NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAPAN SARAPAN (#6)

Di bawah teras depan rumah kakek Yukari, udara pagi terasa begitu sejuk. Akira dan Daiki sudah sibuk membongkar daun pintu utama yang miring. Bunyi derit kayu dan dentang martil sesekali memecah keheningan selagi mereka berdua bersiap memasang engsel besi yang baru.

Ditengah kegiatannya melepas sisa sekrup tua, Daiki menoleh ke arah Akira. Raut wajahnya berubah agak serius. "Bagaimana keadaan Yukari tadi malam?" tanya Daiki yang sangat mengkhawatirkan kondisi gadis itu setelah rentetan kejadian buruk tadi malam

Akira menghentikan gerakan tangannya sejenak, menatap pintu di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tadi malam dia sempat terbangun... lari ke kamar mandi. Dia menyikat gigi dan membasuh mulutnya dengan mouthwash berulang kali," cerita Akira pelan, memilih untuk menyimpan rapat-rapat kelanjutan cerita di dapur. "Dia... terlihat sangat kacau dan ketakutan tadi malam."

Daiki menghentikan ketukannya, tampak agak kaget mendengarnya. "Benarkah? Lalu sekarang bagaimana keadaan—"

Klek.

Pertanyaan Daiki terputus saat pintu kamar tidur terbuka. Kedua pria itu serentak menoleh ke arah selasar dalam.

Sosok Yukari muncul dari sana. Penampilannya pagi ini terlihat lebih baik, kontras dengan kondisinya yang hancur malam tadi. Rambut coklatnya sudah dicepol rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya. Begitu melangkah keluar, pandangan Yukari langsung tertuju pada punggung tegap Akira yang sedang membelakangi pintu masuk.

Mengingat kembali kehangatan metode penyembuhan tak terduga tadi malam, rasa canggung membuat wajah Yukari mendadak sedikit memerah. Namun, ia merasa lega karena teror semalam benar-benar hilang. Yukari melangkah mendekat ke arah teras dengan senyuman lembut

"pagi yukari..! "

"Selamat pagi, Daiki," sapa Yukari ramah. Ia melirik ke sekeliling teras sebelum menambahkan dengan nada polos, "Kau tidak membawa sarapan untuk kami?"

Daiki yang sempat khawatir seketika terkekeh melihat sahabatnya tampak baik-baik saja. "Tentu saja bawa. Tuu" Daiki memberi isyarat dengan mengedikkan bibirnya ke arah lantai teras. "Itu, ada dua kotak nasi buat kalian"

Yukari berjalan mendekat, mengambil salah satu kotak makan yang masih hangat, lalu duduk lesehan di dekat mereka berdua yang sedang bekerja.

Daiki memperhatikan wajah segar Yukari dengan heran. "Gimana keadaanmu? Sudah lebih baik?"

"Jauh lebih baik," jawab Yukari sembari mulai membuka tutup kotak makannya. Sambil tersenyum tipis, ia menggumam pelan, "Aku sudah menemukan obatnya semalam..."

Mendengar kata 'obat', gerakan tangan Akira langsung membeku di tempat. Pria itu terdiam, tidak berani menoleh karena rasa gugup mendadak melanda akibat kode rahasia dari Yukari.

"Obat?" Daiki mengernyitkan dahi, menatap Yukari dengan polos. "Obat apa??"

Alih-alih menjawab, ia langsung mengalihkan pembicaraan dengan menyendok sesuap nasi. "Wah, ini enak sekali! Daiki, buka mulutmu. Makan ini..."

"Aam..." Daiki langsung menerima suapan dan mengunyahnya dengan lahap.

Setelah menyuapi Daiki, Yukari memakan sesuap untuk dirinya sendiri. Kemudian, ia kembali mengambil sesendok nasi, mengarahkannya tepat ke depan mulut Akira.

"Akira-san... Aaaa..." ucap Yukari lembut, menatap Akira dengan mata bulatnya yang jernih.

Akira tersentak kaget. Wajahnya seketika memerah karena canggung. Ia mundur setengah langkah. "Ah, tidak usah, Yukari-san... Aku bisa makan sendiri nanti setelah selesai."

Melihat penolakan itu, Daiki yang berada di samping Akira langsung menyenggol lengan sang pria dan memberikan isyarat bisikan yang mendesak. "Makan saja! Jangan ditolak, nanti dia syok dan kepikiran lagi seperti semalam!" Daiki berniat baik ingin menjaga psikologis Yukari

Akira tidak punya pilihan lain. Dengan perasaan canggung yang besar, ia akhirnya memajukan wajahnya dan menerima suapan dari Yukari.

"Emm, enak..." gumam Yukari senang.

Ada rasa lega di dada Akira. Gadis yang telah menyelamatkan nyawanya di sungai itu kini bisa kembali tersenyum tenang berkat dirinya. Yukari dengan telaten terus-menerus menyuapi Daiki dan Akira secara bergantian, hingga tanpa terasa dua kotak nasi itu habis tak bersisa.

Setelah merapikan kotak makan yang kosong, Yukari bangkit berdiri sambil meregangkan tubuhnya pelan. "Aku masuk dulu ya, mau mandi," pamitnya sembari melangkah masuk ke dalam rumah.

Begitu sosok Yukari menghilang di balik selasar, Daiki langsung menaruh martilnya dan menatap Akira dengan penuh rasa ingin tahu yang sejak tadi ditahannya.

"Hei, Akira. Obat apa yang Yukari maksud tadi? Semalam kau memberinya obat apa?" tanya Daiki menyelidik.

Akira yang ditanya, Bingung harus menjawab apa tanpa membongkar rahasia malam tadi, Akira langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

"A-aku tidak tahu. Kau tanya sendiri saja padanya nanti," jawab Akira terbata-bata, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Ia cepat-cepat meraih gagang pintu kayu. "Ayo, Daiki, cepat kita pasang pintu ini dengan engsel baru."

Daiki mendengus heran melihat tingkah Akira yang mendadak kaku, namun ia tidak ambil pusing.

***

Setelah menyelesaikan pemasangan engsel pintu utama bersama Daiki, Pintu depan kini sudah terpasang kokoh, tidak lagi miring dan ringkih seperti kemarin.

Akira melihat Yukari sedang sibuk di depan meja makan, ia tampak sedang telaten memotong buah semangka—buah yang minggu lalu sempat ia beli bersama Akira di pasar.

Akira menghentikan langkahnya di dekat pembatas ruang. Ia berniat ingin mandi namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak obrolan di teras tadi.

Akira diam sejenak, memandangi punggung Yukari sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara dengan nada rendah. "Yukari-san..."

Yukari menghentikan gerakan pisaunya, lalu berbalik dan menatap Akira dengan mata jernihnya. "Hm?"

Akira tampak agak ragu sebelum melanjutkan kalimatnya. "Em... itu... Daiki tadi sempat bertanya padaku. Perihal... 'obat' yang kau katakan saat sarapan." Akira menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Yukari untuk menyalurkan rasa canggungnya. "Dia penasaran."

Mendengar penuturan jujur dari pria yang menjadi penolongnya semalam, Yukari tidak tampak panik. Sebaliknya, sebuah kekehan kecil yang sangat lembut lolos dari bibirnya. Ia meletakkan pisau dapur, lalu menatap Akira dengan pandangan menenangkan dari hati ke hati.

"Biarkan saja, Akira-san," ucap Yukari santai, nadanya tulus tanpa beban. "Serahkan Daiki padaku nanti. Kau tidak perlu cemas" Yukari tersenyum manis, lalu menunjuk ke arah kamar mandi dengan dagunya. "Kau lekaslah mandi dan bersihkan dirimu, ya? Aku sedang membuat minuman semangka yang segar untuk kita bertiga."

Akira terpaku sesaat melihat ketenangan Yukari. Rasa khawatir di dadanya perlahan mencair, digantikan oleh kehangatan murni yang menenteramkan hatinya.

"Em. Baiklah," jawab Akira pelan, memberikan senyuman tipis sebelum akhirnya melangkah menuju kamar mandi.

***

Beberapa saat kemudian, Yukari berjalan keluar menuju teras depan sambil membawa sebuah nampan berisi tiga gelas besar jus semangka dingin yang segar. Di teras, Daiki baru saja selesai merapikan peralatan pertukangannya dan duduk melepas lelah di undakan kayu.

"Wah, pas sekali! Aku memang sedang kehausan!" seru Daiki girang, langsung menyambar satu gelas jus semangka dan meminumnya hingga tersisa setengah. "Segar sekali! Untung kau membuat ini, Yukari."

Yukari duduk di sebelah Daiki, menyerahkan gelas kedua untuk sahabatnya itu. "Bagaimana pintunya, Daiki?"

"Sudah selesai! rumahmu aman sekarang," sahut Daiki bangga. Ia lalu meletakkan gelasnya dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih serius. "Oh ya, Aku sudah melaporkan kejadian teror Hiroshi tadi malam ke pihak berwajib. Polisi bilang mereka akan menindaklanjutinya dan berpatroli lebih ketat di sekitar desa kita Jadi, bajingan itu tidak akan bisa macam-macam lagi."

Yukari mengembuskan napas lega. "Terima kasih banyak, Daiki. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu bagaimana."

"Ah, seperti dengan siapa saja," lambaikan tangan Daiki santai.

Tepat saat Daiki menyelesaikan kalimatnya, pintu depan terbuka. Akira keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang sudah bersih dan rambut yang tampak segar setelah mandi. Pria itu melangkah mendekat dan ikut duduk di sisi teras yang tersisa, menerima gelas jus semangka terakhir yang disodorkan Yukari.

"Nah, kebetulan Akira sudah selesai mandi," kata Daiki, menoleh bergantian pada Yukari dan Akira. "besok di balai desa akan diadakan Festival Apel Besar. Kalian harus datang."

Mendengar ucapan Daiki, Yukari seketika terperanjat senang. Sepasang mata bulatnya melebar dengan binar antusias yang begitu kentara. "Festival Apel? Benarkah besok?"

Daiki mengangguk mantap. "Tentu saja benar."

"Wah..." Yukari menangkupkan kedua tangannya di depan dada, tampak sangat gembira. "Festival itu hanya diadakan setahun sekali. Dan... ini akan menjadi tahun pertamaku ikut lagi setelah empat tahun absen."

Melihat perubahan ekspresi Yukari yang begitu hidup dan bersemangat, Akira terdiam di tempatnya. Ia terpukau melihat bagaimana gumpalan trauma semalam bisa tergantikan oleh binar kebahagiaan yang begitu murni pagi ini.

Yukari tiba-tiba memiringkan tubuhnya, menghadap penuh ke arah Akira yang duduk di dekatnya. Dengan jarak yang cukup dekat dan wajah yang dipenuhi senyum riang, ia berkata, "Akira-san, Di festival itu ada makanan khas yang sangat enak, namanya apel karamel. Rasanya manis dan renyah sekali! Besok, Akira-san benar-benar harus mencicipinya, Harus!"

Ditatap dengan begitu intens dan penuh semangat dari jarak sedekat itu membuat Akira terperanjat. Jantungnya berdesir aneh, memicu rasa canggung dan malu yang mendadak menyerang wajah jantannya.

Akira buru-buru mengalihkan pandangannya ke gelas semangka di tangannya, mencoba menyembunyikan rona tipis yang muncul di pipinya. "Ah... em, ya. baiklah," jawab Akira terbata-bata dengan nada suara rendah.

Yukari tersenyum puas mendengar persetujuan Akira.

"Nah, karena pintu sudah beres dan jus semangkanya sudah habis, aku harus pamit sekarang. Masih banyak persiapan panitia festival yang harus kuurus di balai desa," ucap Daiki sambil melambaikan tangan.

Daiki membuka pintu mobilnya, lalu melompat naik ke kursi kemudi. "Oh ya, Yukari, Besok... akan ada kejutan lain yang menunggu!" seru Daiki setengah berteriak dari atas mobilnya.

Yukari mengernyitkan dahi, merasa penasaran. "Kejutan?"

"Pokoknya besok datang ke balai desa jam empat sore! Jangan terlambat!" Daiki melambaikan tangannya sekilas lalu menginjak pedal gas. Setelah mobil pick-up Daiki menghilang di kelokan jalan, Yukari berbalik dan berjalan mendahului Akira menuju teras. Langkahnya kini terasa jauh lebih ringan. Sebelum duduk ia menoleh ke arah Akira yang berjalan di belakangnya.

"Akira-san, kau bawa buku memo kuning itu?" tanya Yukari lembut.

Akira mengangguk, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan buku memo bersampul kuning yang selalu ia jaga dengan baik.

Yukari mengambil posisi duduk di tempatnya semula, sementara Akira duduk di undakan tempat Daiki duduk tadi. Suasana di antara mereka kembali hening, menyisakan desir angin siang yang menyejukkan.

"Apakah... ada misi yang selesai, Yukari-san?" tanya Akira perlahan, menatap buku di tangan pria itu.

"Tentu saja," jawab Yukari dengan senyuman tipis. Gadis itu terdiam sejenak, menatap hamparan halaman rumahnya sembari memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang ada di dalam dadanya.

Yukari menoleh, menatap lekat-lekat sepasang mata Akira yang selalu tampak tegap melindunginya. "Banyak hal yang telah terjadi... terutama kejadian semalam. Kau begitu bersikeras melindungiku Akira-san. Dan kau juga berhasil mengusir mimpi burukku. Bukankah ketulusanmu semalam adalah sebuah pencapaian besar yang harus kita abadikan di dalam memo ini?"

Dada Akira berdesir hangat. Rasa haru dan lega bercampur menjadi satu. Ia menyodorkan buku memo kuning tersebut beserta sebatang pena ke tangan Yukari.

Yukari membuka lembar demi lembar hingga tiba di halaman keenam yang masih kosong. ia mulai menuliskan sebuah judul dengan kiasan yang indah.

Halaman Keenam:

Judul : "Duda ganteng pengusir bayang hitam "

Status: Lulus (Cap 🐰)

Cetrek

Akira menerimanya dengan kedua tangan. Ia mulai membaca baris demi baris tulisan tangan Yukari yang rapi. Namun, begitu matanya menangkap kalimat di baris teratas, gerakan mata Akira langsung terhenti. Matanya sedikit melebar, dan ekspresi harunya mendadak berubah menjadi campur aduk antara bingung dan terkejut.

Akira melirik Yukari dengan tatapan polos sekaligus canggung. Mengingat status dirinya yang memang pernah gagal dalam berumah tangga, ia berdeham pelan demi menutupi rasa gugupnya.

"Aku... duda ganteng, Yukari-san?" tanya Akira terbata-bata, menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang perlahan memerah sempurna sampai ke telinga.

Yukari seketika tersadar dengan apa yang baru saja ia tulis Detik itu juga "Ah! I-itu..." Yukari mendadak salah tingkah. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat karena malu yang teramat sangat

Yukari merebut nampan gelas kosong di dekatnya, lalu berbalik cepat. "A-aku harus merapikan dapur!" serunya setengah panik selagi melangkah seribu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Akira yang masih terpaku di teras sambil menatap buku memo kuning itu dengan senyuman geli yang tak bisa ditahan.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!