Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki dari tiga puluh tahun lalu
Tidak ada seorang pun yang bersuara.
Mesin mobil masih menyala pelan. Namun suasana di dalam kabin terasa begitu sunyi hingga suara napas setiap orang terdengar jelas.
Lelaki itu berdiri membelakangi mereka.
Tubuhnya kurus.
Rambutnya sedikit panjang dan acak-acakan.
Pakaiannya tampak kotor oleh lumpur dan tanah.
Di punggungnya tergantung ransel cokelat tua.
Ransel yang sehari sebelumnya ditinggalkan Arga di tengah hutan.
"Pak..."
Suara sopir terdengar lirih.
"Itu orang, kan?"
Arga menelan ludah.
"Iya."
Salah seorang kernet membuka pintu perlahan.
"Mas!"
Belum sempat ia melangkah turun, lelaki itu perlahan berbalik.
Wajahnya tampak pucat.
Janggut tipis memenuhi dagunya.
Matanya merah karena kelelahan.
Namun yang paling mencolok adalah ekspresi bingung di wajahnya. Seolah-olah justru merekalah yang tampak asing.
Lelaki itu mengangkat tangan pelan.
"Maaf..."
Suaranya serak.
"Ini... jalan keluar hutan, ya?"
Arga dan yang lain saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab. Lelaki itu kembali berbicara.
"Saya nyasar."
"Kira-kira sudah tiga hari."
Kalimat itu membuat jantung Arga berdetak lebih cepat.
Tiga hari.
Bukan tiga puluh tahun.
"Tiga hari?" ulang Arga perlahan.
"Iya."
Lelaki itu mengangguk.
"Saya sama teman-teman naik ke gunung."
"Kami pisah sebentar."
"Saya mengikuti jalan setapak."
"Habis itu..."
"...tidak bisa menemukan mereka lagi."
Ia memegang dahinya.
"Saya pikir mereka masih mencari saya."
Arga merasakan tengkuknya meremang.
Dengan hati-hati ia turun dari mobil.
"Nama Mas siapa?"
Lelaki itu menjawab tanpa ragu.
"Bima."
"Lengkapnya Bima Prasetyo."
Arga mengangguk pelan.
"Mas dari mana?"
"Bandung."
Bima tampak menghela napas lega karena akhirnya bertemu orang.
"Syukurlah."
"Saya kira sudah tidak ada jalan keluar."
Arga memperhatikan ransel di punggungnya.
"Itu tas Mas?"
"Iya."
Bima mengangguk.
"Kenapa?"
Arga terdiam beberapa detik. Di sisi luar ransel itu masih tampak tali kecil berwarna merah. Persis seperti yang ia lihat kemarin. Bahkan saku depannya masih sedikit terbuka.
"Saya boleh lihat?"
Bima langsung melepas ranselnya.
"Tentu."
Arga membuka perlahan. Isi di dalamnya membuat napasnya tercekat.
Botol minum aluminium.
Kotak P3K.
Kompas.
Jas hujan.
Buku catatan kecil.
Dan...
Dua bungkus biskuit.
Sebungkus mi instan.
Makanan yang ia tambahkan kemarin masih berada di tempatnya.
Belum tersentuh.
Bima tampak kebingungan.
"Lho?"
"Saya tidak ingat membawa makanan sebanyak ini."
Arga menatapnya.
"Mas benar-benar tidak tahu?"
"Tidak."
"Saya cuma bawa satu bungkus roti."
"Roti itu juga sudah habis kemarin."
Bima mengeluarkan dua bungkus biskuit itu.
"Wah..."
"Untung ada ini."
"Saya sampai heran."
"Saya kira saya lupa memasukkannya."
Arga memejamkan mata sesaat. Dugaannya benar. Ransel itu memang telah kembali kepada pemiliknya. Perjalanan akhirnya dilanjutkan. Bima ikut naik ke mobil logistik.
Sepanjang jalan ia terus bercerita. Katanya ia dan lima orang temannya mendaki Gunung.
Saat perjalanan pulang, ia melihat sebuah jalan kecil yang tidak ada di peta.
Karena penasaran, ia masuk sebentar.
Setelah itu...
Ia tidak pernah menemukan jalan kembali.
Baginya semua itu hanya berlangsung dua hari.
Ia bahkan masih mengingat dengan jelas percakapan terakhir bersama teman-temannya.
"Tunggu sebentar!"
"Aku lihat jalur ini dulu!"
Itulah kalimat terakhir yang ia ingat.
Lalu semuanya berubah menjadi kabut.
Arga hanya mendengarkan.
Akhirnya ia bertanya tentang tahun.
"Mas sekarang tahun berapa?"
Bima menjawab cepat.
"Tahun 1996."
Seluruh isi mobil langsung terdiam. Sopir sampai refleks mengurangi kecepatan. Kernet menoleh perlahan.
Arga merasakan tenggorokannya mengering.
Dengan suara pelan ia berkata,
"Mas..."
"Sekarang..."
"...tahun 2026."
Bima tertawa kecil.
"Ah..."
"Jangan bercanda."
Tidak ada yang ikut tertawa. Melihat wajah semua orang berubah serius, senyum Bima perlahan memudar.
"Sebentar..."
"Ini benar?"
Arga mengambil telepon genggamnya.
Baterainya memang tinggal sedikit.
Namun tanggal yang terpampang di layar masih terlihat jelas.
16 Juli 2026.
Bima memandang layar itu cukup lama.
Kemudian menggeleng.
"Tidak mungkin."
"Saya baru masuk hutan..."
"...dua hari yang lalu."
Tangannya mulai gemetar. Ia memandang ke luar jendela. Pepohonan terus bergerak mundur.
"Kalau benar..."
"...berarti..."
Suara Bima terputus. Air matanya perlahan jatuh.
"Ayah..."
"Ibu..."
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Apakah mereka..."
Tak ada yang sanggup menjawab. Di dalam mobil, tidak terdengar apa pun selain suara mesin yang terus melaju. Arga memandang ke arah hutan yang semakin jauh di belakang mereka.
Kini ia tidak lagi sekadar menduga.
Ia telah menjadi saksi.
Hutan itu memang tidak mengambil manusia.
Hutan itu...
Menyimpan waktu.
Tidak ada lagi percakapan sepanjang perjalanan. Bima duduk memandangi kedua telapak tangannya. Sesekali ia menggeleng pelan, seolah berharap semua yang baru didengarnya hanyalah lelucon yang kelewat jauh. Namun tanggal pada telepon genggam Arga tidak mungkin berbohong. Begitu pula kendaraan yang mereka tumpangi.
Bentuk mobil.
Pakaian orang-orang.
Telepon pintar di tangan Arga.
Semuanya begitu asing bagi Bima.
"Kalau benar tiga puluh tahun..."
"...berarti saya sekarang sudah lima puluh satu tahun?"
Suara Bima terdengar lirih.
Arga mengangguk pelan.
"Secara umur, iya."
"Tapi..."
"...waktu yang Mas alami hanya tiga hari."
Bima kembali terdiam. Ia memandangi wajahnya yang terpantul samar di kaca jendela. Wajah itu masih wajah seorang pemuda berusia awal dua puluhan.
Tidak ada keriput.
Tidak ada rambut memutih.
Tubuhnya pun masih sama seperti saat ia berangkat mendaki.
Air matanya kembali jatuh.
Ia tidak menangis keras.
Justru tangis yang tertahan itu terasa jauh lebih menyayat.
Mobil logistik terus melaju meninggalkan Kampung Ciburial. Semakin jauh dari desa, pepohonan lebat mulai berganti dengan jalan yang lebih terbuka. Kabut yang sejak tadi mengikuti perjalanan perlahan menghilang. Beberapa kilometer kemudian, telepon genggam Arga yang sejak berhari-hari tidak berguna tiba-tiba bergetar pelan.
Satu garis sinyal muncul di sudut layar.
Arga membelalakkan mata.
"Ada sinyal..."
Ia segera membuka daftar kontak. Tanpa berpikir panjang, ia menekan nama Ayah.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Belum sempat nada ketiga berbunyi, telepon langsung diangkat.
"Arga!"
Suara di seberang terdengar bergetar.
"Arga... itu kamu?"
Mata Arga langsung berkaca-kaca.
"Iya, Yah... Arga."
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya napas berat ayahnya.
"Kamu di mana sekarang?"
"Ayah dan Ibu sudah mencari ke mana-mana."
"Polisi juga sudah ikut mencari."
Arga menundukkan kepala.
"Maaf, Yah..."
"Arga baik-baik saja."
"Ayah sekarang di mana?"
"Di Jakarta."
"Ayah baru pulang dari mengurus pencarianmu."
"Tunggu di tempat yang aman."
"Ayah berangkat sekarang juga."
"Tolong kirim lokasi."
Arga segera melihat papan penunjuk jalan yang baru mereka lewati, lalu menyebutkan nama daerah tersebut.
Ayahnya kembali berpesan dengan suara tegas namun penuh kelegaan.
"Jangan pergi ke mana-mana."
"Tunggu Ayah."
"Sekali lagi... jangan ke mana-mana."
"Iya, Yah."
Telepon ditutup.
Arga memejamkan mata sesaat.
Beban yang selama ini memenuhi dadanya terasa sedikit terangkat. Setidaknya kini keluarganya tahu bahwa ia masih hidup.
Sopir yang mendengar percakapan itu tersenyum.
"Kalau begitu, sebaiknya jangan melanjutkan perjalanan terlalu jauh."
Arga menoleh.
"Maksud Bapak?"
"Lebih aman menunggu di tempat ramai."
"Kalau ayahmu berangkat dari Jakarta, pasti butuh waktu beberapa jam."
Beliau berpikir sejenak.
"Di depan ada masjid besar."
"Biasanya buka dua puluh empat jam."
"Ada penginapan sederhana di sampingnya."
"Tempat itu aman."
"Kalau butuh bantuan juga banyak orang."
Arga mengangguk.
"Itu ide yang bagus, Pak."
Bima yang sejak tadi diam juga ikut menyetujui.
"Aku ikut saja."
Tak lama kemudian mobil berhenti di halaman sebuah masjid yang berada di tepi jalan raya.
Masjid itu cukup besar.
Halamannya luas.
Beberapa musafir tampak beristirahat di serambi.
Di samping bangunan utama berdiri sebuah penginapan sederhana yang memang disediakan untuk tamu dan musafir.
Arga dan Bima berpamitan kepada sopir beserta para kernet.
"Terima kasih banyak, Pak."
"Kalau bukan karena Bapak, mungkin kami masih tersesat."
Sopir tersenyum.
"Yang penting kalian sudah selamat."
"Semoga semuanya dimudahkan."
Mobil logistik pun kembali melanjutkan perjalanan.
Arga dan Bima masuk ke halaman masjid. Mereka menemui bapak takmir yang sedang merapikan sandal di teras.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Arga menjelaskan bahwa mereka adalah musafir yang sedang menunggu keluarga menjemput dari Jakarta dan memohon izin untuk bermalam di penginapan samping masjid.
Takmir itu mendengarkan dengan saksama.
Kemudian ia tersenyum ramah.
"Tentu boleh."
"Silakan dipakai."
"Kalau ada apa-apa, saya ada di rumah sebelah."
Arga dan Bima mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Kamar yang mereka tempati sangat sederhana. Hanya berisi dua kasur tipis, kipas angin, sebuah meja kecil, dan kamar mandi sederhana. Namun bagi Arga, tempat itu terasa jauh lebih nyaman daripada tidur di tengah hutan.
Malam mulai turun.
Setelah salat Magrib berjamaah, keduanya kembali ke kamar. Baru saja Arga duduk di tepi kasur, wajahnya meringis. Tangannya refleks memegang ulu hati.
"Nggak apa-apa?" tanya Bima.
Arga tersenyum tipis.
"Maag saya kambuh."
"Seharian tadi hampir lupa makan."
Sejak pagi mereka keluar masuk hutan, perjalanan panjang, lalu bertemu Bima, hingga akhirnya keluar dari kawasan hutan. Kesibukan itu membuat Arga sama sekali tidak memperhatikan jam makannya. Rasa perih di lambung kini datang sekaligus.
Bahkan mulai disertai mual.
Bima segera membuka ransel cokelat tuanya.
Ia mengeluarkan kotak P3K yang selalu dibawanya.
"Sebentar."
"Kayaknya aku masih punya obat lambung."
Ia membuka kotak itu dengan hati-hati. Beberapa obat masih tersusun rapi di dalam kemasan. Tak lama kemudian ia menemukan satu strip obat maag.
"Wah, masih ada."
Bima menyodorkannya kepada Arga.
Arga menerimanya.
Namun saat memperhatikan kemasannya, ia mendadak terdiam.
Di bagian bawah strip obat tertulis tanggal kedaluwarsa.
Januari 1998.
Arga saling berpandangan dengan Bima.
Beberapa detik kemudian mereka sama-sama tersenyum getir.
"Kalau di waktu Mas..."
"...obat ini mungkin masih baru."
Bima ikut melihat tanggal itu.
Ekspresinya langsung berubah canggung.
"Iya juga..."
"Buatku rasanya baru beberapa hari lalu ibu memasukkan obat ini ke kotak P3K."
Kemasan obat itu memang masih bersih.
Tidak penyok.
Tidak berubah warna.
Seolah benar-benar baru dibeli.
Namun kenyataannya, lebih dari dua puluh delapan tahun telah berlalu.
Arga mengembalikan obat itu perlahan.
"Nggak usah, Mas."
"Saya nggak berani."
Bima mengangguk pelan.
"Aku juga."
Ia kembali menyimpan obat tersebut ke dalam kotak P3K.
Malam itu, Arga hanya minum air hangat dan berusaha mengganjal perutnya dengan roti yang masih tersisa di dalam tas. Rasa perih di lambung memang belum sepenuhnya hilang.
Namun ia memilih menahannya.
Di luar kamar, suara azan Isya mulai berkumandang. Sementara di dalam hati Arga, hanya ada satu harapan.
Semoga secepatnya...
Ayahnya benar-benar datang menjemput.