Bagi sebagian orang jatuh cinta adalah hal yang mudah, manusia bisa jatuh cinta bahkan tanpa mengenal lebih dalam orang yang dia cintai. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hal yang berbeda di rasakan oleh pemuda bernama David Gabriel, putra sulung dari pengusaha kaya raya bernama Louis Gabriel yang sama sekali tidak mudah untuknya jatuh cinta kepada seseorang wanita.
Baginya, jatuh cinta hanya sekali seumur hidup dan cintanya hanya untuk wanita bernama Teresia Anindya Putri, wanita yang tiba-tiba saja menghilang bak di telan bumi.
Mampukah David menemukan kembali cinta pertamanya? Seperti apa sebenarnya kehidupan yang dijalani oleh wanita bernama Teresia itu sehingga dia harus pulang ke desa terpencil dimana keluarganya berada?
Sekuel dari "Hasrat Tuan Kesepian" Untuk kalian semua Reader kesayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
Bunda Annisa benar-benar merasa kecewa karena dirinya datang di waktu yang tidak tepat. Tere dan suaminya baru saja meninggalkan kediamannya padahal, jika saja dia sampai lebih cepat mungkin dirinya masih punya kesempatan untuk bertemu dengan sang putri.
"Apa bapak tahu putri saya dan suaminya mau pergi ke mana dan berapa hari?'' tanya Bunda Annisa, wajahnya terlihat sangat kecewa.
"Kalau itu saya tidak tahu, Nyonya,'' jawab Satpam tersebut membuat Bunda semakin merasa kecewa.
"Astaga, saya harus bagaimana sekarang?'' gumamnya kemudian.
Bunda Annisa pun terdiam sejenak seolah sedang berfikir. Dia bahkan memejamkan kedua matanya mencoba meredam rasa kecewa yang baru saja dia dapatkan. Sampai akhirnya, bunda Annisa pun tersenyum kecil lalu menatap wajah Satpam tersebut.
"Pak, bisa minta tolong berikan saja nomor ponsel putri saya?" pintanya tersenyum ramah.
"Maaf Nyonya, saya sama sekali tidak punya nomor ponsel Nyonya Tere."
Bunda Annisa pun kembali menelan rasa kecewa.
"Tapi, Nyonya. Saya ada nomor ponsel Tuan David. Anda bisa menghubungi beliau.''
Bunda Annisa pun akhirnya tersenyum lega, kenapa dirinya tidak terpikirkan hal itu. Perasaannya yang saat ini sedang tidak karuan membuatnya tidak bisa berfikir jernih.
"Berikan saya nomor ponsel David, Pak. Saya akan menghubungi dia,'' pinta Bunda Annisa.
"Baik, Nyonya. Tunggu sebentar ya, saya ambilkan kartu nama beliau dulu."
Bunda tersenyum lega seraya mengusap wajahnya kasar.
"Ini, Nyonya. Ini kartu nama Tuan David, kalau yang ini kartu nama Tuan Besar," ucap sang Satpam menyerahkan dua kartu mana milik majikannya.
"Terima kasih ya, Pak. Saya akan menghubungi mereka."
"Sama-sama, Nyonya."
"Kalau begitu saya permisi, Pak."
Satpam tersebut pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah.
♥️♥️
David dan istrinya nampak sedang berada di dalam perjalanan sekarang, perjalanan panjang menuju kota dimana bunda Annisa berada saat ini. Wajah Tere sang istri terlihat begitu tegang padahal seharusnya dia merasa senang karena akhirnya akan bertemu dengan sang ibu setelah sekian lama.
David yang melihat ketegangan di wajah sang istri pun segera meraih pergelangan tangannya lalu menggegam erat jemarinya kini.
"Tangan kamu dingin banget sayang?" tanya David mengusap lembut punggung tangan istrinya lalu mengec*pnya pelan.
"Benarkah? Mungkin karena AC di dalam mobil ini terlalu dingin,'' jawab Tere beralasan.
"Hmm ... Bohong banget si, Mas tahu kalau kamu tegang. Seharusnya kamu senang karena akan segera bertemu dengan Bunda Annisa, bukan malah sebaliknya."
"Entahlah, perasaan aku campur aduk, Mas. Antara tegang, senang dan juga--'' Tere tidak meneruskan ucapannya karena dia sulit menggambarkan seperti apa perasaannya saat ini.
"Mas mengerti perasaan kamu, sayang. Agar perasaan kamu lebih rileks, gimana kalau kamu tidur di sini, di pangkuan Mas?" pinta David kemudian.
Tanpa basa-basi lagi, Tere pun meletakan kepalanya di atas pangkuan sang suami lalu seketika memejamkan kedua matanya mencoba mengikuti apa yang baru saja di ucapkan oleh sang suami.
"Bunda pasti senang sekali karena akan segera bertemu dengan kamu, sayang," ucap David memainkan rambut panjang istrinya.
"Benarkah?"
"Tentu saja, hati ibu mana yang tidak akan merasa senang saat bertemu dengan putri yang sudah sekian lama tidak dia temui?"
Tere diam masih dengan mata yang terpejam. Sesaat, pikirnya melayang ke masa lalu dimana dirinya masih bisa bercanda dan bercengkrama dengan sang Bunda kala itu. Wajah cantiknya, senyuman manisnya, bahkan dekapan hangatnya masih tertanam jelas di dalam memori otaknya kini.
"Aku benar-benar merindukan Bunda," gumamnya kemudian.
"Mas tahu, rasa rindu kamu akan segera terobati, sayang."
"Aku benar-benar gak sabar ingin segera bertemu dengan dia, Mas."
"Iya, Mas juga tahu. Sekarang kamu tidur, nanti Mas bangunkan kalau kita sudah sampai."
Tere menganggukkan kepalanya.
"Bara, beri tahu saya kalau kita sudah mau sampai di tempat tujuan," pinta David kepada Bara sang supir.
"Naik, Tuan," jawab Bara tanpa menoleh, tatapan matanya nampak lurus menatap ke depan.
Kring ... Kring ... Kring ....
Suara ponsel David seketika berdering nyaring, dan tentu saja hal itu membuat Tere yang baru saja mencoba untuk terlelap seketika membuka kedua matanya.
"Siapa, Mas?" tanya Tere.
"Entahlah, nomor gak dikenal," jawab David menatap layar ponsel.
"Angkat aja, siapa tahu penting."
David menganggukkan kepala lalu mulai mengangkat telpon.
📞 "Halo, dengan David Gabriel di sini,'' sapa David.
📞 "Iya, halo. Saya Bunda Annisa."
David seketika tercengang lalu menatap wajah sang istri dengan perasaan tidak percaya.
📞 "Halo, anda masih di sana 'kan?" samar-samar suara Bunda Annisa kembali terdengar.
📞 "Eu ... Iya, saya masih di sini. Anda siapa tadi?''
📞 "Saya Bunda Annisa, kamu sedang bersama putri saya 'kan Teresia? Saya ada di depan rumah kamu sekarang, bisa berikan ponsel ini kepada Tere?"
"Berhenti di depan Bara," pinta David sebelum dia kembali menjawab pertanyaan Bunda Annisa.
"Baik, Tuan," jawab Bara patuh lalu segera melipir dan menghentikan laju mobilnya di tepi jalan.
Tentu saja hal itu membuat Tere merasa heran, dia pun bangkit lalu duduk tegak. Dia menatap wajah sang suami dengan tatapan heran.
"Siapa, Mas. Kenapa kita berhenti di sini segala?" tanya Tere penuh tanda tanya.
"Ini, ada yang mau bicara sama kamu, sayang," jawab David, menyerahkan ponsel miliknya kepada sang istri.
Tere pun menerima ponsel tersebut dengan kening yang dikerutkan.
📞 "Ha-lo ..." sapanya dengan nada suara yang terbata-bata.
📞 "Halo, Te-resia. Ini Bun-da,'' sapa Bunda nan jauh di sana, suaranya terdengar lirih dan juga menahan tangis.
📞 "Bun-da?" jawab Tere dengan perasaan tidak percaya, bola matanya pun seketika memerah lengkap dengan buliran air mata yang siap untuk berjatuhan.
📞 "Iya, sayang. Ini Bunda, Bunda ada di rumah suami kamu sekarang, kamu dimana, Nak? Bunda akan nungguin kamu di sini sampai kamu pulang."
Tere diam seribu bahasa, otaknya seolah berhenti berfikir. Antara percaya dan tidak percaya bahwa wanita yang saat ini berbicara dengan dirinya di dalam sambungan telepon adalah sang Bunda.
📞 "Halo, sayang. Kamu masih di sana 'kan? Bunda kangen banget sama kamu, Nak. Maafkan Bunda karena tidak pernah mengunjungi kamu selama ini. Bunda benar-benar minta maaf, hiks hiks hiks ..." Tangis sang Bunda pun seketika pecah di dalam sambungan telpon. Suaranya terdengar pilu di telinga.
📞 "Aku juga kangen banget sama Bunda. Bunda tunggu di sana, jangan kemana-mana. Aku pulang sekarang juga,'' pinta Tere kemudian.
Setelah itu, dia pun pun menutup sambungan telpon.
"Mas, kita harus putar balik, Mas. Bunda ada di rumah kita sekarang."
"Maksud kamu?"
"Bunda ada di rumah kita di kota, aku juga gak tahu darimana beliau dapat alamat rumah kita, cepetan Mas. Kita harus putar balik sekarang juga.'' Pinta Tere sangat antusias.
"Ya udah, kita putar balik sekarang. Mas juga harus nelpon Daddy sama Jodi, mobil beliau pasti sudah jauh di depan."
Tere menganggukkan kepalanya, raut bahagia seketika terlihat dari wajah seorang Teresia, bersamaan dengan itu air matanya pun berjatuhan dengan begitu derasnya kini. Tangisnya pecah seketika, tangis bahagia karena akan segera bertemu dengan sang Bunda.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️