NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05. Syal yang bagus

Aruna menekan tombol kirim dengan emosi meluap-luap. Ia menatap layar, menunggu tanda centang dua berubah menjadi biru. Namun, satu menit, dua menit... pesan itu hanya bercentang dua abu-abu. Gavin sengaja mengabaikannya. Bocah itu kemungkinan besar sedang berkendara menuju ke sini.

Aruna melirik jam di dinding. Sudah pukul empat sore. Kurang dari satu jam lagi jam kantor akan usai.

Panik, Aruna langsung menyambar cermin kecilnya. Ia menatap noda kemerahan di lehernya yang sengaja ditinggalkan Gavin semalam. Dengan tangan gemetar, ia membuka laci meja kerja, mengambil syal sutra bermotif floral yang biasa ia simpan untuk cadangan rapat, lalu melilitkannya dengan ketat di leher.

"Tenang, Aruna. Kamu manajer. Kamu terbiasa mengatasi krisis perusahaan," ucapnya mencoba menenangkan diri sendiri, meski suaranya bergetar. "Dia cuma bocah sembilan belas tahun. Kamu nggak boleh kalah gertak sama berondong kuliahan."

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Aruna tahu pertahanannya sudah bobol. Rahasia yang dipegang Gavin terlalu berbahaya, dan bayangan bahwa sore ini ia harus duduk di satu mobil yang sama dengan pria semalam membuat nyalinya menciut seketika.

Aruna memutuskan untuk mengambil langkah serang terlebih dahulu. Ia harus tahu siapa sebenarnya bocah bernama Gavin itu sebelum segalanya terlambat. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Aruna mencari kontak Evan dan langsung menekan tombol telepon.

Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum suara Evan yang kasual terdengar di seberang sana.

"Halo, Run? Tumben telepon jam segini? Gue lagi di jalan nih"

"Ka, kamu jangan potong omongan Aku dulu," potong Aruna cepat, nadanya diusahakan sedatar dan seprofesional mungkin, menyembunyikan badai kepanikan yang sedang bergulung di dadanya.

" Aku mau nanya sesuatu. Penting."

Di seberang telepon, terdengar suara kekehan pelan yang bukan berasal dari Evan melainkan suara berat pria lain yang sangat Aruna kenali. Sial, gavin pasti sedang duduk di sebelah Evan. Aruna menggigit bibir bawahnya, menahan kekesalan.

"Nanya apa, Run? Serius amat bahasanya," sahut Evan heran.

"Teman kamu... yang namanya Gavin. Dia itu sebenarnya siapa?" Aruna langsung menembak ke inti sasaran.

 "Tadi dia tiba-tiba mengirim pesan ke nomor pribadi aku, aku risih yah, kok anak kuliahan bisa dapet nomor pribadi aku. Kamu yang kasih?"

Evan terdengar terkejut di seberang sana.

"Hah? gavin nge chat lo? Demi apa? Enggak, sumpah, bukan gue yang kasih nomor lo! Lagian si gavin itu..." Evan sempat terdiam sebentar, seolah sedang menjauhkan ponselnya dari jangkauan seseorang.

" Gw yang kasih " Teriak Rey

" See denger kan? Rey yang kasih" ucap evan

"Bukan itu poinnya, Van. Lo bisa agak minggir dulu gak dari mereka?" ucap aruna

" Ada apa sih run?" tanya evan penasaran

"Dia siapa? Kok bisa sedekat itu sama kamu?" desak Aruna lagi, mencoba menggali informasi lebih dalam.

"Oh, Gavin? Dia adiknya sahabat gue . Dan dia sahabatnya Rey. Orang tua gavin sama kakek temenan" jelas Evan, nadanya berubah menjadi penuh kekaguman.

"Dia itu pendiri startup aplikasi logistik yang kemarin baru dapet pendanaan gede. padahal dia dari keluarga berada tapi dia juga usaha sendiri. Hmm... Tapi..." Evan mendadak merendahkan suaranya menjadi bisikan misterius. "Ada satu hal yang lo harus tahu, Kak."

Jantung Aruna mencelos. "Apa?"

"Gavin itu adiknya Dominic, salah satu sahabat gw sama Naren, bos besar pemilik Caspian Property Group yang terkenal dingin dan... ya lo tahu sendiri lah rumornya di kalangan pebisnis. Keluarga mereka itu disegani banget," bisik Evan pelan.

" Maksud kaka, konglomerat yang di dukung sama mafia?"bisik aruna

" hmm betul sekali, gak tau gosip atau fakta. Kaka baik baik aja temenan sama Dom dari bayi"

"Tapi gavin orangnya santai banget kok, aslinya asyik. Kenapa emangnya, Run? Dia kurang ajar ya di chat?"

Mendengar nama Dominic, genggaman tangan Aruna pada ponselnya mendadak lemas.

Dominic? Nama itu terasa seperti hantaman godam di kepala Aruna. Otaknya langsung memutar memori empat bulan lalu, saat ibunya histeris memamerkan foto seorang pria matang berwajah dingin nan berwibawa, meminta Aruna dandan secantik mungkin untuk kencan buta aliansi bisnis. Pria itu adalah dominic, yang kemudian membatalkan perjodohan secara sepihak dan membuat ibu Aruna uring-uringan selama satu bulan penuh.

Jadi... pria berondong yang ia tiduri semalam adalah adik kandung dari pria yang pernah menolak perjodohan dengannya? Dan sekarang, bocah itu memegang rahasia tersebut?

" Run? Aruna? Masih di sana kagak?" suara Evan membuyarkan lamunan horor Aruna.

"A-ah, iya. Masih," jawab Aruna gagap, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering.

"Yaudah, ini gue udah mau sampai lobi kantor lo nih. Gw di undang nyokap lo buat liat calon lo yang PNS itu. Gavin yang nyetir mobil gue karena tangan gue lagi agak pegel habis olahraga. Kebetulan tadi gw olahraga bareng Rey, jadi sekalian gw ajak semua. Lo buruan turun ya, Run!"

Klik. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Evan

Aruna menatap layar ponselnya yang menggelap dengan pandangan kosong. Tubuhnya mendadak lemas hingga ia terpaksa terduduk kembali di kursi kerjanya. Fakta baru ini jauh lebih mengerikan dari apa yang ia bayangkan. Gavin bukan sekadar berondong kuliahan biasa, dia adalah bagian dari keluarga paling disegani di kota ini.

Tepat setelah bunyi klik tanda sambung telepon Evan terputus, ponsel di genggaman Aruna bergetar sekali lagi. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Gavin.

“Gimana hasil interogasi lewat Evan, Kak? Sudah tahu kan sekarang kalau saya bukan cuma sekadar bocah kuliahan biasa? 😉”

“Jadi, sudah ingat soal nama dominic? Pria yang empat bulan lalu menolak perjodohan keluarga kita karena dianggap membuang waktu.”

“Lucu ya, Kak. Kakak saya menolak Kak Aruna di meja makan, tapi semalam Kakak malah menyerahkan diri ke saya di atas ranjang. Takdir emang suka bercanda.”

“Gue udah di lobi bawah. Turun sekarang, atau gue yang naik ke lantai 24 buat jemput Kakak ipar fiktif gue ini di depan anak buahnya. Pilihan ada di tangan Kakak.”

Aruna hampir saja kehabisan napas membaca deretan kalimat itu. Gavin sengaja menggunakan kata 'gue-lo' yang santai namun sangat mengintimidasi, meruntuhkan seluruh sekat formalitas yang sejak pagi tadi Aruna bangun dengan susah payah. Bocah itu benar-benar tahu di mana titik kelemahan Aruna dan bagaimana cara menekannya hingga tak berkutik.

***

Pintu lift berdinding kaca di lobi utama gedung pencakar langit mahesa grup itu terbuka dengan dentingan halus. Aruna melangkah keluar dengan dagu terangkat dan punggung tegak lurus. Ia sengaja mempercepat ritme jalannya, mengabaikan rasa perih yang mengigit tumit kakaknya akibat lecet.

Syal sutra floral yang melilit ketat di lehernya menjadi satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang ia miliki sore ini. Namun, begitu sepasang matanya menembus pintu kaca besar lobi menuju area drop-off, pertahanan mental Aruna seketika goyah.

Di sana, bersandar dengan sangat santai pada kap mobil SUV hitam milik Evan, berdiri seorang pria dengan jaket denim longgar dan celana jin hitam. Dengan tinggi badan seratus delapan puluh lima sentimeter dan rahang yang tegas, ia sama sekali tidak terlihat seperti mahasiswa. Beberapa karyawati kantor yang berjalan melewati lobi bahkan terang-terangan melirik ke arah Gavin, mengagumi ketampanannya yang kasual namun mematikan.

Saat mata mereka bertemu melalui dinding kaca, Gavin tidak mengalihkan pandangan. Ia justru menegakkan tubuhnya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket, dan mengulas senyum miring yang sangat familier bagi Aruna, senyum dari malam semalam. Aruna menarik napas dalam-dalam, mengunci emosinya rapat-rapat, lalu mendorong pintu kaca lobi.

Melihat Aruna mendekat, Gavin langsung bergerak memutari kap mobil. Dengan gerakan yang sangat sopan layaknya seorang sopir pribadi kelas atas atau seorang kekasih yang penuh perhatian, Gavin membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Aruna.

"Sore, Kak Aruna. Silakan masuk," ucap Gavin dengan suara beratnya yang jernih, cukup keras hingga bisa didengar oleh beberapa orang di sekitar mereka

"Terima kasih," jawab Aruna dengan nada sedingin es, berusaha tidak menatap mata Gavin.

Namun, saat Aruna hendak melangkah masuk ke dalam kabin mobil, Gavin sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak mereka mengikis dalam hitungan sentimeter. Aroma parfum maskulin kayu cendana bercampur mint milik Gavin langsung menyergap indra penciuman Aruna, menarik paksa memori sensual semalam ke permukaan otak wanita itu.

"Syal yang bagus, Kak," bisik gavin sangat lirih, tepat di dekat telinga Aruna, tersembunyi dari pandangan Evan dan Rey yang sedang asyik bermain game moba di kursi tengah.

"Alergi makanannya pasti parah banget ya sampai harus ditutup rapat begitu?"Langkah Aruna sempat tertahan di udara. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar. Ia menoleh tajam, menatap gavin dengan pandangan menyalang penuh ancaman. Namun, gavin hanya membalas tatapan membunuh itu dengan kedipan mata sebelah yang sangat jenaka, sebelum mundur satu langkah dengan senyum penuh kemenangan.

"Awas kamu," desis Aruna tanpa suara, sebelum akhirnya menjatuhkan diri ke kursi penumpang dan membanting pintu mobil dengan emosi yang tertahan.

***

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!