Ratna Duhita harus menerima nasib kurang baik. Niat hati ingin menghadiri pesta pernikahan sang sahabat yang sudah seperti saudara. Tapi sebelum masuk ke pintu gerbang ia diculik dan disekap hingga tak sadarkan diri.
Saat tersadar ia sudah berada di tempat asing dengan tangan terikat dan mata tertutup kain. Ketika penutup mata itu terbuka, ia terkejut bukan main ketika laki-laki yang berada dihadapannya adalah cinta pertamanya.
Bagaimana mungkin laki-laki itu berada ditempat yang sama dengannya? Apakah dia juga diculik sama seperti dirinya? Atau diakah dalang dari penculikan itu? Apa yang sebenarnya terjadi?
Yuk ikuti kelanjutannya hanya di noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Aku masih hidup
Sakit. Itulah yang Ratna rasakan saat Tiska mencengkeram dagunya sekuat tenaga. Ia berusaha untuk terlihat biasa saja, ia tidak boleh terlihat lemah di depan wanita itu.
"Aku tidak menyukai mulutmu ini. Sepertinya akan seru jika aku merobeknya." Tiska tersenyum sinis terkesan meakutkan.
"Inilah dirimu yang tidak bisa menarik hati Raditya. Kau cantik, hanya saja terlalu berambisi. Kau wanita yang baik, hanya saja nafsu yang menyelimuti dirimu. Itu lah kenapa Raditya tidak bisa menyukaimu, " balas Ratna membuat wanita itu semakin meradang.
"Mulutmu ini terlalu banyak bicara. Tapi tak apa, karena sebentar lagi mulutmu ini tak akan bisa bicara lagi." Tiska melepas cengkeramannya kasar.
"Sebenarnya aku tidak ingin menghabisi kalian saat ini. Namun, kau terlalu banyak bicara dan aku tidak suka."
"Aku akan menceritakan sebuah kisah. seorang wanita tak sadarkan diri sedang bersama seorang laki-laki yang juga tak sadarkan diri, tercium bau alkohol dari keduanya. Setelah itu entah bagaimana mereka berada di dalam mobil. Lalu syuuurrrr, mobil itu jatuh ke jurang yang menyebabkan keduanya harus meregang nyawa. Esok hari terdengar berita sepasag kekasih yang sedang mabuk jatuh ke dalam jurang bersama mobilnya. Mereka tewas di tempat. Apa ceritaku ini bagus? Aku ingin sekali membuat cerita seperti itu," jelas tiska dengan ekspresi yang menjiwai.
"Kalian mau menjadi pemeran utamanya? Tentu saja mau lah, sebab kalian tidak punya pilihan lain," lanjut Tiska diiringi tawa yang mengerikan.
*
*
Di sisi lain.
Raditya membuka ponsel untuk menghubungi sang kekasih. Ia mematikan bunyi dering ponsel ketika tadi membahas tentang hilangnya Sayla. Raditya terkejut bukan main melihat banyak panggilan tak terjawab dari anak buah yang ia perintahkan untuk mengikuti Ratna. Pikiran buruk tiba-tiba menyelimuti dirinya.
"Bos Kami di serang, nona Ratna berhasil kabur. Tapi kami belum bisa menemukannya. Kami kehilanagn jejaknya." Lapor sang anak buah ketika terlihat nama sang bos di layar ponselnya. Ia langsung mengangkat dan melapor tanpa berbasa-basi.
"Apa?" teriak Raditya terkejut. Sambungan pun ia matikan secara sepihak. Ia segera berlari menuju tempat parkir, segera melajukan mobilnya setelah dapat duduk di belakang kemudi. Tak lupa ia menghubungi seseorang yang ia perintahkan untuk mengawasi Tiska.
"Kerahkan semua anak buahmu, istriku di culik. Aku yakin Tiska yang melakukan semua itu." Perintah Raditya pada Juno sang sahabat.
"Masih calon istri," koreksi Juno masih sempat menggoda pria yang tengah gelisah itu.
"Cepatlah!" Raditya tidak menanggapi ucapan Juno.
"Tenanglah, dalam lima menit aku akan menemukan istrimu. Anak buahku siap meluncur."
Raditya mematikan sambungan teleponnya setelah mendapatkan apa yang ingin diketahauinya.
Setelah beberapa menit ia sampai di sebuah gedung tua yang terlihat sangat sepi. Sebelumnya ia mendapatkan alamat itu dari pesan yang dikirim Juno. Dapat ia lihat dari kejauhan beberapa mobil telah menunggunya. Kemudian keluar orang yang dhubunginya tadi sekaligus sahabatnya.
"Dia ada di dalam. Kau ingin masuk sendiri atau ingin ku temani."
"Berjagalah di luar, dia tidak akan menyakitiku."
Kemudian Raditya melangkah masuk ke dalam gedung tua itu.
Dubraakk..
Raditya menendang pintu itu sekuat tenaga. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wanitanya yang di seret masuk ke dalam mobil, di sampingnya juga ada laki-laki yang juga diperlakukan sama dalam keadaan tak sadarkan diri. Tentu saja ia tahu siapa laki-laki itu. Ia cukup terkejut melihat laki-laki itu bersama wanitanya. Sebersit kekhawatiran muncul di hati.
"Lepaskan dia!"
Raditya.
Ratna masih bisa melihat calon suaminya sekilas dengan sisa kesadaran yang semakin menipis.
Wanita cantik yang juga berada di ruangan itu sangat terkejut melihat sang pujaan hati muncul secara tiba-tiba dengan mendobrak pintu.
Raditya menatap ke arahnya. "Lepaskan dia!" Namun, wanita itu bergeming. "Lepaskan dia! " ulang Raditya mengeraskan suaranya.
Tak lama anak buahnya pun ikut masuk bersama sang sahabat.
"Kau urus wanitamu, biarkan mereka aku yang mengurusnya," kata Juno sembari memerintahkan anak buahnya untuk mulai bergerak.
Raditya mendekat ke arah sang kekasih, lalu secara membabi buta Raditya memukul dua orang pria yang berani menyentuh wanitanya dibantu beberapa anak buahnya.
Ia membawa wanita yang tak sadarkan diri itu dalam gendongannya. Sekilas ia melirik ke arah laki-laki yang bersama sang calon istri. Setelah itu memerintahkan anak buahnya untuk mengurus laki-laki tersebut.
Saat akan melangkah keluar , ia menatap Tiska yang dari tadi hanya diam menatapnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Keduanya saling menatap. Raditya terlalu malas untuk mengurus wanita itu.
"Serahkan dia pada yang berwajib!" perintah Raditya pada Juno.
"Kau tenang saja, pergilah! Biarkan aku yang mengurus wanita cantik ini." Juno mengerlingkan satu matanya genit ke arah Tiska. Tentu saja Tiska mengabaikan itu semua, karena dunianya hanyalah Raditya. Ia tidak peduli meskipun Raditya tahu tentang kejahatannya. Dia tidak akan pernah melepaskan pria itu, dia juga tidak akan membela diri untuk berpura-pura baik.
Raditya keluar membawa Ratna menjauhi tempat itu. Setelah kepergian Raditya, dengan cepat anak buah Tiska dapat dilumpuhkan. Juno memerintahkan anak buahnya untuk membawa Tiska paksa.
"Lepaskan!" Tiska memberontak. " Aku tidak punya urusan dengan kalian!" Teriaknya pada dua orang yang memegangi tubuhnya.
"Kau, cepat suruh anak buahmu untuk melepaskanku. Aku akan membuat perhitungan denganmu," ancam Tiska marah karena diperlakukan seperti itu.
Juno hanya menanggapinya dengan seringai tipis lalu mendekati Tiska.
"Wajah ini terlalu cantik untuk menjadi penjahat. Tapi itulah kenyataannya, kau berwajah cantik, tapi berhati iblis." Cup. Juno mencium sekilas bibir Tiska.
"Kau..." geram Tiska, berani sekali pria itu menciumnya di depan para anak buahnya. Tidak tahukah dia kalau itu adalah ciuman pertamanya yang hanya akan ia berikaan pada Raditya seorang.
"Sayang kalau di anggurin. Cepat bawa dia!" Dengan gerakan cepat Juno memukul tengkuk Tiska, sedetik kemudian wanita itu tak sadarkan diri.
*
*
Di apartemen.
Setelah beberapa jam, Ratna tersadar. Wajah Raditya yang pertama kali ia lihat, tampak jelas kekhawatiran dari raut wajah pria itu.
"Maafkan aku," ucap raditya. Ratna masih terdiam, ia masih mengumpulkan seluruh kesadarannya.
"Aku selamat."
"Ya, sayang."
"Aku tidak jadi jatuh ke jurang?" tanya Ratna lagi masih belum percaya. Raditya mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan wanita itu. "Berarti aku masih hidup?" Ratna mengulurkan tangannya mencubt pipi pria itu.
"Awu... sakit," celetuk Raditya spontan ketika tanpa diduga wanita itu mencubit pipinya.
"Aku tidak bermimpi, aku masih hidup. Apa kau yang menyelamatkanku?" tanya Ratna dengan senyum bahagia. Ia bersyukur masih bisa melihat dunia ini.
Raditya mengelus pipinya yang masih terasa sakit. Wanita itu benar-benar ajaib. Kenapa tidak mencubit pipinya sendiri?
"Tentu saja kau masih hidup. Lihatlah kau masih jelas bisa melihat ketampananku."