Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Behave Emma!!!!
"Jadi Vi, apakah kamu bisa membantuku meminta sampel DNA dari orang tua Dion?"
Ingin sekali Emma melontarkan pertanyaan itu. Dia menganggap dengan mencurahkan semua bebannya, maka keadaan menjadi lebih mudah dan tidak berkepanjangan.
Dengan membuka semua kebohongan yang selama ini ia sembunyikan, Emma berharap kasusnya menjadi lebih terang. Ditambah lagi dengan perkara DNA pembanding yang sampai sekarang belum ia kantongi, meminta bantuan Levi menjadi cara yang menggiurkan untuk dicoba.
Akan tetapi, dibalik keinginan yang menggoda itu terbesit bayangan Levi yang kecewa terhadapnya karena telah membodohinya. Tentu saja Emma tidak mau itu terjadi. Yang ia inginkan, Levi mengenangnya sebagai temannya yang baik.
Jadi, Emma memilih untuk tidak mengungkapkan siapa dirinya dan apa tujuannya mendekati Levi, paling tidak untuk saat ini.
"Kenapa melamun?" Ucap Levi yang duduk di sofa yang diduduki Tejo sebelumnya.
"Ah, tidak," jawab Emma memalingkan wajah ke jendela.
'Untuk saat ini, biarkan aku seperti ini sebentar saja....' momen dirinya bersama orang yang dicintai membuatnya terlena hingga berani membayangkan Levi akan selalu bersamanya sampai akhir hayat.
"Kamu beneran sudah baikan? Kamu kemarin sangat membuatku takut."
Emma menoleh untuk melihat bagaimana wajah khawatir seorang Levi yang dulunya adalah playboy kelas dunia itu.
"Tenang saja, aku sudah sembuh kok. Besok juga pasti sudah dibolehin pulang."
Mulutnya sangat lancar mengatakan kebohongan seperti sudah menjadi kebiasaan bahlkan keahlian.
Emma menatap lirih ke arah Levi yang juga sedang menatapnya dalam-dalam.
"Kenapa? Nggak usah lihat aku segitunya kali. Aku juga nggak bakalan ilang kemana-kemana," celoteh Emma dengan senyumnya yang cemerlang.
"Ya, aku takut kamu pergi."
Dengan kesadaran penuh, Levi malah beranjak dari sofanya dan duduk di ranjang Emma sehingga Emma terkejut dengan kedekatan mereka.
"Apa kamu mau jam mengajarmu dikurangi? Apa kamu berhenti saja dari pembimbing Pramuka?"
Jarak yang dekat itu membuat Emma tercekat dan terkejut. Dia tidak pernah membayangkan akan sedekat ini dengan Levi.
"Eyy... Jam ku sudah sedikit. Kalau dipangkas lagi, sama aja aku nggak ngajar donk." Lalu Emma memelankan suaranya," lagi pula si Aren Gentong nggak mungkin menyetujuinya."
Suasana berat akhirnya mencair karena obrolan tentang Pak Surya.
"Try me! Aku yakin Pak Surya bakalan bilang iya," ucapnya enteng dengan menyungingkan senyum miring.
"Eyy..." Emma tersenyum sedikit mengejek.
"Eh nggak percaya? Lihat nih, sekali telpon pasti si Kucing gemuk itu bakal nurut," Levi merogoh HPnya dari kantong celananya.
"Hahahaha, Kucing gemuk? Kamu kalau ngomong suka bener."
Gelak tawa membuat keduanya hanyut dalam momen langka yang tampak bahagia itu.
Bagi Levi, melihat Emma yang sudah bisa tertawa itu jauh lebih penting dari apapun.
Perlahan, Levi menyentuh tangan Emma. Dia menggenggam dan membelainya, membuat jantung Emma berdesir hebat tak terkendali.
"Lain kali jangan sakit kayak gitu lagi ya mi, aku beneran nggak bisa liat kamu kayak gitu lagi."
Hati Emma mencelos. Bagaimana dia bisa menjanjikan sesuatu yang diluar kendalinya? Dia bahkan tidak tahu sampai kapan tubuhnya akan bisa menahan penyakitnya.
.
.
.
Setelah dua hari istirahat, akhirnya Emma bisa kembali bekerja. Dengan langkahnya yang ringan, ia menyapa dengan senyuman yang indah setiap siswa yang berpapasan dengannya.
"Wah, lihat wajah-wajah generasi emas itu! Kayaknya aku mulai nyaman dengan pekerjaan ini. Apa aku resign saja dari kepolisian dan mulai mengajar yang sesungguhnya ya? Wkwkwkw apa sih yang aku pikirkan? Dasar aku!!!," gumamnya dengan tetap tersenyum.
"Selamat Pagi Miss...." Levi menyapa Emma dengan senyum lebar dan matanya yang cemerlang. Sepertinya waktu sekitar mereka telah berhenti sejenak. Emma juga bisa merasahan hembusan angin sepoi-sepoi bertaburan kelopak bunga sakura.
'Bagaimana bisa dia selalu ganteng seperti ini? Behave Emma! Behave!!! Aaaaa......!!!!'
Otaknya sangat berisik berbanding terbalik dengan suasana sekitar mereka yang hening, sampai langkah kaki semut yang berjalan keluar dari liangnya terdengar sangat jelas.
"Mm?" Levi memiringkan kepalanya menunggu jawaban salam dari Emma.
"Oh ya, pagi juga Pak," akhirnya Emma tersadar dari lamunannya dan menjawab seadanya.
"Selamat bekerja ya Miss.... Semangat!" Levi menepuk pundak Emma dan berlalu tanpa menyadari buah dari perbuatannya itu. Berkatnya jantung Emma kembali berulah, melakukan senam kebugaran selama lebih dari setengah jam.
"Oh Shit!!!" Berulang kali Emma mengumpat ketika dirinya sampai ke meja gurunya.
"Benar-benar ya tu orang!!! Tapi aku sukaaaa....ow...!!!" Emma tidak bisa menghentikan kakinya menghentak-hentak dan pipinya yang mau meledak sampai ia harus memeganginya.
"Eh Bu Emina udah masuk kerja ya?" Sapaan dari Pak Martin menghancurkan khayalan Emma tentang dirinya yang memakai dress pengantin dengan Levi yang berada di sampingnya.
"Iya Pak, selamat pagi...." Emma menyapa sebagai formalitas sekaligus cara untuk membuat pengganggu mimpi itu pergi.
"Saya kira anda masih sakit, makanya Pak Surya mengkosongkan jadwal anda," ucapnya membuat Emma terkejut.
"Hah? Apa? Mengkosongkan jadwal? Jadi maksud bapak, saya tidak punya jadwal mengajar sama sekali?"
Martin mengangguk dan meninggalkan Emma yang duduk termangu tak percaya.
"Apakah ini ulah Levi? Kemarin dia bilang akan mengurangi jamku kan? Omaygad!!! Kalau begini bagaimana caraku mendekati Bimo dan kawan-kawan coba? Uuughhh!!!!"
Emma yang awalnya kecintaan dengan Levi berubah sebal. Bagaimana bisa Levi berbuat sesuka hatinya? Lalu si Aren Gentong, kenapa mau-mauan di setir? Ishhhh......
.
.
.
Sementara itu, di ruangan kosong di ujung lorong dimana keempat anggota gank serigala berkumpul, Levi duduk dengan santai di depan keempat anggota yang duduk melingkar.
"Jadi siapa dari kalian yang mengatakan omong kosong tentang Dion?"
Levi menyilangkan tangannya dan mendongakkan kepalanya.
"Jawab!" Teriaknya hingga keempat serigala terjingkat.
"Hah! Jadi kalian mendadak bisu ya? Baiklah kalau itu yang kalian mau. Coba tanggung saja akibatnya!"
"Oy! Pak tua, apa lagi yang harus kami lakukan supaya anda puas? Kami sudah melakukan semuanya, jadi lebih baik Pak Levi yang terhormat pergi dari sini sekarang juga!" Tio membalas gertakan Levi dengan suaranya yang tenang.
.
.
.