Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.
Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.
Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.
Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.
Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..
Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?
Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..
**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kunjungan Tak Terduga
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
♥️♥️♥️♥️♥️
Naya bersama dengan Richard dan Catharine
masih berada di ruang khusus penyimpanan
semua sampel produk baru yang nanti akan di
promosikan. Catherine terlihat begitu berbinar
saat melihat berlian indah dengan desain yang
sangat mewah dan exlusive itu.
Richard terus saja berusaha untuk bisa berbicara
empat mata dengan Naya saat Catherine dan
Carissa sedang berbicara soal detail produknya .
Tapi seperti biasa Naya berusaha untuk
menghindar dan tidak menanggapi keinginan
Richard. Walau dia akui masih ada sedikit
perhatian terhadap laki-laki itu, tapi bukan
berarti hatinya masih sama seperti dulu.
Setelah selesai, Naya dan Robin mengantar
Richard dan Catherine ke lantai bawah sekalian
ada hal yang harus di lakukan.
"Nay, kapan kamu punya waktu, ada hal yang
ingin aku bicarakan dengan mu."
Richard berhenti melangkah, dia menatap Naya
dengan sorot mata begitu hangat dan penuh
harapan. Catherine melihat interaksi keduanya
dengan wajah kesal dan dongkol. Bagaimana
bisa pelayan ini merebut perhatian Richard
hanya dalam dua kali pertemuan saja.
"Apa yang mau kamu bicarakan Kak ? Aku sudah
tidak ingin berurusan lagi dengan Mama mu.."
"Nay, kamu tahu kan bagaimana perasaan aku ke
kamu, kita berpisah karena keterpaksaan."
"Semua itu sudah menjadi masa lalu kita Kak.
Aku sudah tidak lagi mengingat nya."
"Tapi aku tidak bisa melupakan kamu Nay,
sampai dengan detik ini."
"Kak Rey, kamu akan segera bertunangan dengan
gadis pilihan keluarga mu, jadi ku mohon jangan
membawaku ke dalam masalah mu lagi.."
"Aku akan membatalkan pertunangan ku
dengan nya Nay.!"
"Kamu jangan nekad Kak, aku sudah tidak punya
perasaan apapun sama kamu !"
"Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu
kembali Nay, aku yakin aku bisa.!
"Ya ampun Kak, sudah cukup.!"
"Nay, aku tidak bisa melupakan cintaku sama
kamu, semuanya masih sama seperti dulu. !"
Naya kehilangan kesabaran, dia menghentikan
langkahnya, Richard dan yang lain pun sama.
Keduanya kembali saling pandang kuat .Ingin
rasanya Naya mengatakan kalau sekarang ini
dia sudah menjadi milik orang lain, dia sudah
menjadi istri orang lain saat ini.
Catherine berdiri sambil bertolak pinggang,
menatap kesal kearah keduanya, jadi benar
dugaannya kalau wanita ini pernah ada hubungan dengan Richard di masa lalu. Cihh..kok bisa gitu wanita kelas rendah seperti dia pernah memiliki
hubungan dengan laki-laki berkelas seperti Richard.
"Hei..kamu, bisa gak sih urusan pribadi jangan di
bawa di sini.? sengaja banget ya cari perhatian !"
Ketus Catherine dengan wajah juteknya, Naya
menatap Catherine jengah, siapa juga yang cari
perhatian, sudah jelas dari tadi kalau Richard
yang terus saja menggangu dirinya.
"Mohon maaf Nona Catherine, tapi saya tidak
sedang mencari perhatian, tidak sama sekali."
"Kalau bukan cari perhatian terus apa namanya?
Kamu pikir kamu sangat penting ya di sini.?"
Debat Catharine dengan raut wajah kesal campur
geram. Naya hanya menggeleng dan membuang
napas perlahan. Sungguh dia sedang tidak ingin
berdebat dengan siapapun saat ini.
"Catherine, ini urusan pribadi ku, tolong kamu
pulang saja duluan, aku harus bicara dulu
dengan nya.! kita ketemu lagi besok di kantor.!"
Catharine tampak semakin kesal, kenapa sih
Richard malah menyuruh nya pergi duluan.
Dia menatap geram kearah Naya yang tampak
santai dan berpaling muka.
"Kamu itu memang pandai sekali ya mencari
perhatian laki-laki, sama sekali tidak sesuai
dengan image yang coba kamu perlihatkan.!"
"Nona Catherine, tolong..kita akan menjalin
kerjasama di sini.! bisa tidak, kita bersikap
professional sedikit !"
"Hehh..siapa kamu memang nya ? Aku tidak
punya urusan dengan pegawai rendahan
seperti kamu, aku adalah model besar.."
"Catherine sudah ! Aku minta kamu jangan ikut
campur urusan pribadiku dengan Kanaya..!"
Richard menatap tajam wajah Catherine dengan
emosi yang sedikit terpancing oleh ucapan
dan provokasi yang barusan di lontarkan gadis
yang berprofesi sebagai model itu.
"Mohon maaf, saya masih banyak kerjaan Pak
Richard, jadi kalau sudah tidak ada yang perlu
kita bahas, saya akan kembali ke atas."
Naya segera membungkuk sedikit dan berbalik,
tapi tiba-tiba tangannya di tahan dan di pegang
oleh Richard.
"Tunggu dulu Nay, kita masih harus bicara !"
Naya tersentak dia menatap tajam pegangan
Richard di tangannya. Saat bersamaan terdengar
sedikit kegaduhan dari arah loby kantor. Mereka
semua melihat kearah datang nya suara, mata
mereka tampak terpaku dan terkesima saat melihat kemunculan Tuan Tampan di tempat itu. Catherine membulatkan matanya tidak percaya melihat kehadiran Aham. Sementara tatapan Aham tampak menghunus kearah pegangan tangan Richard di tangan Naya.
Dengan cepat Naya menepis tangan Richard.
Wajah nya langsung saja berubah gusar dan
tegang, Catherine berlari menyongsong
kedatangan Aham.
"Hai..baby senang banget bisa bertemu kamu di
sini, apa kau memang sengaja datang kesini
karena tahu ada aku di sini ? Kau mau memberikan kejutan spesial untukku ya ?"
Aham segera mengangkat tangannya membuat Catharine terdiam, menatap penuh tanda tanya
terhadap Aham yang terlihat begitu dingin.
"Kenapa baby, aku sangat merindukanmu.."
"Aku datang kesini ada urusan bisnis ! "
Catherine melongo, Aham melangkah melewati
dirinya, sementara Robin langsung menyambut
kedatangan Aham seraya membungkuk hormat
di hadapan nya.
"Selamat datang Tuan Abraham.."
Sambut Robin menunduk dalam, Aham hanya
berdiri tenang, dia mengangkat tangannya sedikit, tatapannya kembali kepada Naya dan Richard
yang terlihat ikut membungkuk hormat.
"Pak Presdir..senang bertemu anda kembali di
tempat ini.!"
Richard menyapa Aham dengan perasaan yang
sedikit tidak nyaman. Kenapa orang ini bisa
kembali bertemu dengannya di saat sekarang.
Leo mendekat kearah Robin, kemudian berbicara
pelan, Robin tampak mengangguk faham.
"Pak Richard.. seperti nya urusan kita sudah
selesai. Mohon maaf saya masih ada urusan lain. Sekali lagi terimakasih, kita akan bertemu lagi nanti.!"
Robin segera berpamitan kepada Richard yang
terlihat sedikit kecewa karena pembicarannya
dengan Naya harus terganggu.
"Baiklah Pak Robin, kita atur pertemuan
berikutnya.Kalau begitu saya permisi sekarang.."
Richard berpaling pada Naya yang masih berdiri
mematung , bingung harus bertindak. Dia melihat
tatapan dan wajah Aham begitu dingin. Bagaimana
ini, lagipula ada urusan apa dia datang kesini?
Naya semakin dibuat bingung dan gelisah.
"Nay..aku permisi dulu, tapi pembicaraan kita
belum selesai, aku akan menemuimu lagi nanti "
"Baiklah Pak Direktur..silahkan, terimakasih atas
kedatangannya."
Naya hanya bisa mengangguk sedikit. Richard
menatap lekat wajah cantik Naya, rasanya berat
untuk berpisah dengan wanita itu, tapi tidak ada
pilihan lain baginya. Aham yang melihat tatapan
lekat Richard terlihat mengepalkan tangannya.
Richard berpaling pada Catharine yang masih
berusaha untuk mendekati Aham.
"Catherine, mari kita pergi, Pak Presdir kami
permisi duluan."
Ucap Richard dengan menatap sekilas ke wajah
tampan pria berpengaruh itu. Ada rasa tidak suka
dalam hatinya saat mengingat bahwa Naya pernah
menjadi pelayan pribadi orang ini. Aham hanya
mengangguk sedikit merespon ucapan Richard.
"Aham..kita perlu bicara, aku ingin semuanya
menjadi jelas !"
Catharine masih keukeh berdiri di hadapan
Aham dan memegang lengannya penuh harap.
Tapi wajah Aham terlihat begitu datar tanpa
ekspresi sama sekali terhadap dirinya membuat
hati Catherine sontak saja di penuhi dengan kekecewaan.
"Pergilah ! Aku sedang tidak ada waktu.!"
Catherine melepaskan pegangan tangannya,
tatapan nya berubah kesal. Tapi tidak bisa di
pungkiri dia juga sangat merindukan laki-laki ini.
Setelah pesta ulang tahun Meline kemarin,
dia seakan kehilangan akses untuk dapat
menemui Aham. Setiap ke kantor nya Aham
selalu menolak bertemu, telponnya juga tidak
pernah lagi di respon. Catharine merasa Aham memang sengaja sedang menghindarinya, dan
ini pasti gara-gara gadis cantik yang ada di pesta
itu yang sempat bersitegang dengan dirinya.
"Baiklah, tapi aku akan datang menemui mu lagi."
Ketus Catharine akhirnya sambil kemudian mulai
melangkah dengan menghentakkan kakinya kesal.
Sebelum pergi, Richard kembali melihat kearah
Naya yang berusaha bersikap senormal mungkin.
"Tuan Abraham..mari silahkan.."
Robin berucap dengan sangat sopan dan hati-hati.
Dia merasa situasi sedikit tidak kondusif saat
melihat tatapan Aham terhadap Naya seakan
sedang menginterogasi isi hati gadis itu.
Aham acuh saja, maju ke hadapan Naya yang langsung mundur beberapa langkah, namun dia tersentak saat laki-laki itu tiba-tiba saja mencengkram kuat tangan nya, kemudian di tarik paksa dibawa berjalan menuju ke dalam lift khusus.
Semua karyawan yang kebetulan sedang berada
di tempat itu tampak bengong dan terdiam
melihat kejadian tidak terduga itu.Leo dan Robin
tidak berani ikut masuk kedalam lift setelah
melihat gelagat tidak beres dari Aham barusan
yang sepertinya sedang dalam mode kesal
yang maksimal.
Keduanya kini berada di dalam lift, hanya berdua,
membuat Naya tegang sekaligus takut melihat
reaksi wajah Aham. Aham berdiri tegak di tengah,
sementara Naya berdiri di sampingnya sedikit
mepet kearah dinding lift.
"Kau.. lagi-lagi bertemu dengan mantan mu itu !"
Geram Aham dengan wajah sudah sedingin es
balok. Tapi anehnya, meski begitu ketampanan
wajahnya tidak pernah terpengaruh sedikitpun,
malah semakin terlihat menarik dan menggoda.
"Ka-kami bertemu hanya untuk urusan kerjasama,
tidak ada maksud lain."
"Oya.? dengan berpegangan tangan seperti tadi?
Apa itu pantas di lakukan, oleh seorang wanita
yang sudah bersuami.?!"
Bentak Aham membuat Naya tersentak, membeku
di tempat, dia tidak menyangka Aham akan semarah itu. Naya meremas ujung pakaiannya menahan rasa tidak nyaman yang kini sedang melingkupinya.
"Ma-maaf.. a-aku tidak menyangka dia akan
berbuat hal demikian. Aku juga tidak suka."
"Aku tidak akan mengampuni mu..!"
Geram Aham sambil kemudian kembali menarik
tangan Naya di bawa keluar saat pintu lift terbuka.
Naya mencoba melepaskan pegangan tangan
Aham yang terasa semakin kuat.
"Tolong lepaskan tanganku, semua karyawan
akan curiga pada kita. "
"Aku tidak peduli.!"
"Mereka akan tahu ada sesuatu diantara kita."
"Itu yang aku inginkan.!"
Desis Aham membuat Naya melotot dan hanya
bisa mengikuti langkah lebar Aham tanpa bisa
bicara lagi. Apa yang laki-laki ini katakan tadi ?
Dia tidak peduli semua orang tahu tentang
hubungan mereka ?
Semua staf karyawan yang ada di lantai teratas
ini tampak terkejut setengah mati melihat
kehadiran Presdir AM Corp di kantor ini, sesuatu
yang sangat tidak terduga sama sekali. Tapi, apa
yang terjadi ? kenapa dia menarik paksa Owner perusahaan ini, dan sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik.!
"Selamat datang Pak Presdir.."
Mereka semua yang di lalui nya tampak langsung
menyambut sopan dan membungkuk hormat .
Aham hanya mengibaskan tangan dan berjalan
acuh menuju ke dalam ruangan kantor Naya.
Entah bagaimana, dia sepertinya sudah sangat
hapal letak kantor Naya berada.
Aham menutup pintu ruangan dengan keras.
Dia segera menarik Naya ke dekat wastafel.
"Cuci tanganmu sampai bersih !"
Naya menautkan alis, masih terdiam di penuhi
rasa heran. Aham berdiri di hadapannya dengan
melipat tangan di depan dadanya. Tatapannya
lurus menghujam kearah Naya yang semakin
bingung dan salah tingkah.
"Untuk apa aku mencuci tangan ?"
"Ada jejak laki-laki itu di sana !"
Aham menunjuk tangan Naya dengan dagu nya.
Naya mendengus kecil, apa-apaan ini, dia sangat
berlebihan, memang nya Richard pembawa virus.
"Cepat, atau aku akan menghukum mu..!"
"Hemm..baiklah Tuan Terhormat.."
Naya mengatupkan bibirnya seketika dengan mata
terpejam. Aham terdiam tanpa ekspresi, syukurlah.. sekarang dia sudah tidak peduli hal kecil itu lagi kan? Naya bersorak dalam hati.
"Hukuman mu di tambah !"
Lutut Naya langsung saja lemas. Aham tidak sabar melihat Naya masih saja berdiri mematung, dia
segera maju dan meraih tangan Naya, kemudian
mencucinya dengan sedikit kasar.
"Aaaww..apa kau bisa lebih pelan sedikit? "
Rengek Naya sambil meringis, Aham melirik, Naya
juga melirik kearahnya, keduanya saling pandang
dalam jarak wajah yang begitu dekat.
Jantung mereka tiba-tiba saja berdetak dengan
kencang, hati mereka bergemuruh, aroma mint
segar yang keluar dari napas keduanya seakan
membekukan aliran darah mereka.
Aham mengambil tisu, tatapannya masih fokus
di wajah cantik Naya, perlahan dia membersihkan tangan Naya dari sisa air cucian tadi. Naya terdiam
terpaku melihat apa yang dilakukan oleh laki-laki
aneh itu. Setelah selesai keduanya kembali berdiri saling berhadapan.
"Terimakasih. Harusnya kau tidak perlu
melakukan semua ini."
"Hal seperti tadi tidak boleh terulang !"
Naya terdiam, lalu mengangguk pelan.
"Silahkan duduk.."
Lirih Naya sambil melangkah duluan kearah sofa
di ikuti oleh Aham. Tapi Aham malah melangkah
kearah kursi kerja Naya, kemudian duduk di sana.
Naya tampak bingung sekaligus tegang.
"Jadi Nona Kanaya..kau bukanlah seorang
asisten pribadi Direktur ?"
Naya tersentak, wajahnya langsung saja
memerah.Dia menunduk, laki-laki ini pasti sudah mengetahui semuanya. Apalagi sekarang yang bisa dia sembunyikan, tidak ada hal yang sulit bagi seorang Abraham. Semua ada dalam genggamannya.
"Kau sudah tahu semuanya.?"
"Tidak ada hal yang sulit untuk aku ketahui.!"
"Maaf, aku tidak bermaksud berbohong padamu !
kau juga tidak pernah bertanya."
"Kau harus di hukum untuk itu !"
"Apa ? kenapa begitu?"
"Kau sudah berani melakukan sesuatu tanpa
seizinku.!"
"Tapi..bukankah ini sesuatu yang tidak penting
bagimu ?"
Aham menatap tajam wajah Naya membuat
gadis itu semakin tegang sekaligus gemetar.
Tanpa di duga tangan Aham menarik pinggang
Naya dan mengangkat tubuh nya di dudukan diatas pangkuannya. Wajah Naya semakin memerah, dia berusaha bergerak ingin turun dari pangkuan Aham, tapi tangan laki-laki itu mengunci pinggang rampingnya hingga dia tidak bisa bergerak.
Tangan Aham bergerak meraih dagu Naya,
keduanya saling pandang lekat di iringi debaran
jantung yang sudah tidak karuan.
"Sejak aku mengakuimu sebagai Istriku, segala
sesuatu yang berhubungan dengan dirimu
otomatis menjadi penting bagiku.!"
Bisik Aham dengan suara serak seksinya. Hati
Naya bergetar mendengar ucapan Aham barusan.
Matanya tampak sedikit berkaca-kaca. Apakah
benar sekarang dirinya cukup penting bagi laki-
laki yang begitu istimewa ini ?
"Sekarang berikan aku ciuman yang manis.."
Mata Naya membulat, dia mencoba menjauhkan
dirinya dari serbuan wajah Aham yang terus
mendesak maju.
"Berikan, atau aku yang akan mengambilnya.!"
Ancam Aham dengan tatapan mata berbeda
yang langsung melemaskan tubuh Naya.Tidak
ada pilihan lain, Naya memberikan apa yang di inginkan oleh suaminya itu biar tidak berlanjut
ke hal-hal lainnya. Namun Aham tampak nya
masih belum puas dengan hanya satu kecupan
saja.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bersambung.....
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪