkan sang Mama.
"Jadi kamu kenal?! Kalian gak pacaran, kan?"
!!
"A-APA......"
^^^TBC~^^^