Adella Rahma Prameswari
Apakah ada yang lebih buruk dari hidupnya??
√ Ibunya dibunuh tanpa dia tahu siapa pelakunya
√ Selalu diganggu oleh kakak kelasnya yang gila
√ Kehadiran Ibu tiri yang tiba tiba.
Menyerah? Tidak, Adel tak ingin kalah. Dia memilih untuk berjuang menyelesaikan satu per satu masalah hidupnya.
Apakah Adel akan berhasil melakukannya?
( Hanya sebuah kisah tanpa arah.
hasil keputus asaan penulis terhadap ide yang tak dapat tercurah.
silakan berkeluh kesah, sopan santun sudah pastilah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Adel menatap anak kecil yang membawa boneka, anak itu tampak habis menangis dan baby sister berusaha untuk menghiburnya. Gadis itu hanya berdecih, lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka laptopnya dan memilih untuk menonton film, dia sangat menikmati film yang dia tonton sampai akhirnya pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
" Ck, ganggu aja sih," ujar Adel yang awalnya mencoba untuk menulikan telinga, namun akhirnya gadis itu menyerah karna orang yang ada di balik pintu tak kunjung berhenti untuk mengetuk. Akhirnya Adel turun dari kasurnya dan langsung membuka pintu dengan keras. Tidak ada orang saat dia menatap lurus, namun dia bisa melihat anak kecil saat dia menundukkan kepalanya.
" Mau apa Lo? Gak usah ganggu gue, dasar Iblis kecil," ujar Adel yang langsung menutup pintu kamarnya. Gadis itu kembali menonton film, namun perasaannya tak tenang karna sudah membentak anak tak berdosa itu. bagaimanapun yang tadi dia bentak hanyalah anak kecil yang tak tahu jika ibunya sudah menjadi perusak keluarga orang lain.
Adel mengutuk dirinya sendiri karna akhirnya dia merasa tak tega dan kembali membuka pintunya. Betapa terkejutnya Adel saat tahu anak kecil itu masih ada di depan kamarnya. Anak kecil itu bahkan tak bergerak sedikitpun, Adel melihat anak itu sambil menyenderkan tubuhnya dipintu.
" Kamu mau apa ada di depan kamar aku? gak usah ganggu aku, aku gak mau dekat – dekat sama kamu," ujar Adel yang kini tidak ngegas, dia tak tahu anak kecil ini akan mengerti atau tidak, namun dia ingin mengusir halus anak kecil ini. Melihat anak ini mendongak untuk menatapnya dengan mata yang berkaca – kaca.
" Mama bilang Oni Haus ain ama akak, Oni au ain ama akak ( Soni harus main sama kakak, Soni mau main sama kakak)," ujar anak kecil itu dengan logatnya yang khas. Adel langsung menggaruk keningnya karna dia tak mengerti apa yang anak itu katakan.
" Lo ngomong apa sih gak jelas banget. A I U E O nya yang jelas dong, biar bisa pidato di depan pak Presiden," ujar Adel dengan ngawur, benar saja, anak kecil itu tampak bingung dan memiringkan kepalanya. Adel langsung menaikkan sebelah alisnya melihat respon anak kecil itu.
Pintu terbuka dan Adel langsung bisa melihat Ibu dari anak ini sudah pulang dan menatap ke arah mereka. Dia bertindak seolah tak melihat interaksi antar keduanya, namun Adel tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi. Adel langsung berdehem, membuat Ibu tirinya itu menengok dan bertanya apakah Adel membutuhkan sesuatu.
" Bawa anak tikus ini pergi dari sini. Jangan pernah menggunakan dia untuk menarik simpatiku, aku membenci anak kecil, apalagi jika aku membenci ibunya. Jika kau tak ingin anak ini terluka, jauhkan dia dari jangkauanku, ini peringatan pertama dan terakhirku," ujar Adel dengan galak dan langsung menutup pintunya. Gadis itu langsung mengubah fokusnya dan kembali menonton film.
" Akak a au ain ama Oni, Oni a naal, Oni au ain ama akak ( Kakak gak mau main sama Soni, Oni gak nakal, Soni mau main sama kakak)," ujar anak itu dengan sedih. Bu Franda menganggukkan kepalanya dan mengelus kepala anaknya itu agar tidak bersedih.
" Soni gak nakal kok, Soni anak baik. Kakak lagi capek, kakak mau istirahat, Soni udah makan belum? Makan dulu ya, mama masakin buat Soni," ujar Franda dengan lembut pada anaknya. Anak itu mengangguk dan mengikuti langkah mamanya meski matanya tetap melihat ke arah pintu yang tertutup dengan sedih.
" Soni gak boleh marah sama kakak ya, Soni harus sayang sama kakak. Kakak bakal baik sama Soni kalau Soni baik sama kakak, okay?" tanya Franda yag membuat anak kecil itu mengangguk. Franda merasa lega dan akhirnya dia memasak makanan untuk anaknya dan meminta Baby sister untuk menjaga anaknya karnadia harus kembali menemani suaminya di rumah sakit.
*
*
*
" Adel, Lo kemana aja? Kenapa Lo gak bisa dihubungin? Gue khawatir banget sama Lo Del." Baru saja Adel menempelkan pantatnya di kursi, suara lelaki yang sudah membuatnya bosan langsung menggelegar ke seisi kelas. Teman – teman kelasnya yang sudah biasa hanya mengabaikan lelaki itu, begitu juga Adel.
" Adel, Lo ganti nomor tega banget gak kabarin calon suami, siniin ponsel Lo," ujar Rafa yang membuat Adel memijit pelipisnya, namun tanpa dia sadari, dia menuruti apa yang dikatakan oleh Rafa, dia mengulurkan ponselnya dan membiarkan Rafa menyimpan nomornya yang baru.
" Kenapa Lo ganti nomor coba? Kenapa Lo gak bilang sama gue? Lo bukan sengaja mau hindarin gue kan? Gue salah apa sama Lo?" tanya Rafa degan rewel, membuat Adel makin pusing sampai memegang kepalanya dengan erat, dia malas ribut, masalahnya sudah banyak dan dia tak mau menambah masalah dalam hidupnya.
" Kalau Lo masih ribut, gue bakal beanr – benar jauhin Lo kak, gue gak bohong dan gue gak mau kenal sama Lo lagi," ujar Adel pelan namun penuh penekanan. Rafa tahu jika Adel sedang tidak dalam mood yang baik, tidak baik untuk menggoda Adel saat ini, lebih baik dia pergi, apalagi dia sudah memastikan jika Adel baik – baik saja.
" Sebenarnya gue mau ngomong, kalau Reva kangen sama Lo. Dia nanya terus ke Gue Lo kemana, Gue bingung harus jawab apaan, kalau Lo mau, Lo bisa temuin dia biar dia gak kangen lagi sama Lo," ujar Rafa yang membuat Adel menganggukan kepalanya.
" Oke, pulang sekolah gue langsung ikut Lo aja ketemu Reva, Gue lagi pusing, mungkin main sama Reva bisa alihin pikiran gue," ujar Adel yang langsung membuat Rafa yang lesu langsung semangat. Dia mengangguk senang dan langsung pergi dari kelas Adel menuju kelasnya sendiri. Sementara Adel langsung meletakkan kepalanya di meja.
" Kamu kemarin gak berangkat, kamu sakit?" tanya Agatha yang ada di sebelah Adel. Adel menggelengkan kepalanya dan menatap Agatha dengan lekat, Adel menggelengkan kepalanya karna melihat Agatha ketakutan terhadapnya.
" Gue gak sakit, gue kabur dari rumah. Gue kabur ke desa, tapi malaah ketangkap, ya udah gue balik lagi deh," ujar Adel yang membuat Agatha terdiam. Dia tak menyangka Adel menceritakan hal itu dengan santai, apakah Adel tak menganggap masalah itu merupakan masalah yang besar?
" Memang kenapa kamu sampai kabur dari rumah?" tanya Agatha dengan hati – hati. Adel sebenarnya malas untuk menjawab karna dia yakin Agatha tak bisa membantunya, namun gadis itu terlihat sangat penasaran hingga dia akhirnya memberitahukan ke Agatha.
" Memang kamu tahu kalau Ibu tiri kamu itu jahat? Kalau ternyata sebenarnya dia baik bagaimana? Kalau semisal sebenarnya dia sayang sama kamu gimana?" tanya Agatha yang meembuat Adel mengangkat kepalanya dan menatap aneh ke arah Agatha.
" Dimana mana ibu tiri itu jahat. Kalau gue orang miskin, tuh orang pasti gak mau sama bokap gue. Tapi karna gue orang kaya, tuh orang mau sama bokap, dia Cuma mau harta gue aja, dia pasti jahat dan nanti racunin bokap gue terus usir gue dari rumah. Terlalu tertebak," ujar Adel yang membuat Agatha terdiam dan menggelengkan kepalanya.
" Adel,gak semua ibu tiri itu jahat, aku bisa jamin hal itu, kalau kamu tanya kenapa. Karna mama aku juga bukan mama kandung aku. Mama aku udah lama meninggal dan Papa aku nikah sama mama biar aku ada temannya," ujar Agatha yang meembuat Adel terdiam seribu bahasa.
" Mamaku gak pernah jahat sama aku. Bahkan mamaku gak pernah bentak akau sama sekali. Mamaku memang glamour, tapi dia beli juga buat Investasi katanya, karna dia sadar papa gak selamanya bakal di atas, dia udah siapin untuk jangka panjang," ujar Agatha kembali menjelaskan.
Adel masih tak terima dengan penjelasan itu, namun dia juga memikirkannya. Agatha tak mungkin berbohong, apa memang tak semua Ibu tiri itu jahat? Apa karna Adel tak terima papanya menikah tanpa sepengetahuannya makanya dia menganggp ibu tirinya jahat? Adel sampai pusing jika harus memikirkan hal itu.
" Mungkin awalnya memang kamu gak bisa terima, dan aku juga gak bilang kalau Ibu tiri kamu baik. Lama – lama juga bakal kebongkar Ibu tiri kamu aslinya baik atau jahat, tapi kamu juga harus membuka diri buat kenal sama dia," ujar Agatha yang menjadi akhir dari perbincangan mereka karna Agatha kembali fokus pada bukunya.
*
*
*
Note : Setelah ini, Author bakal mulai rutin update Adella. Stay tune yaaaaa, doakan semoga lancar kwkwkwk