NovelToon NovelToon
Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Jeritan Dendam Sang Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:62k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.

Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.

Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.

"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04

"Astaga, Mas! Nggak bisa apa kamu diemkan anakmu itu?!" Suara Carolin Baskara menggema dari dalam kamar utama.

Wanita itu menutup telinganya kesal saat tangisan bayi kembali terdengar dari kamar sebelah. Sudah hampir setengah jam dan suara itu belum juga berhenti.

Di atas ranjang, Evan Cristian yang baru saja mengenakan jas kerjanya mengusap wajah dengan frustrasi.

"Udah ku bilang cari pengasuh yang benar."

"Bukan aku yang nyari?" balas Carolin ketus.

Tangisan bayi kembali terdengar, semakin lama semakin keras dan semakin membuat kepala keduanya berdenyut.

Sudah dua bulan sejak bayi perempuan itu lahir. Namun, kehidupan yang mereka bayangkan sama sekali tidak sesuai kenyataan. Mereka mengira memiliki anak hanya akan menjadi pelengkap sempurna dalam keluarga kecil mereka.

Terlebih bayi itu akan menjadi pewaris keluarga Baskara sekaligus alat untuk memperkuat posisi Evan dalam keluarga tersebut.

Namun, yang tidak mereka duga, merawat bayi ternyata jauh lebih merepotkan daripada menghadiri rapat bisnis atau sesi pemotretan.

"Kamu aja yang ke sana." Carolin melirik suaminya.

Evan langsung menggeleng. "Aku ada meeting pagi."

"Aku juga ada pemotretan."

"Lalu siapa?"

Keduanya saling diam. Tangisan bayi kembali pecah, lebih keras dari sebelumnya. Membuat wajah Carolin semakin jelek.

"Aku nggak tahan lagi!" Wanita itu berdiri dari depan meja riasnya. Hari ini ia memiliki jadwal syuting iklan untuk salah satu merek internasional.

Semalam ia hanya tidur dua jam. Dan semua itu gara-gara bayi yang terus menangis. Pelayan tak ada yang bisa menenangkan bayi itu.

Rambutnya sudah ditata sempurna. Riasannya hampir selesai. Namun, suasana hatinya benar-benar berantakan.

"Aku bahkan nggak bisa kerja dengan tenang." Carolin meraih tas bermerek di atas meja.

"Tiap malam dia nangis, tiap malam tidurku terganggu. Kalau begini terus, wajahku bisa rusak."

Evan menghela napas panjang. Meski tidak mengatakannya, ia juga mulai kelelahan. Bayi itu sangat sulit ditangani. Beberapa pengasuh sudah datang dan pergi. Tidak ada yang bertahan lama.

Apalagi setelah dokter menyatakan bahwa bayi mereka memiliki alergi terhadap sebagian besar susu formula yang dicoba.

Setiap kali diberi susu tertentu, tubuh bayi itu langsung menunjukkan reaksi. Bahkan, pernah sampai harus dibawa ke rumah sakit. Karena itulah dokter menyarankan satu solusi, memberinya ASI.

Mereka harus mencari ibu susu. Atau setidaknya mendapatkan donor ASI yang cocok. Namun, masalahnya tidak semudah itu.

"Mama sudah pasang iklan di mana-mana." Carolin menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan dengan kesal.

"Banyak yang datang. Tapi nggak ada satu pun yang benar-benar cocok."

Evan memijat pelipisnya.

"Keluarga Baskara punya banyak koneksi, kenapa tak menemukan yang pas?"

"Aku juga lagi cari." Carolin mendecak.

"Kalau gampang, dari kemarin sudah dapat."

Tangisan bayi kembali terdengar. Kali ini disertai suara pengasuh yang mencoba menenangkan. Namun, tetap gagal Carolin menutup mata beberapa detik.

Kesabarannya hampir habis. "Kadang aku heran." Wanita itu bergumam pelan.

"Evan..."

"Hm?"

"Kok dia lebih sering nangis daripada bayi lain?"

Evan mengangkat bahu. "Aku mana tahu."

Carolin berdiri. Kemudian berjalan menuju jendela. Tatapannya mengarah ke taman luas di halaman belakang rumah keluarga Baskara. Rumah mewah itu memiliki segala hal yang diinginkan banyak orang. Namun, tidak ada satu pun yang bisa menghentikan tangisan bayi berusia dua bulan itu.

Tangisan yang kini mulai terasa seperti hukuman.

"Hari ini ada kandidat baru."

Suara Evan memecah keheningan.

Carolin menoleh. "Dari mana? Rekomendasi salah satu agen."

"Kapan datangnya?"

"Siang ini,"

Carolin mengembuskan napas panjang.

"Semoga saja berhasil. Aku benar-benar sudah muak."

Di tempat lain.

Mobil yang dikendarai Elang perlahan berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua yang berada di kawasan elite Jakarta.

Amelia yang duduk di kursi penumpang langsung menatap bangunan itu tanpa berkedip. Rumah tersebut tidak semegah kediaman keluarga Baskara.

Namun, cukup besar, nyaman, dan terlihat sangat tenang. Elang keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Amelia.

"Bagaimana?" tanyanya.

Amelia tersenyum kecil. "Bagus."

"Hanya bagus?"

Amelia tertawa pelan. "Sangat bagus."

Mereka berjalan memasuki rumah. Begitu masuk, Amelia langsung melihat ruang tamu yang telah tertata rapi. Perabotan lengkap, dapur sudah terisi berbagai kebutuhan. Bahkan, kamar tidur sudah siap ditempati.

Jelas semuanya dipersiapkan dengan sangat baik. Amelia berbalik menatap Elang.

"Jangan bilang semua ini juga kamu yang siapkan."

Elang memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Kalau bukan aku, siapa lagi?"

Amelia menggeleng sambil tersenyum. "Terima kasih."

"Tidak perlu."

"Perlu." Amelia menatap sekeliling rumah sekali lagi.

"Sungguh, terima kasih."

Elang hanya menghela napas. Pria itu tahu Amelia bukan sedang berterima kasih karena rumah ini. Melainkan karena selama beberapa bulan terakhir ia tidak pernah meninggalkannya sendirian.

"Aku akan mengembalikan semuanya." Ucapan Amelia membuat Elang mengernyit.

"Mengembalikan apa?"

"Uang yang kamu keluarkan."

Elang langsung memijat pelipisnya. "Amelia..."

"Aku serius."

"Aku juga serius."

Amelia berjalan menuju sofa lalu duduk perlahan.

"Sekarang aku hanya punya satu rekening yang tersisa."

Senyumnya memudar. "Dulu aku memiliki segalanya." Amelia tertawa hambar.

"Aku bahkan harus memulai hidup dari nol."

Elang menatap wanita itu beberapa saat. Kemudian duduk di hadapannya.

"Kau tidak memulai dari nol."

Amelia mengangkat kepala.

"Kau masih hidup, kau masih punya kesempatan. Kau masih punya seseorang yang harus kau perjuangkan."

Mata Amelia langsung berkaca-kaca.

"Aku akan mengambilnya kembali." Suaranya pelan tetapi penuh keyakinan.

Elang mengangguk. "Aku tahu."

Suasana kembali hening beberapa saat. Hingga Elang melirik jam tangannya.

"Ngomong-ngomong."

"Hm?"

"Siang ini kau harus pergi."

Jantung Amelia langsung berdebar. "Ke mana?"

"Kediaman keluarga Baskara."

Amelia langsung menegakkan tubuhnya.

Elang mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan sebuah alamat.

"Aku baru mendapatkannya pagi tadi. Mereka mengirim alamat untuk wawancara ibu susu."

Amelia mengambil ponsel itu. Matanya langsung terpaku pada layar. Tangannya perlahan mengepal. Alamat tersebut terasa begitu familiar. Bukan karena ia pernah datang ke sana. Melainkan karena di sanalah putrinya berada.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Elang saat melihat Amelia terlalu lama diam.

Amelia menarik napas panjang. Kemudian mengangguk.

"Aku baik-baik saja."

"Kau gugup?"

"Tentu saja." Jawaban Amelia membuat Elang tersenyum tipis.

"Aku juga akan gugup kalau harus bertemu orang yang menghancurkan hidupku."

Amelia terkekeh pelan. Namun senyumnya segera menghilang. "Bagaimana kalau mereka mengenaliku?"

"Mereka tidak akan."

"Bagaimana kalau aku kehilangan kendali?"

"Kau tidak akan."

"Bagaimana kalau—"

"Amelia..." Elang memotong ucapannya. Wanita itu langsung terdiam.

"Kau sudah melewati operasi. Kau sudah melewati masa terburuk dalam hidupmu. Kau bahkan berhasil bertahan setelah kehilangan segalanya."

Elang menatapnya serius. "Jadi jangan meragukan dirimu sendiri sekarang."

Amelia memandang pria itu beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.

"Kapan kamu berubah jadi bijak seperti ini?"

"Aku memang selalu bijak."

"Bohong."

"Kau baru sadar."

Amelia tertawa kecil.

Elang berdiri lalu merapikan jasnya.

"Siapkan dirimu. Kita berangkat satu jam lagi."

Amelia mengangguk.

Setelah pria itu pergi ke lantai atas, ia kembali menatap alamat yang tersimpan di ponselnya. Perlahan senyum dingin muncul di bibirnya.

1
mimief
wkwkwkwk
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🅛🅚-🅒🅘🅣🅡🅐👻ᴸᴷ
kayaknya setelah semua masalah selesai Laras melakukan operasi lagi kewajah Amelia lagi biar makin meyakinkan kasus yang menyeret mereka biar hukumannya makin berat
mimief: kyk nya ga deh
dr percakapan elang sama Laras kemarin
mang Amelia dibikin udah ga ada
mungkin hukuman mereka malah tambah berat
total 1 replies
Oma Gavin
mampusss kalian semua
SasSya
semua akan terkuak satu persatu
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
Les Tary
ga kenal dari hongkong🤣🤣
Helen@Ellen@Len'z: 🤣🤣🤣🤣🤣loh kok dr hongkong
total 1 replies
mimief
gas keun
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
mimief: setujuu bangett
enak amet idup kyk ga punya dosa sm sekali 😌
total 2 replies
Les Tary
Carolina wajib nyusul Evan kepenjara dulu mereka berdua telah menghancurkan hati Amelia
Jaya Fandi
luaar biasa sekali kamu lang,,semoga engkau mendapatkan jodohbyg luaar biasa sprt mama ara
SasSya
Bagus!
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Dewi Ansyari
Tunggu saja kamu Carolin dan Evan sebentar lagi balasan buat perbuatan kalian selama ini pada Amelia akan membayar harganya
Dewi Ansyari
Bagus Tian Baskara semakin kamu emosi ,makasih Laras lebih mudah mendapatkan semua haknya,dan juga keadilan untuknya yg sebagai Amelia akan mendapatkan hak atas semaunya 😔
Dewi Ansyari
Tunggu saja kehancuranmu Evan😡😡😡
Dewi Ansyari
Akhirnya Laras benar2 bisa bebas dari kandang harimau Rvan
merry
bgss tu seret Caroline juga dan klurga y kn istri tua evan otomatis nikmati hrta ya laras dan parah laras dijadiin wadah benih mrk itu termsk nipu dan tindakan ilegal terhdp laras,,,
merry
heran sm evan harta yg dia nikmatin ko gk sdr dri gt ya 🤔🤔🤔santai ajjh
Rarik Srihastuty
aku thor, pemasaran dengan cerita Kenzo
Aisyah Alfatih: nanti aku rilis ya, tamat elang... biar nggak keteter up nya 😬😬
total 1 replies
neny
carolin ini gmn ya,,apa2 mau nya langsung beres,,percuma dng jalan tenang pun semua nya akan terkuak,,dan siap2 ajh senyum kemenangan,senyum kekuasaan dan senyum kesombongan itu sebentar lg akan hilang,,tunggu ajh
neny
heheehee,,carolina,,emng siape elo,,helloo,,ibu kandung nya tuh amelia,,cek ajh ath ke lab,,lagian km jg sebnyar lg akan nyusul evan,,🤣🤣
Makin seru ajh nih,,
Aditya hp/ bunda Lia
gak sabaaarrrrrrr ... pake banget aku mau tau gimana si Evan sama si Carolin dan bapaknya pas tau kelakuan mereka sebenarnya dan itu menghancurkan semuanya ....
mimief
gemes amet Thor aku
kasih tau Ama dunia ini orang jadi ibu palsu
pencitraan aja
tapi emang.. jadi keinget dulu ada artis China yg nyari ibu pengganti buat ngelahirin ank ank nya karena dia ga mau badannya berubah
hadeeeh🫣🥹🥹.
ya..pas udah lahir,ga ada sama sekali ikatan batin nya sama anknya
akhirnya ga Deket...dan kyk orang asing
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!