Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aurora yang mendengar percakapan tersebut menelan ludah dengan susah payah. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia berusaha menahannya.
"Kakak..." suaranya bergetar. "Sebenarnya... apa yang terjadi?"
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan dengan lirih.
"Jangan-jangan... keluarga Kak Brema benar-benar pergi meninggalkan semuanya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara tanpa ada seorang pun yang mampu segera memberikan jawaban. Yang terdengar hanyalah desas-desus para tamu yang mulai bertanya-tanya, sementara Aurora hanya bisa duduk diam, berusaha menguatkan dirinya di tengah ketidakpastian yang semakin menyesakkan.
Adrian menatap adiknya dengan hati yang ikut terasa perih. Ia mengusap lembut punggung tangan Aurora yang dingin dan sedikit berkeringat, berusaha menyalurkan ketenangan yang sebenarnya juga mulai hilang dari dirinya.
"Tenanglah, Aurora," ucap Adrian dengan suara pelan. "Kalau pernikahan ini memang harus batal, itu bukan akhir dari segalanya. Apa pun yang terjadi, kau akan selalu menjadi adik yang paling Kakak banggakan."
Aurora hanya mengangguk pelan. Dadanya masih terasa sesak, tetapi kata-kata kakaknya sedikit menguatkan langkahnya untuk tetap bertahan.
Jarum jam terus bergerak.
Kini waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang.
Namun, keberadaan Brema masih menjadi tanda tanya. Tak satu pun kabar berhasil didapatkan, seolah pria itu menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Melihat keadaan yang semakin tidak memungkinkan, Adrian menarik napas panjang. Dengan wajah penuh kekecewaan, ia melangkah ke depan para tamu. Mikrofon di tangannya terasa begitu berat.
"Hadirin sekalian," ucapnya dengan suara tenang meski terselip kepedihan. "Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk hadir pada hari ini. Saya sungguh menghargai perhatian dan doa yang telah diberikan."
Ia berhenti sejenak, menundukkan kepala sebelum melanjutkan.
"Namun, karena calon mempelai pria hingga saat ini belum juga datang dan keberadaannya belum diketahui, dengan berat hati saya harus menyampaikan permohonan maaf. Sepertinya prosesi pernikahan ini terpaksa—"
"Tunggu!"
Sebuah suara berat memotong ucapannya.
Suara itu menggema memenuhi ruangan yang seketika berubah sunyi. Percakapan para tamu terhenti, dan puluhan pasang mata serempak menoleh ke arah asal suara.
Aurora membeku di tempatnya.
Begitu pula Adrian.
Keduanya menatap ke arah pintu masuk dengan napas tertahan, menunggu sosok yang baru saja memecah keheningan itu menampakkan diri.
Seluruh perhatian tamu langsung tertuju pada sosok pria bertubuh tegap yang baru saja melangkah memasuki aula.
Kael datang tanpa undangan.
Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang warnanya begitu serasi dengan gaun pengantin putih yang dikenakan Aurora. Tak seorang pun mengetahui dari mana ia memperoleh pakaian itu. Namun, bagi Kael, mendapatkan apa yang diinginkannya bukanlah perkara yang sulit. Hampir tidak ada tempat yang tak mampu ia masuki jika memang sudah bertekad.
Begitu melihat sosok itu, jantung Aurora seolah berhenti berdetak sesaat.
"Kenapa dia datang ke sini?" batinnya gelisah.
"Apa dia masih mau menghancurkanku di depan semua orang?"
Namun, setelah semua yang telah terjadi, rasa malu bukan lagi hal yang paling ia takutkan. Jika Kael memang berniat mempermalukannya sekali lagi, ia merasa dirinya sudah terlalu lelah untuk memedulikannya.
Dengan langkah tenang dan penuh wibawa, Kael menghampiri Adrian. Tatapannya lurus, tanpa sedikit pun keraguan.
"Aku datang untuk menikahi adikmu, Adrian."
Kalimat itu diucapkan datar, tetapi cukup lantang hingga seluruh ruangan mendengarnya.
Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Kael melanjutkan ucapannya.
"Aku akan menggantikan Brema sebagai mempelai pria."
Suasana mendadak hening.
Adrian hanya mampu menatap pria di hadapannya dengan wajah penuh keterkejutan. Posisi Kael sebagai atasannya membuatnya kehilangan kata-kata. Terlebih lagi, surat pengunduran dirinya masih belum disetujui oleh pria itu. Secara resmi, hubungan kerja mereka belum benar-benar berakhir.
Beberapa saat kemudian, Adrian akhirnya menundukkan kepala dengan canggung.
"...Tuan."
Sapaan itu keluar hampir tanpa sadar, sementara pikirannya masih berusaha mencerna kenyataan bahwa pria yang berdiri di hadapannya kini menawarkan diri menjadi mempelai pengganti bagi adiknya.
Adrian menundukkan kepala dengan penuh hormat. Meski dalam hatinya masih tersimpan banyak keraguan terhadap pria di hadapannya, ia tidak memiliki keberanian untuk menentang kehendak atasannya. Ia tahu, mengambil sikap berlawanan dengan Kael hanya akan membawa risiko yang jauh lebih besar.
Di sisi lain, Aurora terpaku di tempat duduknya.
Tatapannya tak lepas dari sosok Kael yang berdiri beberapa langkah di depannya. Sulit baginya mempercayai kenyataan bahwa pria itu datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai calon mempelai pengganti.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Segala sesuatu terjadi begitu mendadak hingga pikirannya belum sempat mengejar keadaan.
Kael melangkah mendekat dengan ekspresi tenang yang sulit dibaca. Tanpa ragu, ia menarik kursi di samping Aurora lalu duduk dengan sikap santai, seolah posisi itu memang telah menjadi miliknya sejak awal.
"Aku akan menikahi adikmu. Prosesi ini tetap dilanjutkan."
Suara Kael rendah, tegas, dan tidak memberi ruang untuk dibantah.
Ucapan itu membuat Aurora spontan berdiri dari kursinya. Napasnya memburu, sementara sorot matanya dipenuhi kewaspadaan. Kenangan akan berbagai kejadian yang melibatkan Kael kembali berputar di benaknya, membuat rasa takut perlahan merayapi hati.
"Tunggu!" serunya, berusaha menghentikan langkah peristiwa yang terasa bergerak terlalu cepat.
Seluruh ruangan kembali diliputi keheningan. Semua mata bergantian memandang Aurora dan Kael, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kael menoleh perlahan. Sorot matanya yang tajam mengunci wajah Aurora, seolah mampu membaca setiap kegelisahan yang berusaha disembunyikan gadis itu.
"Ada apa?" tanyanya dengan nada rendah. "Apa kau berniat menolakku?"
Tatapan itu membuat Aurora menahan napas.
Kael melangkah setapak lebih dekat. Ia sedikit membungkukkan badan hingga hanya Aurora yang dapat mendengar kata-katanya.
"Dengar baik-baik," bisiknya dingin. "Jangan membuatku kehilangan kesabaran. Semua sudah kuatur. Jika kau menolak atau mencoba menghentikan acara ini, akibatnya akan sangat buruk bagi semua orang di sini. Jadi... tetap tenang dan ikuti apa yang kukatakan."
Nada suaranya tetap datar, tetapi ancaman yang tersirat di balik setiap kata membuat darah Aurora terasa membeku.
Aurora menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering, sementara jemarinya mulai gemetar.
Inilah yang dulu ia harapkan—Kael bersedia bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi. Namun, ketika kesempatan itu benar-benar datang, perasaannya justru dipenuhi keraguan.
Apakah keputusan ini benar?
Ataukah ia hanya sedang melangkah menuju masalah yang lebih besar?
Aurora ingin menolak, ingin berteriak bahwa ia tidak menginginkan semua ini. Namun, tatapan Kael membuat seluruh keberaniannya menguap. Ia merasa seolah tidak memiliki pilihan selain mengikuti alur yang telah ditentukan pria itu.
Kael kemudian meluruskan tubuhnya dan menatap Aurora tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.
"Duduk," ucapnya singkat namun tegas. "Biarkan upacara ini segera dimulai."
Perintah itu terdengar tenang, tetapi cukup kuat untuk membuat Aurora membeku beberapa saat sebelum perlahan kembali menuju kursinya, diiringi tatapan penasaran seluruh tamu yang memenuhi ruangan.
...****************...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
maap,unfollow dan unsubscribe