Claire, kepala pelayan mengalami kejadian tragis yang menimpa dirinya. Ia hamil.
Kehamilannya yang mengejutkan membuatnya sangat frustasi.
Kehadiran dua majikan pria yang sama-sama menginginkannya, membuat Claire tambah bingung dengan perasaannya Bisakah Claire melewati semua drama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black in Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Fabian Dashiell duduk dengan tenang di atas ranjangnya, punggung- nya bersandar pada bantal-bantal yang disusun tinggi. Seharusnya ia keluar dari rumah itu sekali-sekali
untuk menghirup udara bebas. Semua orang di rumah memiliki ide seperti itu, Tapi
Fabian selalu menolak. Menurutnya tidak ada satu hal-pun yang paling diinginkan oleh seseorang yang sakit
sepertinya selain berbaring di kamarnya yang nyaman. Claire ataupun pelayan lain tidak ada yang mampu membantah. "Siapa yang ingin kau pertemukan denganku?" Suara berat Fabian terdengar serak. Mungkin untuk hari ini, kata-kata itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.
Memang masih terlalu pagi, tapi meskipun sedang sakit Fabian selalu bangun pagi.
"Tunggu sebentar, Tuan!" Claire berbisik lalu berjalan ke dekat pintu dan meminta seseorang masuk.
Janette datang sambil menggendong Cherry yang dibungkus selimut berwarna merah jambu.
Ia adalah bayi yang hangat. Dengan sedikit usaha, Claire mengambil bayinya dari
dalam gendongan Janette lalu meletakkannya di pangkuan Fabian. Melihat Cherry,
Fabian benar- benar terhibur. Satu lagi bayi hadir di dalam rumahnya yang sepi.
"Siapa namanya?" Suara serak Fabian terdengar lagi.
Claire perlahan-lahan berusaha duduk di tepi ranjang untuk bisa lebih dekat dengan Fabian. Ia menyentuh kepalanya sejenak lalu berujar lembut. "Cherry."
"Bayi perempuan?" "Ya, dia cantik kan?"
"Cantik sekali. Sepertimu."
Claire tersenyum. Hingga kini Fabian belum bertanya tentang asal- usul Cherry. Anak siapa dia dan siapa orang tuanya. Mungkin Fabian sudah diberi tau, atau mungkin Fabian lebih suka menganggap kalau bayi itu turun dari surga untuknya.
"Hai, Cherry. Lihat hidungmu. Kau mirip sekali dengan ibumu.
Semoga kau menyenangkan sepertinya setelah besar nanti." Fabian tersenyum
lebar, ia memandangi Cherry lama dan bergumam tidak tentu tentang
harapan-harapannya. "Siapa ayahnya?"
Claire menelan ludah, akhirnya Fabian menanyakannya. Ia menoleh kepada Janette dan
meminta gadis itu keluar. Janette menurut setelah mengatakan kalau dirinya akan menunggu di dekat tangga saja. Dengan sungkan Claire memandang Fabian lagi. "Maaf, tuan. Bisakah kau
mengatakannya lagi?"
"Bayimu, siapa Ayahnya?"
"Maksudmu? Tidakkah ada yang memberi tahu padamu kalau Cherry adalah putri Sara dan
Hubert?"
"Aku sudah lama hidup di dunia ini. Aku tau kalau ini bukan anak mereka. Bayimu ini
hanya memiliki kemiripan denganmu. Dia punya hidung yang sama, alisnya, kau
lihat? Semua orang boleh tertipu. Tapi aku tidak. Aku ikut membesarkanmu dan mustahil bagiku untuk tidak bisa membedakan mirip siapa bayi ini."
"Benarkah? Dan apakah kau akan mengusirku dan memisahkanku dari anakku seperti yang
pernah kau lakukan pada Olive? Berapa lama aku harus mengasingkan diri sebelum kembali ke rumah ini lagi. Tuan, Bolehkah aku menunda hukumanku? Cherry masih menyusu dan Janette masih sangat muda untuk menjadi ibu seorang diri."
"Kenapa kau mengatakan itu? Kau sangat yakin kalau aku akan menghukummu?"
"Hanya itu yang pantas kudapatkan!"
"Aku tidak bisa melakukan itu padamu. Aku bisa bersikap kejam kepada siapa saja,
tapi bukan padamu." Fabian Dashiell bersungut- sungut lalu kembali menatap
Cherry. Meskipun wajahnya sudah kembali ceria, tapi hati Fabian sangat
bersedih. Ia tau kenyataannya. Tau bahwa Claire adalah adiknya. Tapi ia tidak
mungkin mengaku dan merusak nama keluarganya.
Bukankah tidak penting sebagai siapa Claire dibesarkan? Yang terpenting
adalah seberapa besar kasih sayang yang dia dapatkan. Fabian selalu berusaha
bersikap adil antara Claire dan kedua putri- nya, Lawrence dan mendiang
lavender. Ia bersyukur kalau kedua putrinya bisa bersikap sangat baik kepada
Claire, saudara yang mungkin tidak pernah bisa diakuinya seumur hidupnya. Bulir
air matanya tiba-tiba saja jatuh. Ia sudah sangat tua, entah kapan akan
kehilangan nyawanya. Tapi Fabian memiliki keponakan baru yang berada dalam gendongannya.
Ia ingin Cherry segera dewasa dan memanggilnya dengan sebutan paman. Akankah?
"Ada apa denganmu, Tuan?"
"Aku hanya, ummm..." Fabian kikuk. Ia tidak tau harus memberi alasan apa.
Dengan berat hati ia mengangkat wajahnya dan menatap Claire yang berada di
hadapannya. "Siapa ayahnya, kau tidak ingin memberi tau padaku?"
Claire menggeleng. "Dia tidak punya ayah."
"Lalu
bagaimana bila dia bertanya suatu saat nanti. Apa yang akan kau katakan padanya?"
"Akankah aku mengatakannya. Sara dan Hubert ingin mengadopsinya jika saja aku tidak
membantahnya. Cherry putriku, tapi dia akan lebih baik bila hidup sebagai putri
mereka. Tapi aku juga tidak ingin mendengar Cherry memanggil orang lain dengan
sebutan ibu. Aku ingin bersamanya selamanya, melihatnya dewasa. Dan haruskah Cherry
menerima kalau dia terlahir tanpa seorang ayah?"
"Kalau begitu carikan ayah untuknya. Kau bisa merasa lega mem- besarkan Cherry jika
memiliki seorang suami. Carilah seorang laki- laki yang bisa menyayangi anakmu.
Aku juga tidak ingin melihatmu menderita karena berpisah dari anakmu!"
----------------------------------
author... udah Up 2 chapter☺☺☺