NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 - Little Things

Hari itu aku kembali akan pergi bersama Javier. Kami akan membeli perabotan rumah.

Meskipun itu memang kebutuhan, entah kenapa rasanya aku malas harus pergi lagi. Aku ingin istirahat di rumah. Rebahan seharian sambil menonton drama Korea tanpa memikirkan pernikahan, rumah, atau Javier.

Aku duduk di ruang tengah sambil menonton televisi bersama Ayah menunggu Javier menjemputku.

“Nay...” panggil Ayah tiba-tiba. “Hari ini kalian mau beli apa aja?”

“Tempat tidur, lemari, gitu-gitu lah...” jawabku malas tanpa melepaskan pandangan dari televisi.

“Ayah nggak nyangka Javier seprepare itu,” ujar Ayah. “Padahal kalian dijodohin.”

Aku langsung menoleh kecil.

“Soalnya kan dia...”

Aku hampir saja mengatakan alasan sebenarnya. Bahwa Javier memang ingin cepat keluar dari rumahnya.

“Dia kenapa?” tanya Ayah curiga.

“Ya... soalnya dia pengen mandiri,” jawabku cepat. “Waktu itu kan dia pernah bilang gitu.”

“Iya sih...” Ayah mengangguk pelan. “Tapi tetap aja aneh.”

Aku mengernyit.

“Aneh gimana?”

“Kayaknya nggak ada deh cowok yang dijodohin tapi seprepare Javier.” Ayah menatapku sambil tersenyum kecil. “Jangan-jangan dia suka sama kamu, Nay.”

“Ihh Ayah ngaco.” Aku langsung menggeleng cepat. “Nggak. Dia nggak suka sama aku.”

“Emang kamu udah tanya?”

“Dia bilang sendiri ke aku.”

“Mungkin dia malu ngaku jadinya bilang nggak.”

Aku langsung mendecakkan lidah.

“Nggak, Yah. Dia emang nggak suka sama aku.”

“Kamu kan nggak tahu isi hati orang.”

“Pokoknya nggak.” Aku kembali menatap televisi. “Dari tingkahnya aja kelihatan kok dia nggak suka aku.”

Belum sempat Ayah membalas, suara mobil terdengar dari luar rumah.

“Nah, itu pasti Javier.” Ayah langsung berdiri. “Bagus deh. Kita tanya aja langsung.”

Aku langsung menoleh panik.

“Tanya apa, Yah?”

“Tanya dia suka sama kamu atau nggak.”

“EH jangan!” Aku buru-buru ikut berdiri. “Nggak usah aneh-aneh deh, Yah.”

“Nggak apa-apa.” Ayah malah tertawa kecil lalu berjalan keluar rumah. “Ayah cuma mau memastikan.”

“Ayah!” seruku sambil mengikuti beliau dari belakang.

“Lho ada apa?” tanya Ibu yang sedang duduk di kursi jahit di pojok ruang tamu.

Aku langsung mendekati Ibu.

“Nggak apa-apa, Bu. Aku berangkat dulu ya.”

Aku mencium tangan Ibu cepat-cepat.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” jawab Ibu sambil terlihat bingung.

“Ayah!” panggilku lagi sambil buru-buru keluar rumah.

Namun semuanya terlambat.

Saat aku sampai di halaman, Ayah sudah berdiri di dekat mobil Javier sementara Javier sendiri sudah menurunkan kaca mobilnya.

Aku langsung berjalan cepat mendekati mereka.

“Nak Javier...” panggil Ayah serius.

“Ayah, nggak usah tanya yang aneh-aneh,” protesku sambil menarik pelan lengan Ayah. “Itu nggak penting.”

“Itu penting buat Ayah.”

Lalu Ayah kembali menatap Javier dengan serius.

“Nak Javier...” ucap Ayah pelan. “Apa kamu menyukai Naya?”

Aku langsung memejamkan mata frustasi.

Javier terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Mas, nggak usah dijawab.” Aku langsung menatap Javier panik lalu kembali melirik Ayah. “Ayah masuk aja sana deh.”

Tapi Ayah tetap berdiri di tempatnya menunggu jawaban Javier.

Beberapa detik Javier diam sebelum akhirnya membuka suara.

“Tidak, Pak.” Javier menjawab tenang. “Saya tidak menyukai Naya.”

 “Tuh kan, Yah. Apa aku bilang,” ucapku cepat sambil menatap Ayah.

Ayah malah menghela napas panjang seperti kecewa dengan jawaban Javier.

“Tapi meskipun begitu...” Ayah kembali menatap Javier serius. “Tolong jangan sakiti Naya. Perlakukan dia dengan baik, layaknya seorang istri.”

“Ayah...” gumamku malu sendiri.

“Baik, Pak,” jawab Javier tenang.

Aku langsung menoleh ke arahnya.

Entah kenapa jawabannya terdengar terlalu serius untuk seseorang yang katanya tidak menyukaiku.

“Ya udah sana kalian pergi.” Ayah akhirnya melambaikan tangan kecil.

Aku langsung mencium tangan Ayah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Aku pun segera masuk ke dalam mobil Javier sebelum Ayah kembali menanyakan hal aneh lainnya.

“Nak Javier, hati-hati di jalan,” ujar Ayah sebelum kami pergi.

“Baik, Pak. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Tak lama kemudian mobil Javier melaju meninggalkan rumahku.

Aku mengembuskan napas panjang lalu bersandar ke kursi.

“Mas, maafin Ayah ya,” ucapku sambil melirik Javier. “Ayah cuma kepo sama kamu yang seprepare itu buat pernikahan kita yang didasari perjodohan.”

“Iya, nggak apa-apa.” Javier tersenyum kecil sambil fokus menyetir. “Aku paham kok.”

Beberapa detik kemudian Javier kembali bicara.

“Dan pasti Ayah kamu juga berat melepas anak perempuan satu-satunya.”

Aku langsung mendecakkan lidah.

“Ihh kamu sok tahu banget. Kayak udah pernah punya anak aja.”

“Itu umum ya,” jawab Javier santai. “Di mana-mana seorang ayah pasti kayak gitu.”

“Iya deh, iya.” Aku memutar bola mata malas.

Lalu tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Oh iya...” Aku menoleh ke Javier. “Kita kan mau beli perabotan rumah. Nanti kita pakai kamar yang mana?”

“Kita?” Javier langsung menoleh sekilas sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Iya.” Aku mengangguk polos. “Kamu mau pakai kamar yang besar atau yang kecil?”

“Oh...” Javier terkekeh kecil. “Kirain kamu ngajak pakai kamar yang sama.”

Aku langsung menatap tajam ke arahnya.

“Enak aja! Ya nggak lah.”

Javier malah tertawa kecil melihat reaksiku.

“Kita aja nikah bukan karena cinta,” lanjutku kesal. “Ya udah, jadi kamu mau pakai kamar yang mana?”

“Yang kecil aja.” Javier menjawab santai. “Yang besar buat kamu.”

Aku langsung menoleh cepat.

“Eh? Tapi kan itu rumah kamu.”

Aku menunjuk Javier.

“Rumah yang kamu beli. Aku itungannya cuma numpang.”

“Nggak apa-apa.” Javier tetap fokus ke jalanan. “Aku tahu perempuan biasanya butuh space lebih luas.”

Aku mengernyit bingung.

“Pasti kamu nggak cuma butuh tempat tidur sama lemari aja, kan?” lanjut Javier. “Meja rias juga.”

Aku langsung menatapnya heran.

“Kok kamu tahu?”

“Mama sama Janessa juga begitu.”

Ah...

Aku langsung terdiam sebentar.

“Tapi walaupun gitu...” gumamku pelan. “Kalau kamu mau pakai kamar yang besar juga nggak apa-apa kok.”

“Udah, kamu aja yang pakai.” Javier menggeleng kecil. “Barangku nggak banyak. Tempat tidur sama satu lemari juga cukup.”

Aku langsung menatap Javier beberapa detik.

Eh?

“Mas...” panggilku pelan. “Kenapa kamu baik banget sih sama aku?”

Javier melirik sekilas.

“Hm?”

“Kamu kayak selalu prioritasin aku.” Aku menggigit pelan bibir bawahku. “Padahal aku kan bukan siapa-siapa kamu. Bukan orang yang kamu cintai. Cuma orang yang kebetulan dijodohin sama kamu.”

Aku menatap Javier serius.

“Kalau di drama-drama yang situasinya mirip kita, biasanya cowoknya bakal langsung ngambil kamar yang besar duluan.”

Aku menggeleng kecil tak habis pikir.

“Tapi kenapa kamu nggak?”

Javier terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan tenang.

“Aku cuma melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan laki-laki.”

Aku langsung diam mendengarnya.

“Meskipun kamu bukan orang yang aku cintai...” Javier melanjutkan pelan. “Tapi kamu tetap perempuan.”

Javier menoleh sekilas ke arahku.

“Dan perempuan memang harus didahulukan.”

Hah?

Apa katanya?

Aku langsung membeku beberapa detik.

Baru kali ini ada laki-laki yang mengatakan hal seperti itu kepadaku.

Dan entah kenapa... jantungku kembali berulah. Berdetak lebih cepat dari biasanya.

Kalau saja Javier adalah laki-laki yang aku cintai... mungkin sekarang aku sudah memeluknya.

Aku langsung menggeleng cepat mengusir pikiran aneh itu sambil memalingkan wajah ke jendela mobil.

“Kamu kenapa geleng-geleng kepala?” tanya Javier sambil melirikku sekilas.

“Nggak apa-apa.” Aku buru-buru memalingkan wajah ke jendela.

Apa yang baru saja aku pikirkan?

Kalau Javier adalah laki-laki yang aku cintai?

Oh tidak.

Aku langsung menghela napas pelan lalu memutuskan diam sepanjang perjalanan.

Beberapa menit kemudian mobil Javier memasuki parkiran sebuah toko furniture besar.

Kulihat banyak mobil dan motor terparkir di sana. Sepertinya cukup banyak orang yang datang untuk membeli kebutuhan rumah.

“Ayo,” ucap Javier setelah mematikan mesin mobil.

Aku mengangguk lalu ikut turun bersamanya.

Begitu masuk, seorang staf laki-laki langsung menghampiri kami dengan ramah.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?”

“Kami mau beli beberapa furniture,” jawab Javier.

“Baik. Mau beli apa saja kalau boleh saya tahu?”

“Tempat tidur, lemari baju, dan beberapa kebutuhan rumah lainnya.”

“Oh...” staf itu langsung tersenyum lebar. “Untuk rumah pengantin baru ya?”

Eh?

“Iya, benar,” jawab Javier santai.

Aku langsung menoleh cepat ke arahnya.

Kenapa dia menjawab lancar sekali seperti itu?

“Kalau begitu mari ikut saya.”

Javier mengangguk lalu kami mengikuti staf itu menuju area tempat tidur.

“Silakan, ini koleksi tempat tidur kami.”

Kulihat ada banyak sekali model dan ukuran tempat tidur dipajang di sana.

“Nay, coba pilih yang kamu suka,” ucap Javier.

“Terserah kamu aja.”

Tiba-tiba Javier mendekat lalu berbisik pelan di dekat telingaku.

“Pilih aja yang kamu suka.”

Aku langsung menoleh kaget.

“Jangan ngomong terserah.” Javier menatapku serius. “Aku paling benci sama cewek yang ngomong terserah.”

Aku langsung mengernyit kesal.

“Ayo pilih,” lanjut Javier santai.

Aku menghela napas panjang lalu menarik pelan lengan Javier menjauh dari staf tadi.

“Hei...” Aku menatap Javier kesal. “Kamu pikir aku kayak cewek di luar sana?”

Javier menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Yang ngomong terserah tapi pas dipilihin malah nggak suka.” lanjutku. “Kalau aku bilang terserah ya emang terserah kamu.”

Aku melipat tangan di depan dada.

“Lagian itu rumah kamu. Ya walaupun nanti aku juga tinggal di sana sih.”

“Oh...” Javier tersenyum kecil. “Berarti kamu bener-bener beda ya sama kebanyakan cewek.”

Aku langsung mendecakkan lidah.

“Kan setiap orang memang beda-beda.”

Javier mengangguk kecil.

“Jadi beneran terserah aku?”

“Iya.” Aku mengangguk cepat. “Tapi jangan pilih warna pink. Aku nggak suka pink.”

Javier langsung terkekeh kecil lalu menghela napas pasrah.

“Iya, iya... Ya udah ayo balik ke sana.”

Kami pun kembali menghampiri staf tadi.

Dan benar saja, akhirnya Javier yang memilih hampir semuanya.

Ia memilih tempat tidur ukuran besar untukku dan ukuran lebih kecil untuk dirinya sendiri. Aku sempat menolak karena merasa tidak enak, tapi Javier tetap bersikeras.

Apa boleh buat. Yang membayar juga dia.

Setelah itu kami berpindah ke bagian lain.

Javier memilih sofa panjang warna abu-abu, meja makan lengkap dengan empat kursi, televisi 32 inch, lemari TV, kulkas, kompor, mesin cuci, dan beberapa perlengkapan dapur lainnya.

Sementara aku hanya berjalan di belakangnya sambil sesekali mengangguk atau menjawab pertanyaan staf toko.

Setelah semuanya selesai dipilih, kami menuju kasir untuk membayar.

Dan saat melihat total harganya, aku langsung membelalakkan mata.

Jumlah itu setara dengan gajiku selama setengah tahun.

Aku langsung menoleh diam-diam ke Javier yang terlihat biasa saja saat membayar semuanya.

Setelah pembayaran selesai, Javier menuliskan alamat rumah dan mengatur jadwal pengiriman barang.

Tak lama kemudian kami keluar dari toko furniture itu dan kembali menuju mobil.

Entah kenapa tiba-tiba aku merasa tidak bisa terus bersikap seperti orang yang hanya menumpang hidup di rumah Javier nanti.

Meskipun pernikahan kami hanya karena perjodohan...

Setidaknya aku juga harus melakukan sesuatu sebagai balasannya.

1
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!