Dijodohkan sejak bayi, kemudian sempat dekat bahkan pacaran, sebelum akhirnya terpaksa memilih berpisah, Calista tidak menyangka jika pada akhirnya, ia akan kembali bahkan menikah dengan Sabiru, pria berusia 33 tahun yang sempat membuatnya sibuk menghindar.
Sebab demi melindungi Calista yang usianya terpaut enam tahun lebih muda darinya, Sabiru yang selalu bertaruh segalanya asal Calista baik-baik saja, berakhir mengalami patah tulang kaki maupun tangan kanan, selain pengusaha muda sangat bertanggung jawab itu yang juga sampai terkena cacar. Keadaan tersebut membuat Calista dan Sabiru harus secepatnya menikah, agar Calista bisa merawat Sabiru dengan leluasa, seperti yang Calista harapkan.
Menjalani pernikahan karena keadaan yang memaksa, dengan sosok yang pernah ada rasa dan selalu menjadikannya sebagai satu-satunya cinta. Ingin menghindar, tapi rasa peduli apalagi rasa sayang makin lama jadi makin besar. Semua itu membuat Calista menjalani setiap detik waktu yang dimiliki dengan dada berdebar-debar. Terlebih, sekadar menatap saja, Sabiru selalu melakukannya penuh cinta.
💗Merupakan bagian novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia & Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam 💗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35 : Pura-Pura Tidak Kenal
“Penginapan di sekitar puncak, biasanya rawan penggereb-ekan loh, Pa. Apalagi ini penginapan khusus buat pasangan. Katakanlah buat yang sudah nikah. Masalahnya, aku enggak bawa surat nikah kita!” bisik Calista mendadak heboh sendiri, tapi Sabiru yang masih menuntunnya justru tidak bisa untuk tidak tertawa.
Bagi Sabiru, kekhawatiran sang istri terlalu lucu.
“Kalau kita sampai digrebe-g, gimana?” rengek Calista masih takut.
“Telepon orang tua kita lah, suruh nikahin kita lagi!” ucap Sabiru yang tentu saja bercanda.
Sabiru berangsur mengunci tubuh Calista dengan dekapan mesra, meski mereka belum sampai kamar pesanan mereka. “Hotel di sekitar sini kompak penuh. Mungkin efek weekend dan memang lagi musim liburan juga. Penginapan ini jadi penginapan terbaik dari yang ada,” ucapnya.
“Soalnya Papa cari yang lokasinya terdekat dengan toko kue!” balas Calista masih berbisik-bisik.
“Soalnya sudah kangen banget!” yakin Sabiru kali ini merengek.
Sambil terus melangkah, Sabiru sengaja membenamkan wajahnya di wajah Calista.
Kadang, Calista heran. Ia yang sudah menikah dengan Sabiru saja, selalu was-was jika sedang ke penginapan tanpa membawa surat nikah, layaknya sekarang. Namun di luar sana, mereka yang belum menikah bahkan pasangan selin-gkuh justru dengan leluasa bahkan seolah tak merasa berdosa.
“Kamar kita kelewatan!” bisik Calista masih heboh, tapi kali ini berakhir tertawa.
Antara girang tapi kikuk juga, Calista merasakannya. Sesekali ia menahan tawa, selain dirinya yang juga jauh lebih waras. Lain dengan sang suami yang terlihat jelas sudah tidak bisa menahan kerinduan berikut hasratnya kepadanya.
Baru masuk dan pintu pun baru dikunci, Sabiru sudah langsung memulai percintaan mereka. Tak seperti biasanya, kali ini Sabiru begitu tidak sabaran.
Layaknya pasangan yang sangat saling mencintai sekaligus sangat saling menginginkan, mereka melakukan semuanya. Mereka memanfaatkan waktu yang mereka miliki, dan memang tidak lama, untuk meluapkan kerinduan sekaligus perasaan mereka. Mereka melakukannya dengan menggebu-gebu. Terlebih semenjak si kembar lahir, waktu mereka untuk bersenang-senang berdua, atau setidaknya quality time hanya berdua, memang makin terbatas.
Hampir satu jam berlalu, kedua sejoli itu akhirnya selesai dengan percintaan mereka. Baik Sabiru maupun Calista, sama-sama kelelahan. Sabiru bahkan sudah langsung izin untuk tidur sebentar.
“Acara makan-makan dengan keluarga besar, spesial buat Mas habis shalat isya loh Mas,” ucap Calista mengingatkan.
Sabiru yang sudah terpejam meski napasnya masih tak beraturan, mengangguk sanggup. Kemudian tangan kanannya terulur, disusul juga dengan tangan kirinya. Kedua tangannya itu silih berganti meraih kedua lengan Calista. Calista yang memang ada di atas tubuhnya, sengaja ia dekap erat.
Sadar jika dibiarkan bisa sama-sama ketiduran bahkan dalam waktu sangat lama, Calista sengaja meraih tasnya. Di meja nakas sebelah, tas bahu berwarna pink salem miliknya berhasil ia raih. Ia sengaja mengabari mamanya, mengabarkan bahwa dirinya dan Sabiru akan cukup telat. Selain meminta maaf, tak lupa Calista juga menitipkan kedua anaknya. Terakhir, setelah pesannya sudah langsung dibalas dan itu pesan persetujuan, yang Calista lakukan ialah memasang alarm.
Beres shalat maghrib, Calista dan Sabiru keluar dari kamar. Mereka siap pulang menjadi bagian dari acara spesial yang memang sudah disiapkan.
“Telepon mamamu. Kangen juga ke duo gembul yang makin cerewet!” ucap Sabiru yang sudah sigap menggandeng erat tangan kiri istrinya.
Belum sempat mengeluarkan ponsel untuk melakukan arahan Sabiru, Calista dibuat terkejut oleh pandangan di depan sana. Namun nyatanya, bukan hanya Calista. Karena Sabiru juga. Keduanya kompak saling bertatapan, dan memang tak percaya. Bahwa wanita tukang bersih-bersih di depan sana merupakan Yasnia.
“Astaga, kok malah ketemu mereka?” batin Yasnia merasa sangat malu. Ia sengaja menunduk karena tak mungkin kabur. Jaraknya dan Sabiru yang menggandeng Calista, tak kurang dari satu meter.
“Yasnia, kan?” bisik Calista memastikan kepada Sabiru dan ia dapati tengah berusaha mengawasi Yasnia.
Meski Yasnia tak lagi memakai pakaian tertutup termasuk itu memakai kerudung, Calista yakin itu memang Yasnia. Baik Calista maupun Sabiru paham, mencari pekerjaan apalagi bagi mereka yang memiliki catatan krimi-nal, tidaklah mudah. Hanya saja, mereka tetap menyayangkan keputusan Yasnia kembali membuka auratnya.
“Enggak usah nyapa,” bisik Sabiru kepada Calista sambil mengakhiri pengawasannya kepada Yasnia.
Sabiru mempercepat langkahnya hingga Calista yang digandeng, mau tidak mau jadi menyeimbangi.
“Sombong banget!” lirih Yasnia yang tak lagi menunduk.
Calista yang mendengar itu, refleks menoleh ke belakang. “Kamu yang meminta!” ucap Calista yang kemudian istighfar sambil menggeleng tak habis pikir.
Dibalas layaknya tadi, Yasnia yang memakai seragam layaknya tukang bersih-bersih lainnya, buru-buru kembali membungkuk. Yasnia sengaja menyembunyikan wajahnya lagi, demi mengelabuhi Calista maupun Sabiru.
“Jangan dibahas ya, Ma. Bahas yang bermanfaat saja,” ucap Sabiru tetap fokus melangkah dan segera melakukan pembayaran.
Sabiru begitu paham dengan pola pikir sang istri. Calista yang awalnya memang akan membahas perubahan Yasnia, jadi tidak jadi. Calista melanjutkan niat awalnya, yaitu menelepon mamanya. Ia melakukan telepon video dan sudah langsung dibalas kehebohan oleh sang mama.
“Halo ke Mama sama Papa. Kakak sama Adek anteng kok, Ma. Pa ... ayo ngobrol ke Mama sama Papa.”
Kehebohan dari seberang sudah langsung dibalas senyum bahagia oleh Calista maupun Sabiru. Keduanya berangsur menyudahi sambungan teleponnya dan siap untuk menyusul ke vila.
“Di dekat sini, hanya ada penginapan ini. Fasilitas penginapan ini memang lebih dikhususkan untuk pasangan, tapi sebuah kesalahan jika yang tidak memiliki pasangan juga menginap di sini.”
Suara barusan sudah langsung mengusik Sabiru maupun Calista. Di tempat parkir depan penginapan, pertemuan mereka tak terelakan.
Setelah beberapa saat lalu mereka bertemu Yasnia, kini mereka justru bertemu dengan Emran. Emran sudah langsung kebingungan sekaligus salah tingkah. Persis layaknya Yasnia, Emran berusaha menghindar tapi pria itu tidak bisa.
Masih ada cinta untuk Calista dari Emran, jika Sabiru awasi ekspresi sekaligus gelagat Emran saat ini.
“Pada enggak mau menyapa, apa memang merasa punya dosa ke kita?” lirih Sabiru masih siaga memayungi sang istri lantaran gerimis masih berlangsung.
Dari semuanya, hanya Sabiru dan Calista yang yang memakai payung. Sisanya kompak berani melawan gerimis yang masih berlangsung.
“Mereka lagi bulan madu?” pikir Emran pura-pura tak mengenal Sabiru maupun Calista. Kendati demikian, ia tetap sibuk mengawasi melalui lirikan.
“Rasanya sesedih ini, lihat kamu justru bahagia dengan yang lain, bukannya dengan aku,” batin Emran benar-benar merasa nelangsa.
Keromantisan Sabiru kepada Calista benar-benar membuatnya iri parah. Padahal harusnya ia bahagia karena Sabiru memperlakukan Calista layaknya ratu. Karena setelah membukakan pintu secara khusus untuk Calista, Sabiru tak segan jongkok demi membantu kaki Calista masuk dengan hati-hati.