NovelToon NovelToon
Really? We Got Married?

Really? We Got Married?

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:297.3k
Nilai: 5
Nama Author: Axelle Axa

Ketika sebuah pernikahan mengantarkan seorang gadis pada kehidupan yang sama sekali tak pernah dia duga.

Suami tampan super sempurna, kehidupan yang mendebarkan, rahasia yang terkuak satu-persatu, dan dendam masa lalu. Semuanya bercampur menjadi satu mengantarkan si gadis pada situasi untuk memilih antara egonya atau hati nurani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axelle Axa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35. Pembunuh

Malam semakin larut dan Lou masih bergulat dengan pikirannya--dia kebingungan. Lou mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Sean yang tengah memeluknya. Merasakan kehangatan tangan itu cukup untuk menenangkan badai yang ada dalam hatinya.

Pikirannya kembali tenggelam ke kejadian beberapa saat yang lalu. Saat dia masih tertidur, dia mendengar suara ketukan samar di pintu kamarnya, Lou melihat ke samping dan tak menemukan Sean. Pikirannya masih berkabut karena baru saja terbangun. Jadi dia langsung menuju pintu tanpa curiga. Dia pikir itu mungkin Sean yang keluar dan lupa membawa kartu akses untuk masuk kembali.

Lou membuka pintu itu tanpa kecurigaan sama sekali, tak ada kewaspadaan yang biasa dia terapkan. Jadi saat orang di depan pintu itu tiba-tiba menyerang, dia kaget dan kewalahan.

Lou mundur beberapa langkah demi memghindari serangan dengan niat membunuh pihak lain. Seketika kesadaran Lou kembali ke tingkat tertinggi. Dia menatap orang yang berdiri waspada di depannya--sertinya ragu untuk menyerang.

Lou tak bisa melihat wajahnya yang tertutup masker hitam dan topi. Hanya bagian mata yang terlihat sedikit di bawah cahaya remang kamar hotel.

Dia menatap Lou dengan mata tajam juga tak repot mencoba menyembunyikan aura membunuhnya. Lou langsung masuk ke posisi waspada, sepertinya pertarungan tak akan terhindarkan lagi.

"Siapa kau?" tanya Lou mencoba mengulur waktu. Dia dalam kondisi dirugikan saat ini. Dia tak bersenjata sementara lawannya memegang belati yang sangat tajam. Selain itu lawannya ini cukup pintar untuk tidak meninggalkan pintu dan menjebak Lou di dalam sekalipun Loi sudah mundur sampai ke ujung dinding.

Lou sedikit khawatir saat ini, lawan ini tak bisa dibodohi. Jadi satu-satunya cara hanya melawannya. Lou mengedarkan pandangannya secara diam-diam ke seluruh ruangan untuk memeriksa apakah ada yang bisa dia gunakan sebagai senjata. Namun sial baginya karena tak ada satupun benda yang memungkinkan. Bahkan tak ada gelas di kamar itu.

Lou melirik remote TV di meja dan sudut bibirnya berkedut pelan. Ini akan jadi sejarah baru dalam hidupnya, menghadapi pembunuh dengan remote TV. Lou melangkah perlahan menuju remote, tapi pembunuh ini sepertinya menyadari niatnya dan bergerak maju. Lou berhenti.

Di luar dugaan pembunuh itu tak berhenti dan terus melangkah perlahan ke arah Lou. Lou melihat langkah itu dan semakin pendek jarak mereka, semakin tenang Lou. Lagi pula dia siap untuk melawan.

Hanya saja sesuatu di luar dugaan terjadi lagi. Seseorang tiba-tiba masuk dan langsung menerjang si pembunuh.

"Eh??" Lou terdiam.

Sebelum Lou mampu bereaksi, orang itu sudah menghampiri dan menariknya pergi. Lou kaget dan tak sempat melawan. Alhasil dia ditarik pergi oleh orang asing ini ke tempat yang mungkin hanya Tuhan yang tahu.

Lou memikirkan pro dan kontra, lalu memutuskan untuk mengikuti orang asing ini. Lagi pula pembunuh itu sepertinya jauh lebih berbahaya.

Mereka berlari ke luar dari kamar dan menyusuri lorong dengan cepat. Setelah berlari cukup jauh dari kamar Lou, orang asing itu dengan sigap membuka pintu sebuah ruangan dengan kartu akses yang entah sejak kapan berada di tangannya. Dia lalu menarik Lou ke dalam ruangan dan dengan cepat menutup pintu lagi.

Lou mengertukan kening. Walaupun telah berlari cukup jauh dan cepat, napa orang asing ini cukup stabil, artinya dia adalah orang yang terlatih. Lou sedikit penasaran dan memutuskan bertanya, "Maaf, Anda siapa?"

Orang asing itu yang dari tadi memunggungi Lou berbalik dan membuka penutup wajahnya. Senyum Lou yang sedari tadi tercetak di wajahnya menjadi kaku sampai akhirnya menghilang.

"Jack?" lirihnya tak percaya.

Lou kehilangan kata-katanya, bertahun-tahun dia mencari pria ini, namun tak pernah menemukan petunjuk apapun. Tapi sekarang setelah dia menyerah, pria ini muncul lagi--sebagai penyelamatnya pula.

Jack tersenyum lembut. Namun senyuman itu sangat mengganggu Lou. Dia marah! Kecewa!

Lou menggertakkan giginya dan dengan kekuatan penuh menampar Jack.

Suara tamparan bergema di kamar hotel. Suaranya renyah seolah menggambarkan betapa perihnya tamparan itu. Jack tak marah, dia sekali lagi menatap Lou dan senyumnya masih tak berubah.

"Apa ini caramu membalas orang yang sudah menolongmu, Nona?" tanyanya dengan sedikit canda.

Lou tak bisa berkata-kata. Dia bingung dengan perasaannya. Dia telah mencari pria ini sangat lama dan saat dia akhirnya menemukannya, dia bingung harus bersikap seperti apa.

"Kau akhirnya ingat untuk menemuiku?" Lou mencibir keras. Dia menggunakan seluruh kesabarannya untuk menahan tangannya agar tak memukuli Jack saat ini juga.

"Maaf." Jack menatap Lou dengan tatapan sedih, membuat Lou semakin dilema.

"Maafkan aku," ujar Jack lagi. Dia meraih tangan Lou dan menggenggamnya, sama seperti dulu.

Lou tak menjawab. Dia sebenarnya sudah memafkan Jack. Dia memaafkan dirinya dan masa lalunya. Dia sudah berdamai dengan rasa takut itu saat dia memutuskan untuk terus bersama Sean.

Lou menghela napas, menarik tangannya dari genggaman Jack dan memukul pria itu pelan. "Lupakan! Aku sudah memaafkanmu." Lou mendengus pelan.

Jack tersenyum. "Lou, kenapa kau bersama Sean Hilton?" tanya Jack tiba-tiba. Dia sebenarnya sudah menduga jawabannya, tapi dia hanya ingin memastikannya langsung dari mulut Lou.

"Dia suamiku," jawab Lou tanpa keraguan.

Jack tertawa pelan, ternyata rasanya lebih menyakitkan dari yang di pikir. "Kau bercanda, kan?" tanyanya lagi.

"Aku serius, dia suamiku," jawab Lou lagi, masih tanpa keraguan.

Jack menatap Lou dan menghela napas pelan. Senyum masam menghiasi wajah tampan pria itu, mungkin dia kecewa, mungkin juga sedih, yang pasti bukan bergembira.

Lou menundukkan kepalanya karena suasana yang tiba-tiba menjadi canggung. Dia ingin membuka percakapan, tapi bingung apa yang harus ditanyakan.

Kecanggungan itu bertahan sampai tiba-tiba pintu di dobrak. Beberapa kali terdengar suara keras dari luar.

BRAKKK.

Pintu terbuka dengan kondisi menyedihkan. Lou terdiam melihat pintu yang hampir hancur itu. Dia mau tak mau menanyakan seberapa besar kekuatan orang itu sampai bisa menghancurkan pintu.

Lou dan Jack mundur seketika, menjauh dari pintu. Saat ini sesosok pria dengan tubuh besar berdiri di pintu itu. Dia adalah orang yang sama yang mencoba membunuh Lou tadi.

Keduanya langsung waspada, Jack bahkan sudah siap menyerang. Yang tak terduga adalah Lou yang awalnya berdiri di samping Jack tiba-tiba pindah ke belakangnya. Dia bahkan tak lupa menepuk bahu Jack seolah memberi dukungan. "Hwaiting!" ujarnya tanpa dosa yang justru membuat Jack kesal.

Bisakah dia memukul bocah tengil ini dulu?

Jack menoleh dengan wajah kesal, merasa aneh mengapa Lou melangkah mundur, tak seperti Lou yang dia kenal selalu memcari masalah.

"I'm pregnant," ujarnya yang sedikit mengagetkan Jack.

Jadi saat pembunuh itu menyerangnya tiba-tiba, Jack sedikit lengah sebelum menyerang dengan sangat brutal. Seolah dialah di sini yang ingin membunuh lawannya.

Lou menjaga jarak sejauh mungkin dari dua orang itu. Bisa bahaya kalau dia terpukul, jadi lebih baik untuk menghindar sejauh yang dia bisa. Tapi target pembunuh ini jelas bukan Jack, jadi pembunuh itu hanya setengah hati bertarung melawan Jack dan sebisa mungkin mencoba menyerang Lou.

Lou dengan sigap mengindar saat sebuah belati dilempar tepat ke arah kepalanya. Belati itu menancap dalam di dinding kamar, bahkan suara benturannya cukup kuat.

Lou melirik belati dengan senyum kaku. "Aku tidak menginginkan itu di kepalaku," ujarnya pelan.

Pembunuh ini cukup kuat, bahkan bisa mengimbangi Jack dengan mudah. Bila terus seperti ini, mereka mungkin akan dikalahkan. Lou mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan menemukan jendela di sampingnya. Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya.

Selagi kedua pria sibuk bertarung, Lou mendekati jendela perlahan. Setelah itu memanggil Jack dan memberinya kode untuk membungkuk.

Lou berlari tanpa ragu ke arah Jack dan kemudian melompat ke arah pembunuh itu dengan punggung Jack sebagai pijakan. Dalam waktu sepersekian detik, dia menekuk kaki untuk memperkuat lutut dan pahanya.

Gerakan Lou terlalu cepat untuk dihindari pembunuh itu sehingga Lou bisa dengan mudah menghantam kepala si pembunuh dengan kakinya.

Pukulan itu telak dan kuat, membuat si pembunuh terhuyung ke belakang, sayangnya dia tetap berdiri. Tak lama kemudian dia kembali menyerang. Kali ini karena Lou berada di depannya, dia maju tanpa ragu, penuh dengan niat membunuh.

Jack awalnya ingin membantu Lou, namun dia melihat kode yang diberikan Lou dan melirik ke belakang. Melihat jendela besar di belakang mereka, Jack mengerti apa rencana Lou.

Lou terus menghindari serangan si pembunuh sembari menarik pembunuh itu menuju jendela. Lou agak sedikit kaget saat tiba-tiba si pembunuh mengeluarkan sebuah belati dari dalam pakaiannya. Lou menghindar dengan cepat, jantungnya berdebar kencang, terlambat sedikit dan belati si pembunuh mungkin sudah menancap di kepalanya.

Lou terus mundur dan memancing agar pembunuh hanya fokus padanya. Jadi saat Jack tepat berada di belakangnya, dia sama sekali tak menyadari. Pada kesempatan terakhir, Lou menunduk dan menghindari serangan si pembunuh. Jack yang sudah siap di belakang langsung menyerang kaki si pembunuh dan menendang bokongnya. Alhasil si pembunuh jatuh dari jendela dengan cara yang sangat memalukan.

Lou dan Jack saling melirik sebelum tertawa terbahak-bahak.

"Ayo, aku antar kau kembali ke kamarmu." Jack mengulurkan tangannya pada Lou.

Lou mengangguk dan menerima uluran tangan itu. "Jack, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lou tiba-tiba.

"Ceritanya panjang." Jack tersenyum.

"Kau sendiri, dari mana kau mengenal Sean?" tanya Jack balik.

"Ceritanya pankang." Lou tersenyum nakal. Jack hanya menghela napas pelan.

"Masuklah," ujarnya pada Lou. Saat ini mereka sudah berada di depan kamar Lou. Untungnya pintu kamar itu terbuka lebar atau Lou akan repot karena tidak membawa kartu akses.

"Ya. Terima kasih." Lou berkata. Tak lama dia melihat sosok Sean datang dari ujung lorong.

"Sean!" panggil Lou semangat.

Jack melihat wajah ceria itu sebelum berbalik pergi.

1
elfrine hingis
hai kakk! balik baca lagi nih aku di 2025 hihi karna emang sesuka itu 😍

anyway ini aku yang ketinggalan sesuatu, atau lupa, tapi emang disini extra partnya ga ada ya kak? padahal udah nunggu hihihi walopun masih sempet inget sih ending pas di w***pad gimana hihi tp ttp pengen bnget baca lagi sampe akhir skrng apa lagi yg side storynya 🤩 MANGAT TERUS KAKK! TETAP DITUNGGU EXTRA DAN SIDE PARTSNYA DAN DITUNGGU DIPUBLISH HIHI 🤩
Anonim
thor ayo up lagi dong after story nyaaa
Anonim
bagus bangetttt ceritanyaaa! ayo kaaak dilanjut lagi pweasee udah nunggu dari 2021😭😭
Adinda
kakk extra partnya donggg😁😁😁
sakura
...
justFlio
biar bintang berbicara
justFlio
gemessssss bangett..

ceritanya komplit Thor...sedepp bangettt
⭐⭐⭐⭐⭐
Modali Maluku
🤩
Partiah Yake
uhhhh, merasa ikut dicintai🫠
Ayu Lestari
Suka banget ceritanya dari dulu ❤
Faradiba Firdaus
kak extra partnya dongg
sakura
...
Tri Widayanti
Bar bar😁
Amelie. review
aku udah baca ini belasan kali dan ga pernah bosan. sukses terus kak Axa
Izzy
rebirth of the wildest poison empress kok gk sekalian di up di sini kak?
Giana Nanini
😁
gracia_ratih
kerennn
gracia_ratih
wahhhh daebak
gracia_ratih
goooooooooooddddddd
floo
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!