NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang berbeda

Mobil melaju pelan mengikuti irama wiper yang berderit.

Hujan sore itu tidak lagi rintik-rintik. Airnya sudah turun deras, menutup pandangan dan membuat aspal mengilap.

Tiba-tiba ada hentakan kecil.

Mesin mobil tersendat. Lampu di dashboard berkedip sekali, lalu menyala semua bersamaan. Warna kuning dan merah.

Revan mengerutkan dahi. Refleks kakinya menginjak pedal gas lebih dalam, tapi mobil tidak bergerak. Putarannya malah turun.

“Serius?” gumamnya.

Ia menepikan mobil ke bahu jalan. Sepi. Hanya ada deretan pohon dan pagar tinggi di sisi kanan. Tidak ada warung. Tidak ada rumah.

Dengan napas yang ia tahan, Revan memutar kunci kontak.

Cetek.

Sekali.

Cetek... cetek.

Dua kali. Tiga kali.

Suara itu kering dan memaksa, tapi mesin tetap tidak mau hidup.

Suara berisik itu membuat Serena tersentak dari tidurnya.

Ia mengerjap beberapa kali. Rambutnya masih sedikit berantakan, menempel di pipi.

“Kak?” suaranya serak. “Kenapa?”

Revan tidak langsung menjawab. Ia masih menatap dashboard, seolah berharap lampu-lampu itu padam dengan sendirinya.

“Enggak tahu,” jawabnya akhirnya. Nadanya datar, tapi rahangnya mengeras. “Tiba-tiba mati aja.”

Jantungnya mulai tidak tenang. Bukan karena mobilnya. Tapi karena di sebelahnya ada Serena. Dan hujan di luar semakin tidak bersahabat.

Ia meraih ponsel dari laci. Layarnya menyala.

Jarinya menekan nomor sopir rumah.

Nomor yang Anda tuju tidak aktif.

Dahinya berkerut. Ia mencoba lagi. Kali ini nomor rumah.

Nada sambung terdengar panjang. Sekali. Dua kali. Sepuluh kali.

Tidak ada yang mengangkat.

Di luar, suara hujan semakin keras. Menampar atap mobil dan kaca depan. Jalanan yang tadi sepi, kini benar-benar kosong.

Revan mengusap wajahnya dengan kasar. Frustasi.

Ia menoleh ke Serena.

Serena tidak panik. Ia hanya duduk diam, memeluk dirinya sendiri. Matanya memandangi tetesan hujan yang mengalir di kaca jendela. Uap tipis mulai terbentuk di kaca karena perbedaan suhu di dalam dan di luar.

“Lo tidur lagi aja,” kata Revan. Suaranya dipaksa tenang.

“Di sini?”

Serena menoleh. Lalu menggeleng pelan. Ada senyum kecil di bibirnya. Senyum yang capek tapi tulus.

“Mana bisa aku tidur, ninggalin kamu dalam keadaan kayak gini.”

Dunia Revan berhenti sedetik.

Kalimat itu. Nada itu.

Dada Revan terasa sesak. Bukan karena takut. Tapi karena hangat.

Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap Serena. Lama.

Dari ujung rambut yang masih basah karena embun, sampai ke tangan Serena yang saling bertaut di pangkuannya.

Perlahan, tubuhnya condong ke depan.

Tangannya terangkat. Punggung tangannya menyentuh pipi Serena dulu, memastikan. Hangat.

Lalu telapak tangannya menangkup sempurna. Jempolnya mengusap pipi itu sekali.

Jarak mereka semakin dekat. Napas mereka bertabrakan.

Dan kemudian, bibirnya menyentuh bibir Serena.

Lembut. Pelan.

Tidak ada nafsu. Tidak ada buru-buru.

Hanya sebuah permintaan maaf, sebuah terima kasih, dan sebuah janji yang tidak diucapkan.

Serena tidak kaget. Ia juga tidak mundur.

Ia memejamkan mata. Tangannya naik, meraih kerah kemeja Revan.

Ciuman itu berlangsung lama.

Di antara suara hujan yang mengguyur atap mobil, di antara mobil yang mati dan dunia yang terputus, hanya ada mereka berdua.

Jari Revan masih menahan pipi Serena. Jari Serena masih menggenggam kerah kemeja Revan.

Rasanya waktu berhenti di situ.

Brr... brrr... brrr...

Suara dering ponsel memecah keheningan dengan tajam.

Mereka berdua langsung terkejut.

Tubuh Serena menegang. Matanya yang tadinya terpejam terbuka lebar.

Revan juga refleks menjauh. Napasnya tercekat.

Ponsel Revan bergetar di atas dashboard. Layarnya menyala-nyala, memantulkan cahaya biru di dalam gelap.

Nama penelepon tidak terlihat jelas karena basah oleh embun di kaca.

Suasana yang hangat beberapa detik lalu, seketika berubah.

Canggung. Kaku.

Padahal ini bukan ciuman pertama mereka, tapi entah mengapa, ciuman kali ini terasa berbeda. lebih diam. Lebih sunyi. Seakan keduanya takut untuk melepaskan. Semua kehangatan ini akan menghilang. Di perut Serena ada rasa yang aneh. Bukan gugup, tapi tentang sesuatu yang telah lama tidak ia rasakan.

Hujan di luar masih deras. Menampar atap mobil tanpa henti.

Revan mengusap wajahnya dengan satu tangan. Ia melirik ke arah ponsel, lalu melirik ke Serena.

Serena sudah menunduk. Kedua tangannya meremas ujung roknya. Pipinya merah. Bukan karena ciuman itu saja. Tapi karena malu ketahuan.

Revan akhirnya menggeser tombol hijau itu. Menempelkan ponsel ke telinga.

Tapi matanya tidak lepas dari Serena.

“Halo?” Suaranya serak. Ia berdehem sekali, mencoba menormalkan nadanya.

“Tuan Revan? Ini Saya Darman.” Suara di seberang terdengar agak tergesa. “Maaf Tuan, saya baru lihat. Tuan di mana? Tadi saya coba telepon tidak aktif.”

Revan melirik ke arah Serena. Serena masih menunduk, merapikan rambutnya yang berantakan.

“Kita mogok,” jawab Revan singkat. “Di Jalan Raya Cempaka. Sekitar dua kilo sebelum gerbang tol. Jalannya sepi, hujannya deras.”

Revan menarik napas. Tangannya yang bebas meraih ponsel satunya di dashboard. Ia membuka aplikasi peta, menekan titik lokasi, lalu mengirimnya.

“Tit. Terkirim.”

“Saya sudah share lokasi ke kamu,” kata Revan. “langsung ke titik itu aja. Jemput kami di sini.”

“Siap, Pak. Saya berangkat sekarang juga. Kira-kira 15-20 menit sampai kalau hujannya nggak makin parah.”

Tut.

Panggilan selesai.

Revan menurunkan ponselnya. Keheningan kembali turun di dalam mobil. Kali ini lebih berat. Karena setelah ini mereka harus menunggu.

Ia menoleh ke Serena.

“Darman 20 menit lagi sampai,” katanya pelan.

Serena mengangguk kecil. “Oke, Kak.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!