NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Aurora yang mendengar percakapan tersebut menelan ludah dengan susah payah. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia berusaha menahannya.

"Kakak..." suaranya bergetar. "Sebenarnya... apa yang terjadi?"

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan lirih.

"Jangan-jangan... keluarga Kak Brema benar-benar pergi meninggalkan semuanya?"

Pertanyaan itu menggantung di udara tanpa ada seorang pun yang mampu segera memberikan jawaban. Yang terdengar hanyalah desas-desus para tamu yang mulai bertanya-tanya, sementara Aurora hanya bisa duduk diam, berusaha menguatkan dirinya di tengah ketidakpastian yang semakin menyesakkan.

Adrian menatap adiknya dengan hati yang ikut terasa perih. Ia mengusap lembut punggung tangan Aurora yang dingin dan sedikit berkeringat, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya juga mulai hilang dari dirinya.

"Tenanglah, Aurora," ucap Adrian dengan suara pelan. "Kalau pernikahan ini memang harus batal, itu bukan akhir dari segalanya. Apa pun yang terjadi, kau akan selalu menjadi adik yang paling Kakak banggakan."

Aurora hanya mengangguk pelan. Dadanya masih terasa sesak, tetapi kata-kata kakaknya sedikit menguatkan langkahnya untuk tetap bertahan.

Jarum jam terus bergerak.

Kini waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang.

Namun, keberadaan Brema masih menjadi tanda tanya. Tak satu pun kabar berhasil didapatkan, seolah pria itu menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Melihat keadaan yang semakin tidak memungkinkan, Adrian menarik napas panjang. Dengan wajah penuh kekecewaan, ia melangkah ke depan para tamu. Mikrofon di tangannya terasa begitu berat.

"Hadirin sekalian," ucapnya dengan suara tenang meski terselip kepedihan. "Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk hadir pada hari ini. Saya sungguh menghargai perhatian dan doa yang telah diberikan."

Ia berhenti sejenak, menundukkan kepala sebelum melanjutkan.

"Namun, karena calon mempelai pria hingga saat ini belum juga datang dan keberadaannya belum diketahui, dengan berat hati saya harus menyampaikan permohonan maaf. Sepertinya prosesi pernikahan ini terpaksa—"

"Tunggu!"

Sebuah suara berat memotong ucapannya.

Suara itu menggema memenuhi ruangan yang seketika berubah sunyi. Percakapan para tamu terhenti, dan puluhan pasang mata serempak menoleh ke arah asal suara.

Aurora membeku di tempatnya.

Begitu pula Adrian.

Keduanya menatap ke arah pintu masuk dengan napas tertahan, menunggu sosok yang baru saja memecah keheningan itu menampakkan diri.

Seluruh perhatian tamu langsung tertuju pada sosok pria bertubuh tegap yang baru saja melangkah memasuki aula.

Kael datang tanpa undangan.

Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang warnanya begitu serasi dengan gaun pengantin putih yang dikenakan Aurora. Tak seorang pun mengetahui dari mana ia memperoleh pakaian itu. Namun, bagi Kael, mendapatkan apa yang diinginkannya bukanlah perkara yang sulit. Hampir tidak ada tempat yang tak mampu ia masuki jika memang sudah bertekad.

Begitu melihat sosok itu, jantung Aurora seolah berhenti berdetak sesaat.

"Kenapa dia datang ke sini?" batinnya gelisah.

"Apa dia masih mau menghancurkanku di depan semua orang?"

Namun, setelah semua yang telah terjadi, rasa malu bukan lagi hal yang paling ia takutkan. Jika Kael memang berniat mempermalukannya sekali lagi, ia merasa dirinya sudah terlalu lelah untuk memedulikannya.

Dengan langkah tenang dan penuh wibawa, Kael menghampiri Adrian. Tatapannya lurus, tanpa sedikit pun keraguan.

"Aku datang untuk menikahi adikmu, Adrian."

Kalimat itu diucapkan datar, tetapi cukup lantang hingga seluruh ruangan mendengarnya.

Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Kael melanjutkan ucapannya.

"Aku akan menggantikan Brema sebagai mempelai pria."

Suasana mendadak hening.

Adrian hanya mampu menatap pria di hadapannya dengan wajah penuh keterkejutan. Posisi Kael sebagai atasannya membuatnya kehilangan kata-kata. Terlebih lagi, surat pengunduran dirinya masih belum disetujui oleh pria itu. Secara resmi, hubungan kerja mereka belum benar-benar berakhir.

Beberapa saat kemudian, Adrian akhirnya menundukkan kepala dengan canggung.

"...Tuan."

Sapaan itu keluar hampir tanpa sadar, sementara pikirannya masih berusaha mencerna kenyataan bahwa pria yang berdiri di hadapannya kini menawarkan diri menjadi mempelai pengganti bagi adiknya.

Adrian menundukkan kepala dengan penuh hormat. Meski dalam hatinya masih tersimpan banyak keraguan terhadap pria di hadapannya, ia tidak memiliki keberanian untuk menentang kehendak atasannya. Ia tahu, mengambil sikap berlawanan dengan Kael hanya akan membawa risiko yang jauh lebih besar.

Di sisi lain, Aurora terpaku di tempat duduknya.

Tatapannya tak lepas dari sosok Kael yang berdiri beberapa langkah di depannya. Sulit baginya mempercayai kenyataan bahwa pria itu datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai calon mempelai pengganti.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Segala sesuatu terjadi begitu mendadak hingga pikirannya belum sempat mengejar keadaan.

Kael melangkah mendekat dengan ekspresi tenang yang sulit dibaca. Tanpa ragu, ia menarik kursi di samping Aurora lalu duduk dengan sikap santai, seolah posisi itu memang telah menjadi miliknya sejak awal.

"Aku akan menikahi adikmu. Prosesi ini tetap dilanjutkan."

Suara Kael rendah, tegas, dan tidak memberi ruang untuk dibantah.

Ucapan itu membuat Aurora spontan berdiri dari kursinya. Napasnya memburu, sementara sorot matanya dipenuhi kewaspadaan. Kenangan akan berbagai kejadian yang melibatkan Kael kembali berputar di benaknya, membuat rasa takut perlahan merayapi hati.

"Tunggu!" serunya, berusaha menghentikan langkah peristiwa yang terasa bergerak terlalu cepat.

Seluruh ruangan kembali diliputi keheningan. Semua mata bergantian memandang Aurora dan Kael, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kael menoleh perlahan. Sorot matanya yang tajam mengunci wajah Aurora, seolah mampu membaca setiap kegelisahan yang berusaha disembunyikan gadis itu.

"Ada apa?" tanyanya dengan nada rendah. "Apa kau berniat menolakku?"

Tatapan itu membuat Aurora menahan napas.

Kael melangkah setapak lebih dekat. Ia sedikit membungkukkan badan hingga hanya Aurora yang dapat mendengar kata-katanya.

"Dengar baik-baik," bisiknya dingin. "Jangan membuatku kehilangan kesabaran. Semua sudah kuatur. Jika kau menolak atau mencoba menghentikan acara ini, akibatnya akan sangat buruk bagi semua orang di sini. Jadi... tetap tenang dan ikuti apa yang kukatakan."

Nada suaranya tetap datar, tetapi ancaman yang tersirat di balik setiap kata membuat darah Aurora terasa membeku.

Aurora menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering, sementara jemarinya mulai gemetar.

Inilah yang dulu ia harapkan—Kael bersedia bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi. Namun, ketika kesempatan itu benar-benar datang, perasaannya justru dipenuhi keraguan.

Apakah keputusan ini benar?

Ataukah ia hanya sedang melangkah menuju masalah yang lebih besar?

Aurora ingin menolak, ingin berteriak bahwa ia tidak menginginkan semua ini. Namun, tatapan Kael membuat seluruh keberaniannya menguap. Ia merasa seolah tidak memiliki pilihan selain mengikuti alur yang telah ditentukan pria itu.

Kael kemudian meluruskan tubuhnya dan menatap Aurora tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

"Duduk," ucapnya singkat namun tegas. "Biarkan upacara ini segera dimulai."

Perintah itu terdengar tenang, tetapi cukup kuat untuk membuat Aurora membeku beberapa saat sebelum perlahan kembali menuju kursinya, diiringi tatapan penasaran seluruh tamu yang memenuhi ruangan.

...****************...

1
Nur Halida
oh jadi brema kek gitu ...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
Yudi Chandra: Hahaha....betul juga ya😅
total 1 replies
Nur Halida
pernikahan itu terjadi karena kamu menggagalkan pernikahan aurora dg brema kael kalo kamu lupa ..
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
Yudi Chandra: hihihi....kamu tuh yaaaa🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
aku baru ngeh kalo sekarang aurora gak manggil om lagi😁
Nur Halida
loh kok ayahnya ??bukannya aurora dan adrian udah gak punya ortu??🤔
Yudi Chandra: Hehehe...😅 maaf ya, aku khilaf 🙏
skarang udah aku koreksi.😊
total 1 replies
Visitor7755
uhui..
Yudi Chandra: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
baru aja nikah udah mau gelut aja😁
Yudi Chandra: Hehehe....abis istrinya cantik🤭
total 1 replies
Nur Halida
nah .. gitu dong kael .. tangging jawab sama aurora ... kirain kamu gak bakal dateng .. ku susul kau ke rumahmu kalo berani gak dateng..😁
Yudi Chandra: helleh...emang tau alamatnya🤭
total 1 replies
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Yudi Chandra: it's okey.😊 but thanks for stopping by.🙏🤗
total 1 replies
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Yudi Chandra: 😘😘😘💞💞💞💞
total 3 replies
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Yudi Chandra: sabar buuu🤗🤭
total 1 replies
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!