“Kamu bukan mandul, Jani... Dia aja yang nggak ngerti caranya bikin anak.”
Pandu berbisik di telinga Anjani—tepat setelah tubuhnya gemetar dalam pelukan pria yang benar-benar tahu letak gairah dan luka.
Anjani duakan dan dicerai di hari anniversary pernikahan. Ditampar kenyataan pahit: suaminya berselingkuh dengan mantan dan mertuanya menyalahkan rahimnya yang dianggap “kosong”.
Padahal yang kosong... bukan rahimnya, tapi hati suaminya.
Datanglah Pandu—teman suaminya, seorang dokter kandungan, dan lelaki yang diam-diam sudah jatuh cinta sejak lima tahun lalu.
Dan malam itu, di bawah cahaya temaram dan bisikan lembut, Pandu membuktikan semuanya,
Bahwa tubuh Anjani subur.
Bahwa luka Anjani bisa sembuh.
Dan bahwa cinta yang dalam bisa mengisi tempat yang selama ini tak pernah disentuh dengan benar.
Satu kali disentuh Pandu... dua garis merah muncul. Dan hidup Anjani tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara85, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HASILNYA MANTAN MENYESAL DAN ISTRI MINTA PISAH!
“Siapa yang telepon polisi?” tanya Fauzan.
“Kubu sana kayaknya,” ucap Rangga, sembari melirik ke arah seberang.
“Selamat siang... kami dari kepolisian, sudah jelas dari seragam kami. Jadi... kami datang karena panggilan. Ada yang berkelahi? Dan cedera?” ucap salah satu petugas kepolisian, nada suaranya tegas namun tetap profesional.
“Saya, Pak,” ucap Pandu sambil mengangkat tangannya ke udara dan melangkah mendekati petugas.
“Baik... yang satu lagi...?”
“Suami saya, Pak. Dia lagi diobati. Gara-gara dia, suami saya cedera,” ucap Anggi, sambil menunjuk Pandu tanpa ragu.
“Baiklah. Kami di sini hanya untuk memberikan peringatan dan sanksi ringan kepada keduanya. Diharapkan kerja sama yang baik, karena berkelahi di tempat umum hingga mencederai salah satunya bukan hal yang bisa kami abaikan begitu saja,” jelas petugas dengan nada netral namun menuntut kepatuhan.
“Pak, damai aja... lagian ini masalah ringan. Kalau mau dibikin panjang? Saudara Bastian yang lagi diobatin itu pelaku pertama, Pak. Kami di sini saksinya,” ucap Richard, berusaha meredakan suasana.
“Iya, Pak... ginian jangan diseriusin. Ini sih lebih ke permasalahan masa lalu. Saudara Bastian gagal move on, sakit hati lihat mantan istrinya udah nikah sama Pandu,” ucap Fauzan, menambahkan dengan nada santai namun menyindir.
Dengan menggunakan kursi roda dan lengan berbalut perban, Bastian akhirnya datang. Tatapannya menyapu ruangan, lalu menunduk saat petugas menunjuk meja tempat pernyataan damai harus ditandatangani. Keduanya pun dipertemukan kembali dan diminta berdamai secara resmi, hitam di atas putih dan bermaterai.
“Jika kalian mengulangi lagi, dan ada laporan serta saksi? Maka kami jebloskan kalian ke sel!” tegas salah seorang petugas kepolisian, membuat suasana seketika hening.
“Sekarang tanda tangan!” tegur salah seorang polwan dengan nada yang tak terbantahkan.
Keduanya menandatangani surat pernyataan lalu berjabat tangan meskipun sorot mata mereka masih menyimpan bara yang belum sepenuhnya padam.
Kemudian, mereka diminta membayar denda sebagai bukti telah membuat kekacauan di tempat umum sebuah harga kecil untuk ego yang nyaris merusak semuanya.
•••
“Mas... jadi dia mantan istri kamu?” tanya Anggi, saat mereka berada di dalam mobil yang dikendarai oleh sopir pribadinya. Suaranya pelan, tapi penuh tekanan.
“Iya,” ucap Bastian, sambil menunduk. Pandangannya jatuh ke pangkuan, seolah tak berani menatap Anggi.
“Jadi itu suami dia yang sekarang?”
“Em...” gumamnya, enggan menjawab, namun tak bisa berbohong.
“Suami dia yang periksa kesuburan aku, Mas... suami dia...” ucap Anggi lirih, suaranya mulai bergetar. Ia mengingat pertemuannya dengan Anjani dan Pandu beberapa bulan lalu, saat dirinya masih berharap bisa segera punya momongan.
“Jadi dia?”
“Iya, Mas. Aku udah ketemu sama mantan kamu. Kita duduk sebelahan dan dia periksa kehamilan... sedangkan aku sampai sekarang belum juga dikasih anak!” Suaranya meninggi, dan matanya mulai memerah.
“Maaf, Sayang...” Bastian berbisik, hampir tak terdengar. Ada sesal yang menekan dadanya.
“Ya terus kapan?! Kamu juga nolak terus waktu diperiksa... kamu kenapa sih, Mas?!”
“Aku... aku mandul,” ucap Bastian akhirnya, lirih tapi jelas. Seketika suasana di dalam mobil berubah sunyi. Sunyi yang mengguncang.
“What?! Mas... kamu nggak mabuk, kan?”
“Aku sadar. Aku mandul. Aku tahu waktu cek kesehatan, dan itu juga iseng waktu di Singapura sama teman bisnis aku. Aku malu... aku nggak tahu harus gimana lagi saat itu.” Suaranya nyaris pecah. Hatinya penuh rasa bersalah.
Anggi membuang muka ke jendela. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Tangisnya tak meledak, tapi menusuk.
“Maaf, Sayang... aku tahu kamu kecewa,” ucap Bastian lagi, dengan suara pelan dan lirih, seperti sedang berbicara pada bayangan dirinya sendiri.
“Kamu juga masih hubungi mantan istri kamu?” Suara Anggi serak. Ia tidak ingin tahu jawabannya, tapi hatinya butuh kejelasan.
“Iya. Jujur... aku pernah hubungi dia, tapi nggak ada respon. Aku cuma mau temenan aja. Aku mau semuanya baik-baik aja. Tapi gagal.” Bastian mengakui segalanya. Ia tidak ingin lagi hidup dalam kebohongan.
“Aku benci sama kamu, Mas!”
“Aku tahu kamu pasti benci. Aku minta maaf. Aku susah ngelupain dia.” Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca.
“Kamu nyakitin aku!”
“Maaf, Anggi... aku cinta sama kamu. Tapi aku nggak bisa ngelupain dia... aku jujur...” Ia tahu, kejujuran itu menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi jika ia terus membohongi Anggi.
Anggi menangis. Hancur. Luka itu terlalu dalam, dan sekarang ia harus menerima kenyataan yang lebih pahit dari apa pun yang pernah ia duga.
“Aku nggak mau lagi sama kamu. Buat apa punya suami yang ternyata masih nyimpen perasaan sama mantannya!”
“Sayang... aku minta maaf... aku nggak mau kita pisah...” Suaranya hampir putus asa.
“Aku mau pisah! Aku sakit hati, Mas! Kamu pikirin perasaan aku nggak?!”
“Anggi, kasih aku waktu buat aku ngelupain dia... aku janji. Aku lebih baik jujur begini, kan?”
“Tapi jujur kamu itu nyakitin! Aku nggak terima, Mas!”
“Anggi... please, kasih aku kesempatan...”
“Aku nggak bisa mikir, Mas...” Air matanya terus mengalir. Tak bisa dibendung lagi.
“Anggi... aku lagi butuh kamu... aku butuh orang di sisi aku.”
Anggi terdiam sejenak. Di antara tangis dan luka, ia masih menimbang apakah layak bertahan atau memilih pergi.
“Oke. Tapi aku minta kamu lupain dia. Lupain! Aku nggak mau tahu!”
“Iya, aku coba... aku coba, aku janji,” ucap Bastian penuh kesungguhan.
Ia menarik napas panjang. Pikirannya melayang jauh ke lima tahun silam. Awal mula ia mengenal Anjani. Jatuh cinta, menjalin hubungan, lalu menikah. Semuanya terasa indah… sampai ia sendiri menghancurkannya dengan perselingkuhan.
Kini semua sudah terlambat.
“Kenapa aku dulu tega, sejahat itu sama kamu...” lirihnya dalam hati.
Penyesalan itu menghantam lebih keras dari apa pun. Nasi sudah menjadi bubur. Tapi jauh di dalam hatinya, Bastian masih menyimpan harapan... bahwa suatu hari nanti, Anjani akan memaafkannya meski ia tahu, itu mungkin hanya ilusi dari rasa bersalah yang tak kunjung pergi.
Tiba di apartemen, Bastian terduduk diam di balkon. Angin malam menyapa pelan, namun tak bisa menyejukkan dada yang terbakar sesak. Ia hanya bisa memandang kosong ke arah jalanan dari atas kursi rodanya. Badannya mungkin di sana, tapi jiwanya masih tertinggal di tempat lain—bersama nama yang terus terukir dalam benaknya: Anjani.
Tak disadarinya, setetes air mata meluncur perlahan di pipinya. Perih itu terlalu nyata untuk disangkal. Hatinya porak-poranda, hancur berkeping-keping saat membayangkan Pandu kini yang berada di sisi Anjani. Bastian terjebak dalam galau yang tak berujung, seakan dunia menertawakan kesia-siaannya mencintai seseorang yang tak lagi ingin ia temui.
Sementara itu, di ruang tamu, Anggi hanya bisa duduk terpaku di atas sofa. Tatapannya kosong, wajahnya murung. Ia bukan wanita tanpa cinta—justru sebaliknya. Tapi ia pun tahu, suaminya tak pernah benar-benar melihatnya. Bukan hanya karena Bastian telah divonis mandul, tapi karena hatinya tak pernah benar-benar diberikan pada Anggi.
Bastian memandangi layar ponselnya. Jemarinya gemetar saat membuka foto Anjani yang masih ia simpan diam-diam, menyembunyikannya dari Anggi seperti menyembunyikan dosa. Ia mencoba menghubungi Anjani—setidaknya meminta maaf, mengutarakan rindu—namun hanya suara mesin penjawab yang menyambutnya. Nomornya telah diblokir. Sepertinya, Anjani benar-benar ingin menghapusnya dari hidup.
•••
Satu bulan berlalu.
“Aku mau pisah,” ucap Anggi, tegas tapi suaranya bergetar.
Bastian terdiam. Seolah dunia kembali mencabut sandaran terakhirnya.
“Kamu mau kita pisah?” tanyanya lirih, nyaris seperti bisikan luka.
Anggi mengangguk, meski air mata telah membasahi pipinya. “Aku nggak bisa terusin lagi pernikahan ini, Mas. Aku mau bahagia seutuhnya. Buat apa kita nikah? Raga kamu di sini, tapi hati sama pikiran kamu di sana!”
“Anggi, aku mohon… kamu pikirin dulu. Jangan ambil keputusan karena emosi,” kata Bastian, suaranya nyaris putus.
“Keputusan aku udah matang. Satu bulan aku mikirin ini. Semua udah aku pertimbangkan, Mas. Aku nggak bisa hidup sama orang yang gagal move on. Aku pergi. Aku nggak mau nerusin pernikahan kita.”
“Anggi… tolonglah. Bertahan sebentar aja. Aku udah usaha buat ngelupain dia. Kasih aku kesempatan…”
“Percuma, Mas…” Anggi tersenyum getir. “Yang aku tahu, semakin kita memaksa melupakan seseorang yang pernah ngisi hidup kita, semakin kita rindu. Dan semakin kebayang… sampai mati… sama kenangan itu, Mas.”
Anggi pun pergi. Hanya satu koper di tangannya, tapi berat hatinya jauh lebih besar dari isi koper itu. Bastian tak sanggup menahan langkahnya. Tangis dalam diam mengantar kepergian wanita yang tak pernah sepenuhnya ia miliki.
Sejak saat itu, Bastian tak lagi punya arah. Ia larut dalam kepedihan yang tak bisa ia kendalikan. Malam-malamnya berakhir di bar, ditemani gelas demi gelas alkohol, berusaha menenggelamkan rasa yang justru makin mencuat ke permukaan. Setiap perempuan yang melintas terlihat seperti Anjani di matanya. Ilusi itu membuatnya makin tenggelam.
“Bastian… lu parah!” kata Damian, gusar melihat sahabatnya yang makin rusak.
“Sadar, Bas… hadapi kenyataan,” Erick menimpali, mencoba menyadarkannya.
“Jani… Jani… aku kangen Jani…” gumam Bastian. Tubuhnya rebah di sofa bar, wajahnya memerah, matanya sembab. Senyumnya tipis, seperti sedang memeluk kenangan yang mengiris dada.
“Kayaknya dia harus ke psikiater, deh?” ujar Frank pelan.
“Bisa gila dia. Gue setuju. Siapa tahu bisa normal lagi,” timpal Damian khawatir.
“Gue nggak gila…” ucap Bastian dengan suara serak. “Gue masih sadar, kok… gue butuh Jani. Dia ninggalin gue… dia tega sama gue…”
Ia meneguk alkohol lagi, seolah minuman itu bisa menghapus luka yang tak pernah sembuh. Tapi tak ada minuman yang bisa menghapus penyesalan.
“Anterin pulang aja nih orang. Bisa gawat kalau dia nyetir sendiri,” kata Erick, yang mulai kehilangan kesabaran sekaligus iba.
“Bener juga,” jawab Damian, lalu menatap Bastian penuh iba.
Mereka pun mengantar Bastian pulang malam itu, memasukkannya ke dalam kamar apartemen yang sunyi, sunyi seperti hatinya.
Dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Bastian terus memanggil nama yang sama.
“Anjani…”
dah kita hidup damai sejahtera aja lah
makanya gaes,kalau mau ngapa ngapain bawa kaca dulu dirumah yaaa
jadi pastiin orang ga bisa balikin omongan kita🤣🤣
mudah mudahan beneran tobat yaa
bukan kumat 🤣🤣
jangan dalem dalem liatnya,yg ini mau juga lagi. repot dah😔🤭🤣