NovelToon NovelToon
Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Santri Bar-Bar Milik Gus CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

​Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

***

Suasana di dalam kamar perawatan khusus ndalem mendadak berubah hening setelah Mbah Yai Usman dan Bu Nyai Halimah melangkah keluar. Langkah kaki kokoh sang Kiai Sepuh yang beriringan dengan isak tangis Bu Nyai terdengar menjauh menuju ruang tamu utama, tempat Ustadzah Maryam dan Fida tengah menunggu dengan tubuh gemetar dihantam ketakutan. Pintu kayu jati tebal itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang pekat, hanya diinterupsi oleh bunyi detak jam dinding kuno dan tetesan cairan infus yang teratur.

Kamar kembali sunyi. Di sinilah, di bawah temaram lampu kamar yang menenangkan, benteng es di wajah Gus Zayyan runtuh seutuhnya.

Pria perfeksionis yang biasa berdiri tegap dengan kemeja klimis atau jubah wibawa itu kini tampak rapuh. Zayyan menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang sarat akan rasa bersalah, penyesalan, dan amarah yang melebur menjadi satu. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu menarik sebuah kursi kayu jati untuk duduk tepat di sisi Naya.

Matanya yang tajam menatap lekat-lekat wajah gadis yang terbaring lemas di hadapannya. Naya masih memejamkan mata rapat-rapat. Sisa-sisa penderitaan semalam masih tercetak jelas di sana; bibirnya yang biasa ceriwis dan tajam kini kering pecah-pecah, sementara kulit wajahnya yang biasa segar tampak sekuning kapur.

Zayyan mengulurkan tangannya yang hangat. Dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah takut membangunkan tidur lelapnya, jemari besar Zayyan meraih punggung tangan Naya yang bebas dari selang infus. Begitu kulit mereka bersentuhan, Zayyan mengetatkan rahangnya. Di atas kulit tangan Naya yang putih, tampak jelas guratan merah, kapalan baru, dan lecet-lecet perih akibat mencuci panci raksasa dan mencengkeram gagang sapu lidi di bawah terik matahari.

Maafkan saya, Nayanika... dialog batin Zayyan bergaung hebat di dalam kepalanya.

Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya. Selama satu minggu ini, ia terlalu kaku menuruti ego pertaruhan kuota ponsel. Ia terlalu sibuk berperan sebagai Gus yang dingin dan CEO yang disiplin, membiarkan kontrak pertaruhan itu berjalan tanpa menyadari bahwa di balik punggungnya, ada sepasang mata dengki yang memanfaatkan situasi untuk menindas istrinya sendiri.

Istri. Kata itu kini berdengung lebih keras di benak Zayyan. Gadis kota berusia sembilan belas tahun yang sah ia nikahi secara agama sebulan lalu atas amanah mertuanya, kini terbaring kritis di rumahnya sendiri karena kezaliman bawahannya.

Zayyan memajukan tubuhnya, mencondongkan wajahnya ke arah telinga Naya yang masih tak sadarkan diri. Dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan lembut—suara yang belum pernah didengar oleh siapa pun di pesantren ini—ia berbisik, "Saya berjanji, Nayanika... ini adalah kali terakhir kamu terluka di tempat ini. Setelah hari ini, tidak akan ada satu pun tangan yang boleh menyentuh seujung rambutmu untuk menyakitimu. Saya yang akan menjamin itu dengan hidup saya sendiri."

Ia mengusap kening Naya yang masih terasa panas akibat demam. Sentuhannya penuh dengan rasa pelindungan yang protektif, sebuah bentuk kepemilikan yang selama ini sengaja ia sembunyikan rapat-rapat di balik dinding gengsi.

Euuunggh...

Sebuah lenguhan pelan tiba-tiba keluar dari belahan bibir Naya. Kelopak mata gadis itu bergerak-gerak kecil, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar yang temaram. Naya merasakan seluruh sendi tubuhnya ngilu luar biasa, seolah-olah ia baru saja dihantam oleh truk kontainer. Lambungnya berdenyut perih, memicu rasa pening yang hebat di kepalanya.

Saat pandangannya yang mengabur perlahan mulai memfokus, hal pertama yang ia tangkap adalah langit-langit kamar berukir kayu jati yang asing. Bau minyak gaharu dan antiseptik menusuk indra penciumannya.

Namun, kejutan sesungguhnya terjadi ketika Naya merasakan kehangatan yang mendekap tangan kanannya. Ia menoleh ke samping, dan sepasang mata elang di balik lensa kacamata Gus Zayyan tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"G-Gus Kaku...?" cicit Naya, suaranya sangat serak, nyaris hilang di tenggorokan.

Kesadaran Naya belum pulih seratus persen, namun otaknya yang cerdas langsung menangkap satu hal: tangan kanannya sedang digenggam erat oleh pria itu. Sontak, jiwa asli Naya yang waspada langsung memberontak. Menggunakan sisa tenaga terakhir yang ia miliki, Naya menarik paksa tangannya dari genggaman Zayyan dengan gerakan menyentak.

"A-Aww!" Naya meringis kesal karena gerakan tiba-tiba itu membuat punggung tangan kirinya yang tertancap jarum infus berdenyut nyeri.

"Jangan banyak bergerak dulu, Nayanika. lmfusmu bisa bergeser," ucap Zayyan, nadanya berubah tegas namun ada nada cemas yang tertahan di sana. Tangannya yang kosong kini kembali ditaruh di atas lututnya sendiri.

Naya mengabaikan rasa perih di tangannya. Ia menatap Zayyan dengan pandangan penuh permusuhan dan kecurigaan khas anak Jakarta. "Lu... ngapain lu pegang-pegang tangan gue?! Mau ambil kesempatan ya lu?! Kita bukan muhrim, Gus Kaku! Lu sendiri yang bilang semalam, jaga jarak aman tiga langkah secara hukum agama! Kenapa sekarang lu malah melanggar aturan lu sendiri?!" cerocos Naya panjang pendek, meskipun napasnya langsung terengah-engah karena fisiknya yang masih sangat lemah.

Zayyan menatap Naya datar, mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi setenang air telaga, meskipun di dalam hatinya ia merasa lega melihat energi bar-bar gadis itu telah kembali. Pria itu membetulkan letak kacamatanya yang sedikit turun.

"Aturan itu berlaku untuk santri umum, Nona Nayanika," ujar Zayyan, suaranya terdengar sangat tenang, berat, dan penuh kepastian. "Tapi untuk situasi kita sekarang, memegang tangan kamu bukan lagi sebuah pelanggaran hukum agama."

Naya mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Maksud lu apa sih? Enggak usah sok filsafat deh, kepala gue lagi mau pecah ini. Ini ruangan siapa? Kenapa gue bisa ada di sini?"

"Ini kamar perawatan khusus di dalam rumah ndalem. Kamu pingsan di halaman utama saat menyapu di bawah terik Duha," jelas Zayyan runtut. Matanya beralih menatap selang infus. "Dokter bilang kamu dehidrasi akut dan kurang gizi karena tidak makan sejak kemarin siang. Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya subuh tadi?"

Naya memalingkan wajahnya ke arah jendela, mendengkus kesal. "Buat apa? Biar gue kelihatan kayak pecundang yang mengadu karena dihukum? Lagian, si lampir tua Maryam itu emang sengaja cari gara-gara sama gue. Gue punya harga diri, Gus. Gue enggak bakal nangis-nangis ke lu cuma gara-gara disuruh nyapu."

"Tapi kamu istrimu... maksud saya, kamu adalah tanggung jawab saya di sini," Zayyan mendeham kaku, hampir saja lidahnya terpeleset mengucapkan kata rahasia itu terlalu cepat. Namun, melihat keras kepalanya Naya, Zayyan merasa tidak ada gunanya lagi menutupi kenyataan yang sudah diketahui oleh seluruh isi ndalem.

Zayyan memajukan badannya, menatap Naya dengan tatapan yang sangat serius. "Nayanika, dengarkan saya baik-baik. Saya akan menjelaskan satu hal yang harus kamu ketahui, agar kamu tidak lagi salah paham tentang tindakan saya."

"Apaan?" Naya menoleh, merasa ada aura yang tidak biasa dari cara bicara Zayyan.

"Kita sudah sah secara agama," ucap Zayyan lambat, setiap kata diucapkan dengan penekanan yang mutlak. "Tepat sehari setelah kamu menginjakkan kaki di pondok pesantren ini, saya sudah mengucapkan ijab kabul yang sah di depan papa kamu, di ruangan tengah ndalem ini. Dengan Abah saya sebagai saksi kuncinya. Kamu dan saya... sudah resmi menjadi suami istri."

Hening.

Ruangan itu mendadak sunyi selama beberapa detik. Naya membeku di atas bantalnya. Matanya mengerjap-erjapkan beberapa kali, mencoba memproses kalimat bahasa Indonesia yang baru saja masuk ke dalam indra pendengarannya. Setelah lima detik berlalu, tawa hambar keluar dari bibir kering Naya.

"Lucu banget lu, Gus. Sumpah, bakat lu jadi komedian terselubung," ujar Naya sambil menggelengkan kepala, mengira Zayyan sedang memberikan lelucon garing untuk menghiburnya. "Gue? Nikah sama lu? Hahaha, jangan ngaco deh! Gue baru sembilan belas tahun, Gus! Gue masih muda, masa depan gue masih panjang di Jakarta! Gue masih mau kuliah, mau balapan, mau menikmati hidup! Mana mungkin gue nikah diam-diam di tempat antah berantah begini, apalagi sama modelan Gus Kaku kayak lu yang umurnya udah kayak om-om!"

Mendengar sebutan "om-om" dan penolakan mentah-mentah dari Naya, sudut alis Zayyan berkedut tipis. Sifat arogan dan gengsi tinggi seorang CEO seketika tersenggol.

"Saya baru berusia dua puluh sembilan tahun, Nona. Perbedaan sepuluh tahun bukan berarti saya seorang om-om," sanggah Zayyan, suaranya mendadak berubah menjadi agak ketus karena egonya terluka. "Dan saya tidak sedang bercanda. Pernikahan itu sah secara hukum agama Islam. Papamu sendiri yang memohon kepada Abah saya untuk melaksanakan akad siri tersebut lebih cepat demi melindungi kamu di sini."

Naya menepis kalimat Zayyan dengan sisa tenaganya, tangannya yang bebas bergerak mengawang di udara. "Enggak, enggak! Gue enggak percaya! Papa gue emang otoriter, tapi dia enggak bakal se-gila itu nikahin gue tanpa izin dari gue sendiri! Lu pasti cuma mau nakut-nakutin gue kan biar gue tunduk sama aturan lu? Atau jangan-jangan lu emang naksir sama gue terus bikin skenario halu begini?!" tuduh Naya bertubi-tubi, egonya sebagai anak kota menolak keras kenyataan fiksi ini.

Zayyan menghela napas pendek melalui hidung, menatap Naya dengan pandangan jengah yang biasa ia tunjukkan jika Naya mulai berbuat onar. Pria itu berdiri dari kursinya, membuat postur tubuhnya yang jangkung kembali memberikan tekanan psikologis di dalam kamar.

"Saya? Naksir dengan gadis bar-bar yang hobi menyemprot senior dengan selang air dan tidak bisa membedakan huruf Alif dan Ya? Jangan terlalu tinggi bermimpi, Nona Nayanika," balas Zayyan dengan sindiran tajam khasnya, mencoba menyembunyikan getaran aneh di dadanya yang sebenarnya bergejolak sejak tadi.

Zayyan melangkah dua langkah mendekati meja, mengambil sebuah map dokumen hitam yang tadi diletakkan oleh Mbah Yai Usman. lIa membawanya kembali ke samping ranjang, lalu membukanya tepat di depan mata Naya yang masih terbaring lemas.

"Kalau kamu tidak percaya dengan kata-kata saya, kamu bisa melihat ini sendiri," Zayyan menunjuk lembar dokumen legalitas tanah dengan jari telunjuknya yang kokoh. "Ini adalah sertifikat resmi kepemilikan tanah Pondok Pesantren Al-Falah atas nama kamu, Nayanika. Warisan mutlak dari kakek buyutmu melalui ibumu, Ning Jihan. Dan di lembar belakangnya..." Zayyan membalik kertas tersebut, memperlihatkan sebuah lembar surat pernyataan nikah siri bermeterai yang ditandatangani langsung oleh tanda tangan khas Papahnya Naya yang sangat ia kenali.

Naya tertegun. Matanya membelalak lebar menatap goresan pulpen hitam milik papanya di atas kertas tersebut. Dadanya mendadak terasa sesak, bukan karena penyakit fisiknya, melainkan karena rahasia besar yang tiba-tiba runtuh menghantam seluruh dunianya dalam satu waktu.

"P-Papa..." bisik Naya lirih, matanya mulai berkaca-kaca kembali.

"Semua orang di ndalem ini sudah tahu status kamu sejak awal, Nayanika. Hanya kamu yang sengaja dijauhkan dari fakta ini agar mentalmu tidak terguncang," tambah Zayyan, suaranya melunak kembali saat melihat binar rapuh di mata istrinya. "Kamu bukan sekadar santri buangan. Kamu adalah pemilik tempat ini, cucu kandung dari garis keturunan kiai besar, dan... kamu adalah istri saya."

Naya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan satu tetes air mata lolos membasahi pipinya yang pucat. Otaknya berputar gila-gilaan, mencoba menyatukan semua potongan teka-teki: perhatian Bu Nyai yang berlebihan, susu stroberi dari tol semalam, dan tatapan tajam Zayyan yang selalu mengawasinya. Semua itu... bukan karena mereka kasihan, melainkan karena ikatan yang terikat kuat tanpa persetujuannya.

Di saat Naya sedang tenggelam dalam syok beratnya, dari balik dinding ruang tamu luar, tiba-tiba terdengar suara benturan keras dan pekikan histeris dari Ustadzah Maryam yang mulai diinterogasi oleh Mbah Yai Usman. Suara keributan itu samar-samar menembus celah pintu kamar perawatan, menandakan sidang pembalasan telah dimulai di luar sana.

Zayyan mengalihkan pandangannya ke arah pintu, rahangnya kembali mengeras. lIa menoleh kembali ke arah Naya yang masih terdiam dengan dada naik turun.

"Tetaplah di sini dan selesaikan infusmu. Saya harus keluar sebentar untuk mengurus orang-orang yang telah membuat istri saya menjadi seperti ini," ucap Zayyan dengan nada protektif yang dingin, bersiap melangkah keluar menuju ruang sidang utama ndalem.

Naya tidak menjawab, ia hanya menatap punggung tegap Zayyan yang mulai bergerak menuju pintu dengan perasaan yang campur aduk antara bingung, benci, dan sebuah rasa asing yang mendadak menyeruak di relung hatinya.

BERSAMBUNG

Aaaaaa, baper gueeee wkwkwk

1
Kholiq Masbuhin
greget banget thorrr,antek2 Fida bikin darting.mapus di bikin Naya kicep🤣🤣
Kholiq Masbuhin
🥹🥹bikin mewekkk, semangat terus Thor
Kholiq Masbuhin
huhuhuhu terharu q thorr🥹🥹, seperti masuk dalam ceritanya
Kholiq Masbuhin
gilaaaa lanjutkan thorrrr,kamu membuat aku menghaluuuuu
Kholiq Masbuhin
thorrrrrrrrrrrrrr bom bas tis,ya Allah mengguncang hatiku,sampe deg deg serrrrrrrr.tidak bisa berkata-kata,karyamu bagusss bangettttt.semoga semakin bagus thorrrrr,lope lope banyak banyak🤍🥰😘
Kholiq Masbuhin
aaaaaa thorrrr di lope lope sama alur ceritanya 🥰🥰 ku tunggu punya yg banyak2 ya thorrrrr, semangat 💪
Kholiq Masbuhin
up nya jam berapa Thor ?setiap hari apa gimana? di tunggu Thor, semangat 💪💪😘
Kholiq Masbuhin
bagus banget,alur ceritanya santai ringan dan enak di bacanya.semangat nulisnya ya
Kholiq Masbuhin
suka banget sama alur ceritanya ,ringan dan santai.enak di bacanya.aku pernah baca novel seperti punyamu ini Thor, serupa tapi tak sama.semangatttt terus ya nulisnya,🤍
Kholiq Masbuhin: /Drool/
total 2 replies
Runi Mayantri
gus zayyan ud mulai trtarik ma si nay😄😄😄😍
Ell Fikar
udh up banyak tp msh kurang rasanya
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr

lanjut thor up yg banyak
guest1053527528
lanjut thor bagus ceritax dengan aksi bar2 dan menentang sy suka itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!