Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Yang Aneh
Sial! "aku terlambat lagi," umpat Rangga melihat jam tangan Casio nya telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Pagi ini terasa seperti ada sesuatu yang lain, tidak seperti biasanya, ketika gadis cantik bernama Cinta Alisya itu tiba-tiba saja pindah sekolah lain. Entah apa sebenarnya yang terjadi. Aku dengar, dia pindah sekolah karena orang tuanya tidak setuju kalau dia sekolah di sekolah yang terbilang biasa-biasa saja. Maklum, SMA Bina Karya memang bukan sekolah elite, apalagi gadis itu memang dari keluarga elit keatas.
Separuh nafas Rangga hilang, penyemangat hidup yang selalu mewarnai hari-hari di sekolah, kini harus pergi.
Motor Vespa butut nya seolah ikut-ikutan galau, karena sang empunya sedang suasana hati yang kelabu.
Dua puluh menit lagi, pintu gerbang sekolah akan ditutup, itu Vespa butut dikebut malah kalang kabut ter kentut-kentut, baju seragam sampai kuyup menempel di kulit yang sudah basah keringat.
Ayo dong Vega(Vespa Rangga)!" kenapa lu jadi kayak keong racun sih," umpat Rangga, sambil tancap gas sampai mentok. Itu motor keong malah makin batuk-batuk, dan akhirnya ngantuk dan tidur.
Lima belas meter lagi menuju pintu gerbang putih sekolah yang sudah mengelupas, dengan sisa waktu yang ada, Rangga terpaksa turun dan menggiring Vega menuju pintu gerbang, yang kebetulan dari ujung sana terlihat satpam sekolah sedang berjalan menuju gerbang dengan kunci gembok di tangan.
Pak Ma'ruf tunggu pak! "teriak Rangga, melambaikan tangan, sambil menggiring Vega dengan nafas terengah-engah.
Sial!" sepertinya pak Ma'ruf gak denger, "desah Rangga yang terpaksa harus menepi sejenak, tenggorokan terasa kering, dan kaki terasa layu.
Akhirnya sampai juga," desahnya, dada kembang kempis, dengan seragam putih yang sudah basah kuyup, Rangga buru-buru mendorong Vega menuju pintu gerbang.
Namun nahas tiba-tiba...
"Kreeek... Brak!"
Suara besi gerbang yang beradu terdengar begitu nyaring di telinga Rangga, menyisakan jarak dua jengkal saja dari ban depan si Vega yang malang. Pak Ma'ruf sukses memasang gembok berukuran sekepalan tangan tanpa menoleh sedikit pun.
"Pak Ma'ruf... tega banget sih, Pak. Ini demi masa depan saya," rengek Rangga sambil menyandarkan tubuhnya yang lemas ke pagar besi. Keringatnya bercucuran, membuat kaus dalamnya jiplak ke seragam putihnya.
Pak Ma'ruf berbalik, menatap Rangga dari balik kacamata bolongnya sambil berkacak pinggang. "Masa depan apa? Jam segini baru sampai. Kamu itu telat sepuluh menit, Rangga! Alasan apa lagi sekarang? Vega masuk angin?"
"Vega pingsan, Pak, bukan masuk angin," sahut Rangga pelan sambil menepuk jok motornya yang terkelupas.
"Nggak ada alasan. Sana, parkir motor kamu di sebelah pos. Terus kamu hormat ke tiang bendera sampai jam pelajaran pertama selesai!" tegas Pak Ma'ruf, ketat tanpa kompromi. Namun, sang satpam akhirnya membukakan sedikit celah gerbang hanya agar Rangga dan motor keongnya bisa masuk.
Dengan langkah gontai, Rangga menuruti perintah itu. Berdiri di tengah lapangan SMA Bina Karya yang mulai memanas oleh sengatan matahari pagi, Rangga mengangkat tangan kanannya, memberi hormat pada kain merah putih yang berkibar pelan.
Pandangannya mulai kosong. Matanya menatap lurus ke arah bendera, tapi pikirannya terbang ke koridor kelas di lantai dua. Biasanya, jam segini Cinta Alisya baru saja turun dari mobil jemputannya, berjalan melewati lapangan ini sambil melempar senyum tipis yang selalu sukses membuat jantung Rangga berdegup kencang.
Senyuman yang menjadi bahan bakarnya untuk bertahan di sekolah yang membosankan ini.
Sekarang, jangankan senyumnya, bayangannya pun sudah nggak ada di sekolah ini, batin Rangga perih. Lapangan yang luas itu mendadak terasa begitu sepi dan asing baginya.
"Woy, Bro! Melamun aja lu! Mikirin apa? Utang kopi?"
Sebuah tepukan keras di bahu membuyarkan lamunan Rangga. Rangga menoleh dan mendapati sesosok cowok berambut acak-acakan dengan seragam yang sengaja tidak dimasukkan, sudah berdiri di sampingnya sambil ikut memasang posisi hormat.
"Sialan lu, Al! Ngagetin gue aja," umpat Rangga tanpa menurunkan tangan kanannya.
Cowok itu adalah Aldi. Sahabat karib Rangga sejak kelas sepuluh yang tingkat kebebalannya sudah di ambang batas wajar. Kalau Rangga telat karena motornya mogok, Aldi biasanya telat karena sengaja nonton siaran ulang bola sampai subuh atau sekadar malas bangun pagi.
"Lagian lu hormat sama bendera kayak lagi natap masa depan yang suram begitu. Kusut amat muka lu, Ngga. Kenapa? Vega masuk angin lagi?" Aldi terkekeh, menampakkan deretan giginya yang rapi tapi dihiasi seringai jahil.
"Lebih parah dari sekadar Vega masuk angin, Al. Vega tadi sempat mati suri di jalan. Dan yang paling bikin nyesek... separuh napas gue udah hilang hari ini," ucap Rangga puitis, matanya kembali menatap nanar ke arah bendera.
Aldi langsung memasang komuk geli. "Halah, najis! Separuh napas... lu pikir lu vokalis Dewa 19? Jangan bilang ini soal si neng geulis Cinta Alisya?"
Rangga hanya menghela napas panjang sebagai jawaban. Keheningan sesaat melanda mereka, hanya interupsi angin pagi yang menerpa seragam mereka yang mulai basah oleh keringat.
"Serius, Al. Lu udah denger kabar kan? Dia pindah sekolah," lirih Rangga.
"Ya elah, Ngga, satu sekolah juga udah tahu kali. Kabar burungnya kan gara-gara bokapnya yang tajir melintir itu menganggap SMA Bina Karya ini kurang berkelas buat standar keluarga mereka. Maklum, kita mah apa atuh, cuma remah-remah rempeyek di mata orang kaya," cerocos Aldi santai, seolah hal itu bukan masalah besar.
"Tapi buat gue itu masalah besar, Al! Gue bahkan belum sempat ngomong apa-apa ke dia. Belum sempat... katakan cinta," bisik Rangga, menekan kalimat terakhirnya.
Aldi langsung menurunkan tangan hormatnya sebentar untuk memegang jidat Rangga. "Kagak panas. Tapi kok lu makin ngaco ya? Lagian lu lagak lu sok dramatis banget. Katakan cinta, katakan cinta... lu kira acara TV jadul? Sadar, Ngga! Lu sama Cinta itu ibarat bumi sama langit ke tujuh. Lu naik Vespa butut kentut-kentut, dia dijemput Alfard kinclong yang debu aja sungkem mau nempel."
"Vespa gue namanya Vega, ya! Jangan dihina!" potong Rangga tidak terima. "Dan lagian, cinta itu nggak mandang kasta, Al. Lu nggak tahu aja gimana tatapan dia ke gue pas kita kerja kelompok minggu lalu."
"Tatapan kasihan itu mah, Ngga! Dikira lu belum makan tiga hari," potong Aldi cepat diikuti tawa ngakaknya yang khas.
"Ssst! kalian berdua! Malah ngobrol! Hormat yang tegap! Atau mau saya tambah hukumannya sampai jam istirahat?!" teriak Pak Ma'ruf dari arah pos satpam sambil mengacungkan mistar kayu panjang andalannya.
Seketika Rangga dan Aldi menegakkan posisi badan mereka, kembali memasang pose hormat paling khidmat seolah-olah mereka adalah paskibraka tingkat nasional.
"Gara-gara lu nih, Al," bisik Rangga lewat sudut bibirnya tanpa menggerakkan kepala.
"Gue mah udah langganan, Ngga. Justru gue nemenin lu di sini biar lu kagak kesepian amat meratapi nasib jadi jomlo sekarat," balas Aldi berbisik, tak kalah lihai menyembunyikan gerakan bibirnya dari pantauan Pak Ma'ruf.
Matahari perlahan mulai naik, sinarnya mulai membakar kulit pundak mereka. Rasa panas yang menyengat membuat pikiran badung Aldi mulai berputar mencari celah.
"Ngga, panas nih. Lambung gue juga udah demo minta diisi gorengan Mak Iyoh," gumam Aldi.
"Terus mau lu apa? Kabur? Lu liat tuh, mata Pak Ma'ruf udah kayak elang nyari mangsa," sahut Rangga.
"Tenang, serahkan pada ahlinya." Aldi tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya menjadi sangat dramatis. Matanya dikedip-kedipkan, napasnya dibuat tersengal-sengal, dan tubuhnya mulai limbung ke kanan dan ke kiri.
"Al, lu kenapa? Jangan akting lu, ya," bisik Rangga curiga.
"Aduhh... Ngga... kepala gue... bumi berputar, Ngga... aduh, ada bintang-bintang terbang..." Aldi meracau dengan suara yang sengaja dikeraskan. Detik berikutnya, "Brak!" Aldi ambruk ke lantai lapangan dengan posisi telentang yang sangat teatrikal.
Rangga melotot. Sialan, akting anak ini boleh juga," batinnya. Tak ingin menyia-nyiakan umpan lambung dari sahabatnya, Rangga langsung berlutut di samping Aldi.
"Pak Ma'ruf! Pak! Aldi pingsan, Pak! Wah, parah ini, Pak, matanya merem-melek kayak lampu disko!" teriak Rangga panik (yang dibuat-buat).
Mendengar itu, Pak Ma'ruf yang dasarnya berhati lembut langsung panik. Beliau berlari kencang dari posnya mendekati kedua murid badung tersebut. "Astagfirullah! Aldi! Kenapa ini? Kamu belum sarapan?"
"Tadi subuh dia bilang cuma minum kuah mi instan sisa semalam, Pak!" timpal Rangga ngawur.
Aldi yang sedang merem menahan tawa hampir saja tersedak mendengar banyolan Rangga, namun dia berhasil menjaga reputasi aktingnya dengan mengeluarkan lenguhan lemah. "Aduh... Pak... gelap, Pak..."
"Ya sudah, ya sudah! Rangga, cepat kamu gotong si Aldi ini ke ruang UKS. Kasih dia teh hangat. Hukuman kalian selesai hari ini, yang penting temenmu ini selamat," perintah Pak Ma'ruf cemas.
"Siap, Pak! Laksanakan!" jawab Rangga tegas.
Dengan susah payah, Rangga memapah tubuh Aldi yang sengaja diberatkan. Begitu posisi mereka membelakangi Pak Ma'ruf dan mulai berjalan menjauh menuju koridor UKS, Aldi perlahan membuka satu matanya dan berbisik, "Gimana? Akting kelas Oscar kan gue?"
"Oscar pala lu peyang! Berat banget lu, ah! Sengaja ya lu beratin badan lu?" umpat Rangga setengah berbisik sambil menahan tawa.
"Strategi, Bro. Biar totalitas tanpa batas."
Sesampainya di ruang UKS yang sepi dan hanya tercium bau minyak kayu putih, Rangga langsung menjatuhkan tubuh Aldi ke atas kasur busa tipis. Aldi langsung bangkit duduk dengan segar bugar, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang hampir dijemput ajal beberapa menit lalu.
"Ah, adem..." Aldi menyalakan kipas angin dinding di UKS dan mengarahkannya langsung ke wajahnya yang berkeringat. "Nah gini dong, pingsan membawa berkah."
Rangga duduk di kursi juri UKS sambil meraih botol minyak kayu putih, lalu memutar-mutarnya di tangan. "Tapi serius, Al. Otak gue masih stuck di Cinta. Gue ngerasa kayak ada yang hilang aja dari sekolah ini."
Melihat sahabatnya yang kembali murung, Aldi menghentikan candaannya. Dia menatap Rangga dengan pandangan yang sedikit lebih serius, meskipun sisa-sisa tampang badungnya tidak bisa hilang sepenuhnya.
"Ngga, gue tahu lu suka banget sama itu cewek dari zaman kita MOS kelas sepuluh. Tapi lu harus realistis. Dia udah pindah ke SMA Garuda Bangsa. Lu tahu kan itu sekolah apa?"
Rangga tertegun. "SMA Garuda Bangsa? Sekolah elite yang di dekat kawasan bisnis itu?"
"Nah, tuh lu tahu. Di sana isinya anak-anak yang kalau sekolah bawa mobil sendiri, atau minimal diantar supir pribadi berseragam. Lah lu? Mau nyamperin dia ke sana naik Vega yang kalau digas malah batuk darah?" Aldi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue cuma nggak mau lu sakit hati, Bro. Jarak kalian sekarang bukan cuma sejauh jarak sekolah kita ke sekolah baru dia, tapi jarak status sosial."
Kalimat Aldi menghantam dada Rangga cukup telak. Apa yang dikatakan sahabatnya itu adalah kenyataan pahit yang berusaha dia sangkal sejak tadi pagi. SMA Bina Karya tempat mereka sekolah saat ini memang fasilitasnya serba pas-pasan—pagarnya saja sudah mengelupas seperti yang terlihat tadi pagi. Sangat kontras dengan SMA Garuda Bangsa yang terkenal dengan fasilitas mewah dan kurikulum internasionalnya.
Rangga menunduk, menatap sepatu kets nya yang sudah mulai jebol di bagian ujung. "Gue tahu, Al. Gue sadar diri kok. Tapi apa salahnya kalau gue berjuang? Seenggaknya, gue mau dia tahu kalau perasaan gue ini beneran, bukan cuma cinta monyet yang bakal hilang seminggu dua minggu."
Aldi menghela napas, melihat kesungguhan di mata sahabatnya itu. Dia menepuk pundak Rangga dengan keras sampai Rangga tersedak. "Yaelah, melow lagi lu! Oke gini, kalau lu emang nekat mau jadi pahlawan kesiangan yang ngejar cinta putri raja, gue sebagai sahabat lu yang paling ganteng sejagat raya kagak bakal tinggal diam."
Rangga mendongak. "Maksud lu?"
"Gue punya sepupu yang sekolah di sana. Nanti gue tanyain ke dia, si Cinta masuk kelas mana, jadwalnya apa aja, atau kalau perlu trik rahasia biar lu bisa menyusup ke sana tanpa diciduk satpamnya yang denger-denger mantan militer," ujar Aldi sambil menaik-turunkan alisnya, memamerkan senyum penuh rencana busuk.
Mata Rangga seketika berbinar. Harapan yang tadi sempat padam kini menyala kembali, bahkan lebih terang dari sebelumnya. "Serius lu, Al? Wah, gila, lu emang sahabat terbaik gue! Nanti sore gue traktir bakso si Kumis deh!"
"Dua mangkok, plus es jeruk, sama kerupuknya lima plastik. Gak ada diskon buat urusan cinta," tembak Aldi komersial.
"Iya, gampang! Yang penting infonya valid!" Rangga tertawa lepas. Beban berat di pundaknya mendadak terasa sedikit terangkat.
Tepat saat itu, pintu UKS terbuka dengan kasar. Sosok Bu Lastri, guru BK yang terkenal galak dengan kacamata yang melorot di hidung, berdiri di ambang pintu sambil memegang buku absen besar.
"Rangga! Aldi! Apa-apaan kalian di sini? Pak Ma'ruf bilang Aldi pingsan, tapi kenapa Ibu dengar ada yang teriak-teriak minta traktir bakso?!" suara melengking Bu Lastri menggema di ruangan medis tersebut.
Aldi dengan kecepatan kilat langsung merebahkan diri kembali ke kasur, memejamkan mata, dan mulai mengeluarkan suara erangan lemah. "Aduh... Bu... baksonya... kuahnya tumpah di otak saya... pusing, Bu..."
Rangga mati-matian menahan tawa sampai perutnya kram melihat respon refleks Aldi yang luar biasa badung. Sementara Bu Lastri hanya bisa geleng-geleng kepala sambil melangkah masuk dengan penggaris yang siap melayang.
Hari itu, di tengah hukuman, candaan, dan kepedihan hati karena kehilangan sang pujaan, Rangga membuat satu janji di dalam hatinya. Dia tidak akan menyerah pada keadaan. Mau sejauh apa pun jaraknya, mau setinggi apa pun tembok kastanya, dia akan mencari jalan untuk menemui Cinta Alisya. Perjuangan Rangga yang sebenarnya, baru saja dimulai dari ruang UKS yang pengap ini.
btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/