Judul Alternatif: "Serpent's Vengeance: Rise of the Unbroken".
Selamat datang di dunia fantasi yang mempesona, di mana makhluk-makhluk mitologi hidup berdampingan, dan dendam menjadi pengobar semangat dari petualangan epic yang tak terlupakan. Novel ini akan membawa Anda ke dalam kisah yang menggabungkan latar belakang kelam, aksi mendebarkan, dan perjalanan penuh tantangan.
Di tengah dunia yang penuh misteri, terdapat seorang pemuda bernama Faelan. Dia adalah seorang yatim piatu yang diasuh oleh seorang ayah angkat yang baik hati. Namun, kehidupannya hancur ketika orang-orang yang selalu mem-bully-nya memberikannya sebuah tragedi traumatis.
Kini, Faelan adalah pewaris kekuatan naga yang legendaris dan menjadi pemimpin "The Unbroken," sebuah kelompok makhluk mitologi yang bersatu dalam hasrat untuk membalaskan dendam naga kuno, the ancient dragon yang telah jatuh.
Sambutlah pertarungan epik yang tak terlupakan ini, di mana kegelapan dan cahaya serta dendam dan penerimaan menjadi satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K-U-Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri Twin Dagger
Saat itu, api dari tungku workshop Durrin sedang menyala dengan tenang.
Durrin melanjutkan ceritanya, “Dulu sekali. Ketika awal masa penciptaan, alam semesta adalah tempat yang kosong dan benar-benar baru. Dunia muda yang belum bisa menopang kehidupan diberkahi dengan kemunculan sepasang entitas tak dikenal. Kedua entitas yang saat itu belum memiliki wujud pasti, selalu berubah seiring berjalannya tahun, atau ribuan, bahkan jutaan tahun. Kedua entitas itu biasa disebut sebagai ‘Ancient Artefak’, bapak dari segala ‘Ancient Weapon’. Beberapa orang percaya bahwa itu adalah cikal bakal dimulainya kehidupan di dunia ini. Tidak ada yang tahu pasti seperti apa wujud dari kedua entitas itu. Bahkan eksistensinya sudah menjadi legenda tertinggi dari setiap legenda yang ada. Tidak jarang orang yang meragukannya. Semua orang hanya bisa berteori dan berspekulasi tentangnya. Yang jelas, keduanya adalah entitas pertama, jauh sebelum Angel, Demon, bahkan para naga sekalipun”
“Jadi, apakah entitas itu adalah makhluk bernyawa?” Tanya Faelan.
“Bukankah sudah kukatakan, tidak ada yang tahu pasti. Semuanya hanya sebatas teori”
“Lalu, ada berapa jumlah Ancient Weapon yang diketahui sampai saat ini?”
“Tidak banyak. Selama sejarah ribuan tahun, dikenal hanya ada 9 Ancient Weapon. Kau yang memiliki Ancient Weapon di luar ke-9 itu adalah sebuah berita mengejutkan. Termasuk punyamu, 8 dari 10 Ancient Weapon sekarang ada di pihak naga iblis. Itu jugalah salah satu yang membuat para ras naga berperang. Selain sebagai senjata terkuat, Ancient Weapon adalah lambang kepemimpinan. Memilikinya adalah sebuah kultivasi tertinggi”
“Bagaimana kau bisa tahu semua informasi ini?”
“Semua yang berhubungan dengan senjata, Dwarf pasti mengetahuinya”
“Sebentar, biar kuperjelas, karena ini disebut sebagai ‘Ancient Weapon’, berarti 9 Ancient Weapon yang lain di luar sana juga berbentuk senjata seperti milikku?”
“Tidak. Sebutan ‘Ancient Weapon’ hanya menjurus pada maknanya yang bisa digunakan sebagai senjata pemusnah massal. Sebenarnya, Ancient Weapon tidak memiliki bentuk yang pasti. Bentuknya akan mengikuti karakteristik penggunanya. Kau memiliki Ancient Weapon berbentuk dua belati ini, bisa saja karena kau memiliki kecocokan dengan pisau belati”
“Itu menjadi masuk akal. Ada hal lain yang ingin kutanyakan. Kau bilang salah satu alasan peperangan bangsa naga terjadi adalah karena merebutkan Ancient Weapon, lalu bagaimana dengan cerita umum yang mengatakan bahwa peperangan suku naga adalah karena perbedaan pendapat tentang bagaimana para ras humanoid mengelola dunia?”
“Itu adalah cerita umumnya. Katakan saja itu sebagai alasan diplomatis saja. Yang sebenarnya terjadi, jauh lebih besar dari itu. Ada begitu banyak misteri jika berbicara tentang para suku naga. Ada juga yang mengatakan bahwa kubu naga iblis meminta bantuan kepada Elder Demon, satu-staunya entitas tertua yang masih mendiami dunia kita, sehingga mereka bisa memiliki kekuatan kegelapan untuk mengalahkan para naga langit yang pada dasarnya dianugerahi kekuatan Angel. Entahlah, Fae. Misteri para ras naga bukan lagi pada ranah ras humanoid seperti kita”
Faelan tertunduk sejenak.
“Tenang, Nak. Kau tak sendirian memikul beban ini. Itulah fungsi Liga The Unbroken. Kami akan mempertaruhkan nyawa kami untuk revolusi ini”
“Terimakasih, Durrin. Lalu apa kesulitan yang kau maksud terkait dua belatiku ini?”
“Oh, ya! Karena ini adalah teknologi purba, aku tidak bisa melakukan banyak. Aku hanya membuka segel yang membatasi kemampuan Ancient Weapon ini. Seperti seseorang sengaja membatasi kemampuan kedua belati ini agar kau mudah menggunakannya”
“Berarti mulai sekarang, Twin Dagger ini akan menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya?”
“Lebih dari itu, justru kau harus lebih berhati-hati menggunakannya. Kalau tidak cermat, bisa saja nyawamu dalam bahaya. Hei tunggu dulu, dari mana kau dapat istilah ‘Twin Dagger’ itu? Apa kau sendiri yang menamainya?”
“Tentu saja. Apa itu terdengar keren?”
“Seleramu sangat buruk. Nama itu terlalu biasa. Hahaha”
Durrin yang awalnya tidak membuka diri pada akhirnya menaruh simpati pada Faelan.
“Aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Ikuti aku!” Durrin membawa Faelan ke ruangan tertutup.
Ruangan itu adalah sebuah tempat kedap suara yang juga sudah diperkuat dengan alat-alat sihir khas suku Dwarf.
“Ruangan ini bernama Chamber of Gravity. Ruangan ini adalah tempat berlatih fisik dengan gravitasi yang amat tinggi. Sebuah tempat yang tepat untuk menguji kemampuan belatimu. Aku biasa berlatih di sini. Yah pengrajin juga harus memiliki fisik yang kuat, kan? Hahaha”
“Jadi, apakah benar aku boleh berlatih di sini? Bukankah ini masih tergolong berada di dalam ruangan kerjamu?”
“Tentu saja. Aku adalah bagian dari The Unbroken. Aku akan mengerahkan segalanya untuk membantumu”
“Terimakasih, Durrin!” Faelan terlihat sangat bahagia dan langsung memeluk Durrin.
Durrin yang awalnya merasa risih, kini membalas pelukan Faelan, seolah pemuda itu adalah anaknya sendiri.
“Panggil aku kalau kau butuh bantuan” Faelan lalu masuk.
Faelan berlatih di ruangan tertutup itu selama berhari-hari.
***
Di suatu tempat antah berantah..
Sudah beberapa bulan berlalu semenjak Kaida menyelamatkan seorang bocah di benua Aurelia, atau bocah itulah yang justru akhirnya menyelamatkan Kaida.
“Xander” Panggil Kaida.
Bocah yang sedang berlatih pedang berlari ke arah Kaida. “Iya, tuan”
“Aku akan pergi berburu sebentar. Diamlah di sini. Jangan kemana-mana. Semoga saja aku menemukan Beruang Taring Pedang kesukaanmu”
“Baik, Tuan. Terimakasih Tuan!” Xander terlihat sangat senang. Ia berlari masuk ke dalam sebuah lubang dari akar pohon besar, saking besarnya sampai-sampai lubang itu terlihat seperti gua, tempat mereka tinggal untuk sementara.
“Hei. Ingat! Jangan kemana-mana. Daerah teritori beruang ini cukup jauh. Jadi mungkin aku akan pulang sedikit telat. Lanjutkan latihanmu di dalam saja!”
“Baik, Tuan!”
Selama beberapa bulan ini, Kaida telah melatih Xander agar ia bisa melindungi diri sendiri. Pelatihannya tidak pernah mudah. Setiap hari ia hampir mati berkali-kali.
Kaida bukanlah guru yang baik. Metodenya sangat ekstrim dan kejam.
Tapi Xander sudah bertekad, ia ingin menjadi sekuat Kaida. Pria yang bisa menumpas seorang panglima naga iblis dan seantero pasukannya seorang diri. Itu memang terkesan mengkhayal. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan mengikuti Kaida kemanapun.
Saat itu, Kaida sudah pergi selama satu jam lebih.
Xander sedang duduk bermeditasi sambil melakukan Shadow Fighting di dalam kepalanya, sebuah simulasi pertarungan untuk menguatkan diri secara mental.
Tiba-tiba langit seperti ditutupi awan gelap yang sangat besar. Anehnya, awan itu sama sekali tidak terasa sejuk. Justru, lingkungan sekitarnya seperti diserang oleh hawa panas yang sangat tinggi. Dedaunan di sekitar sampai mengering seketika.
Xander berlari keluar.
Saat ia menengok ke atas, barulah ia tahu...
Yang membuat siang bolong itu menjadi begitu gelap ternyata bukanlah sebuah awan gelap..
Tapi, dua buah sayap yang merentang lebar..
Dua sayap dari seekor naga yang amat besar. Jauh lebih besar dari Lirael yang dikalahkan oleh Kaida.
Seketika, tubuh Xander bergetar hebat. Tuan Kaida, kau ada dimana?
Naga besar itu kini mendarat tepat di depan Xander.
Sebelum naga itu mendarat, ia menghembuskan api hitamnya ke arah daratan. Dalam seketika, daratan itu menjadi tandus dan gelap karena api hitam yang berkobar.
“Nah, begini baru nyaman” ucapnya sambil menggaruk tanah dengan cakar-cakar besarnya.
“Siapa kau?” Teriak Xander.
“Hei tikus. Apa orangtuamu tidak mengajarimu sopan santun saat bertemu dengan orang asing?” Naga hitam itu menjentikkan satu cakarnya, sebuah bongkahan batu besar melayang dan menghantam mulut gua dari akar pohon tempat Xander berada.
“Oh, ayolah. Jangan mati dulu, ada yang ingin kutanyakan padamu” Dengan mudahnya naga hitam itu mengangkat pohon besar tempat Xander bernaung.
Maka terlihatlah Xander yang sedang meringkuk karena kedua kakinya tertindih batu besar tadi.
“Aku mencari seorang pria yang cukup kuat hingga bisa mengalahkan seorang panglima naga, dan orang itu tidak mungkin kau. Jadi, apakah kau melihat seorang pria kuat di sekitar sini?”
Xander masih meringis kesakitan.
“Hmmm... Kalau tidak salah, namanya Kaida”
Xander sontak terbelalak. Ia kaget saat naga hitam besar itu menyebut nama tuan penyelamatnya.
“Ahha!” Naga hitam itu langsung mencengkeram tubuh ringkih Xander. “Sepertinya kau tidak asing dengan nama itu”
Xander kecil hanya bisa meronta di antara cakar besar naga hitam itu.
“Jangan buat ini jadi lebih sulit. Katakan di mana laki-laki bernama Kaida itu?”
Xander tak sedikitpun membuka mulutnya.
“Wah wah. Rupanya anjing ini dididik oleh tuan yang tepat. Baiklah kalau itu yang kau mau. Mari kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan”
Naga hitam itu mulai menggores dada Xander dengan kuku-kuku besarnya. Sedikit demi sedikit. Semakin dalam dan semakin dalam lagi kuku-kuku tajamnya menusuk ke dada bocah kecil itu.
Xander tak mau menyerah. Mulutnya tetap terkunci.
“Oh. Kau cukup tangguh juga. Bagaimana kalau kita bermain sesuatu yang lebih seru. Aku berasumsi, kau pasti sering melihat si Kaida ini. Jadi, mari mulai dengan mata. Kiri dulu ya!” Naga hitam itu menusuk mata kiri Xander.
“AAAAAAARGH!!” teriakan Xander begitu memekakan telinga. Darah segar mengalir dengan deras di pipi kirinya.
“Sungguh merdu. Meletus seperti slime yang gemoy. Sekarang, katakan dimana Kaida?”
Xander menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan.
“Oh sungguh menggelikan. Baiklah, sekarang yang kanan”
Naga hitam itu kini menusuk mata kanan Xander.
“AAAAAAAAAAAAAAAAARGHH!” Teriakan Xander terdengar frustasi. Kini sekujur wajah dan rambutnya dipenuhi darah dari kedua matanya. Ia meronta begitu keras.
Tapi, cengkraman kuku-kuku naga hitam itu terlalu kuat untuk dilawan.
“Dii.maa.naa?”
Lagi-lagi Xander masih menutup kedua mulutnya.
“Sialan! Ini sedikit menggangguku. Kedua tanganmu ini sangat merepotkan. Jadi, pinjam sebentar ya!” Naga hitam itu kini menekan pelan kedua lengan Xander dengan kuku tajamnya.
Seketika kedua langan Xander terputus begitu saja, seolah itu hanya ranting kering yang terinjak sepatu boat.
“AAAAARGGH. BAJINGAAAAAN! AKU TAK AKAN MENGATAKAN APAPUN TENTANG TUAN KAIDA. BUNUH SAJA AKU SIALAN!”
“HAHAHAHAHAHAA. Kau sungguh sesuatu bocah. Mari kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan! Aku akan mulai lagi dari kaki kiri dan kanan lalu telinga kiri dan kanan. Lidahmu adalah yang terakhir yang akan aku potong. Meskipun nanti kau tak akan bisa mendengar apa-apa lagi. Tapi, instriksinya sama. Dimana Kaida sialan itu?”
Xander bergidik ngeri. Tubuh kecilnya bergetar hebat. Tapi, ia tetap pada satu tekad. Ia tak akan memberitahukan dimana Kaida berada.
Jika kehidupannya tidak bisa berguna bagi tuan Kaida, asal bisa bermanfaat, maka memberikan kematiannya pun tidak akan membuat Xander keberatan.
***
Kaida baru saja mengalahkan seekor Beruang Taring Pedang saat ia melihat kebakaran hutan di kejauhan.
Jelas itu bukan kebakaran biasa. Sebab, api itu berwarna hitam.
“Sialan! Aku terlalu lengah. Aku harus segera kembali”
Dengan kecepatan mengerikan, Kaida melesat menuju kebakaran hutan itu.
Akankah Kaida mampu menyelamatkan Xander?
***
Yuk Subscribe dulu guys. Like dan Komentar kalian akan sangat membantu. Gak ada salahnya kan tinggal pencet dua tombol aja. Gak akan sampai menyita waktu seumur hidup kalian kok guys. Ini adalah karya pertamaku. Aku masih punya segudang ide untuk dituliskan. Salam hangat dari Author.
Lumayan seru