Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.
Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Masih panas?"
"Masih, Nyonya. Gak turun sama sekali."
"Apa kata dokter?"
"Mungkin ... Nona kecil rindu sama nyonya Elena."
"Dokter bilang begitu?" Suara Elea terdengar lebih tinggi saat bertanya demikian. Bahkan wanita yang hanya berdiri di tengah pintu itu terlihat bersedekap tangan. Tatapannya tajam memindai wajah Indah yang duduk di samping Arabella di atas pembaringan. Dari itu semua jelas terlihat kalau Elea tidak senang pada apa yang diucapkan oleh Indah barusan.
"Dokter Hangga tidak bilang apa-apa. Tapi ..."
"Jadi itu hanya persepsimu sendiri?" Pungkas Elea memangkas ucapan Indah. "Gak usah sok tau, ya," ucapnya lagi dengan nada tajam.
"Saya bukan sok tau, Nyonya. Tapi memang sudah beberapa kali non Abel bertanya tentang mamanya," kata Indah menjelaskan.
"Aku mamanya," tandas Elea.
Indah menyimpan dengkus dalam dada. Kalau memang mamanya, kenapa anaknya sakit kayak gini tidak pernah digendong, atau minimal dipangku. Bahkan menjenguk saja hanya sampai di tengah pintu. Batin Indah dalam hati, seraya melirik dengan ujung mata pada Elea yang masih berdiri di posisi semula.
Apa yang terjadi dengan Arabela?
Anak itu panas setelah tiga hari kepergian Elena. Pada Indah ia sering bertanya dan di mana mama, bahkan dalam tidurnya juga sering mengigau memanggil mama. Dan mama yang dimaksud adalah Elena. Indah sungguh trenyuh dengan itu semua, tapi juga tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang suhu panas Arabella kian tinggi, kendati sudah dua kali mendapat pemeriksaan dari dokter Hangga.
"Bagaimana jika panas badan nona kecil tidak turun juga, Nyonya?" tanya Indah dengan raut khawatir.
"Kita bawa ke rumah sakit," sahut Elea.
"Tapi, Nyonya..."
"Tapi apa?"
"Nona kecil sepertinya merindukan nyonya Elena." Indah akhirnya memberanikan diri mengatakan apa yang terbersit dalam hati tentang Arabella.
"Omong kosong apa ini, Indah?" bentak Elea. "Anakku tidak membutuhkan orang lain. Kemasi pakaian Arabella. Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang!" titahnya cepat dan segera berbalik badan. Namun, baru dua langkah, ia berhenti dan kembali menatap Indah. "Satu hal lagi, buat Arabella lupa pada ibu gadungannya itu. Karena mereka tak akan pernah bertemu lagi selamanya."
"Bagaimana caranya, Nyonya. Itu kan masalah rasa. Rasa yang dimiliki nona lecil untuk nyonya Elena?" heran Indah dan hampir tak percaya mendapat perintah demikian.
"Aku tidak mau tau bagaimana caranya. Yang penting harus bisa, kau 'kan pengasuhnya Arabella, kau pasti paham bagaimana cara mengatasinya," sentak Elea dengan tatapan murka.
Wanita cantik itu segera berlalu, meninggalkan Indah yang hanya bisa mengelus dada.
"Apa yang terjadi dengan nyonya Elena? Mengapa nyonya Elea bilang kalau non Abel tak akan pernah bisa bertemu dengan nyonya Elena selamanya?" monolog Indah sambil mengusap-ngusap kening Arabella yang panas. "Apa jangan-jangan, nyonya Elena sudah di ... bunuh? Ah tidak." Indah tersentak sendiri dan segera ia menghubungi Ranti.
Lalu bagaimana dengan Elena setelah selama tiga hari ini berada dalam penjara.
Sendiri di balik jeruji besi yang hanya memiliki ukuran dua kali dua setengah meter. Tak ada apa-apa dalam ruangan itu, hanya seutas tikar lusuh yang sudah terdapat robek di sana sini. Di atas tikar itu, Elena duduk diam merenungi semuanya. Ia sudah lelah meminta kesempatan untuk bicara, guna menjelaskan semuanya. Karena kesempatan itu tidak pernah diberikan.
Petugas hanya menjawab 'iya' atas permintaan Elena, namun hanya sebatas itu saja. Tak ada lagi apa-apa. Ia pun sudah sering meminta tolong untuk meminjam ponsel guna menghubungi Ranti atau Indah, tapi keinginan ini juga tak pernah diluruskan. Juga tak sekalipun ia diperiksa, ditanyai terlebih diinterogasi terkait masalah yang menyebabkannya digiring ke bui. Elena dibiarkan saja, seperti lukisan usang yang sama sekali tak menarik untuk diperhatikan.
Segala hal tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa ada tangan besar nan berkuasa yang telah bermain di balik semua peristiwa. Membuat wanita itu kini seakan terbengkalai di penjara tanpa ada yang mengurus dugaan kasus yang menimpa.
Hal ini semakin dikuatkan dengan titah Elea tiga hari yang lalu, saat menyuruh Elena keluar dari rumah Tanujaya, dengan tanpa membawa apa pun. Tidak dengan sehelai baju ganti, sepeser uang, atau pun alat komunikasi. Elena benar-benar seorang diri dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tidak salah jika nanti Elea sesumbar kalau rivalnya itu akan membusuk di penjara.
Hari yang keempat.
Elena masih duduk di pojok ruang dengan wajah pucat dan tanpa semangat. Ia tak berniat lagi untuk melakukan upaya bisa lepas dengan cara membela diri, karena suaranya di sini hanya dianggap nyanyian jangkrik yang tak menarik. Ia juga sudah puas menyesali diri atas kesalahannya yang berani menggantikan posisi ibu dan istri orang. Kini ia hanya bisa diam. Kini ia berada di ambang keputusasaan. Namun, kendati demikian, ia masih menyimpan secercah harapan, akan datangnya setitik kejaiban dari Yang Punya Kuasa di atas sekalian alam.
Semoga.
Kendati sangat kecil kemungkinannya.
"Ibu, Elena." Pada panggilan yang ketiga Elena terdongak. Ternyata suara petugas yang memanggilnya itu nyata. Bukan sekedar halusinasi saja, seperti yang ia duga.
Akhirnya, ada juga yang mengajaknya bicara. Setelah sekian lama.
"Iya, Pak." Elena bangkit mendekati petugas yang berdiri di depan pintu jeruji.
"Ada yang mengunjungi, Ibu. Mari." Petugas itu cukup ramah juga dengan tutur kata dan bahasa tubuhnya. Setelah membuka gembok pintu ia menyilakan Elena keluar dengan isyarat tangan.
Dug dug dug.
Itu bukan suara bedug, apalagi bunyi drum. Itu adalah suara debar jantung Elena yang merasa tegang dan bertanya-tanya kiranya siapa yang datang mengunjunginya. Siapa yang sudah tahu kalau ia ada dalam penjara. Bukankah ia tidak punya siapa-siapa, selain ibunya yang sedang sakit, yang pasti tidak tahu tentang keberadaannya.
Lalu, siapa?
"Sejak kapan suka pakai sabu?"
Pertanyaan itu, terdengar bukan sebentuk perhatian, keingintahuan, apalagi kepedulian. Tapi, lebih mendekati sebentuk cibiran, atau sorak kemenangan. Apalagi ketika diucapkan dengan senyum mencebik dan tatapan yang begitu meremehkan.
Elena terdiam. Pertanyaan itu baginya tak patut untuk mendapatkan jawaban. Karena ia bukan pemakai. Ia hanya korban jebakan. Apalagi yang bertanya, adalah otak di balik jebakan itu sendiri.
Elea.
Elea yang datang mengunjungi Elena di penjara. Wanita cantik, yang memilih warna mahogani sebagai warna rambutnya itu, memilih tetap berdiri saja. Ia enggan duduk di depan Elena. Padahal sudah tersedia kursi di sana.
"Terima kasih sudah datang," kata Elena. Ia memilih berbicara lain, setelah sempat dilanda kecewa, karena ternyata yang datang adalah bukan yang diharapkan.
"Kau sangat mengharapkan kedatanganku, sepertinya," tukas Elea.
"Iya, karena kedatanganmu, dan ucapanmu baru saja, itu sudah sangat menguatkan kalau kau dalang dari semuanya," ujar Elena dengan suara dalam.
"Dan kau merasa jadi korban?" Elea mencibir dan tertawa sumbang. "Tidak usah merasa jadi tokoh protagonis yang disakiti. Di sini, kau adalah antagonisnya. Dan aku hanya sedang memberikan ganjaran atas kejahatanmu."
Elena terdiam. Bagaimana pun semua sudah tahu kalau ia memang telah melakukan sebuah kesalahan besar. Berperan sebagai istri yang tertukar, jelas tidak akan dimaafkan.
Terlihat kini Elea mendekat dan sedikit membungkukkan badan. "Kuat ya, tabahlah menghadapi semuanya. Karena ini belum seberapa," bisik wanita itu pelan di telinga Elena.
Elena membuang pandangan ke lain arah.
Elea kembali berdiri tegak.
"Aku kesini hanya untuk memastikan kalau kau masih kuat, untuk pembalasanku selanjutnya."
Wanita itu lalu melihat pada jam tangan mewah di pergelangan tangan mulusnya.
"Aku pergi dulu, Elena. Jika ada waktu aku akan kembali mengunjungimu," ucapnya dan segera berlalu. Elena tak menunggu waktu lama, ia segera bangkit dan melangkah ke ruangan dalam untuk kembali ke dalam jeruji besi, tempatnya dikurung selama ini.
Perugas juga sudah kembali membukakan pintu untuknya. Namun,
"Tahan dulu, Bu Elena. Ada yang datang lagi untuk bertemu, Anda." Petugas yang lain memberitahukan hal tersebut.
Elena segera berbalik badan dan melangkah tegas kembali ke ruang pertemuan. Ia sudah menyangka siapa yang kembali datang. Dan begitu dilihatnya seseorang duduk membelakngi, Elena segera berkata,
"Apa ada kalimat yang tertinggal, Nyonya Elea, apa kalimatmu barusan tak cukup membuatmu, puas?"
Orang yang duduk membelakanginya itu segera berbalik badan dan menatap heran.
"Elena."
"Edward?!"
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
semangat ya...