"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Merusak Takdir
Layar laptop Savira memantulkan grafik bursa efek yang tidak lagi sesuai dengan ingatan masa lalunya.
Cahaya biru dari monitor itu menyinari wajah pucatnya di tengah kesunyian kamar yang berhawa dingin. Angka digital berkedip statis, menolak menunjukkan pergerakan progresif yang ia tunggu tanpa tidur sejak fajar.
Savira duduk bersila di atas ranjang sempitnya. Ia merobek bungkus plastik permen stroberi dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa adrenalin semalam. Gula buatan itu menyentuh lidahnya, memberikan ledakan rasa manis yang kontras dengan rasa pahit di pangkal kerongkongannya.
Fokus matanya terkunci rapat pada satu kode emiten: NTC, Nusantara Tech.
Di kehidupan sebelumnya, NTC menderita kebangkrutan fatal hari ini. Harga saham mereka anjlok ke titik terendah, menjadikannya kanvas kosong yang tidak dilirik siapa pun. Savira berencana menyuntikkan seluruh sisa dana warisan ibunya ke sana pagi ini. Sebuah pergerakan senyap untuk membangun kerajaan finansialnya sendiri.
Namun, pita peringatan merah melintang arogan di atas grafik NTC. Tiga kata kapital yang sukses membekukan aliran darah di pembuluh nadinya seketika.
DELISTED. AKUISISI TERTUTUP.
Savira meraih ponsel sekundernya dengan gerakan kasar, menekan nomor pialang luar negeri yang menangani rekening rahasianya.
"Ini Nona V?" Suara serak seorang pria menembus udara setelah nada kedua.
"Jelaskan padaku soal pembatalan NTC. Sekarang." Suara Savira mendesis dingin, tidak menyisakan ruang untuk basa-basi.
"Transaksi Anda ditolak sistem pusat, Nona. Saham itu ditarik dari peredaran publik sejak pukul tiga pagi tadi."
"Oleh siapa?"
"Jayanegara Ventura. Mereka melakukan akuisisi paksa secara tertutup. Bayar tunai penuh. Dewan direksi NTC langsung melepas seluruh hak suara mereka tanpa perlawanan."
Savira menekan ponselnya ke telinga lebih kuat. "Dari mana mereka mendapat likuiditas raksasa sebesar itu dalam semalam?"
"Itu dana darurat krisis mereka, Nona. Jayanegara Group mencairkan brankas perang mereka tanpa indikasi krisis apa pun. Orang-orang ini seperti kesetanan mengeksekusi ekspansi." Pialang itu mendengus pelan. "Anda terlambat beberapa jam. Ikan besar sudah menelan segalanya."
"Tarik kembali seluruh danaku ke rekening induk. Jangan sentuh portofolio teknologi apa pun tanpa izinku."
"Dipahami. Tapi Anda harus mencari sektor investasi lain sebelum pasar menyadari manuver buas Jayanegara ini."
Klik. Savira memutus panggilan secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas kasur dengan rahang mengeras.
Kunyahan Savira terhenti total. Rasa manis permen stroberi di mulutnya mendadak berubah menjadi anyir layaknya darah segar.
Jantungnya berpacu liar tak terkendali. Dentumannya menghantam tulang rusuk begitu keras hingga telinganya berdenging. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap layar laptop dengan mata memerah.
Tangan kirinya menarik paksa terminal peretasan di layar laptop. Baris kode dokumen akuisisi itu terbuka lebar di depan matanya.
Tanggal pengesahannya terpampang tanpa ampun. Tepat lima jam setelah insiden kecelakaan di jalan layang semalam.
Kepakan sayap kupu-kupu itu bergerak merusak takdir terlampau cepat.
Di garis waktu sebelumnya, tragedi malam itu menghancurkan Jayanegara Group. Baskara tewas. Aaron kehilangan kewarasannya dalam semalam. Pria posesif itu jatuh ke dalam jurang depresi, menguras triliunan rupiah kas darurat perusahaan murni untuk menyuap penegak hukum dan menahan kehancuran saham mereka dari kepanikan publik.
Semalam, Savira memutar balik nasib berdarah tersebut. Ia membutakan sopir truk bayaran itu. Ia menyelamatkan nyawa Baskara. Ia menjaga kas darurat Jayanegara tetap utuh di dalam brankas.
Akibatnya, insting predator Aaron tidak tumpul oleh duka kehilangan. Pria itu justru menyala buas, langsung menggunakan dana darurat tersebut untuk mengeksekusi rencana bisnis yang seharusnya baru mereka lakukan dua tahun dari sekarang.
Kebaikan taktis Savira dalam menyelamatkan sekutunya justru berubah menjadi pedang bermata dua yang menebas habis pijakan finansialnya sendiri.
Savira memukul keras tepi meja belajarnya dengan sisi kepalan tangan. Rambut panjangnya tergerai berantakan menutupi sebagian wajahnya yang pucat.
Kepanikan merayap perlahan dari dasar lambungnya. Asam lambungnya bergolak naik menciptakan rasa perih yang melumpuhkan. Rasa tidak berharga yang sangat familier kembali mencengkeram pangkal lehernya.
Jika ingatan masa depannya tidak lagi akurat, lalu apa nilainya di medan perang ini? Ia kembali menjadi gadis cacat yang buta akan arah pertahanan.
Bayangan wajah Wijaya Dharma menembus lapisan pikirannya layaknya hantu pencabut nyawa. Ayahnya selalu duduk tegak di kursi kebesaran, menyesap teh kamomil dengan senyum sopan yang sangat mematikan.
"Kau pintar, Savira. Tapi ingat, aset yang rusak tidak punya tempat di rumah ini." Suara bariton ayahnya bergema dingin di telinganya.
Di saat yang sama, ingatan tentang suara manja Nadia menyahut dari ruang makan masa lalunya. "Ayah membelikan Nadia mobil baru karena skor piano Nadia naik! Savira tidak butuh hadiah, kan, Yah? Dia kan selalu bisa belajar hal-hal membosankan sendirian."
"Tentu saja." Wijaya selalu membalas dengan senyuman hangat penuh afeksi pada Nadia, membelakangi Savira yang selalu berdiri kaku bagai manekin usang di sudut ruangan. "Putri kecil ayah pantas mendapatkan seluruh fasilitas terbaik."
Monster itu tidak pernah lengah. Wijaya mengawasi setiap pergerakan debu di ibukota. Jika Wijaya menyadari ada anomali dalam kegagalan operasi jalan layangnya semalam, sosiopat itu pasti akan mempercepat agenda korupnya untuk meredam kekuatan baru Jayanegara.
Tekanan tak kasat mata di kamar itu semakin menghimpit. Pasokan oksigen terasa menipis secara drastis. Napas Savira memburu pendek-pendek. Ia sangat benci menjadi lemah. Ia benci sensasi kehilangan kendali absolut ini.
Tangan kanannya merogoh saku celana flanelnya dengan gerakan kasar dan putus asa. Jemarinya meraba dasar saku, mencari benda bertekstur kaku yang tersembunyi di sana.
Sebuah jepit rambut berbahan plastik dengan kelopak bunga yang patah. Benda rapuh tak ternilai peninggalan ibu kandungnya.
Savira menggenggam jepit rambut itu erat-erat. Tepi patahannya yang tajam menusuk permukaan telapak tangannya. Rasa sakit fisik skala kecil ini menahan kewarasannya agar tidak melayang terbang terbawa panik.
Bau melati yang sangat samar menguar perlahan menembus indra penciumannya, menyingkirkan aroma apak kamarnya.
Aroma organik itu langsung mengikat kakinya kembali ke bumi. Membawa kembali kepingan memori tentang pelukan keibuan yang nyata, bukan validasi palsu bernilai aset korporasi.
"Kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk dicintai."
Kalimat ibunya bekerja layaknya air es yang disiramkan langsung ke atas bara api kepanikan. Rasa mual di perut Savira berangsur surut. Detak jantungnya yang berontak liar perlahan turun mencari ritme manusiawi yang stabil.
Dunia mungkin telah berubah arah kompas. Garis waktu telah bergeser ke jalur gelap yang tidak ia kenali. Namun, satu prinsipnya tetap berdiri tegak. Ia menolak kembali merangkak sebagai anjing penjaga Dharma Group yang mengemis sisa tepuk tangan ayahnya.
Kejeniusannya bukan sekadar hasil mencontek masa depan. Otaknya, kemampuan analitisnya, dan ketajamannya membedah anatomi celah hukum adalah kekuatan genetik aslinya yang tidak bisa dirampas oleh pergeseran takdir.
Jika pasar saham teknologi telah dikuasai oleh manuver buas Aaron, ia akan turun bertarung di ladang yang berbeda.
Ia membutuhkan kekuatan validasi independen sebelum melancarkan serangan balasan. Sesuatu yang berada jauh di luar batas yurisdiksi kekuasaan finansial keluarga Dharma.
Hari ini adalah hari pengumuman hasil tes akselerasi masuk universitas elit yang ia ikuti secara rahasia.
Di kehidupan sebelumnya, ia memendam rapat-rapat hasil kelulusan sempurnanya di dasar laci. Ia rela menekan potensinya demi tidak menyinggung ego rapuh Nadia yang selalu hancur dalam kompetisi akademik. Ia memilih meredupkan cahayanya semata-mata agar ayahnya tidak merasa terganggu saat menikmati sarapan.
Rantai kebodohan itu ia putus hari ini juga.
Universitas itu akan menjadi panggung eksekusi pertamanya untuk merobek topeng keluarga Dharma. Kurir universitas telah tiba di pos satpam mansion pagi ini. Dokumen fisik kemenangannya telah ia ambil secara diam-diam beberapa menit yang lalu.
Ia sudah menentukan titik sasaran jatuhnya dokumen tersebut secara presisi sebelum kembali mengunci diri di kamarnya.