Natasha delapan belas tahun yang mengalami time travel. Gadis yatim-piatu itu jatuh dari ketinggian dan terhempas ke tubuh seorang putri raja yang diperundung. mampukan Natasha menjalani hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAHIRNYA THE ALMIGHTY
“Uugghhh!!”
“Yang Mulia!” semua panik melihat ratu mereka mulai mengerang.
Perut Natasha mulai berputar, janin sepertinya mencari posisi untuk keluar dari tempat paling nyaman di dunia itu. Keringat dingin menetes di kening sang penguasa.
“Yang Mulia!” beberapa dayang dan maid mendekat dan sangat khawatir.
“Bawa aku ke kamar,” pinta Natasha lirih.
Beberapa maid memegangi ratu mereka dan membawa mereka ke kamarnya. Di sana Natasha dibaringkan. Beberapa tabib mulai berdatangan dan menyiapkan alat-alat untuk melahirkan.
“Kita harus memberitahu My King!” ujar Sir Oliver.
“Aku yang melakukannya,” ujar Duke Hazard.
Pria itu melakukan teleportasi, tentu saja dengan ilmu sihir yang dimiliki bangsawan itu sangat mumpuni.
Sedang di tempat lain, Kaisar Abraham sudah sampai pada satu daerah yang dilanda kekeringan. Pria itu menghentikan kudanya dan turun.
“Yang Mulia!” beberapa warga mencoba mendekati raja tertinggi itu.
Lima pengawal kerajaan langsung menghentikan langkah para warga yang hendak mendekat. Kaisar Abraham melihat wajah-wajah putus asa itu.
“Yang Mulia ... tolong kami ... kami sudah kesulitan air, tetapi raja Edward malah menutup akses air yang berasal dari gunung di sebelah selatan daerah kami,” adu salah satu warga.
“Benar Yang Mulia, malahan kami harus membayar sejumlah uang agar memperoleh satu ember air!” adu lainnya.
“Itu fitnah!” sanggah raja Edward tentunya.
Pria itu baru sampai, begitu mendengar aduan warga tentang adanya pungutan dan penututpan jalur air. Ia tentu langsung menyanggahnya.
“Aku akan lihat itu langsung Raja Edward!” tekan kaisar Abraham tak mau dibantah.
Para warga langsung menunjuk jalan bagi pria penguasa itu. Tadinya Raja Edward ingin membawa ke tempat lain. Namun sepertinya, kaisar Abraham memilih mengikuti warga yang membawanya.
Di sana ada beberapa prajurit yang menarik paksa seorang wanita karena tidak mau membayar air yang baru saja ia curi.
“Jangan minum jika tak mampu!” teriak prajurit istana.
Pria itu hendak menyabetkan saqrung pedangnya. Kaisar Abraham langsung menghentikannya dengan mel;empar batu dan mengenai sarung besi itu.
Trang! Bunyi benturan besi dan batu.
“Siapa yang berani-beraninya ....”
Prajurit itu mendadak pias, raja Edward langsung menyambangi prajuritnya itu dan langsung menamparnya.
“Kau membuatku malu!” bentaknya.
“Bawa dia ke sini!” titah kaisar Abraham.
“Yang Mulia ... untuk apa kau mengurusnya!” tukas raja Edward membantah perintah kaisarnya.
“Aku bilang bawa dia kehadapanku Edward!” bentak kaisar Abraham marah.
Duke Bowie yang selalu bersama rajanya, mendekati prajurit dan membawanya menghadap sang kaisar.
“Di sini aku adalah yang tertinggi, hukum adalah aku. Aku akan menghukum siapa saja yang bebruat curang!” ujar kaisar ABraham tegas.
“Apa kau mengerti?” lanjutnya menatap tajam prajurit yang tadi berbuat kasar pada warga.
“Saya melakukan itu juga karena perintah My King!” jawab prajurit itu jujur.
“Ini stempel raja dan perintah pengambilan upeti atas air yang diambil warga,” lanjutnya memberi satu kertas dengan bukti stempel resmi.
“Aku tak pernah melakukan itu. Aku yakin itu palsu!” sanggah raja Edward langsung.
“Ini asli Raja,” ujar kaisar melihat stempel yang tercetak di sana.
“Berarti itu dicuri dan disalah gunakan!” ujar raja Edward masih setia menyanggah semua tuduhan.
“Bagaimana bisa benda yang harus kau bawa kemanapun itu dicuri Edward?” tanya kaisar Abraham.
“Aku kehilangan benda itu ketika aku mandi!” pekik raja Edward terus membantah semua tuduhan.
“Seret dia!” titah kaisar Abraham tegas.
“Invisiblemouses!”
“Naturale opshorum!” teriak Duke Bowie mematahkan sihir yang digunakan raja Edward.
“My King!” Duke Hazard memanggil tiba-tiba.
“Demi para dewa yunani! Kau mengagetkanku Duke!” sentak kaisar Abraham yang benar-benar terkejut karena kemunculan Duke Hazard.
“Maaf My King. Tapi My Queen ....”
“Apa yang terjadi pada istriku?” bentak kaisar Abraham.
“My Queen ....”
“Kau lambat Duke!” gerutu kaisar Abraham.
Pria penguasa itu menaiki kudanya lagi, lalu tak lama ia menghentakkan kekang. Binatang itu meringkik dan menaikkan kaki depannya ke atas. Tak lama hewan tunggangan itu melesat cepat.
“My King ... lebih cepat gunakan teleportasi!” teriak Duke Hazard.
Tapi teriakan itu seperti angin lalu. Duke Bowie hanya terbengong, raja Edward yang ditahan sihir oleh bangsawan itu hanya diam saja.
“Duke!” panggil beberapa bangsawan yang tadi ikut bersama.
“Astaga ... ayo kita bereskan ini semua!” ujar duke Bowie tersadar.
“Duke Hazard, boleh bantu saya?” lanjutnya meminta pada pria yang masih setia berdiri mematung.
Duke Hazard mengangguk, pria itupun turun tangan dan membantu warga mendapat haknya. Sementara itu. Kaisar Abraham menghentak kekang kudanya agar lebih cepat berlari.
“Ayo Thunder ... percepatlah!” pinta pria itu dengan nada memohon.
Sementara di istana putih milik Natasha sedang dilanda kecemasan tinggi. Semua bangsawan hilir-mudik di ruangan depan kamar ratunya.
“Astaga kenapa lama sekali?” tanya salah seorang bangsawan yang menunggu.
“Sudah lebih setengah hari My Queen mengerang kesakitan di dalam, tetapi satu tabib pun tak dapat menghentikan kesakitan My Queen!” ujar salah satu cemas.
”Aaarrgghh!” teriakan Natasha membuat semua bangsawan duduk dengan lemas.
“Tuhan ... selamatkan My Queen!” harap salah satu bangsawan di sana.
Di dalam kamar, Natasha mengerang kesakitan. Perutnya berputar hebat, semua tulang seakan mau patah. Wanita itu terengah-engah menahan kesakitan yang ada. Jiwa Natasha yang memang belum pernah melahirkan tentu tak tau harus melakukan apa. Seakan-akan jiwanya ikut merasakan kesakitan tubuhnya.
“Buka lebar kaki anda Yang Mulia!” pinta salah satu tabib.
“Ayo Yang Mulia, aku bantu,” ujar Sherine kepala maid.
“Olah nafas seperti ini My Queen.” ajak Sherine lalu menngambil udara lewat hidung dan menembuskannya lewat mulut.
Natasha mengikuti arahan kepala maidnya, ia melakukan olah nafas. Perutnya berasa mulas, ia seperti ingin buang air besar. Sebisa mungkin ia menahannya.
“Jangan ditahan My Qeen, itu malah membuatmu makiin sakit!” larang tabib.
“Tapi aku akan mengeluarkan kotoran!” pekik Natasha.
“Tidak apa-apa My Queen, itu normal. Peneknan dari janin memang seperti itu. Tapi bayi lah yang keluar bukan kotoran!” jelas tabib.
Natasha kembali mengerang kesakitan, ia benat-benar tak bisa menahan semuanya. Sherine diminta memeriksa pembukaan di mulut lahir ratu mereka.
“Sudah bukaan tujuh,” jawabnya.
“Aaarrrgghh!” pekik Natasha lagi.
“Ayo Yang Mulia ... anda adalah wanita hebat dan kuat!” ujar Sherine menyemangati ratunya.
“Yang Mulia pasti bisa!”
Kaisar Abraham sampai ketika hari menjelang pagi, suasana tampak sunyi kecuali beberapa penjaga istana yang melakukan patroli. Pria itu mengabaikan sambutan beberapa staf istana dan juga pengawal atau para bangsawan.
“Sayang!” teriaknya ketika masuk ke kamar.
Natasha tersenyum ketika sang suami datang. Di tangannya tampak bayi tampan yang masih merah. Bayi itu begitu tenang dalam pelukan ibunya.
“Sayang?” panggil kaisar Abraham.
“Putra kita telah lahir Yang Mulia!” ujar Natasha lirih.
Kaisar Abraham mendekat lalu duduk di kursi kecil yang disoapkan para maid. Semua berbalik dan menunggu. Kaisar Abraham mengambil bayi tampan dan menggendongnya. Di dahi sang bayi ada tanda merah berbentuk kilat.
“The almighty telah hadir Yang Mulia!” ujar duke Hazars yang telah duluan sampai di sana.
“Putraku ... putraku!” kaisar Abraham mencium gemas bayi yang mengerucutkan bibirnya.
Setelah puas dengan putranya, kaisar Abraham meletakkan bayi dalam pelukkan sng ibu. Lalu ia mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.
“Duke .. kenapa kau yang lebih dulu sampai di sini?” tanyanya heran setelah menyadari sesuatu.
“Saya menggunakan teleportasi Yang Mulia,” jawab Duke Hazard membungkuk hormat.
Terdengar decakan kesal dari pria paling berkuasa itu.
“Sial ... kenapa aku bisa lupa dengan itu?” tanyanya mendumal.
Bersambung.
Itu karena kau panik king.
Next?