Kisah tiga Sahabat Firza, Dania, Luna mereka bersahabat sejak kecil hingga dewasa. Persahabatan mereka sudah seperti saudara bahkan keluarga.
Ketiga Sahabat memiliki profesi yang berbeda, Firza sebagai seorang Anggota Brimob, Dania dan Luna sebagai Dokter umum di salah satu rumah sakit.
Namun siapa sangka, Dania dan Luna memiliki rasa cinta yang sama terhadap sahabat mereka yaitu Firza.
Apakah Firza akan membalas cinta Dania dan Luna dan memiliki rasa yang sama pada salah satu nya?
Kepada siapa, hati nya akan berlabuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Pisahkan Kami
"Mah, Luna mohon jangan pisahkan Luna sama Firza. " Ucap Luna saat Ibu Sinta akan membawa nya pulang.
"Kenapa kamu mau bertahan, dengan suami yang keluarga nya menyusahkan.Mereka sudah menghina kamu, karena bukan keturunan keluarga darah biru, tapi uangnya mau mereka ambil. Apa kamu tidak sakit hati hah.. ? " Ucap Ibu Sinta yang sudah menangis.
"Luna sudah ikhlas Mah, ikhlas. Tolong jangan bawa Luna pergi dari sini, biar Luna bersama suami Luna menghabiskan sisa hidup Luna sama Firza. Luna ingin saat detik terakhir menggenggam tangan nya Mah. "
Hiks.. hiks.. hiks...
"Luna, Mamah hanya ingin kamu keluar dari kehidupan keluarga Wahyu, Firza kamu harus relakan Luna pergi. Sudah saat nya kamu melepaskan Luna, dan cari lagi. " Ucap Ibu Sinta.
"Mamah, saya mohon mah. Saya tidak mau, dan saya tidak ingin melepaskan Luna. " Ucap Firza bersujud di kedua kaki Ibu Sinta.
"Apa - apaan ini...!!! Ucap lantang Pak Prabu yang tiba - tiba datang.
" Papah, saya mohon jangan pisahkan saya dengan Luna. " Ucap Firza sambil bersujud di kedua kaki Pak Prabu.
Pak Prabu membantu Firza untuk bangun, terlihat kedua mata menantu yang merah karena menangis.
"Ada apa ini? " Tanya Pak Prabu.
"Luna, membantu melunasi hutang mertua dan kakak ipar nya sebanyak 1 milyar, dan mobil nya di bawa Irfan untuk di jual dan di jadikan modal. " Jawab Ibu Luna.
"Benar itu? " Tanya Kembali Pak Prabu pada Luna dan di angguk kan oleh Luna.
"Terus kamu kenapa Mah, mau pisahin mereka? Anak - anak nggak salah, kamu jangan rampas kebahagiaan mereka. Kalau Luna sudah memutuskan ikhlas ya sudah, kita ikuti saja. "Ucap Pak Prabu.
" Tapi Pah, anak kita kemarin di tolak. Karena status anak angkat. Tapi giliran begini diterima , orang tua mana yang nggak sakit hati. Mendingan mereka cerai saja, percuma rumah tangga, kalau di usik sama kedua mertua nya. "
"Mah, insya Allah mereka akan baik - baik saja.Mamah nggak lihat, bagaimana cinta mereka, seharusnya Mamah dukung sebagai orang tua. Bukan sekarang malah merusak nya hanya gara - gara keluarga nya. Tolong Mah, jangan seperti itu. "
"Tapi Mamah nggak rela Pah, nggak rela. "
"Mah, selagi ada kita, mereka merasa tenang dalam rumah tangga, karena disamping itu masih ada yang mendukung pernikahan mereka. Jangan pisahkan mereka ya. "
Hiks.. hiks.. hiks..
Ibu Sinta menganggukkan kepala nya, dan Pak Prabu membawa keluar Ibu Sinta dari kamar anak dan menantu nya.
Firza lalu mendekati Luna, dan mencium punggung tangan Luna hingga Luna merasakan basah di punggung tangan nya karena air mata Firza yang terus keluar.
"Makasih sayang, makasih. Maaf kan keluarga Ayank. " Ucap Firza.
"Sayang jangan tinggalkan Ayank ya, tetap temani Ayank sampai kapan pun. " Ucap Luna sambil membelai pipi Firza.
"Iya."
"Saya baru merasakan, kalau harus berpisah itu saya tidak bisa apa - apa. "
"Sampai maut memisahkan kita, Ayank akan tetap berada di samping kamu. "
"Ayank harus Ikhlas ya, kalau memang umur tidak panjang, janji jangan nangis, janji harus kuat hidup tanpa Luna. Dan harus bisa belajar menyimpan kenangan itu di hati, harus bisa membuka hati. "
Firza memeluk erat tubuh Luna, hingga tangis nya pun keluar, Luna pun ikut menangis kedua tangan nya membalas memeluk tubuh Firza.
Dari balik pintu, Pak Prabu melihat kedua nya, lalu berjalan ke arah istri nya yang sedang duduk.
"Kamu lihat, bagaimana keadaan kondisi di kamar, anak nya saja nggak mau pisah sama Firza. "
"Kemarin Luna ingin Firza menikah lagi, dia kasihan suami nya mengurus dia. "
"Pemikiran orang itu kadang berubah - ubah, kamu tahu Mah, ucapan mulut dan hati itu berbeda. Makan nya, kita sebagai orang tua jangan ikut campur. Biarkan saja mertuanya seperti itu, Papah anggap mereka bukan sahabat atau keluarga, walau anak - anak kembali akrab ya sudah biarkan saja. Mereka tahu ini urusan orang tua. " Ucap Pak Prabu.
****
Firza menemani Luna menonton acara komedi di kamar nya, Firza tertawa, begitu juga Luna. Tangan kedua nya tidak mau lepas, seakan takut untuk saling berpisah.
"Lucu ya Yank, coba lihat pria botak itu buat kesal pria yang gemuk, mereka saling mengerjai bahkan impas saling membalas. " Ucap Firza.
"Iya Yank, kayak kamu itu jahil. Sering banget ngerjain saya sama Dania. "
"Lucu ya. "
"Lucu kata Ayank, ngeselin kata kita. "
Firza memainkan jemari Luna, dan mereka kembali menonton acara komedi.
*****
"Lunas? " Ucap Ibu Rika.
"Iya, disini transferan masuk atas nama Luna." Ucap Pak Surya.
"Luna melunasi sisa hutang keluarga Firza. "
"Iya, pasti mereka merendahkan demi uang. Harga diri mereka sudah tidak ada arti nya. "
Dania hanya diam dan mendengar kan percakapan kedua orang tua nya, Dania merasa kasihan pada keluarga Firza yang sekarang di anggap rendah oleh kedua orang tua nya.
"Dania, kamu katanya akur lagi sama mereka? Kenapa sih kamu masih mau punya sahabat mereka? " Tanya Pak Surya.
"Itu kan urusan Bunda sama Ayah, kita kan nggak ada masalah. " Jawab Dania.
"Kamu nggak ingat sakit hati nya kamu ya? " Tanya Ibu Rika.
"Sudah lah Bund, jangan bahas itu. Memang cinta nggak bisa di paksakan. " Jawab Dania.
"Lagian, hutang nya sudah lunas kan. Ya sudah jangan perpanjang lagi. Sayang loh, sama persahabatan yang udah lama sekarang malah hancur gara- gara Ayah sama Bunda. Lihat tuh Om Purba sama Tante Sinta, jadi imbas nya. Mereka jadi nggak suka sama Ayah, Bunda, Om Wahyu dan Tante Wike. Kalian lah yang merusak persahabatan, imbas nya ke Luna sama Firza. " Celetuk Dania.
"Kok jadi Ayah sama Bunda, yang di salahkan." Ucap Pak Surya.
"Jadi nggak sadar ya, kalian itu dua keluarga yang menjadi pokok masalah nya." Ucap Dania.
****
Luna merasakan sangat mual, setelah menjalani kemo, Firza terus setia mendampingi Luna yang kini berada di dalam kamar rawat.
"Yank, paling nggak suka itu mual. Kalau habis kemoterapi begini, mending udah aja ya. " Ucap Luna.
"Jangan lah, kemoterapi kan untuk menghambat penyebaran sel kanker nya. Kalau nggak di kemo nanti semakin menyebar. " Ucap Firza.
"Tetap saja Yank, penyakit nya nggak sembuh."
"Sabar ya, kita sudah berusaha. "
"Capek Yank, capek begini terus. "
"Iya, sabar ya..!! "
"Sabar, sabar kamu nggak ngerasain sakit. "
"Jangan marah begitu dong, walau suami nggak merasakan sakit tetap saja ikut merasakan. Ayank juga ikut gimana kamu tersiksa begini, kamu pikir nggak kepikiran kamu terus setiap hari. Kadang berpikir besok bagaimana, kamu masih tetap atau sedikit perubahan. Udah jangan ngeluh terus, orang sedang di obati itu nggak langsung ajaib sembuh, bertahap. "
.
.
.
cuma firza seorang Yang bener nya
yang lainnya konslet semua otaknya,
ini Irfan kapan kena tegoran nya ya
makin kapok
HABIS LAGIIIIIIII......