Memang sakit rasanya, saat dulu kita sedekat Nadi, namun kini akhirnya harus sejauh Matahari, bahkan Matahari yang sudah tenggelam tergantikan dengan terangnya sinar Rembulan malam.
Sebagian orang bilang, sangat menyakitkan ketika menunggu seseorang, namun sebagian lagi bilang, menyakitkan itu ketika kita harus melupakan, tapi yang paling sakit sebenarnya adalah ketika kau tidak tahu, apakah harus menunggu atau melupakan.
"Niar... kamu tahu kan kalau seorang dokter itu paling ahli masalah suntik menyuntik, jika biasanya suntikan itu menyembuhkan penyakit pasien, tapi suntikan dariku, pasti akan menorehkan luka dalam hubungan kalian, cukup sekian dan terima kasih sudah menjadikan aku sang mantan, walau tidak kamu akui."
Walau pedih namun dokter Marvin harus bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak menjadi pilihan dari seorang Niar, dia tetap saja menerima lamaran dari Dito kekasih hatinya yang memang sudah berhubungan bertahun-tah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iska w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35.Tanpamu?
...Happy Reading...
Hambatan tidak harus menghentikan langkah kita. Jika kita menabrak tembok, jangan berbalik, menoleh sejenak boleh tapi tetap jangan menyerah, cari tahu caranya untuk memanjat, melewatinya, atau mengatasinya.
Dan itulah pedoman bagi seorang Marvin Abimanyu kini, yang akhirnya dia bisa sampai berada dititik ini, bahkan menjadi pihak yang paling beruntung.
Hari ini jatahnya Niar menjaga Dito, kondisinya masih belum stabil dan obat yang diberikan kepada Dito memang membuatnya menjadi sedikit lemah, itu bertujuan agar pasien tidak histeris, lebih banyak istirahat dan pikirannya pun bisa lebih tenang.
Dan Dokter yang berjaga kali ini sudah pasti Marvin lah orangnya, dia bahkan sengaja meminta tukaran shift agar bisa menjaga Niar disana.
"Nyonya Dito yang terhormat, bisa ke ruang Dokter sebentar, ada yang ingin saya sampaikan kepada wali dari pasien gangguan jiwa yang bernama Dito." Ucap Marvin saat melihat Dito sudah mulai bisa beristirahat kembali, setelah bangun hanya melamun dengan tatapan kosong dan mumikul beban yang seolah terlihat berat dia rasakan sendirian.
"Cih... dia pasti hanya ingin mengejekku." Niar langsung melengos saat mendengar nada bicaranya dan penyebutan nama dirinya, namun dia juga tetap bangkit dan pergi menuju ke ruang Dokter jaga.
"Kamu ini, negatif ting-ting aja!" Marvin tersenyum sambil menunggu Niar keluar dari sana.
"Aku sudah nggak ting-ting lagi karenamu!" Umpat Niar yang melewati Marvin saat dia merentangkan tangannya ingin memeluk namun ditolak oleh Niar.
"Pffthh.. ingin ku ulangi, dosa yang terindah yang pernah kita lakukan, aaaaa... asyek-asyek jos!"
Marvin langsung merangkul bahu Niar saat mereka melewati lorong rumah sakit sambil bersenandung ria seolah tanpa dosa.
"Jangan pegang-pegang Dokter, aku ini istri orang!" Niar langsung menghindar disaat Marvin mau merangkulnya.
"Heleh... sampai kenyang aku tiap-tiap hari kamu pamer kalau sudah jadi istri orang!" Dan akhirnya Marvin memilih mengikat tangannya kebelakang sambil berjalan mundur didepan Niar untuk menggodanya.
"Emang itu kenyataannya kok?" Niar bahkan ingin menendang kaki Marvin saat dia terlihat ingin menjahilinya.
Bahkan aksi mereka membuat para perawat yang lewat ikut tersenyum-senyum melihat gelagat mereka yang seperti anak ABG yang lagi kasmaran.
Apalagi Marvin terlihat terus menerus melebarkan senyumannya yang jarang dia umbar dengan orang umum, bahkan tatapan Marvin hanya tertuju ke arah Niar, disaat banyak gadis silih berganti melewati lorong rumah sakit itu.
"Berisik, kalau hanya ada kita berdua saja, kamu adalah milikku Niar sayang." Hingga akhirnya mereka berdua sampai kedalam ruangan Marvin.
"Atas dasar apa?" Tanya Niar yang terlihat menantangnya kearah Marvin.
"Atas dasar cinta kita berdua." Jawab Marvin yang tidak pernah marah dengan ucapan Niar saat begini.
"Kebanyakan mendiagnosa orang yang terkena gangguan jiwa, dokter jadi terbawa-bawa ya?" Ledek Niar yang semakin kesal, karena Marvin malah menarik tubuhnya paksa agar mendekat ke arahnya.
Cup!
"Berisik, ayo makan, kamu harus makan teratur pokoknya!" Marvin langsung menyambar bibiir Niar dan mendudukkannya diatas meja kerjanya sedangkan dia duduk dikursi kerjanya sambil menopang kotak makanan yang dia beli secara online tadi.
"Dokter, boleh minta tolong?" Niar melotot kesal saat Marvin sama sekali tidak menggubris ucapannya sedikitpun.
"Boleh, tapi buka dulu mulutmu." Marvin sudah memegang ayam goreng untuk dia suapkan ke mulut Niar.
Dia tahu Niar ingin melaksanakan tanggung jawabnya sebagai istri, namun dia seolah melupakan keseharan dirinya sendiri, jadi Marvin yang harus mengambil tindakan agar wanita harapannya itu tidak sakit.
"Jangan begini." Jawab Niar dengan wajah yang semakin terlihat prustasi, entah harus dengan cara apa dia memberikan pengertian kepada Marvin tentang status dirinya saat ini.
"Lalu aku harus bagaimana?" Jawab Marvin sambil mengusap saos yang tertinggal di bibiir Niar dengan telatennya, dia bahkan seperti sedang menyuapi makan Yoyo yang asyik makan sambil berceloteh.
"Jangan sembarangan menciumku bisa nggak?" Niar langsung menjewer telinga Marvin dengan gemas.
"Kalau toel-toel dikit boleh?" Ledek Marvin yang malah terkekeh karenanya, entah mengapa tangannya tidak bisa diam saat dia berdua bersama Niar.
"Nggak, huh... Pedas!" Niar semakin kesal, namun saat mulutnya sudah kosong, Marvin kembali menjejalkan ayam goreng itu lagi, apapun perkataan Niar dia tidak ambil hati, yang penting dia masih mau makan pikirnya.
"Tapi meluk boleh dong ya?" Celoteh Marvin dengan santainya, sambil membukakan air minum untuk Niar saat dia terlihat sedikit kepedasan.
"Apalagi itu, kita harus menjaga jarak, nggak boleh terlalu dekat begini, kalau perlu jarak satu atau dua meter gitu!" Umpat Niar yang terus saja menerima apa yang Marvin berikan.
"Ya enggak bisa, soalnya refleks gitu, sering nggak nyadar, tau-tau enak aja gitu." Setelah beberapa ketul ayam goreng habis tinggal tulangnya saja, bahkan Marvin membersihkan mulut Niar menggunakan tissu dan mulai membersihkan tangannya sendiri.
"Dokter, apa kamu ingin menjadikan aku wanita paling berdosa di dunia ini?" Energi Niar seolah sudah full untuk menceramahi Marvin.
"Kenapa lagi sayang?" Dan Marvin tetap terlihat santai sambil terus memandang wajah Niar yang tidak pernah bosan-bosan dia lihat.
"Mas Dito dalam keadaan lemah begitu, nggak etis dong kalau kita malah bermesraan berdua, seolah aku ini seperti wanita yang keterlaluan gitu kan?" Dia selalu berfikir bahwa dirinya adalah orang paling tega dibandingkan istri-istri pada umumnya.
"Kita kan bermesraan kalau hanya berdua aja kan, Dito juga nggak akan tahu."
"Tapi Tuhan maha tau, bahkan Dokter juga sering colek-colek aku kalau lagi visit pasien, padahal disana ada beberapa perawat dan mereka itu tau semua kalau aku ini istrinya, lalu apa yang akan mereka pikirkan tentangku coba?" Ingin sekali rasanya dia mengucir bibiir Marvin yang ngeles aja, tapi sayang, bibiir itu manis pikirnya.
"Cuma gemes aja Niar, ngapain juga kamu harus pusing-pusing memikirkan tanggapan orang lain, ngasih makan kita juga enggak kan? yaelah... gitu aja pelit banget kamu ini, itung-itung sodaqoh Niar!" Marvin kembali menjepit kedua kaki Niar yang menjuntai dari atas meja, karena dia masih asyik duduk disana, seolah nyaman saja menceramahi orang dengan posisi duduk lebih tinggi daripada yang diomeli.
"Sodaqoh itu sama orang yang nggak mampu Dokter!"
Dan selalu saja jawaban Marvin itu membuat dirinya naik darah, ada saja jawaban yang membuatnya kesal.
"Aku pun tidak mampu tanpamu Niar, apa aku perlu meminta surat keterangan tidak mampu ke Kelurahan begitu?" Semakin dia disudutkan, maka Marvin akan semakin membuat seolah pertanyaan itu adalah sebuah banyolan semata.
"Astaga aku serius dokter!" Dia kembali menyetil telinga Marvin bahkan menggunakan tenaga.
"Maaf Niar, aku tidak bisa sampai akhir tanpamu, aku lebih suka berjalan melewati api bersamamu daripada melakukan perjalanan ini sendirian."
Marvin menundukkan kepalanya, walau ucapannya seperti sebuah gombalan, namun dia benar-benar merasakan hampa tanpa adanya Niar disisinya.
Satu bulan pernah dia rasakan menjauh dari kehidupan Niar, dari semua hal yang menyangkut tentang Niar, namun ujung-ujungnya dia kembali baper dengan Niar kembali, karena saat mereka kembali bertemu, rasa itu masih saja sama, tidak ada yang berkurang walau sedikitpun.
"Tapi ini sulit bagi kita Dokter!"
Sesungguhnya, Niar lah yang tidak percaya dengan dirinya sendiri, karena dia takut akan tergoda dan terbujuk rayu oleh pria yang memang sudah menguasai hatinya.
Nama Dito dihatinya saat ini seolah hanya sebatas tanggung jawab saja, apalagi kenangan mereka hanya sebatas video call dan saling curhat kegiatan masing-masing saja, bahkan rasa bibiir yang terekam di pikiran Niar adalah rasa dari Marvin, entah sudah berapa lama dia tidak menyentuh bibiir Dito, karena ada saja hal yang membuat mereka jarang bisa bermesraan berdua, malah yang ada hanyalah sebuah adu pendapat dan perdebatan semata.
"Tidak sulit Niar, kamu hanya kurang berusaha saja!" Ucap Marvin sambil menyelipkan rambut poni Niar yang menjuntai kedepan.
"Bantu aku sembuhkan mas Dito dulu, baru kita pikirkan lagi hubungan kita kedepannya." Niar sudah memutuskan hal ini, kepalanya bahkan rasa-rasanya hampir mau pecah saat mengingat keduanya.
"Kamu pikir aku Tuhan yang bisa memyembuhkan pasien ketika aku mau? Kalau aku bisa sudah aku minta semua pasien disini sembuh, agar tugasku lebih ringan dan tidak banyak pekerjaan!" Jawab Marvin yang langsung menarik hidung mancung Niar.
"Trus aku harus gimana dokter, berada dalam jarak terdekat denganmu begini aku rasanya tersiksa banget tau nggak?"
Karena berkali-kali dia lepas kendali, saat dia mengandalkan rasa dan bukan logika.
"Apalagi aku sayang, nggak bakalan bisa tahan kalau sudah melihat bibiir ranum kamu ini, aku tahu ini salah, aku tahu ini tidak baik, tapi maaf aku tetap ingin melakukannya!" Marvin kembali menarik dagu lancip milik Niar yang memang lemah iman jika sudah begini dan akhirnya terjadilah yang seharusnya terjadi.
Cup
Sedari awal mereka bertemu, kejadian mereka memang selalu begini, kekhilafan dan kesalahan mereka selalu mengalir begitu saja, walau setelahnya mereka saling menghujat, saling mengejek namun hal itu pasti akan terulang kembali, lagi dan lagi.
Niar yang dimulutnya menolak, jika bibiir mereka sudah sama-sama tertempel dia bahkan seperti orang kerasukan, yang lupa akan semua hal, apalagi saat mereka berada dalam ruangan hanya berdua saja seperti ini, ditambah dinginnya ruangan AC itu, semakin membuat kepala mereka sampai meliuk ke kanan dan serong ke kiri, seirama dan sekata bahkan lupa akan dosa.
"Satpol PP! tangkap dua orang didalam ruangan ini, mereka sedang berbuat mesvm!" Teriak seorang pria yang langsung membuka pintu ruangan itu tanpa permisi.
"HAH?"
Marvin dan Niar langsung gelagapan sendiri, membenahi baju dan rambut mereka masing-masing, bahkan mereka pun langsung menjauh sebelum mereka menoleh kearah pintu ruang jaga didepan sana.
"Hayoo... selingkuh lagi ya kalian?" Dan setelahnya muncul wanita cantik disampingnya dan tidak ketinggalan ai bicah ajaib dengan rambut keritingnya.
"Aish... terkejut aku!" Marvin dan Niar kompak melotot kearah mereka, karena mereka pikir benar-benar ada satpol PP yang datang.
"Mangan sambel karo gorengan, segone anget duh enak tenan. Ojo ngandel karo garangan, pintere banget obral gombalan." Pasangan suami istri sah ini saling bersahutan dalam menyanyikan sebuah lirik lagu guyonan Jawa untuk meledek Marvin dan Niar.
"Oerk.. kenapa orang dewasa suka sekali seperti itu?" Lain orang tuanya, lain pula Yoyo yang malah terlihat mengamati gerak-gerik uncle dan aunty nya itu sambil bersidekap dengan santainya.
"Hei.. nyanyi apa sih kalian berdua ini?" Marvin langsung mengusap dadaanya dengan lega, dia fikir mereka akan benar-benar ketahuan, walau Marvin tidak pernah takut sebenarnya, dia tipe orang yang berani mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan.
"Mangan sambel pedes rasane, lawuhe teri timun lalape, ojo ngandel karo omonge, garangan kui pinter ngombale." Dengan gilanya mereka kembali melanjutkan lagu guyonan jawa itu.
"Dasar pasangan suami istri edan kabeh, kalau jantungku copot gimana, bisa kalian pasangin lagi!" Marvin yang tahu betul artinya langsung kesal saat disindir dengan nama Garangan.
"Entah, kalian berdua ini, bisa nggak ketok dulu pintunya?"
"Nggak seru dong, nggak bisa lihat drama nanti kita kan Yo?" Samuel langsung menggendong Yoyo dan membawanya duduk santai di sofa ruangan itu.
"Drama apa Dad?" Tanya Yoyo dengan wajah seriusnya.
"Drama orang ketiga, haha!" Samuel tertawa sambil memeluk Yoyo dan memainkan rambut keritingnya.
"Kak, jangan ajarin Yoyo yang nggak benar, ingat kecerdasan dia diatas rata-rata!" Rinjani langsung menyenggol suaminya, agar tidak ngomong sembarangan dengan bocah yang terkadang dewasa sebelum waktunya itu.
"Hehe... Khilaf sayang, terbawa suasana!" Dan Samuel hanya terkekeh saja sambil garuk kepala.
"Ckk... Ganggu aja kalian, hei Sam... kamu lama nggak aku suntik kan, mau aku tambah dosis lagi nggak?" Marvin lansung punya cara untuk meledeknya balik.
"Enak saja, ini nih modelan orang yang tidak tahu terima kasih, noh... aku bawain hadiah untuk kalian, spesial lagi!" Umpat Samuel yang langsung memberikan kejutan.
Anak buahnya tadi malam berhasil menemukan seseorang yang menjadi rahasia besar bagi Dito, dengan segala persyaratan yang cukup Alot, namun anak buah Samuel akhirnya bisa membawa wanita itu kemari.
"Apaan?" Marvin langsung memicingkan kedua matanya.
"Istri orang noh didepan!" Rinjani langsung menyenggol lengan Niar yang ikut melongo.
"Istri siapa?" Tanyanya kembali.
"Lihat aja sendiri, memang rumit hubungan kalian!" Sahut Samuel yang ingin mereka bertanya sendiri langsung dengan orangnya, karena permasalahan mereka ternyata tidak main-main ruwetnya.
"Mungkin ini definisi, Tukang selingkuh juga diselingkuhin!" Celoteh Rinjani dengan santainya.
"Sama-sama lah dosa mereka!" Samuel pun setuju dengan pendapat istrinya.
"Asal kamu nggak selingkuh aja kak, kalau sampai iya, woah....!"
"Gimana mau selingkuh, orang nggak dipeluk semalam aja gemeteran yank, aku sih kalau udah satu merk, nggak bisa ganti lain, walau itu obral murah sekalipun!"
"Suamiku memang istimewa, Leker pokok e!" Rinjani langsung menghadiahkan sebuah pelukan untuknya.
"Nggak usah sok romantis deh kalian, awas aku mau lewat!"
"Minggir sayang, awas ada Garangan mau lewat!" Ledek Samuel sambil terkekeh geli saat melihat mereka iri dengan keromantisan mereka.
Marvin langsung menarik lengan Niar dan membawanya keluar untuk segera mencari tahu, siapa sebenarnya istri orang yang Samuel dan Rinjani maksud itu.
Hidup itu kadang naik, kadang turun. Satu-satunya cara menjalaninya adalah menikmatinya saat kondisi baik, serta belajar darinya saat kondisi buruk.
Malam tidak akan datang selamanya, bahkan hujan dan badaipun pasti akan berhenti, dan berganti memunculkan sinar matahari yang terang dan memancarkan keindahan, begitulah hidup manusia yang memang serupa dengan keadaan alam semesta.
masih anak aayam aja dah digoreng, sudah menetas dimasukkan kurungan, eh udah besar dipotong
jadi jgn terlalu ngeluh sama hidupmu
penderitaanmu gak ada apa²nya sana deritanya ayam
cerita Nya bagus thor
sdh mengiris kalbu rasane....