NovelToon NovelToon
Cinta Sebening Embun

Cinta Sebening Embun

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:18.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Shan Syeera

Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.

Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.

Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.

Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.

Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..

Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?

Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..


**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Kunjungan Tak Terduga

\*\*\*\*\*\*\*\*\*

♥️♥️♥️♥️♥️

Naya bersama dengan Richard dan Catharine

masih berada di ruang khusus penyimpanan

semua sampel produk baru yang nanti akan di

promosikan. Catherine terlihat begitu berbinar

saat melihat berlian indah dengan desain yang

sangat mewah dan exlusive itu.

Richard terus saja berusaha untuk bisa berbicara

empat mata dengan Naya saat Catherine dan

Carissa sedang berbicara soal detail produknya .

Tapi seperti biasa Naya berusaha untuk

menghindar dan tidak menanggapi keinginan

Richard. Walau dia akui masih ada sedikit

perhatian terhadap laki-laki itu, tapi bukan

berarti hatinya masih sama seperti dulu.

Setelah selesai, Naya dan Robin mengantar

Richard dan Catherine ke lantai bawah sekalian

ada hal yang harus di lakukan.

"Nay, kapan kamu punya waktu, ada hal yang

ingin aku bicarakan dengan mu."

Richard berhenti melangkah, dia menatap Naya

dengan sorot mata begitu hangat dan penuh

harapan. Catherine melihat interaksi keduanya

dengan wajah kesal dan dongkol. Bagaimana

bisa pelayan ini merebut perhatian Richard

hanya dalam dua kali pertemuan saja.

"Apa yang mau kamu bicarakan Kak ? Aku sudah

tidak ingin berurusan lagi dengan Mama mu.."

"Nay, kamu tahu kan bagaimana perasaan aku ke

kamu, kita berpisah karena keterpaksaan."

"Semua itu sudah menjadi masa lalu kita Kak.

Aku sudah tidak lagi mengingat nya."

"Tapi aku tidak bisa melupakan kamu Nay,

sampai dengan detik ini."

"Kak Rey, kamu akan segera bertunangan dengan

gadis pilihan keluarga mu, jadi ku mohon jangan

membawaku ke dalam masalah mu lagi.."

"Aku akan membatalkan pertunangan ku

dengan nya Nay.!"

"Kamu jangan nekad Kak, aku sudah tidak punya

perasaan apapun sama kamu !"

"Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu

kembali Nay, aku yakin aku bisa.!

"Ya ampun Kak, sudah cukup.!"

"Nay, aku tidak bisa melupakan cintaku sama

kamu, semuanya masih sama seperti dulu. !"

Naya kehilangan kesabaran, dia menghentikan

langkahnya, Richard dan yang lain pun sama.

Keduanya kembali saling pandang kuat .Ingin

rasanya Naya mengatakan kalau sekarang ini

dia sudah menjadi milik orang lain, dia sudah

menjadi istri orang lain saat ini.

Catherine berdiri sambil bertolak pinggang,

menatap kesal kearah keduanya, jadi benar

dugaannya kalau wanita ini pernah ada hubungan dengan Richard di masa lalu. Cihh..kok bisa gitu wanita kelas rendah seperti dia pernah memiliki

hubungan dengan laki-laki berkelas seperti Richard.

"Hei..kamu, bisa gak sih urusan pribadi jangan di

bawa di sini.? sengaja banget ya cari perhatian !"

Ketus Catherine dengan wajah juteknya, Naya

menatap Catherine jengah, siapa juga yang cari

perhatian, sudah jelas dari tadi kalau Richard

yang terus saja menggangu dirinya.

"Mohon maaf Nona Catherine, tapi saya tidak

sedang mencari perhatian, tidak sama sekali."

"Kalau bukan cari perhatian terus apa namanya?

Kamu pikir kamu sangat penting ya di sini.?"

Debat Catharine dengan raut wajah kesal campur

geram. Naya hanya menggeleng dan membuang

napas perlahan. Sungguh dia sedang tidak ingin

berdebat dengan siapapun saat ini.

"Catherine, ini urusan pribadi ku, tolong kamu

pulang saja duluan, aku harus bicara dulu

dengan nya.! kita ketemu lagi besok di kantor.!"

Catharine tampak semakin kesal, kenapa sih

Richard malah menyuruh nya pergi duluan.

Dia menatap geram kearah Naya yang tampak

santai dan berpaling muka.

"Kamu itu memang pandai sekali ya mencari

perhatian laki-laki, sama sekali tidak sesuai

dengan image yang coba kamu perlihatkan.!"

"Nona Catherine, tolong..kita akan menjalin

kerjasama di sini.! bisa tidak, kita bersikap

professional sedikit !"

"Hehh..siapa kamu memang nya ? Aku tidak

punya urusan dengan pegawai rendahan

seperti kamu, aku adalah model besar.."

"Catherine sudah ! Aku minta kamu jangan ikut

campur urusan pribadiku dengan Kanaya..!"

Richard menatap tajam wajah Catherine dengan

emosi yang sedikit terpancing oleh ucapan

dan provokasi yang barusan di lontarkan gadis

yang berprofesi sebagai model itu.

"Mohon maaf, saya masih banyak kerjaan Pak

Richard, jadi kalau sudah tidak ada yang perlu

kita bahas, saya akan kembali ke atas."

Naya segera membungkuk sedikit dan berbalik,

tapi tiba-tiba tangannya di tahan dan di pegang

oleh Richard.

"Tunggu dulu Nay, kita masih harus bicara !"

Naya tersentak dia menatap tajam pegangan

Richard di tangannya. Saat bersamaan terdengar

sedikit kegaduhan dari arah loby kantor. Mereka

semua melihat kearah datang nya suara, mata

mereka tampak terpaku dan terkesima saat melihat kemunculan Tuan Tampan di tempat itu. Catherine membulatkan matanya tidak percaya melihat kehadiran Aham. Sementara tatapan Aham tampak menghunus kearah pegangan tangan Richard di tangan Naya.

Dengan cepat Naya menepis tangan Richard.

Wajah nya langsung saja berubah gusar dan

tegang, Catherine berlari menyongsong

kedatangan Aham.

"Hai..baby senang banget bisa bertemu kamu di

sini, apa kau memang sengaja datang kesini

karena tahu ada aku di sini ? Kau mau memberikan kejutan spesial untukku ya ?"

Aham segera mengangkat tangannya membuat Catharine terdiam, menatap penuh tanda tanya

terhadap Aham yang terlihat begitu dingin.

"Kenapa baby, aku sangat merindukanmu.."

"Aku datang kesini ada urusan bisnis ! "

Catherine melongo, Aham melangkah melewati

dirinya, sementara Robin langsung menyambut

kedatangan Aham seraya membungkuk hormat

di hadapan nya.

"Selamat datang Tuan Abraham.."

Sambut Robin menunduk dalam, Aham hanya

berdiri tenang, dia mengangkat tangannya sedikit, tatapannya kembali kepada Naya dan Richard

yang terlihat ikut membungkuk hormat.

"Pak Presdir..senang bertemu anda kembali di

tempat ini.!"

Richard menyapa Aham dengan perasaan yang

sedikit tidak nyaman. Kenapa orang ini bisa

kembali bertemu dengannya di saat sekarang.

Leo mendekat kearah Robin, kemudian berbicara

pelan, Robin tampak mengangguk faham.

"Pak Richard.. seperti nya urusan kita sudah

selesai. Mohon maaf saya masih ada urusan lain. Sekali lagi terimakasih, kita akan bertemu lagi nanti.!"

Robin segera berpamitan kepada Richard yang

terlihat sedikit kecewa karena pembicarannya

dengan Naya harus terganggu.

"Baiklah Pak Robin, kita atur pertemuan

berikutnya.Kalau begitu saya permisi sekarang.."

Richard berpaling pada Naya yang masih berdiri

mematung , bingung harus bertindak. Dia melihat

tatapan dan wajah Aham begitu dingin. Bagaimana

ini, lagipula ada urusan apa dia datang kesini?

Naya semakin dibuat bingung dan gelisah.

"Nay..aku permisi dulu, tapi pembicaraan kita

belum selesai, aku akan menemuimu lagi nanti "

"Baiklah Pak Direktur..silahkan, terimakasih atas

kedatangannya."

Naya hanya bisa mengangguk sedikit. Richard

menatap lekat wajah cantik Naya, rasanya berat

untuk berpisah dengan wanita itu, tapi tidak ada

pilihan lain baginya. Aham yang melihat tatapan

lekat Richard terlihat mengepalkan tangannya.

Richard berpaling pada Catharine yang masih

berusaha untuk mendekati Aham.

"Catherine, mari kita pergi, Pak Presdir kami

permisi duluan."

Ucap Richard dengan menatap sekilas ke wajah

tampan pria berpengaruh itu. Ada rasa tidak suka

dalam hatinya saat mengingat bahwa Naya pernah

menjadi pelayan pribadi orang ini. Aham hanya

mengangguk sedikit merespon ucapan Richard.

"Aham..kita perlu bicara, aku ingin semuanya

menjadi jelas !"

Catharine masih keukeh berdiri di hadapan

Aham dan memegang lengannya penuh harap.

Tapi wajah Aham terlihat begitu datar tanpa

ekspresi sama sekali terhadap dirinya membuat

hati Catherine sontak saja di penuhi dengan kekecewaan.

"Pergilah ! Aku sedang tidak ada waktu.!"

Catherine melepaskan pegangan tangannya,

tatapan nya berubah kesal. Tapi tidak bisa di

pungkiri dia juga sangat merindukan laki-laki ini.

Setelah pesta ulang tahun Meline kemarin,

dia seakan kehilangan akses untuk dapat

menemui Aham. Setiap ke kantor nya Aham

selalu menolak bertemu, telponnya juga tidak

pernah lagi di respon. Catharine merasa Aham memang sengaja sedang menghindarinya, dan

ini pasti gara-gara gadis cantik yang ada di pesta

itu yang sempat bersitegang dengan dirinya.

"Baiklah, tapi aku akan datang menemui mu lagi."

Ketus Catharine akhirnya sambil kemudian mulai

melangkah dengan menghentakkan kakinya kesal.

Sebelum pergi, Richard kembali melihat kearah

Naya yang berusaha bersikap senormal mungkin.

"Tuan Abraham..mari silahkan.."

Robin berucap dengan sangat sopan dan hati-hati.

Dia merasa situasi sedikit tidak kondusif saat

melihat tatapan Aham terhadap Naya seakan

sedang menginterogasi isi hati gadis itu.

Aham acuh saja, maju ke hadapan Naya yang langsung mundur beberapa langkah, namun dia tersentak saat laki-laki itu tiba-tiba saja mencengkram kuat tangan nya, kemudian di tarik paksa dibawa berjalan menuju ke dalam lift khusus.

Semua karyawan yang kebetulan sedang berada

di tempat itu tampak bengong dan terdiam

melihat kejadian tidak terduga itu.Leo dan Robin

tidak berani ikut masuk kedalam lift setelah

melihat gelagat tidak beres dari Aham barusan

yang sepertinya sedang dalam mode kesal

yang maksimal.

Keduanya kini berada di dalam lift, hanya berdua,

membuat Naya tegang sekaligus takut melihat

reaksi wajah Aham. Aham berdiri tegak di tengah,

sementara Naya berdiri di sampingnya sedikit

mepet kearah dinding lift.

"Kau.. lagi-lagi bertemu dengan mantan mu itu !"

Geram Aham dengan wajah sudah sedingin es

balok. Tapi anehnya, meski begitu ketampanan

wajahnya tidak pernah terpengaruh sedikitpun,

malah semakin terlihat menarik dan menggoda.

"Ka-kami bertemu hanya untuk urusan kerjasama,

tidak ada maksud lain."

"Oya.? dengan berpegangan tangan seperti tadi?

Apa itu pantas di lakukan, oleh seorang wanita

yang sudah bersuami.?!"

Bentak Aham membuat Naya tersentak, membeku

di tempat, dia tidak menyangka Aham akan semarah itu. Naya meremas ujung pakaiannya menahan rasa tidak nyaman yang kini sedang melingkupinya.

"Ma-maaf.. a-aku tidak menyangka dia akan

berbuat hal demikian. Aku juga tidak suka."

"Aku tidak akan mengampuni mu..!"

Geram Aham sambil kemudian kembali menarik

tangan Naya di bawa keluar saat pintu lift terbuka.

Naya mencoba melepaskan pegangan tangan

Aham yang terasa semakin kuat.

"Tolong lepaskan tanganku, semua karyawan

akan curiga pada kita. "

"Aku tidak peduli.!"

"Mereka akan tahu ada sesuatu diantara kita."

"Itu yang aku inginkan.!"

Desis Aham membuat Naya melotot dan hanya

bisa mengikuti langkah lebar Aham tanpa bisa

bicara lagi. Apa yang laki-laki ini katakan tadi ?

Dia tidak peduli semua orang tahu tentang

hubungan mereka ?

Semua staf karyawan yang ada di lantai teratas

ini tampak terkejut setengah mati melihat

kehadiran Presdir AM Corp di kantor ini, sesuatu

yang sangat tidak terduga sama sekali. Tapi, apa

yang terjadi ? kenapa dia menarik paksa Owner perusahaan ini, dan sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik.!

"Selamat datang Pak Presdir.."

Mereka semua yang di lalui nya tampak langsung

menyambut sopan dan membungkuk hormat .

Aham hanya mengibaskan tangan dan berjalan

acuh menuju ke dalam ruangan kantor Naya.

Entah bagaimana, dia sepertinya sudah sangat

hapal letak kantor Naya berada.

Aham menutup pintu ruangan dengan keras.

Dia segera menarik Naya ke dekat wastafel.

"Cuci tanganmu sampai bersih !"

Naya menautkan alis, masih terdiam di penuhi

rasa heran. Aham berdiri di hadapannya dengan

melipat tangan di depan dadanya. Tatapannya

lurus menghujam kearah Naya yang semakin

bingung dan salah tingkah.

"Untuk apa aku mencuci tangan ?"

"Ada jejak laki-laki itu di sana !"

Aham menunjuk tangan Naya dengan dagu nya.

Naya mendengus kecil, apa-apaan ini, dia sangat

berlebihan, memang nya Richard pembawa virus.

"Cepat, atau aku akan menghukum mu..!"

"Hemm..baiklah Tuan Terhormat.."

Naya mengatupkan bibirnya seketika dengan mata

terpejam. Aham terdiam tanpa ekspresi, syukurlah.. sekarang dia sudah tidak peduli hal kecil itu lagi kan? Naya bersorak dalam hati.

"Hukuman mu di tambah !"

Lutut Naya langsung saja lemas. Aham tidak sabar melihat Naya masih saja berdiri mematung, dia

segera maju dan meraih tangan Naya, kemudian

mencucinya dengan sedikit kasar.

"Aaaww..apa kau bisa lebih pelan sedikit? "

Rengek Naya sambil meringis, Aham melirik, Naya

juga melirik kearahnya, keduanya saling pandang

dalam jarak wajah yang begitu dekat.

Jantung mereka tiba-tiba saja berdetak dengan

kencang, hati mereka bergemuruh, aroma mint

segar yang keluar dari napas keduanya seakan

membekukan aliran darah mereka.

Aham mengambil tisu, tatapannya masih fokus

di wajah cantik Naya, perlahan dia membersihkan tangan Naya dari sisa air cucian tadi. Naya terdiam

terpaku melihat apa yang dilakukan oleh laki-laki

aneh itu. Setelah selesai keduanya kembali berdiri saling berhadapan.

"Terimakasih. Harusnya kau tidak perlu

melakukan semua ini."

"Hal seperti tadi tidak boleh terulang !"

Naya terdiam, lalu mengangguk pelan.

"Silahkan duduk.."

Lirih Naya sambil melangkah duluan kearah sofa

di ikuti oleh Aham. Tapi Aham malah melangkah

kearah kursi kerja Naya, kemudian duduk di sana.

Naya tampak bingung sekaligus tegang.

"Jadi Nona Kanaya..kau bukanlah seorang

asisten pribadi Direktur ?"

Naya tersentak, wajahnya langsung saja

memerah.Dia menunduk, laki-laki ini pasti sudah mengetahui semuanya. Apalagi sekarang yang bisa dia sembunyikan, tidak ada hal yang sulit bagi seorang Abraham. Semua ada dalam genggamannya.

"Kau sudah tahu semuanya.?"

"Tidak ada hal yang sulit untuk aku ketahui.!"

"Maaf, aku tidak bermaksud berbohong padamu !

kau juga tidak pernah bertanya."

"Kau harus di hukum untuk itu !"

"Apa ? kenapa begitu?"

"Kau sudah berani melakukan sesuatu tanpa

seizinku.!"

"Tapi..bukankah ini sesuatu yang tidak penting

bagimu ?"

Aham menatap tajam wajah Naya membuat

gadis itu semakin tegang sekaligus gemetar.

Tanpa di duga tangan Aham menarik pinggang

Naya dan mengangkat tubuh nya di dudukan diatas pangkuannya. Wajah Naya semakin memerah, dia berusaha bergerak ingin turun dari pangkuan Aham, tapi tangan laki-laki itu mengunci pinggang rampingnya hingga dia tidak bisa bergerak.

Tangan Aham bergerak meraih dagu Naya,

keduanya saling pandang lekat di iringi debaran

jantung yang sudah tidak karuan.

"Sejak aku mengakuimu sebagai Istriku, segala

sesuatu yang berhubungan dengan dirimu

otomatis menjadi penting bagiku.!"

Bisik Aham dengan suara serak seksinya. Hati

Naya bergetar mendengar ucapan Aham barusan.

Matanya tampak sedikit berkaca-kaca. Apakah

benar sekarang dirinya cukup penting bagi laki-

laki yang begitu istimewa ini ?

"Sekarang berikan aku ciuman yang manis.."

Mata Naya membulat, dia mencoba menjauhkan

dirinya dari serbuan wajah Aham yang terus

mendesak maju.

"Berikan, atau aku yang akan mengambilnya.!"

Ancam Aham dengan tatapan mata berbeda

yang langsung melemaskan tubuh Naya.Tidak

ada pilihan lain, Naya memberikan apa yang di inginkan oleh suaminya itu biar tidak berlanjut

ke hal-hal lainnya. Namun Aham tampak nya

masih belum puas dengan hanya satu kecupan

saja.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Bersambung.....

1
ayu cantik
bagus
Nunung Suwandari
Hai aku kembali untuk membaca ini 😍
Marhaban ya Nur17
klo ama melani terjadi keren neh Noah 😄😄😄😄 soalnya ama feli jg dapet
Marhaban ya Nur17
tinggal ngomong gtu doank banyak drama
Marhaban ya Nur17
naya diem bae y klo di tarik Noah wkwkkw
Marhaban ya Nur17
g habis pikir cerita wkwkkwk satu masalah belum kelar ada lg yg datang wkkwkwk aneh
Marhaban ya Nur17
dri part pertama ampe sekarang gw belum dapet fill nya
Marhaban ya Nur17
ngapa aham g bilang ke semua orang gtu msh nutup"
Marhaban ya Nur17
muter" itu aja deh kayanya wkkwkwkw alurnya lama, pembahasannya itu" aja gw mau udh n tp udh setengah jalan
Marhaban ya Nur17
bar" se yara wkekke
Marhaban ya Nur17
makanya jan sombong
Marhaban ya Nur17
elah lambat banget thor kek kura" alurnya
Marhaban ya Nur17
Lola amat se alurnya
Marhaban ya Nur17
kapan bucinnya aham 🤔🤔🤔
Rohayani
udh 2x baca tetep aja suka...
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪
Marhaban ya Nur17
knp se semua orang enteng banget tangannya
Marhaban ya Nur17
nah klo kaya gini kan ok àham
Marhaban ya Nur17
ternyata feli ama naya saudara an y
Marhaban ya Nur17
dri part pertama ampe sekarang gw benci ama pemain cowoknya wkwkkwkkw
Marhaban ya Nur17
pusing gw jg klo banyak harta wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!