Sebelum membaca cerita ini, di mohon untuk membaca cerita sebelumnya yang berjudul "King's Regrets" agar lebih memudahkan dan memahami alur saat membaca cerita ini. Terima kasih.
Jangan lupa untuk Subs, Like dan meninggalkan jejak kalian di kolom komentar ya 🙏😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xialin12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KRS² #35
"Yang mulia, seseorang dari istana raja mengirimkan beberapa pakaian untuk pangeran dan putri, mereka berkata jika ratu yang membuatnya." Ucap Xiao Wei.
Permaisuri melihat beberapa pelayan yang membawa pakaian dari ratu untuk pangeran dan putrinya.
"Katakan pada ibu ratu, aku sangat berterima kasih atas semua yang telah ibu ratu dan ayah kaisar berikan untuk pangeran dan putri." Ucap permaisuri pada pelayan dari istana raja.
"Baik, yang mulia." Ucap pelayan dari istana raja itu.
Setelah membungkukan badannya pelayan itu pergi meninggalkan istana putra mahkota.
"Xiao Wei, coba perlihatkan pakaian-pakaian itu padaku." Ucap permaisuri pada Xiao Wei.
"Iya yang mulia."
Xiao Wei lalu memperlihatkan salah satu pakaian untuk pangeran dan untuk putri.
"Ibu ratu sepertinya sangat menyayangi kedua cucunya ini. Bahan dan jahitan pakaian ini sangat bagus." Ucap permaisuri yang melihat kedua pakaian untuk pangeran dan putrinya.
"Benar yang mulia, semua ini terbuat dari bahan satin dan sutra terbaik dengan benang emas di setiap jahitannya."
"Pangeran dan putri sangat beruntung memiliki kakek dan nenek seperti ayah kaisar dan ibu ratu."
Xiao Wei mengangguk seraya tersenyum.
"Bawa semua baju itu, dan besok kau cucilah semuanya." Ucap permaisuri.
"Baik yang mulia."
Xiao Wei lalu membawa semua pakaian baru itu keluar untuk di letakan pada wadah pakaian baru yang kotor.
Permaisuri menatap kedua buah hatinya yang setia memejamkan mata mereka.
"Cepatlah tumbuh besar, ibu ingin melihat kalian berlarian di taman istana ini." Ucap permaisuri pada pangeran dan putri dengan pelan.
Tak lama Xiao Wei kembali masuk ke dalam kamar, karena dia masih harus membantu permaisuri mengupasi pangeran dna putri agar tidak kepanasan.
"Xiao Wei, tolong belil es batu dan letakan pada wadah yang besar, lalu tempatkan di dekat tempat tidur pangeran dan putri, juga letakan di tengah kamar. Agar kau tidak terus menerus menggerakan kipas itu untuk mereka."
"Baik yang mulia, saya akan membelinya."
Xiao Wei keluar lagi dari kamar permaisuri, kali ini dia akan pergi membeli satu balok es yang nantinya akan di bagi beberapa potong.
Setelah Xiao Wei pergi, permaisuri mengambil kipas yang di pakai oleh Xiao Wei tadi, lalu mengipasi kedua buah hatinya dengan pelan.
"Jika terus di kipasi, aku khawatir kalian akan masuk angin. Jadi lebih baik memakai es batu untuk membuat suhu ruangan sedikit sejuk." Gumam permaisuri sambil mengipasi pangeran dan putri.
"Permaisuri, apakah pangeran dan putriku sedang tidur?"
Putra mahkota melangkah ke dalam kamar seraya tersenyum lembut pada permaisuri.
Permaisuri mengangguk "Benar, tetapi mereka akan terbangun jika merasa kepanasan."
"Cuaca akhir-akhir ini memang tidak bagus, aku harap ini tidak lama."
"Jangan khawatir, ini sering terjadi jika baru memasuki musim gugur. Tidak lama lagi udara dingin akan datang."
"Kau benar, aku akan meminta pelayan untuk membuatkan beberapa baju hangat dan selimut dari bulu domba terbaik, untuk kedua anak kita agar tidak kedinginan."
"Ibu ratu sudah membuatkan pakaian untuk mereka berdua untuk musim dingin, jika yang mulia ingin membuat. Maka buatlah beberapa selimut dan alas tempat tidur yang hangat."
"Ibu ratu sudah membuatkan mereka pakaian untuk musim dingin?"
"Benar, dan juga aku lihat ada dua buah mantel lembut di antara pakaian-pakaian itu."
"Ibu ratu begitu perhatian pada kedua cucunya."
"Yang mulia benar."
tap tap tap
tap tap tap
Suara beberapa orang melangkah ke arah kamar putra mahkota dan permaisuri.
"Yang mulia, es batu yang anda inginkan sudah disini." Ucap Xiao Wei.
"Bawa kesini, dan letakan satu di sebelah sana dan satu lagi di tengah sini." Ucap permaisuri.
Putra mahkota Zhang melihat beberapa orang membawa dua wadah yang cukup besar berisi es batu, dan meletakkan kedua wadah itu di tempat yang permaisuri katakan.
"Baik, terima kasih." Ucap permaisuri pada orang-orang yang membawa wadah berisi es batu tadi.
"Kau membeli semua es itu?" Tanya putra mahkota pada permaisuri.
"Iya yang mulia, tidak baik untuk pangeran dan putri jika terus menggunakan kipas seperti ini. Mereka bisa batuk dan demam karena terlalu sering terkena angin dari kipas ini. Jadi aku meminta Xiao Wei membeli es batu, agar di dalam kamar terasa lebih sejuk."
Putra mahkota Zhang mengangguk mengerti dengan apa yang permaisuri katakan, dia bahkan tidak menyangka jika permaisurinya akan berfikir untuk meletakan es di dalam kamar seperti itu.
"Yang mulia, apakah yang mulia keberatan dengan apa yang aku lakukan?" Tanya permaisuri.
"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Justru aku sangat senang karena kau melakukan itu untuk kebaikan kedua anak kita."
"Terima kasih yang mulia."
"Sepertinya aku juga akan melakukan hal ini di ruang baca ku, jadi aku tidak akan terlalu merasa kepanasan di dalam sana saat memeriksa buku laporan pajak rakyat dari mentari."
"Iya yang mulia."
Putra mahkota mengangguk.
"Kau bisa beristirahat sekarang. Dengan ruangan yang telah sejuk pangeran dan putri pasti tidur dengan nyenyak." Ucap putra mahkota seraya mengusap pelan kepala permaisuri.
"Baik, aku akan beristirahat. Yang mulia tidak perlu bekerja terlalu keras, jika memang sudah lelah maka harus beristirahat juga. Kau akan memiliki banyak tenaga dan kepala yang mulia akan terasa lebih baik setelah beristirahat."
"Baik, aku mengerti."
Permaisuri mengangguk, dia lalu membaringkan tubuhnya di samping putri yang masih terpejam.
Melihat ketiga orang yang di cintainya terlelap, putra mahkota merasa begitu tenang.
"Xiao Wei, tolong jaga mereka disini." Ucap putra mahkota pada Xiao Wei.
"Baik yang mulia."
Putra mahkota lalu berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya agar udara sejuk yang ada di dalam kamar tidak keluar.
"Akhirnya ada cara juga agar pangeran dan putri tidur lelap tanpa merasa kepanasan, permaisuri sangat pintar menggunakan es untuk membuat kamar menjadi sejuk." ucap Xiao Wei pelan.
Xiao Wei yang melihat permaisuri, pangeran dan putri tidur dengan nyenyak, duduk di kursi yang ada di dalam kamar itu.
Suhu ruangan yang semula panas, sekarang sudah mulai sejuk karena es yang di letakan di dalam kamar.
(Kalau disini, tinggal nyalain AC atau kipas angin saja ya🤭).
...----------------...
Setelah keluar dari kamar permaisuri, putra mahkota pergi ke ruang baca. Namun sebelum masuk, dia memerintahkan pelayannya untuk membeli es batu dan meletakkannya di dalam ruang baca.
Awalnya pelayan setianya bingung kenapa es di letakan di dalam ruanh baca, namun setelah putra mahkota menjelaskan, pelayan itu mengerti dan segera pergi untuk membeli es bersama dengan beberapa pengawal yang membawa dua wadah besar.
"Aku tidak akan pernah tahu cara seperti ini untuk menyejukan sebuah ruangan dengan es, jika permaisuri tidak melakukannya. Dia benar-benar seorang wanita dan ibu yang pintar." Gumam putra mahkota setelah duduk di dalam ruang bacanya.
...Ruang Baca Putra Mahkota Zhang...
Putra mahkota membuka buku yang ada di atas meja, lalu membaca buku yang berisi laporan pemasukan pajak dari beberapa kota yang ada di negara Ming dari menteri perpajakan.
Sudah lebih dari 1 minggu putra mahkota berkutat dengan buku-buku itu, dia tidak ingin melewatkan sedikitpun celah bagi para menteri yang menggelapkan pajak rakyat. Karena itu dia membaca semua buku-buku pemasukan dari buku 1 tahun yang lalu.
"Benar-benar, menjadi ayah pasti sangat lelah." Gumam putra mahkota.
Tentu saja lelah, karena seorang kaisar selain harus bersikap adil, dia juga harus pintar dalam berbagai bidang. Harus memiliki setidaknya 5-8 bakat.
"Yang mulia, saya membawakan es untuk yang mulia." Ucap pelayan setia putra mahkota.
"Bawa es itu masuk." Ucap putra mahkota dari dalam ruang baca.
Kraaak
Pintu ruang baca terbuka, pelayan setia putra mahkota masuk dan di ikuti oleh empat pengawal yang membawa dua wadah besar berisi es.
"Letakan satu itu di sudut sana, dan satu lagi disini." Ucap putra mahkota seraya menunjuk dua tempat untuk meletakkan es batu.
4 pengawal itu lalu membawa dua wadah berisi es ke tempat yang di tunjuk oleh putra mahkota, dan meletakan wadah besar itu disana.
"Baiklah, kalian sudah bisa keluar. Terima kasih." Ucap putra mahkota.
Ke 4 pengawal dan pelayan keluar dari ruang baca putra mahkota.
"Ternyata memang benar, udara di dalam ruangan ini menjadi lebih sejuk dari sebelumnya." Gumam putra mahkota.
Putra mahkota lalu kembali memeriksa buku pemasukan pajak yang ada di tangannya.
...----------------...
Sore harinya semua es yang ada di dalam wadah telah mencair, beberapa pelayan mengeluarkan air dalam wadah sedikit demi sedikit untuk di buang ke luar.
Pangeran dan putri tidur sangat nyenyak karena mereka tidak kepanasan. Hanya saat mereka lapar mereka akan menangis.
"Apakah semua airnya sudah di buang keluar, Xiao Wei?" Tanya permaisuri.
"Sudah yang mulia, semuanya sudah di buang."
"Terima kasih, biarkan saja pintunya terbuka agar udara dari luar bisa masuk ke dalam dan membuat suhu kamar kembali."
"Baik yang mulia."
Permaisuri mengangguk.
"Yang mulia, saya akan menyiapkan air hangat untuk pangeran dan putri mandi."
"Biarkan dulu, tunggu setelah 20 menit. Mereka baru saja merasakan udara sejuk dari es di dalam kamar, tunggu hingga ruangan ini sedikit lebih hangat baru kau siapkan air untuk mereka mandi."
"Baik yang mulia, saya mengerti."
"Iya."
Permaisuri yang datang dari era modern tentu tahu harus bagaimana agar bayi tidak mudah demam atau masuk angin. Walaupun dia belum pernah menikah dan memiliki anak, namum dia adalah seorang artis terkenal yang pernah memerankan tokoh seorang ibu yang pintar, jadi dia tahu sedikit tentang bagaimana merawat bayi.
"Xiao Wei, besok tolong belikan aku jepit rambut yang terbuat dari giok. Menggunakan jepit dari emas ini menyulitkan ku, karena ini terlalu tajam. Aku takut akan melukai pangeran atau putri."
"Baik yang mulia, saya akan membelikannya untuk yang mulia."
"Terima kasih Xiao Wei."
Xiao Wei mengangguk seraya tersenyum pada permaisuri.
Permaisuri dan Xiao Wei sudah bersama sejak permaisuri berusia 11 atau 12 tahun, jadi mereka sudah sangat dekat dan saling mengerti.
Putra mahkota melihat pintu kamarnya terbuka, dia lalu berjalan masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, kenapa kau membuka pintu kamar?" Tanya putra mahkota dengan bingung pada permaisuri.
"Aku hanya ingin udara dari luar bisa masuk ke dalam kamar, karena sejak siang kamar tertutup untuk membuat kamar tetap sejuk."
"Jadi seperti itu, aku berfikir sesuatu telah terjadi."
Permaisuri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Pergantian udara dalam sebuah ruangan sangat penting dan bagus bagi kita, apalagi jika hampir setengah hari ruangan tertutup. Karena kita membutuhkan udara yang segar, terlebih kedua anak kita yang masih sangat kecil." Ucap permaisuri.
"Iya aku mengerti, kau selalu menjadi istri dan ibu terbaik, permaisuriku."
"Xiao Wei, tolong kau siapkan air untuk yang mulia mandi." Ucap permaisuri pada Xiao Wei.
"Baik yang mulia, akan segera saya siapkan."
Xiao Wei berjalan keluar dari kamar.
"Apakah mereka sudah mandi?" Tanya putra mahkota sambil duduk di sisi pangeran.
"Belum, aku membiarkan ruangan sedikit lebih hangat dulu sebelum membawa mereka mandi."
"Kenapa seperti itu?"
"Iya, karena sejak siang udara di kamar sedikit dingin oleh es yang di letakan di dalam kamar, jika mereka langsung mandi akan menyebabkan mereka demam. Meskipun mereka mandi dengan air hangat."
Putra mahkota yang baru saja tahu mengangguk mengerti.
"Kau sangat pintar, padahal kau baru saja menjadi seorang ibu."
"Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk mereka, yang mulia."
"Iya, aku sangat mengerti. Aku bahagia karena kamu selalu melakukan hal-hal terbaik kepada kedua anak kita."
Permaisuri mengangguk "Bagaimana, apakah yang mulia sudah selesai memeriksa buku pajak tahunan?"
"Sudah, aku sudah memeriksa semuanya. Dan itu tidak ada kesalahan, para menteri itu tidak melakuakn penggelapan pajak."
"Itu bagus, artinya para menteri itu bertanggung jawab atas apa yang ayah kaisar percayakan kepada mereka."
"Benar, dan aku berharap mereka akan terus seperti itu saat aku menggantikan ayah kaisar nanti."
"Iya yang mulia."
Xiao Wei masuk ke dalam kamar.
"Yang mulia, air sudah siap." Ucap Xiao Wei.
"Baiklah, sekarang yang mulia mandi dulu." Ucap permaisuri.
"Iya." Ucap putra mahkota.
Putra mahkota mengusap pipi pangeran sebelum dia berdiri dan berjalan ke ruang samping untuk mandi.
"Xiao Wei, tolong kau jaga pangeran dan putri dulu. Aku akan menyiapkan pakaian untuk yang mulia putra mahkota." Ucap permaisuri pada Xiao Wei.
"Baik yang mulia."
Permaisuri berjalan ke salah satu ruangan yang memisahkan kamar mandi dan ruang tidur di dalam kamar, dia membuka lemari dan memilih salah satu pakaian yang akan di pakai oleh putra mahkota.
"Ini saja, bahannya lebih lembut dan nyaman di musim seperti ini." Gumam permaisuri mengambil salah satu pakaian putra mahkota.
Permaisuri kembali menutup lemari, dia meletakan pakaian putra mahkota di atas kursi yang ada di ruangan itu. Permaisuri lalu kembali ke kamar.
"Apakah putri sudah bangun?" Tanya permaisuri yang melihat Xiao Wei sedang menggendong putri.
"Benar yang mulia, sepertinya putri tahu jika yang mulia tidak ada di sampingnya. Jadi dia terbangun."
"Oh benarkah? Kau sangat perasa sekali."
Permaisuri membelai kepala putri dengan lembut.
15 menit kemudian, putra mahkota yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian berjalan ke dalam kamar.
"Putriku sudah bangun?" Tanya putra mahkota.
"Iya yang mulia." Ucap permaisuri.
"Letakan putri di pangkuanku, aku ingin melihatnya lebih dekat."
"Baik."
Putra mahkota segera duduk di atas kursi, Xiao Wei menyerahkan putri pada permaisuri yang nantinya akan dia serahkan pada putra mahkota.
Dengan hati-hati permaisuri meletakan putri di atas pangkuan putra mahkota, setelah menggendongnya beberapa saat.
"Matanya sangat cantik, sangat bersih dan bersinar." Ucap putra mahkota melihat kedua mata putrinya yang ada di pangkuannya.
"Yang mulia benar, putri dan pangeran memiliki mata seperti yang mulia."
Putra mahkota mengangguk membenarkan ucapan permaisuri.
😭😭😭