Setahun berlalu, Qian mencari tahu keberadaan gadis yang pernah menolong hidupnya, hanya bermodalkan gelang kaki sebagai petunjuk untuk Qian yang terus mencari gadis itu. Keindahannya pada gadis yang tidak ia kenal itu makin menyita hari-harinya.
Ia sudah berjanji pada dirinya untuk menikahi gadis itu bagaimana pun rupanya karena hidupnya terlalu berharga untuknya dari pada memikirkan karakter gadis yang harus ia pilih menjadi istrinya.
Setiap kali ia mencari tahu informasi tentang gadis itu sangat nihil, hingga akhirnya mereka dipertemukan dengan cara yang tidak terduga.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
"Apakah Qian Akan menemukan gadis itu?"
"Yuk, ikuti kisah cinta mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Hari Baru
Kembali lagi ke apartemen mereka, dimana tempat mereka bernaung. Merapikan kembali barang bawaan mereka dari Bali yang mereka jadikan sebagai oleh-oleh yang akan dibagikan untuk keluarga dan rekan kerja keduanya.
Khansa menghubungi mami mertuanya untuk membuat janji temu, karena Khansa tidak berani ke mansion mertuanya kalau ada tuan Raditya yang belum mengakuinya sebagai menantu.
"Assalamualaikum bunda!" ucap Khansa memberi salam kepada nyonya Rafika.
"Waalaikumuslam sayang, apakah kabar nak, bagaimana dengan bulan madu kalian?" Tanya Nyonya Rafika dengan memberondong pertanyaan kepada menantu kesayangan ini.
"Alhamdulillah baik bunda, sekarang
Khansa dan mas Qian sudah berada di Jakarta dan kami membawa oleh-oleh untuk bunda.
"Wah, jangan-jangan oleh-olehnya, cucu bunda ya sayang." timpal nyonya Rafika membuat Khansa sedikit merasa nyeri pada ulu hatinya.
"Doakan saja bunda, sekarang lagi dalam proses," ucap Pengacara Qian yang juga ikut menjawab pertanyaan bundanya karena ia melihat mimik wajah Khansa tiba-tiba menjadi mendung.
"Ya Allah semoga cepat positif ya Qian, bunda kangen pingin gendong cucu bunda."
"Ok bundaku yang cantik, nanti Qian akan memberikan bunda banyak cucu." ledek Pengacara Qian kepada bundanya.
Pengacara Qian dan bundanya masih saja bercerita tentang keadaan Khansa supaya gadis itu segera hamil, jika tidak ini akan menjadi ancaman untuk Pengacara Qian karena Firma hukum milik kakeknya itu menjadi taruhannya jika dalam satu tahun ini Pengacara Qian belum bisa memiliki keturunan.
Pengacara Qian menghela nafas berat, ia sangat hafal dengan perlakuan kakeknya yang terus menekan bundanya untuk membujuk dirinya supaya bisa memiliki keturunan secepatnya.
Dengan berbagai macam alasan akhirnya Pengacara Qian mengakhiri perbincangan antara ia dan bundanya.
Maklum saja, sejak tuan Raditya memutuskan untuk mengambil alih firma hukum Hambada yang dikelola oleh putranya Pengacara Qian, kini pengacara Qian bekerja di firma hukum milik kakek Tuan Hendarto, ayah kandung dari bundanya Pengacara Qian.
...----------------...
Masa cuti Khansa sudah berakhir, gadis muda ini harus kembali lagi ke rumah sakit milik ayah kandungnya. Dengan wajah ceria Khansa yang diantar sendiri oleh suaminya ke rumah sakitnya, karena Khansa membawa banyak oleh-oleh untuk teman-teman dokter dan suster yang khusus di bagian spesialis jantung.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Pengacara Qian tidak henti-hentinya mengingatkan istrinya untuk tidak boleh sampai kelelahan sambil mengemudikan mobilnya.
Dengan anggukan kepala, Khansa nampak jengah dengan tuntutan suaminya kerena mengulang terus perkataan yang sama.
Tidak lama sampailah mereka dihalaman parkir rumah sakit. Khansa turun dengan membawa dua tentengan besar membuat suaminya kembali kesal.
"Sayang kalau kamu bawa barang yang berat, usaha bulan madu kita nggak akan berhasil." Sungutnya kepada istrinya yang sangat keras kepala.
"Ya Allah mas anak itu juga bagian dari rejeki, kita nggak akan bisa tahu kapan Allah akan memberikannya karena itu adalah salah satu rahasia Allah." ucap Khansa dengan wajah merengut.
"Aku paham maksud kamu sayang, tapi kita sudah ikhtiar lho, kalau nggak dijaga ya sia-sia. Nah mana lagi satpam rumah sakit kamu sayang, ko dari tadi nggak kelihatan, padahal aku pingin dia yang bantuin bawa barang kamu ini." ucap Pengacara Qian sambil memperhatikan sekitarnya.
"Kalau mas buru-buru pingin ke kantor, biar aku saja yang bawain." ucap Khansa yang nggak enak hati kepada suaminya.
"No,..no.. ratuku tidak boleh sampai capek, atau aku akan membawamu pulang lagi ke apartemen!" Ancam Pengacara Qian yang membuat Khansa kembali termangu.
"Tapikan..?
"Ok jalan, aku yang bawakan kedua kantong ini." Sela Pengacara Qian mengakhiri protes istrinya.
Keduanya berjalan beriringan menuju ruang guru. Sesampainya di ruangan itu, sebagian besar dokter wanitanya yang juga menggunakan jilbab seperti istrinya, ada juga yang menggunakan jilbab beraneka gaya, sesuai stylenya. Mereka serentak berdiri menyambut Khansa dan Pengacara Qian.
"Assalamualaikum," ucap Khansa kepada teman-temannya, sedangkan Pengacara Qian hanya mengangguk hormat kepada rekan dokter istrinya.
"Waalaikumuslam, dokter Khansa , ya Allah mas mu sampai mengantarmu kesini." Ucap rekan dokter Khansa kepada pasangan pengantin baru ini.
"Maaf dokter Welly, suami saya cuma membantu membawakan barang-barang saya saja," ujar Khansa yang sedikit grogi depan teman-teman dokternya.
Pengacara Qian meletakkan 2 kantong plastik oleh-oleh untuk teman-teman istrinya. Iapun kemudian pamit kembali ke kantornya kepada teman-teman istrinya.
Khansa mengantarkan suaminya ke depan pintu lift. Ia kembali menyalami suaminya untuk melepaskan kepergian Pengacara Qian.
"Ingat sayang pesanku tadi, bahwa kamu..?
"Tidak boleh kecapean, harus makan tepat waktu dan istirahat yang cukup." ucap Khansa menyela perkataan suaminya yang sudah ia hafal sejak berangkat ke rumah sakit tadi.
"Nah, istri pintar, aku kerja dulu ya sayang, kalau mau pulang telepon aku, nanti aku jemput."
"Insya Allah, nanti Khansa kabarin lagi mas Qian, karena ini baru masuk kerja lagi, jadi mungkin pulangnya lebih lama hari ini.
Keduanya saling melambaikan tangan, Pengacara Qian kembali ke mobilnya, Khansa menunggu suaminya sampai kendaraan suaminya bergerak dan hilang dari pandangannya.
Ia pun kembali lagi ke ruang prakteknya dan di sambut oleh ledekan teman-temannya.
"Cie..cie!" yang habis bulan madu, makin ceria aja. Apa lagi sampai di antarin ke rumah sakit sampai ruang praktek pula," ucap Ela yang asli putri Medan.
"Apaan sih, mas Qian antar aku karena aku bawa oleh-oleh untuk kalian."
"Eh, kamu ke mana saja bulan madunya, kasih tahulah aku!" tanya
Ela yang penasaran dengan cerita bulan madu Khansa.
"Ini oleh-oleh dari Bali, cobain deh," ucap Khansa yang mengalihkan pertanyaan Ela yang pasti mengarah ke hubungan intim.
"Ya Allah barakallah, semoga berkah ya rejekinya," ucap Erni ketika melihat oleh-oleh yang berupa tas, baju dan songket Bali sisanya adalah makanan ringan untuk di bagikan ke teman-temannya.
"Pilih sendiri ya, tapi yang bungkusan terpisah itu punya dokter Welly." sahut Khansa mengingatkan teman-temannya.
"Terimakasih lho Khansa untuk oleh-olehnya, semoga cepat di berikan momongan." ucap mereka saling bergantian mengucapkan doa dan ucapan terimakasih kepada Khansa .
Teman-temannya mulai memilih barang apa saja yang dibawa oleh Khansa , mereka mulai memantaskan
untuk fashion yang sesuai dengan style mereka masing-masing. Tidak lama kemudian, Dokter spesialis bedah jantung, dokter Welly mengajak mereka untuk mengadakan rapat tapi sebelumnya itu harus bertemu dengan para suster untuk menyampaikan pengumuman penting, untuk tetap menjaga keadaan pasien.
Karena tidak ada lagi acara penting di rumah sakit itu, Khansa memutuskan untuk menemui suaminya di kantornya dengan menumpangi taksi online yang sudah dipesan olehnya. Ia ingin sekali memberi kejutan untuk suaminya, apa lagi ini sudah hampir waktunya makan siang.
Khansa yang baru pertama kali ke kantor Firma hukum yang baru, milik kakek suaminya, dicegah oleh beberapa satpam yang tidak mengenalnya.
"Permisi nona, anda mau ke mana?" tanya satpam kepada Khansa yang heran seorang wanita menggunakan pakaian syar'i lengkap dengan cadar datang ke perusahaan besar itu.
Khansa sengaja memakai pakaian syar'i untuk memberi kejutan untuk Pengacara Qian.
"Assalamualaikum pak, mohon maaf saya ingin bertemu dengan suami saya mas Pengacara Qian pemilik kantor firma ini." ucap Khansa sopan kepada satpam itu dengan wajah tertunduk.
"Hei nona jangan mengaku-ngaku kalau kamu adalah istri tuan Pengacara Qian, karena tuan Pengacara Qian tidak akan pernah memiliki wanita seperti kamu, jangankan dijadikan istri dijadikan gundiknya saja tuan Pengacara Qian mana mau dengan gaya pakaianmu seperti ini." ucap teman satpam yang satunya dengan kata-kata yang melecehkan Khansa.
Beruntunglah Khansa , ketika para satpam itu masih membulynya, datanglah mobil Fian asisten Pengacara Qian yang baru masuk ke area kantor Firma itu. Ia menghentikan mobilnya ketika melihat wanita dengan baju syar'inya, ia sudah curiga bahwa itu adalah Khansa istri bosnya.
"Permisi, ada apa ini?" tanya Fian asisten Pengacara Qian kepada dua satpam itu yang sedang berdebat dengan Khansa.
"Maaf tuan, gadis ini mengaku bahwa dia adalah istri tuan Pengacara Qian.
"Apakah anda nyonya muda Khansa ?" tanya Fian yang menatap wajah Khansa yang masih saja tertunduk.
"Iya tuan, saya Khansa istri mas Qian, saya ingin bertemu mas Qian." ucap Khansa seraya mengangkat wajahnya menatap lekat wajah asisten suaminya ini.
Fian seketika terhentak melihat mata indah istri bosnya yang ia sudah sering bertemu dengan gadis itu dalam situasi sulit saat kedua orangtuanya Khansa mengalami kecelakaan pesawat yang sampai saat ini belum diketahui kejelasan nasibnya.
"Astaga!" maaf nyonya muda, silahkan ikut saya, saya akan mengantar anda ke tempat tuan Pengacara Qian," ucap Fian buru-buru mempersilahkan istri bosnya itu berjalan duluan. Tapi sebelumnya ia sangat marah dengan ulah kedua satpam itu yang menahan Khansa.
"Awas kalian, saya belum selesai dengan urusan kalian." ancam Fian kesal pada dua satpam itu.
"Mampus kita hari ini, bakalan kita dipecat deh." ucap keduanya penuh sesal.
mmg km lemot pengacara pandai ungkap perkara pelik tp tdk pandai ungkap mslh diri😵💫🙄
kalian mmg rumit sih
tinggalkan saja semua Qian toh km msh bs kerja dg keahlianmu. kl km bela kemauan kakekmu itu hya sebuah alasan sebab Allah punya jalan cerita sendiri buat umatnya