Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sheila Muncul
Begitu kalimatku selesai, ekspresi Julian langsung berubah. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik, "Sebenarnya, pesta ini diadakan untuk membantuku mencari istri."
Aku hanya bisa tertegun mendengarnya.
Aku sama sekali tidak menyangka lelucon asal-asalan yang kulontarkan barusan ternyata seratus persen akurat. Menurut cerita Julian, perjamuan keluarga di rumahnya ini baru rutin diadakan dalam lima tahun terakhir, dan tujuannya memang sangat spesifik: mencarikan jodoh untuk dirinya sendiri.
Mendengar pengakuan itu, aku memperhatikan penampilan Julian dari atas ke bawah. Baru saja aku hendak melontarkan candaan baru, sesosok tubuh tegap berbalut setelan hitam mendadak berdiri di sampingku. Seketika itu juga, suhu di sekitar kami rasanya langsung merosot beberapa derajat.
"Kak Bastian," sapa Julian sambil langsung memasang senyum ramah.
Aku memiringkan kepala sedikit, memaksakan senyum profesional yang biasa kugunakan di kantor, lalu ikut menyapa, "Pak Bastian."
Selama ini, aku memang tidak pernah memamerkan atau mengakui hubunganku dengan Bastian di depan umum. Meskipun beberapa orang tahu kalau aku punya hubungan pertemanan yang cukup baik dengan Julian, mereka semua hanya berasumsi bahwa aku bersikap tidak tahu malu dengan mendekati Julian, demi bisa mendapatkan akses atau menarik perhatian Bastian.
Saat aku menyapanya, Bastian sama sekali tidak membalas. Dia hanya menatapku lekat-lekat dengan pandangan sedingin es, lalu bertanya datar, "Kalian berdua sepertinya sedang asyik sekali mengobrol?"
"Tidak, kok. Aku dan Kak Amara cuma sedang membicarakan hal-hal ringan," jawab Julian buru-buru sambil mengambil langkah mundur untuk menjaga jarak dariku. Dia kemudian merendahkan suaranya dan menambahkan, "Kak Amara baru saja bilang kalau dia jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu. Katanya ini cinta sejati, dan dia sama sekali tidak peduli dengan urusan materi."
Mendengar penuturan Julian, raut wajah kaku Bastian tampak sedikit melunak. Dia mengalihkan pandangannya kepadaku, lalu bertanya, "Kenapa kamu baru sampai sekarang?"
Kenapa baru sampai? Pikirkan saja sendiri, pria mana yang berangkat ke tempat yang sama tapi tega membiarkan istrinya mencari taksi sendiri?
Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Bastian. Aku hanya sedikit mengangkat kelopak mataku dan menatapnya lurus-lurus, membiarkannya menyimpulkan sendiri kekesalanku.
Bastian menatap balik ke arahku. Dia menundukkan kepalanya, mengikis jarak di antara kami hingga posisi wajahnya menjadi sangat dekat. Julian yang berdiri di samping kami langsung terbatuk dua kali dengan sengaja.
"Tolong ya, Bapak dan Ibu sekalian, ini tempat umum. Tolong jaga sikap kalian berdua. Aku tidak mau melihat wajah kalian berdua masuk ke akun gosip media sosial besok pagi. Kalian berdua ini kan belum mengumumkan hubungan ke publik. Statusnya sudah sah menikah, tapi kelakuannya malah seperti orang yang sedang mengemudi tanpa SIM."
Mendengar teguran itu, aku secara naluriah mengambil langkah mundur untuk memberi jarak, dan Bastian pun kembali menegakkan posisi tubuhnya. Tepat pada saat itu, seorang rekan bisnis datang menghampiri untuk menyapa, dan Bastian akhirnya berjalan mengikuti orang tersebut ke area tengah aula.
Setelah Bastian pergi, Julian langsung dikerubuti oleh sekelompok wanita gaun malam. Aku memilih berjalan sendirian menuju meja hidangan pencuci mulut sambil tetap memegang gelas sampanyeku. Aku berniat mencicipi beberapa camilan manis. Namun, baru saja satu potong kue masuk ke dalam mulutku, sebuah suara wanita bernada merendahkan tiba-tiba terdengar dari arah samping.
"Kamu yang bernama Amara?"
Aku menelan kue di dalam mulutku terlebih dahulu, lalu menyesap sedikit sampanye untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Setelah itu, aku membalikkan badan dan menatap wanita yang baru saja datang menginterupsiku.
Dia mengenakan gaun malam berpotongan pendek berwarna putih, lengkap dengan hiasan tiara kecil di rambutnya. Aku sedikit menarik sudut bibirku membentuk senyuman tipis, lalu bertanya, "Maaf, ini dengan siapa?"
Hanya dengan melihat gaya berpakaiannya dan mendengarkan nada suaranya yang manja, aku sudah bisa langsung menebak bahwa wanita di hadapanku ini adalah tipe gadis muda dari keluarga kaya yang terbiasa dimanja dan cenderung naif.
Begitu aku selesai bertanya, wanita itu langsung menjawab dengan angkuh, "Sheila."
Oh, jadi dia mantan kekasih atau teman masa kecil yang dimaksud.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Bastian ternyata bisa menyukai tipe wanita kekanak-kanakan seperti ini.
"Nona Sheila," jawabku sambil tetap mempertahankan senyum ramahku. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku sudah dengar cerita tentangmu. Katanya, kamu sudah bertahun-tahun mencoba merayu Mas Bastian, kan? Kusarankan kamu segera membuang jauh-jauh pikiran kotormu itu. Mas Bastian tidak akan pernah sudi tertarik pada wanita sepertimu," ujar Sheila dengan wajah ketus dan nada bicara yang sengaja dibuat menantang, seolah-olah dia memang berniat mencari masalah denganku.
Mas Bastian? Panggilan yang cukup akrab.
Aku tetap berdiri dengan tenang di posisiku, sedikit memiringkan kepala, lalu merenungkan kalimatnya sejenak. Setelah itu, aku melangkah maju hingga posisi tubuhku berada tepat di dekat telinga Sheila.
"Nona Sheila, tidak ada gunanya Anda mengatakan hal-hal seperti ini kepadaku. Kalau aku jadi Anda..."
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik