NovelToon NovelToon
Kembalikan Anakku, Adinata

Kembalikan Anakku, Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: doubleareya

Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.

Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.

Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.

Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Susu ibu hamil

Nadine mendorong pintu Supermarket untuk ia bisa masuk ke dalam. Ia melangkahkan kakinya menyusuri rak-rak yang tertata rapi untuk mencari susu ibu hamil.

Nadine menganggukkan kepalanya sendiri ketika matanya menangkap jejeran susu ibu hamil dengan berbagai merk.

“Yang bagus untuk trimester 1 yang mana, ya?” Nadine mengambil salah satu merk untuk melihat nutrisi dari produknya.

Nadine mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tasnya. “Mendingan tanya ke Google dulu. Aku takut salah.”

Nadine berbelanja sendirian karena Andin masih tertidur pulas setelah semalam membantu Om Divaz dan Tante Almi membuat pesanan roti. Mereka membuat sekitar 500 bungkus dengan beberapa jenis.

Jadi Nadine hanya berpamitan dengan sang om karena sang tante pergi ke Pasar. Andin juga tidak ingin mengganggu Andin yang masih tertidur. Ia membiarkan Andin tertidur dan nanti akan segar ketika sudah bangun.

“Untuk mengurangi mual trimester pertama, kamu bisa cari susu yang diformulasikan khusus dengan vitamin B6 dan tinggi asam folat, Nad. Vitamin B6 dibutuhkan untuk meredakan mual dan asam folat dibutuhkan untuk pembentukan saraf bayi.”

Nadine menolehkan kepalanya menatap Xavier yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya.

“Aku bisa kasih kamu rekomendasi merk-nya,” ucap Xavier.

“Kamu ngapain disini, Dokter Xavier?”

Xavier tertawa. “Diluar jam kerja tidak usah memakai ‘dokter’, Nad. Kamu tidak lupa ‘kan kalau kita saling mengenal?”

“Tidak.” Nadine kembali memilih susu ibu hamil sesuai dengan ucapan dari Xavier.

“Aku ‘kan dinas di sini, Nad. Jadi jangan terkejut kalau tiba-tiba bertemu denganku.”

Xavier masuk ke dalam Supermarket ini hanya beberapa langkah di belakang Nadine. Dan dibandingkan Xavier memilih membeli kebutuhannya terlebih dahulu, ia lebih memilih untuk mengikuti langkah kaki Nadine.

Nadine menganggukkan kepalanya. “Oh. Silahkan ambil kebutuhanmu, Xav.”

Xavier tersenyum tipis. “Dulu kamu ramah sekali denganku, Nad. Kenapa sekarang seolah tidak ingin beramah tamah denganku lagi?”

“Karena aku tidak ingin berurusan dengan Adinata dan seluruh lingkungannya,” balas Nadine dengan tajam. “Sana pindah.”

Xavier tertawa. Ia memiringkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan tubuh Nadine. “Kan aku sedang tidak bersama dengan Adinata, Nad. Seharusnya kita bisa dekat ‘kan?”

Nadine menatap Xavier dengan tatapan sinis. “Jauhkan tubuhmu, Xavier.”

“Kalian hanya terpisah kota. Aku tetap tidak melupakan fakta bahwa kamu termasuk sahabat Adinata, jadi kamu masih berada di lingkungan yang sama dengan Adinata,” lanjut Nadine.

Xavier menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Ah, aku paham, Nad. Ini hormon ibu hamil ‘kan? Aku santai saja.” Xavier tersenyum lebar.

“Hormon atau tidak, aku tidak ingin berurusan dengan Adinata dan geng-nya.”

“Kayaknya kamu sudah terlambat, Nad,” ucap Xavier.

“Terlambat apa?” Nadine menolehkan kepalanya. Ia sepenuhnya bertatapan dengan Xavier.

“Aku sudah meminta direksi atas rumah sakit untuk memilih diriku sebagai dokter kandunganmu.”

Nadine menganggukkan kepalanya. “Aku tidak lupa dengan syarat yang kamu ajukan kemarin, Xavier.”

Nadine kembali membaca nutrisi yang ada pada kardus yang membungkus susu ibu hamil.

“Sebenarnya tidak mudah untuk membawa nama orang untuk aku tangani, Nad. Tapi berhubung rumah sakit tersebut milik pamanku, aku jadi bisa mengurusnya dengan mudah.” Xavier menjelaskan tanpa Nadine minta.

“Ya, terima kasih.”

“Kebetulan juga, pamanku sangat mengenal Adinata, Nad.”

Nadine menghentikan kegiatan membacanya. Ia tidak menolehkan kepalanya, tapi ia mendengarkan setiap kata yang Xavier ucapkan.

“Terus maksud kamu?” tanya Nadine.

“Tidak ada maksud tertentu.” Xavier menghela napasnya. “Pamanku bisa saja tidak berada di jalan yang sama denganmu.”

“Kamu sudah membantuku.” Nadine menatap Xavier. “Jadi Xavier, kamu juga harus berbicara dengan pamanmu itu untuk tidak usah melaporkan aku kepada Adinata. Karena aku dan Adinata sudah bercerai!”

“Aku hanya membantumu untuk tidak memberitahu dia kalau istrinya ada disini. Itu saja. Urusan pamanku yang memberitahu Adinata, bukan menjadi urusanku, Nadine.” Xavier memasukkan tangannya ke saku celananya.

“Kamu menyebalkan sekali, Xavier.”

“Aku hanya berkata secara realistis.”

“Lalu tujuanmu ingin menjadi dokter kandunganku untuk apa?”

“Aku hanya ingin tahu perkembangan anakmu.”

Nadine tertawa kecil. “Dan setelah tahu, kamu akan bilang ke Adinata ‘kan?”

“Sudah ‘ku bilang, aku selalu menetapi ucapanku, Nadine. Kamu ini susah sekali mengertinya,” kesal Xavier.

“Hei, Xavier,” panggil Nadine. “Kamu kira, ucapan Adinata berbeda dengan ucapanmu? Sama saja. Dia menyakinkanku dan akhirnya, aku sendiri tanpa cinta dari dia. Jadi mending kamu tutup mulutmu.”

“Bagaimana cara Adinata merayumu, Nad?” Xavier mendekatkan telinganya ke Nadine.

Jari telunjuk Nadine memegang tubuh Xavier. “Menjauhlah.”

“Aku ingin mendengarnya, Nad. Adinata ‘kan tidak pernah bercerita denganku tentang caranya mendekatimu.”

“Aku tidak peduli.” Nadine mengangkat bahunya. “Pergilah, Xav. Supermarket ini sangatlah luas.”

“Kamu disini ingin membeli kebutuhanmu ‘kan? Sana pergi.”

“Tadinya memang seperti itu, tapi setelah melihatmu, aku mengundurkan niat awalku. Aku bisa membelinya nanti saja,” ucap Xavier. “Aku antar kamu pulang, ya, Nad.”

“Tidak usah. Aku berangkat sendiri, pulang juga sendiri. Tidak usah merepotkan dirimu, Xav.”

Xavier mengambil 1 merk yang berada di bagian atas rak di depannya. “Kamu bisa mencoba merk ini, Nad. Varian rasa vanila, kesukaanmu ‘kan?”

“Ambil, Nad. Aku merekomendasikan ini sebagai seorang dokter kandungan, bukan sebagai sahabat dari suamimu.”

“Mantan suami.” Nadine mengambilnya dari tangan Xavier. “Terima kasih, Dokter Xavier.”

“Sama-sama. Jaga kesehatanmu dan bayimu, ya, Nad.”

1
doubleareya
Halo, teman-teman 👋🏻👋🏻 Terima kasih sudah membaca cerita Adinata - Nadine yaaa, aku mau minta tolong kepada teman-teman untuk memberi dukungan cerita ini dengan suka dan komentar yaaa 🤍 🤍 Aku sangat terbuka dengan saran dan kritik yang baik untuk cerita ini yaa 😙💛
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!