Gadis cantik yang biasa di panggil Arra itu harus hidup tanpa ayah dan ibunya, ia hanya gadis biasa yang hidup bersama bibinya sejak kecil. Namun suatu hari Arra harus menghadapi masalah besar menyelamatkan restauran kecil milik bibinya tersebut dengan jaminan dirinya yang harus menikahi pria yang baru saja dikenalnya. Akankah Arra menerima tawaran tersebut? Ikuti terus cerita ini untuk mengetahui keputusannya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
*
POV DANIEL
Aku kembali dari vila keluarga Gisel setelah dua minggu tinggal disana berdua dengan istri kedua ku.sementara ini kami akan tinggal di rumahku sendiri sebelum akhirnya akan berangkat ke New York. Pertama kali melangkahkan kaki ke dalam rumah ini rasanya sudah sangat berbeda, bayangan Rain kembali mengingatkan ku pada setiap momen bersamanya.
Mbok Asih yang tadinya membantu ku membersihkan rumah tiba-tiba pamit pulang kampung untuk mengurus pernikahan putri bungsunya,jadi mau tidak mau aku harus tinggal berdua dengan Gisella sekarang. Untung saja sebelum aku datang William sudah memerankan service home untuk membersihkan setiap ruangan yang pernah di singgahi oleh Rain, aku sedikit lega karena tak perlu uring-uringan dengan Gisella perkara itu.
Hari ini aku sengaja pergi ke kantor untuk menata pekerjaan yang akan ku tinggalkan selama satu tahun kedepan, sementara aku di New York nanti papa yang akan mengambil alih kembali untuk memimpin perusahaan.
Saat sampai di kantor, aku baru turun dari mobil dan masuk ke lobby.William yang baru keluar dari lift langsung menghampiriku dengan raut wajah yang begitu cemas
"Will ada apa?
"Tuan, untung saja anda segera datang"
"Ada apa Will? "
"Sebaiknya kita bicara di ruangan anda saja tuan"
"Okay, kita ke atas sekarang"
Setibanya di ruangan aku meminta William duduk dan menceritakan semuanya
"Gimana Will, ada apa? kamu terlihat begitu cemas"
William menyodorkan amplop coklat berlogo hijau kepadaku
"Ini ini dari Rain? "
"Benar tuan"
"Jadi dia serius dengan ucapannya "
"Saya pikir sebaiknya tuan bertemu dengannya terlebih dahulu,bicarakan semuanya sebelum anda berangkat ke New York"
"Will kau tahu sendiri, sulit untuk ku menghubunginya karena sampai sekarang ia masih memblokir kontakku"
"Coba tuan pakai telfon kantor"
"Benar"
Aku segera menekan nomer Rajin, beberapa kali bunyi BIP dan akhirnya sebuah suara membuatku lega
"Hallo, maaf ini dengan siapa ya? " suara lembut itu membuatku semakin rindu dengan Rain
"Rain"
"Mas Daniel? "
"Bagaimana kamu tahu kalau ini saya?"
"Ada apa mas? "
"Kamu kemana saja? saya mencari kamu namun sepertinya kamu menghilang bagai ditelan bumi"
"Bukan urusan kamu lagi mas, ada apa? "
"Bisa kita bertemu? "
"Untuk apa? "
"Saya ingin berbicara empat mata dengan kamu"
"Mas, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan"
"Saya mohon Rain, jika keputusan kamu ini memang sudah bulat saya akan menyetujuinya namun biarkan saya bertemu dengan kamu sekali saja"
"Kita bisa bertemu di persidangan nanti"
"Saya ingin bertemu sebelum kita mediasi ataupun sidang"
"Maaf mas, aku tidak bisa"
"Rain, satu bulan lagi saya akan pergi ke New York. Saya akan tinggal selama satu tahun disana, jadi sebelum kita bercerai izinkan saya bertemu dengan kamu sekali saja"
Keadaan hening sesaat, aku berharap Rain masih memiliki sedikit rasa belas kasihan kepadaku. Aku ingin meminta maaf langsung kepadanya atas kecerobohan yang sudah ku lakukan dan akan memberikan kompensasi kepadanya.
"Baiklah mas, kita bertemu siang ini di cafe hipster"
"Baik, saya akan datang sebelum jam makan siang"
Aku sedikit lega akhirnya Rain mau bertemu denganku, bunyi telfon putus mengakhiri percakapan kami berdua.
*
POV RAIN ARRA
Jam makan siang aku segera turun ke lobby untuk menemui taksi online di depan gerbang, setelah sampai di restauran aku segera mencari keberadaan mas Daniel. Laki-laki berjas coklat susu itu masih terlihat gagah seperti biasa, rasanya hati ini sangat merindukan pelukannya namun perasaan sakit ini kembali datang apabila mengingat kejadian-kejadian yang telah berlalu.
"Rain silahkan duduk" ucapnya lembut
Aku duduk lalu sibuk dengan ponselku yang sedari tadi bergetar
"Kamu mau pesan apa" tanya mas Daniel yang sedari tadi melihatku begitu sibuk
"Air mineral saja" jawabku singkat
"Kamu nggak makan? "
"Aku hanya sebentar karena setelah ini ada acara"
"Baiklah"
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan mas?"
"Rain, tidakkah kamu ingin memberikan kesempatan kedua pada saya? "
"Mas, keputusan ku sudah bulat"
"Saya tahu saya salah, tapi kamu juga tahu jika Gisella begitu berarti untuk saya"
"Saya paham mas, lagipula untuk apa kita bersama karena bagimu saya tidak ada artinya di bandingkan perempuan itu"
"Bukan masalah itu, saya selama ini tidak jujur kepada kamu. Sebelum saya akhirnya kembali bertemu dengannya, saya jatuh cinta sama kamu, bahkan rasa bersalah saya sangat besar setelah kejadian di vila itu"
"Jika kamu cinta sama aku mas, lalu untuk apa kamu masih berhubungan dengan dia? selama ini kamu anggap aku apa? pelampiasan? pelarian? atau bahkan bayang-bayang dari masa lalu kamu? "
"Tapi kamu tahu sendiri kan Rain, saya juga pernah mencintai Gisella"
"Aku tahu sangat tahu, bahkan aku juga sadar diri. Sebesar apapun rasa cinta kamu ke aku itu lebih kecil di bandingkan besarnya cinta kamu ke dia,aku sadar mas kita menikah bukan karena cinta kamu juga bohong soal jatuh cinta pada pandangan pertama"
"Enggak Rain jika hal itu memang benar adanya"
"Sudahlah mas, lagipula semuanya sudah jelas aku minta kamu tidak mempersulit proses jalannya sidang nanti. Oh ya ini surat perjanjian pernikahan kita, aku harap ini semua sudah tidak berlaku setelah kita bercerai nanti"
"Rain, tolong pikirkan matang-matang keputusan kamu ini"
"Maaf mas aku harus pergi"
Aku meninggalkan mas Daniel sendiri dan menemui tuan Nathan yang sudah menungguku di depan restoran, sesampainya aku di depannya ia menarik tanganku lalu mencium kening ku. Aku sangat begitu terkejut, dengan sekuat tenaga ku dorong dadanya agar menjauh namun tidak bisa, setelah agak lama baru ia melepaskan pelukannya dari tubuhku.
Ternyata tuan Nathan sengaja melakukan itu karena sedari tadi mas Daniel mengikutiku dan ia melihat semuanya, meski aku merasa ini tidak seharusnya di lakukan namun aku cukup senang bisa melukai sedikit perasaannya.
Di dalam mobil aku hanya diam dan beberapa saat kemudian air mata kembali membasahi pipi, astaga lagi dan lagi setiap kali aku duduk di samping tuan Nathan selalu saja dalam keadaan seperti ini. Ia memeberikan sapu tangannya lagi dan berpura-pura tidak tahu bahwa aku sedang menangis, bahkan ia rela berhenti di supermarket kecil untuk membelikan aku beberapa buah es krim dan coklat untuk menghiburku. Dasar aneh-aneh saja atasan ku ini memangnya aku anak kecil yang kalau menangis akan langsung diam jika mendapatkan es krim ataupun permen, meski begitu aku tetap menghargai usahanya dan memakan itu semua. Kami juga sempat singgah sebentar di sebuah taman untuk menghirup udara segar.
kenapa sita sejahat itu
& jgn biarkan dia ada di tengah2 Edgar & Arra
kasian Arra